Pengajian sore ini aku sangat tertegun ketika teman-temanku tetap istiqomah
mengaji pengajian kitab pengasuh, sedangkan aku malah tidak mengaji. Salah satu
ujian bagi pengurus/ustadz adalah apa-apa harus mandiri di tengah semua hal
tidak ada yang menyuruh lagi.
Kalau ada yang menyuruh, mungkin kiai/bu nyai. Tapi itu sangat terbatas dan
jarang sekali. Semua berjalan secara alamiah dan sebagaimana sistem kegiatan
berjalan. Selebihnya, para ustadz/pengurus akan berbicara soal prinsip, nurani
dan mindset masing-masing individu. Apakah ia tetap mengaji pengajian pengasuh
dengan khusyuk dan khidmat, atau malah melakukan kegiatan lain ? itu persoalan pribadi
yang tidak bisa dimutlakkan karena beda-bedanya kesibukan setiap orang.
Semoga, mulai besok pagi dan seterusnya, aku dan kita semua semakin serius
mengaji, terutama mengaji pengajian kitab yang diampu oleh pengasuh. Mumpung beliau
masih ada, masih sehat dan mengajar para santri. Bila tidak ada, tinggal
menyesal nantinya.
Semoga, kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, baik di pondok
maupun ketika sudah alumnus nanti, agar tidak ada yang perlu disesali. Amiin.
***
Artikel ini, aku ingin menulis tentang sebuah kisah yang diceritakan bibi. Sebuah
kisah tentang pentingnya memilih pasangan, karena ada potensi perubahan yang
sangat drastis dari sebelum dan setelah pernikahan. Salah satunya dialami oleh
adik dari suami bibi-ku ini.
Suami bibi-ku ini biasa aku panggil Om Jovi. Ia asli Lumajang. Ia kini menetap
di daerah Semboro ikut pada bibi. Nah, Om Jovi ini punya adik laki-laki yang
bernama Si A (nama samaran). Kini, si A telah menikah dengan si B (si istri). Mereka
sudah menikah beberapa bulan dan kabarnya, si B telah mengandung anak dari si B
dengan usia sekitar kandungan 3 bulan.
Ketika sebelum menikah, si B tampak baik sekali. Ia merupakan perempuan
yang bekerja di sebuah perubahaan dengan gaji sekitar 5 juta setiap bulan. Dengan
gaji seperti ini, ia biasa memberi bingkisan/hadiah kepada mertuanya, calon
kakak iparnya bahkan hingga ke anak-anak mereka. Kegiatan dermawan ini tidak
dilakukan sekali dua kali, tapi sesuai dengan momen yang ada. Semisal ketika
menjelang hari raya, ketika ulang tahun dan momen-momen lainnya.
Melihat kegiatan baik si B, wajar bila pihak keluarga si A terpikat dan
menerima si B termasuk dari bagian keluarga mereka. Seiring berjalannya waktu,
si B minta pada si A agar segera melamarnya. Yang penting lamaran saja dulu,
soal menikah bisa setahun-dua tahun lagi. Nanti bisa menabung dan lain
sebagainya. Karena perihal biaya, si B ini belum memiliki pekerjaan dan gaji
yang tetap.
Ia sering berpindah-pindah tempat bekerja, entah itu alasan tidak cocok
atau yang lainnya. Sedangkan gaji bulanannya sekitar 1 juta dua ratusan. Dengan
gaji demikian, ia harus berbagi dengan ibundanya yang ditinggal suami atau ayah
si B sejak kecil. Bahkan, dalam cerita bibi, si B dan ibunya ini, bila
melakukan apa-apa seringkali dilakukan bersama.
Semisal sang ibu sedang acara di luar rumah dan kebetulan makan makanan
enak, ia akan membungkus makanan juga untuk diberikan pada putra tercinta (si
B) karena kepikiran. Sejak kecil selaku hidup berdua dan bersama terus kan.
Kemudian lanjut proses lamaran, ketika seluruh keluarga rombongan menuju
kediaman si B, ia memberikan alamat rumahnya melalui Whatsappa via voice note
(VN). Diantara orang yang mendengar VN itu adalah Om Jovi. Tapi Om Jovi ini
tidak mendengar VN ketika rombongan perjalanan menuju lamaran. Karena pada saat
yang bersama, Om Jovi sedang ada acara mendaftarkan salah satu putra-nya di
sekolah sehingga udzur tidak bisa mengikuti acara.
Om Jovi ketika mendengar VN itu sebenarnya memiliki firasat yang buruk akan
calon pasangan hidup si A. Tapi Om Jovi diam saja. btw, Om Jovi adalah orang
yang dikenal memiliki semacam indra ke enam. Firasatnya seringkali benar.
Setiba di rumah si B dan seluruh keluarga sedang berkumpul dan melakukan
ramah-tamah. Si B lalu mendatangi pihak keluarga si A bahwa pernikahan
dilaksanakan tiga bulan lagi. Sontak hal ini membuat kaget beberapa orang yang
mendengar kabar itu. Tapi bagi bibi yang ikut saat itu bilang begini, “ya sudah
terima saja. toh, biaya pernikahan 3 bulan lagi atau tahun depan itu sama saja.
Sama-sama mahal,” kira-kira seperti itu.
Akhirnya si A dan keluarga menerima saja. berhubung gaji si A tidak mencukup
untuk biaya pernikahan, akhirnya para saudara dari ibunda si A –termasuk diantaranya
adalah keluarga Om Jov & bibiku- saling sumbang dan iuran untuk hajatan
pernikahan itu. Pernikahan tetap dilangsungkan. Meski secara biaya mungkin agak
minimal, tapi acara tetap tampak meriah.
