Trending

6/recent/ticker-posts

Kisah Hikmah Bibi: Pentingnya Selektif Memilih Pasangan




Pengajian sore ini aku sangat tertegun ketika teman-temanku tetap istiqomah mengaji pengajian kitab pengasuh, sedangkan aku malah tidak mengaji. Salah satu ujian bagi pengurus/ustadz adalah apa-apa harus mandiri di tengah semua hal tidak ada yang menyuruh lagi.

Kalau ada yang menyuruh, mungkin kiai/bu nyai. Tapi itu sangat terbatas dan jarang sekali. Semua berjalan secara alamiah dan sebagaimana sistem kegiatan berjalan. Selebihnya, para ustadz/pengurus akan berbicara soal prinsip, nurani dan mindset masing-masing individu. Apakah ia tetap mengaji pengajian pengasuh dengan khusyuk dan khidmat, atau malah melakukan kegiatan lain ? itu persoalan pribadi yang tidak bisa dimutlakkan karena beda-bedanya kesibukan setiap orang.

Semoga, mulai besok pagi dan seterusnya, aku dan kita semua semakin serius mengaji, terutama mengaji pengajian kitab yang diampu oleh pengasuh. Mumpung beliau masih ada, masih sehat dan mengajar para santri. Bila tidak ada, tinggal menyesal nantinya.

Semoga, kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, baik di pondok maupun ketika sudah alumnus nanti, agar tidak ada yang perlu disesali. Amiin.

***

Artikel ini, aku ingin menulis tentang sebuah kisah yang diceritakan bibi. Sebuah kisah tentang pentingnya memilih pasangan, karena ada potensi perubahan yang sangat drastis dari sebelum dan setelah pernikahan. Salah satunya dialami oleh adik dari suami bibi-ku ini.

Suami bibi-ku ini biasa aku panggil Om Jovi. Ia asli Lumajang. Ia kini menetap di daerah Semboro ikut pada bibi. Nah, Om Jovi ini punya adik laki-laki yang bernama Si A (nama samaran). Kini, si A telah menikah dengan si B (si istri). Mereka sudah menikah beberapa bulan dan kabarnya, si B telah mengandung anak dari si B dengan usia sekitar kandungan 3 bulan.

Ketika sebelum menikah, si B tampak baik sekali. Ia merupakan perempuan yang bekerja di sebuah perubahaan dengan gaji sekitar 5 juta setiap bulan. Dengan gaji seperti ini, ia biasa memberi bingkisan/hadiah kepada mertuanya, calon kakak iparnya bahkan hingga ke anak-anak mereka. Kegiatan dermawan ini tidak dilakukan sekali dua kali, tapi sesuai dengan momen yang ada. Semisal ketika menjelang hari raya, ketika ulang tahun dan momen-momen lainnya.

Melihat kegiatan baik si B, wajar bila pihak keluarga si A terpikat dan menerima si B termasuk dari bagian keluarga mereka. Seiring berjalannya waktu, si B minta pada si A agar segera melamarnya. Yang penting lamaran saja dulu, soal menikah bisa setahun-dua tahun lagi. Nanti bisa menabung dan lain sebagainya. Karena perihal biaya, si B ini belum memiliki pekerjaan dan gaji yang tetap.

Ia sering berpindah-pindah tempat bekerja, entah itu alasan tidak cocok atau yang lainnya. Sedangkan gaji bulanannya sekitar 1 juta dua ratusan. Dengan gaji demikian, ia harus berbagi dengan ibundanya yang ditinggal suami atau ayah si B sejak kecil. Bahkan, dalam cerita bibi, si B dan ibunya ini, bila melakukan apa-apa seringkali dilakukan bersama.

Semisal sang ibu sedang acara di luar rumah dan kebetulan makan makanan enak, ia akan membungkus makanan juga untuk diberikan pada putra tercinta (si B) karena kepikiran. Sejak kecil selaku hidup berdua dan bersama terus kan.

Kemudian lanjut proses lamaran, ketika seluruh keluarga rombongan menuju kediaman si B, ia memberikan alamat rumahnya melalui Whatsappa via voice note (VN). Diantara orang yang mendengar VN itu adalah Om Jovi. Tapi Om Jovi ini tidak mendengar VN ketika rombongan perjalanan menuju lamaran. Karena pada saat yang bersama, Om Jovi sedang ada acara mendaftarkan salah satu putra-nya di sekolah sehingga udzur tidak bisa mengikuti acara.

Om Jovi ketika mendengar VN itu sebenarnya memiliki firasat yang buruk akan calon pasangan hidup si A. Tapi Om Jovi diam saja. btw, Om Jovi adalah orang yang dikenal memiliki semacam indra ke enam. Firasatnya seringkali benar.

Setiba di rumah si B dan seluruh keluarga sedang berkumpul dan melakukan ramah-tamah. Si B lalu mendatangi pihak keluarga si A bahwa pernikahan dilaksanakan tiga bulan lagi. Sontak hal ini membuat kaget beberapa orang yang mendengar kabar itu. Tapi bagi bibi yang ikut saat itu bilang begini, “ya sudah terima saja. toh, biaya pernikahan 3 bulan lagi atau tahun depan itu sama saja. Sama-sama mahal,” kira-kira seperti itu.

Akhirnya si A dan keluarga menerima saja. berhubung gaji si A tidak mencukup untuk biaya pernikahan, akhirnya para saudara dari ibunda si A –termasuk diantaranya adalah keluarga Om Jov & bibiku- saling sumbang dan iuran untuk hajatan pernikahan itu. Pernikahan tetap dilangsungkan. Meski secara biaya mungkin agak minimal, tapi acara tetap tampak meriah.

