Masih belum menyelesiakan tulisan saya, tiba-tiba aku dipanggil untuk sahur. Ah, dengan terpaksa saya menyudahi tulisan ini di ig. Banyak typoo sana-sini. Dan, dikolom ini mau dilanjutkan dulu. Sekalian akan mau menjawab pertanyaan Salah satu pembaca Yang bertanya, apa itu haitsu?
.
Setelah mendengar suara itu, semua santri-santri keluar dari kamar. Menuju suara kentongan. Tak ketinggalan, kami juga disuruh keluar. Karena semua haitsu tersebut dari uang 'kami'. Kebetulan, kentongan itu berada di depan kamar, jadi tak perlu repot-repot menggunakan sandal untuk kesana.
Di depan kamar, terdapat beberapa makanan. Minumannnya juga. Ada spriit, fanta. Semuanya botol besar. Terang bulan, makanan ringan. Ada rokok pula. Semua dibagi rata. Tak ada beda. Baik kyai, gus ataupun santri biasa. Semua berkumpul disitu. Makan bersama.
Kami baru tahu. Oh haitsu itu ya makan bareng ini. Bagi mereka, kalau ada santri baru adalah sebuah keberkahan. Ada rezeki datang. Karena memang adat disana, kalau ada santri baru harus wajib bawa oleh-oleh, makanan atau semacamnya. Yang cukup dibuat mengganjal perut lapar Dan cemilan semua 'orang' Yang menetap di komplek tersebut. Tak banyak kok. Paling banyak 20-25 orang.
Prinsipnya disana semua sama. Tak ada beda. Tak ada perbedaan kelas unggulan Dan reguler. Baik proletar Dan borjuis. Berdarah biru maupun berdarah merah biasa (rakyat biasa maksutnya) hihi.. Meskipun gusnya disana ikut berbaur juga.
"Ah, ini masalah budaya. Corak pesantren ini berbeda dari pesantren pada umumnya." Batinku.
Begitulah, malam itu wajah para teman-teman cukup sumringah. Ada banyak senyum mengembang. Tampak bahagia. Oh, begitu to. Ternyata kedatangan tamu nyantri itu berkah. Bisa membahagiakan Dan dibahagiakan. (Meskipun tadi minta uangnya agak maksa).. Tapi tak apalah.
Beberapa hari berlanjut, ada beberapa anak Yang nyantri. Santri baru katakanlah. Dalam hati kami sudah mengira, akan ada haitsu nanti ini. Tak tunggu Lama. Beberapa santri Lama 'mengeksekusi' mereka, beberapa menit kemudian muncul bunyi kentongan dibarengi panggilan bahagia, "haitsu.. Haitsu.. "
Tanpa tunggu waku Lama, sekejap didepan kamarku ramai. Asyik menikmati haitsu.
Bagaimana tidak senang? Seperti halnya pada hari jumat, saat tak punya uang. Tidak ada dekosan. Perut sudah keroncongan. Tiba-tiba ada panggilan, tabhekkk.. Tabhekk.. Wihh semangatnya jangan ditanya.. Hahaha
Hari Demi hari kami jalani dengan bersama-sama. Menanak nasi, menyiapkan buka Dan sahur, hingga mandi disumber dekat sungai sana.
Tak lupa kami juga saling bercengkerama. Salah satunya dengan kenalan satu kamar. Namanya pak salam. Kok dipanggil pak?
Umurnya jauh lebih tua dari kami yang baru lulus SLTA. Sekita 25-30tahun an lah. Ia dikenal santri Yang cukup dekat dengan gus Dan abah yai. Juga paham kitab kuning Dan pandai bergaul.
Meskipun sebenarnya tak hanya ia saja yang dipanggil 'pak'. Saat kenalan atau menyapapun diantara kam memangi memanggil 'pak'. Tak langsung memanggil nama asli. Sebagai bentuk penghormatanlah.
Dalam Salah satu pembicaraan kami saat itu, pak salam bilang kalau tradisi dulu Lebih 'kejam' dari pada Yang sekarang. Kalau dulu, apabila ada anak Yang mau nyantri disini ndak bawa haitsu, langsung diusir. Langsung gusnya Yang bilang Dan ngantarkan ke jalan didepan, untuk nyegat bis. Disuruh pulang saat itu.
"Meskipun ada sedikit guyon-guyonnya. Tapi seperti itu guyonnya dulu." ungkap pak salam.
Bayangkan, ada santri baru langsung datang ndak bawa makanan dll, langsung diantar ke jalan didepan. Kan, bisa-bisa nangis kalau anak kecil sendirian kesana.
Ternyata, bukan hanya satu dua santri Yang bertambah. Lumayan banyaklah. Haitsu.. Haitsu.. Lama kelamaan, entah mengapa, tiba tiba saja aku teringat ayat al-quran Yang berbunyi :
ويرزقه من ØÙŠØ« لا ÙŠØØªØ³Ø¨
Artinya : Dan dia (Allah) memberi rezeki dari arah Yang tidak diduga-duga. (At-thalaq: 3)
Pendapat Yang sangat pribadi sementara, barangkali kata 'haitsu' itu diambil dari ayat al Quran itu.
Bahasa lainnya, kalau ada panggilan haitsu.. He'ii ada rezeki, ada rezeki.. Rezeki tak. Terduga-dugaa..
Haha.. Mungkin saja.
Karena, tak ada Yang menyangkan komplek tersebut akan didatangi orang untuk nyantri. Ngaji. Padahal abah yai awal mengajar bukan niat buka pondok, cuman ngajari anak anaknya. Tiba tiba ada orang pengen ikut. Begitu seterusnya.
Banyak pelajaran dari 'ajer odik' di sana. Di sebuah kota Yang tak ada kenalan, tak tau arah Dan tentunya uang Yang pas-pasan. Apalagi daerah jawa. Untungnya aku masih bisa. Kalau ndak bisa? Uhh.. Masalah lagi.
Saat itu, tepatnya setelah kelulusan Aliyah, waktu libur cukup panjang sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi. Beberapa teman memilih kursus disana sini, jadi kaum rebahan, menetap di pondok atau sibuk cari-cari informasi kampus Yang akan mereka tuju. Tapi, aku memilih di gedang sewu.
..
Alasannya...
Tunggu artikel nomer empat ya.
| Jadi setelah khatam kitab yang dikaji saat Ramadhan, ada sesi foto bersama. Yang tengah itu Guse. Gus Yazid namanya. Dari foto diatas, mana aku ya ? :D |
Sekian. Terimakasih.
Ttd,
Alfin Haidar Ali.
*sumber gambar : M. Fikri Zulfikar-JawaPos.com/RadarKediri (Ar-Rahim.id)
0 Komentar