Si A dan si B resmi menikah. Si B ikut berumah tangga di rumah si A di
Lumajang. Mereka berdua tinggal bersama ibunda si A. Nah, tradisi/adat keluarga
di Lumajang ini, istri tidak bekerja. Semuanya ditanggung suami. akhirnya si B
berhenti bekerja dan mengandalkan si A sebagai tulang punggung keluarga.
Ketika menjadi pengantin baru ini, benih-benih perubahan ke arah yang buruk
mulai timbul. Diantaranya adalah pengurangan jatah gaji si A yang diberikan
pada ibunya. Semula berawal dari kisaran delapan ratus ribu sebulan, lalu dua
ratus ribu sebulan lalu menjadi lima puluh ribu sebulan.
Ketika semakin sedikit inilah, akhirnya sang ibunda mulai ‘protes’. Kira-kira
begini, “kalau lima puluh ribu sebulan, ini uangnya tidak cukup buat ikut
pengajian ibu-ibu tiap bulan. Ya sudah, ibu tak berhenti saja”.
Selain itu, pernah suatu ketika sedang libur bekerja, bermain game di
rumah. Lalu, ketika sedang main game itu, si B tiba-tiba mengambil paksa hp si
A dan mengomelinya secara tidak sopan. Si B menuntut agar suaminya agar tidak
main hp terus.
Melihat anaknya diperlakukan seperti itu, akhirnya sang ibunda menegur
kelakuan si B untuk membiarkan putranya main game, karena memang kerja sedang
libur. Tapi bukannya malah menerima, si B malah melawan dengan berkata kasar, “ibu
belain anaknya terus ya” lalu membanting perabotan rumah yang ada di sekitarnya.
Mulai dari make-up di depan cermin hingga beberapa gelas/piring sehingga
pecahan beling berserakan di mana-mana. Peristiwa ini terdengar hingga ke
tetangga sebelah karena memang rumah yang sangat berdempetan dengan tetangga
dan ukuran rumah yang relatif kecil.
Dengan berbagai konflik yang ada, akhirnya sang ibu memutuskan untuk
menetap di rumah ibunya ibu atau mertuanya bibi. Jarak rumah mereka agak jauh.
Seiring berjalannya waktu, konflik demi konflik tetap terjadi, tapi tidak
ada satupun pihak keluarga Lumajang yang memberi tahu Om Jovi yang notabene
merupakan saudara laki-laki. Ia dianggap sebagai tulang punggung keluarga di
Lumajang semenjak ayah Om Jovi meninggal.
Sesampai di bulan Ramadhan 1444 H., sekitar Hari ke 13 Ramadhan, bibi bermimpi
bahwa ibunya si A ini sering berada di rumah ibu mertua. Ketika ditanya mengapa
sering berada di sana, ibunya si A ini menjawab kalau menantunya, yakni si B
itu suka menjelek-jelekkannya, menginjak-njak dan berbagai perilaku tidak
senonoh lainnya.
Semenjak itu, bibi paham masalah yang terjadi di keluarga Lumajang, meski
tidak ada satupun orang yang memberi tahu soal hal ini. Pada tanggal 15
Ramadhan, keluarga Om Jovi dan bibi berencana berkunjung ke rumah ibu mertua di
Lumajang. Namun, sebelum kunjungan ke sana, ada satu masalah lagi.
Si A menjual motor milik Om Jovi tanpa seizin darinya yang ada di rumah ibu
mertua itu. Rencananya, si A juga akan menjual motor yang satunya lagi, yang
biasa dipakai ibu dan ibu mertua pergi ke pasar.
Semua perbuatan itu tentu tidak setuju. Tapi apalah daya, rasanya si A
sudah mati rasa dan seperti terkena ‘guna-guna’ dari si B. Semua perintah dari
si B selalu dilaksanakan, bahkan bila itu menyakiti ibunya yang sejak kecil
selalu bersama-sama.
Hari ke 15 Ramadhan pun tiba. Keluarga Om Jovi pun ke Lumajang. Sesampai di
sana, sesudah silaturahmi dan lain sebagainya, bibi tidur siang. Om Jovi menuju
rumah temannya yang rumahnya agak jauh dari rumah mertua bibi.
Hingga sampailah ‘drama’ lagi, kalau si A meminta sertifikat rumah ibu
mertua itu pada ibu si A. Ya jelas ibu si A tidak mau. Ia bahkan sampai
menangis dan meminta pada si A berhenti melakukan semua perbuatan yang telah ia
lakukan.
Kabar ini pun terdengar pada Om Jovi. Ia buru-buru pulang ke rumah. Ia langsung
menjadi pengawal terdepan keamanan keluarga di Lumajang, termasuk menyelesaikan
masalah ini ‘dengan caranya sendiri’. Ia tidak segan-segan untuk berbuat kekerasan
pada si B bila perbuatan seperti ini tidak segera dihentika. Om Jovi memang terkenal
keras, garang dan temperamental. Tapi semenjak menikah, semua bisa dikendalikan
oleh bibi.
Sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut terkait perkembangan keluarga
di Lumajang. Di akhir cerita, bibi berpesan soal pentingnya selektif memilih
pasangan hidup. Cari yang perhatian, baik agamanya dan yang bisa di bawa pulang
ke rumah.
Hah. Entahlah, bagaimana Allah merancang semua takdir ini nantinya. Semua takdir
baik dan buruk tentu dari-Nya. Tidak ada yang salah dan sia-sia. Semua pasti
ada hikmahnya. Semoga kita selalu dalam lindungan, petunjuk dan
pertolongan-Nya.
La Haula wa Laa Quwwata illa Billah~

0 Komentar