Si A dan si B resmi menikah. Si B ikut berumah tangga di rumah si A di Lumajang. Mereka berdua tinggal bersama ibunda si A. Nah, tradisi/adat keluarga di Lumajang ini, istri tidak bekerja. Semuanya ditanggung suami. akhirnya si B berhenti bekerja dan mengandalkan si A sebagai tulang punggung keluarga.

Ketika menjadi pengantin baru ini, benih-benih perubahan ke arah yang buruk mulai timbul. Diantaranya adalah pengurangan jatah gaji si A yang diberikan pada ibunya. Semula berawal dari kisaran delapan ratus ribu sebulan, lalu dua ratus ribu sebulan lalu menjadi lima puluh ribu sebulan.

Ketika semakin sedikit inilah, akhirnya sang ibunda mulai ‘protes’. Kira-kira begini, “kalau lima puluh ribu sebulan, ini uangnya tidak cukup buat ikut pengajian ibu-ibu tiap bulan. Ya sudah, ibu tak berhenti saja”.

Selain itu, pernah suatu ketika sedang libur bekerja, bermain game di rumah. Lalu, ketika sedang main game itu, si B tiba-tiba mengambil paksa hp si A dan mengomelinya secara tidak sopan. Si B menuntut agar suaminya agar tidak main hp terus.

Melihat anaknya diperlakukan seperti itu, akhirnya sang ibunda menegur kelakuan si B untuk membiarkan putranya main game, karena memang kerja sedang libur. Tapi bukannya malah menerima, si B malah melawan dengan berkata kasar, “ibu belain anaknya terus ya” lalu membanting perabotan rumah yang ada di sekitarnya.

Mulai dari make-up di depan cermin hingga beberapa gelas/piring sehingga pecahan beling berserakan di mana-mana. Peristiwa ini terdengar hingga ke tetangga sebelah karena memang rumah yang sangat berdempetan dengan tetangga dan ukuran rumah yang relatif kecil.

Dengan berbagai konflik yang ada, akhirnya sang ibu memutuskan untuk menetap di rumah ibunya ibu atau mertuanya bibi. Jarak rumah mereka agak jauh.

Seiring berjalannya waktu, konflik demi konflik tetap terjadi, tapi tidak ada satupun pihak keluarga Lumajang yang memberi tahu Om Jovi yang notabene merupakan saudara laki-laki. Ia dianggap sebagai tulang punggung keluarga di Lumajang semenjak ayah Om Jovi meninggal.

Sesampai di bulan Ramadhan 1444 H., sekitar Hari ke 13 Ramadhan, bibi bermimpi bahwa ibunya si A ini sering berada di rumah ibu mertua. Ketika ditanya mengapa sering berada di sana, ibunya si A ini menjawab kalau menantunya, yakni si B itu suka menjelek-jelekkannya, menginjak-njak dan berbagai perilaku tidak senonoh lainnya.

Semenjak itu, bibi paham masalah yang terjadi di keluarga Lumajang, meski tidak ada satupun orang yang memberi tahu soal hal ini. Pada tanggal 15 Ramadhan, keluarga Om Jovi dan bibi berencana berkunjung ke rumah ibu mertua di Lumajang. Namun, sebelum kunjungan ke sana, ada satu masalah lagi.

Si A menjual motor milik Om Jovi tanpa seizin darinya yang ada di rumah ibu mertua itu. Rencananya, si A juga akan menjual motor yang satunya lagi, yang biasa dipakai ibu dan ibu mertua pergi ke pasar.

Semua perbuatan itu tentu tidak setuju. Tapi apalah daya, rasanya si A sudah mati rasa dan seperti terkena ‘guna-guna’ dari si B. Semua perintah dari si B selalu dilaksanakan, bahkan bila itu menyakiti ibunya yang sejak kecil selalu bersama-sama.

Hari ke 15 Ramadhan pun tiba. Keluarga Om Jovi pun ke Lumajang. Sesampai di sana, sesudah silaturahmi dan lain sebagainya, bibi tidur siang. Om Jovi menuju rumah temannya yang rumahnya agak jauh dari rumah mertua bibi.

Hingga sampailah ‘drama’ lagi, kalau si A meminta sertifikat rumah ibu mertua itu pada ibu si A. Ya jelas ibu si A tidak mau. Ia bahkan sampai menangis dan meminta pada si A berhenti melakukan semua perbuatan yang telah ia lakukan.

Kabar ini pun terdengar pada Om Jovi. Ia buru-buru pulang ke rumah. Ia langsung menjadi pengawal terdepan keamanan keluarga di Lumajang, termasuk menyelesaikan masalah ini ‘dengan caranya sendiri’. Ia tidak segan-segan untuk berbuat kekerasan pada si B bila perbuatan seperti ini tidak segera dihentika. Om Jovi memang terkenal keras, garang dan temperamental. Tapi semenjak menikah, semua bisa dikendalikan oleh bibi.

Sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut terkait perkembangan keluarga di Lumajang. Di akhir cerita, bibi berpesan soal pentingnya selektif memilih pasangan hidup. Cari yang perhatian, baik agamanya dan yang bisa di bawa pulang ke rumah.

Hah. Entahlah, bagaimana Allah merancang semua takdir ini nantinya. Semua takdir baik dan buruk tentu dari-Nya. Tidak ada yang salah dan sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Semoga kita selalu dalam lindungan, petunjuk dan pertolongan-Nya.

La Haula wa Laa Quwwata illa Billah~

 


Posting Komentar

0 Komentar