Trending

6/recent/ticker-posts

Kenapa Harus Menulis ?


Beberapa hari yang lalu, saat banyak waktu luang saya gunakan untuk ngopeni blog dengan tulisan-tulisan ala kadarnya itu, ada salah satu adik kelas yang bertanya, mengapa harus menulis di blog ?. 

Wah, sempat bingung mau jawabnya. Tapi, karna ini bukan masalah hukum kegamaan yang jawabannya memerlukan tanggung jawab dunia-akhirat, saya jawab dengan ala-ala kawan akrab saja.

“ya, biar bedalah. Kan, jarang orang punya blog dan menulis di sana.”

Tak cukup disitu, saya menambahinya.
“kalau nulis di facebook, kita tidak bisa mencari judul tulisan kita yang telah ditulis bertahun-tahun lalu. Kita harus men-scrool ke bawah, sesuai dengan tahun atau waktu yang kita ingat kapan kita menulis, lalu menemukannya.” Ah, bagi saya kalau begitu terlalu ruwet.

Ketika liburan kemarin, saya mencari salah satu tulisan di laman facebook Gus Ulil Abshar Abdalla yang cukup menarik bagi saya. Saya coba mengingat-ingatnya. Oh, tulisan itu diunggah bulan januari 2020. 

Posisi saya saat itu di bulan Juni, dengan terpaksa saya harus mencari tulisan yang di unggah Gus Ulil pada bula itu. Batinku, kalau nulis di blog kan enak. Tinggal masukkan kata kucinya di kolom searching. Ketemu deh.

Selain dua jawaban di atas, sebenarnya ada jawaban yang saya sembunyikan. Dan tentunya itu jawaban pribadi dan masuk dalam kategori asal-asalan. Saya yakin, akan ada orang-orang yang membaca tulisan di blog saya. Meski banyak orang di luar sana tidak membacanya, bahkan mengenalnya pun tidak. Saya percaya, bahwa teman-teman yang dekat dan kenal baik dengan saya tidak akan ragu dan segan-segan berselancar ke blog saya meski sekadar main-main, tanpa tendensi ingin mencari celah dan menjatuhkan mental saya.

Dan bila diperinci alasan lainnya, akan masih banyak lagi.

Saat ini, banyak orang-orang yang berumur tua tapi masih memiliki semangat muda. Dalam bidang apa saja. Seperti orang tua kita yang tetap bekerja keras demi memenuhi pendidikan anaknya dan kebutuhan keluarga. Tapi, dalam bidang menulis, yang cukup terkenal dan konsisten dalam menulis adalah Bapak Dahlan Iskan. Ia terkenal sebagai pejabat besar dan perjalanan politiknya dikenal bersih dan jujur. Dalam hal menulis, sebagai anak muda saya merasa tertampar dan terinspirasi untuk menulis. Meski konsisten menulis tidak langsung jadi, kadang gagal, gagal lagi dan lebih sering gagal. Tapi, dari jatuh-jatuh itu, mental dan fisik ini semakin terasah. Untuk bangkit dan bangkit lagi. Senior saya sering bilang, “biasa, ini proseslah.”

Seperti kata dawuh Kiai Zuhri, “Apapun itu, apabila instan adalah buruk.” Saya tidak mau menyebut contohnya, banyak sekali di sekitar. Termasuk dalam hal ini mengejar cita-cita.

Pada kemarin harinya, sehari setelah pamflet dan woro-woro buku antologi perdana saya akan segera terbit, beberapa teman langsung mengucapkan selamat. Juga memesan bukunya. Dua hari setelahnya, ada pula yang “wawancara”, entah ini berkaitan dengan buku itu atau tidak.
Pertanyaannya, “apa yang membuat kamu akhirnya menulis ?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya berniat untuk menuliskannya di blog.
Saya kurang tahu betul mengapa harus menulis. Menulis bagi seperti panggilan hidup saja. Saya siapa ? Bisa apa ?

