Trending

6/recent/ticker-posts

Nyantri ke Gedang Sewu : Sebuah Perjalanan (1/5)


Tepat tadi malem pas, satu tahun yang lalu, aku dan dua temanku sampai di gedang sewu. Sebuah pemukiman kecil bagi perantau atau siapapun yang mau singgah sambil ngaji kepada mbah yai. Waktu itu, sholat tarawih hampir usai. Kami memasuki komunitas tersebut dari jalur Timur, atau jalur belakang. Semuanya hanya melihat kami agak heran.

Dalam benaknya mungkin mengatakan, siapa ini?

Ah, hampir-hampir kami seperti orang tak tau arah mau kemana saja. Bingung. "Pak lurahnya ada?"kataku pada salah satu gerombolan orang-orang yang memakai peci dan songkok tersebut.

Memang kata kakak kelasku yang pernah 'nyantri' disini, istilahnya kepala pesantren disini itu pak lurah. Jadi, kalau kesana nyarinya ke pak lurah. Bukan kantor pesantren, kantor administrasi hingga tempat pendaftaran santri baru.

Sebelum ke pak lurah, kami disuruh duduk dulu. Entahlah, kami hanya mengikuti arahan saja.

"Haitsu.. Haitsu.. " ucap sebagian dari mereka.

Kami tak paham. Mendiamkan saja. Sambil ngobrol dengan salah satu santri yang sepertinya baik hati itu. Sebelum di panggil ke kepala lurah, santri yang mengajak ngobrol tadi bilang,

“haitsu mas.”

Kami tak ada yang paham dengan istilah itu. Kami terdiam. Santri tersebut melanjutkan pembicaraan, “ngesakne mas arek-arek gak enek opo-opo.” Artinya, kasian mas temen-temen ndak ada (makanan) apa-apa. Ouh, aku yang paham bahasa Jawa dari kami bertiga akhirnya paham. Mereka minta dibelikan makanan.

Ah, kakak kelasku dulu yang pernah belajar disini tak pernah memberi tahu tentang hal ini. Aku bisik-bisik pada temanku yang lain. “ayok, patungan.” Uang kami disini pas-pasan. Entah beberapa hari kedepan kami membutuhkan uang atau tidak. Kami tak tahu.

“ndak ono mas.” Jawabku dalam bahasa Jawa yang artinya, ndak ada mas.

Santri itu tidak kekurangan akal. Ia menjawab, “atau uangnya saja, biar kami yang beli.”

Masyaallah. Jujur, aku pribadi sangat kaget dengn budaya disini. Bayangkan, ada santri baru datang ke sebuah pesantren kecil ini dengan segala ketidak tahuan kami akan adat istiadat-budaya disini, dimintai jajan, ndak ada, tapi tetep dimintai uangnya.

Temenku secara spontan langsung mengeluarkan uang sebesar seratus ribu. Kontan. Dibayar tunai. Santri-santri yang lain berteriak, “haitsu.. Haitsu.. “

Apa itu? Aku juga tak tahu.

Ah, entahlah kami segera menuju ke pak lurah untuk mengurusi biaya dan administrasi kami selama beberapa hari kedepan. Nyantri kilat. Setelah mengurusi itu semua, tidak ada yang ingin kami kerjakan selain menaruh tas dan segala yang kami bawa. Dan satu lagi, istirahat. Setelah perjalanan yang melelahkan dari Probolinggo – Jombang (berhenti disini cukup lama karena tidak menemukan kendaraan menuju ke diri) – lalu ada tumpangan – akhirnya sampai juga ke Kediri, gedang sewu tepatnya.

Kami menuju salah satu kamar. Disalah satu kamar disebelah kamar gus yazid, salah satu putra abah yai Baidlowi. Dikamar yang kami tempati, bukan kamar kosong. Disana sudah ada penghuninya, sendirian tapi. Namanya pak salam. Kami berkenalan, basa-basi sana sini. Tak lama setelah itu, kentongan di depan kamar di pukul oleh salah seorang santri.

“Haitsu... Haitsu. “

Kentongan itu terus dipukul berulang-ulang.

“haitsu.. Haitsu.. “

Apa itu haitsu? 
 
Penjelasan lebih detailnya, insyaallah saya akan posting besok. 

Sekian, terimakasih. 
Ttd, 
Alfin haidar ali. 

Nb : kenang-kenangan sebelum izzul dan adiknya pulang duluan. Saya pulang lebih akhir diantara kami bertiga. 

Posting Komentar

0 Komentar