Kata senior saya dulu, ada tiga hal yang bisa di andalkan bagi seseorang, terutama laki-laki, yakni kekayaan, wajah tampan dan pintar. Katanya, kita sudah tidak kaya, tampan dan pintar ? mau ngapain. Setidaknya yang terakhirlah, kita bisa usahakan.

Lain lagi dengan wejangan Pak Zainul Arifin Adam saat ngajar di MANJ dulu. Bahwa, pendidikan kita semakin lama semakin mengerucut. Ketika SD, SMP, SMA, semua ilmu kita pelajari. Meskipun sedikit-sedikit mulai ada jurusan, tapi masih banyak materi pelajaran yang harus dikuasai oleh murid. Hingga masuk kuliah S1. Ada jurusan tertentu, kedokteran misalnya. tapi di semester-semester awal masih banyak yang di pelajari mahasiswa. Baru ketika semester agak menua, mata kuliah yang dipelajari mulai mengerucut.

Tapi, kuliah tidak berhenti di Strata Satu saja. Ada S2, bidang yang dipelajari lebih mengerucut dan mengecil. Apalagi S3, semakin mengerucut lagi. Ketika S3, gelarnya lain. Biasanya ada tambah Dr. pada awalan nama orang yang lulus S3. 
Apalagi untuk menjadi guru besar atau mendapatkan gelar professor, setidaknya mereka harus menemukan sesuatu yang baru dan mencerahkan dalam bidangnya. Sekali lagi, dalam bidangnya.

Kalau kata Cak Nun, tekunilah apa yang menjadi potensi dan jadilah ahli. Bahasa al-Qur’annya, "فِيْمَا اَتَاكَ الله" apa-apa yang di karuniakan oleh Allah. Jadilah ahli, dalam bidang anda dan sesuai dengan diri anda. Begitu seingat saya. Karena, sangat sulit sekali menguasai banyak bidang pada setiap orang. Hanya orang-orang tertentu yang menjadi ahli, misal, dalam puluhan bahasa dengan fasih dan juga menjadi pakar dalam beberapa keilmuan.

Imam Al-Ghazali sudah mengingatkannya ratusan tahun lalu dalam kitab al-Munqidz Minad Dhalal (Pembebas dari Kesesatan) terkait hal ini. Beliau memberikan kaidah emas seperti berikut ini :

اَلْحَاذِقُ فيْ صنَاعَة وَاحِدةٍ ليْسَ يلزم ان يكون حاذقا في صناعة واحدة

“Kepakaran seseorang dalam satu bidang tertentu, tidak meniscayakan (tidak wajib) ia menjadi pakar di segala bidang.”

Akhirnya, untuk pertanyaan diatas tadi, saya menjawabnya begini : “bagi saya, tiap orang harus ada yang di fokuskan. Meskipun satu bidang saja. Apapun yang terjadi, ia harus fokus pada satu hal itu.”

Selain itu, masih banyak sekali jawaban untuk menjawab pertanyaan itu. Karena banyak sekali penulis dalam sejarah, beragam pula jawaban dan cara pandang mereka dalam menjawab pertanyaan itu. Seperti menulis itu membantu kita dalam menjelaskan gagasan kepada orang lain, menyusun rencana dan target hingga menjadi hobi yang sulit di lepaskan.

Terakhir, bagi saya pribadi, setidaknya setiap orang memiliki satu buah karya yang ia wariskan pada anak-cucunya. Berupa pikiran atau hasil renungan, agar anak-cucunya kelak dapat mengerti makna penting dari sebuah karya, sejarah hingga kejadian di masa lampau. 

Mereka dapat mengambil hikmah, agar tidak terjerumus seperti orangtua-mbah mereka seperti yang pernah mereka alami. Atau melakukan hal baik dan mulia sebagaimana yang dilakukan orangtua-mbah mereka.

Sekian. Terima Kasih.
Ttd,
Alfin Haidar Ali

Posting Komentar

1 Komentar

Bagus mas alfin,,
😇😇