Trending

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Kisah Daftar PKU Gontor


 

Tulisan terakhir aku menulis pada hari Sabtu. Sekarang sudah hari Selasa. Hari Ahad pergi walimah ke rumah Ust. Mi’roj dan Uszth. Ira. Malam harinya itu tidak sempat nulis karena KBM fathul mu’in ternyata terlalu lama. Sampai jam 12 malam. Waduh.

Esok harinya, hari Senin dan Selasa tadi pagi, aku sakit. Sejak tadi pagi mulai mendingan. Sampai detik ini, selasa sore ini, aku masih belum benar-benar sehat. Tapi alhamdulillah, aktivitas mulai kembali normal.

Hari Selasa ini, bila kita flashback, hari ini adalah hari aku kembali pondok. Sore-sore mampir ke Utama Raya, jalan-jalan bentar, foto-foto lalu ba’da maghrib sampai di pondok. Alhamdulillah. Bsia jalan-jalan bareng keluarga, meski tanpa Leni. Mudah-mudahan, liburan maulid nanti, jalan-jalannya tambah lengkap. Bareng leni juga. Kalau perlu, bareng Mas Husni dan Istrinya. (semoga cepat nikah). Amiin.

Sakit kemarin ini, tentu ada hikmah dan pelajaran. Entah itu apa. Tapi bila ku renung dan fikir-fikir, ya mungkin karena banyak aktivitas yang aku kerjakan dalam sehari. Btw, catatan terakhir aku kan menulis jadwal harian seperti itu, rasanya itu terlalu banyak.

Aku harus melakukan yang prioritas dari semua pekerjaan. Prioritas saat ini adalah tugas Ra Fayyadl, terutama garap buku fikih lingkungan. Oh ya, aku sekarang tidak di media center lagi, tapi di bagian penerbitan. Kepindahanku saat ini merupakan pakonan langsung dari Ra Fayyadl.

Selain mengucapkan hal itu padaku saat selesai pengajian hari sabtu (pengajian ihya’) di Ma’had Aly, aku juga disuruh garap buku fikih lingkungan. Mohon doanya ya teman-teman, semoga kepercayaan dari guru ini tidak pupus lagi. Amiin.

Menulis di blog ini, bagi saya, merupakakan pemanasan untuk menulis artikel-artikel keislaman atau kolom di media-media online. Sebenarnya, sempat iri pada teman-teman saya yang mengalami kemajuan di banyak hal, termasuk soal produktifitas dalam menulis. Tapi tak apa, saya coba bangkit kembali untuk menulis artikel kembali.

Kalau tulisan di blog ini, sebenarnya ini tidak terlalu bergizi amat, karena isinya lebih pada curhat. Kalau teman-teman hendak membaca ya dipersilahkan. Kalau tidak ya tidak apa-apa.

Oh  ya, aku ada dua cerita yang bisa aku narasikan untuk di blog ini. Pertama, cerita tentang Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor,  yang aku rencananya mau ke sana bulan ini. Ke dua tentang pentingnya seleksi dalam memilih pasangan hidup. Sebuah kisah dari adik ipar bibi-ku yang sebelumnya pernah aku tulis ceritanya tentang sholawat.

Sekarang sudah jam 16:47 WIB. Saya mau mandi dulu. Lanjut nanti nulisnya ya.

***

Sekarang jam 19.01. Aku melanjutkan cerita itu.

Jadi begini, sebenarnya, aku telah daftar PKU di Gontor, Probolingo, Jawa Timur. Pendaftaran dan seleksinya via online. Aku ingat betul kapan seleksinya, yakni sehari sebelum haul Habib Sholeh. Tepatnya Sabtu, 06 Mei 2023.

Tes-nya meliputi tes bahasa arab, bahasa inggris, psikotes, pemikiran dan baca al-Qur’an. Pada hari Selasa (09/05) aku berangkat ke pondok. Dan, keesokan harinya, yakni pada hari Rabu (10/05) lalu pengumuman tes KPU itu. Alhamdulillah, aku lolos.

Pada hari kamis (11/05) ada pengarahan dari pihak PKU bagi peserta yang lolos via zoom. Pengarahan itu membahas: kapan harus ada di Gontor, barang apa saja yang harus dibawa, larangan selama di Gontor, termasuk resign/lanjut di program yang sangat serius ini.

Sebelumnya, bagi yang belum mengetahui PKU, akan ku jelaskan. Jadi PKU ini merupakan salah satu program Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Program ini merupakan program kajian pemikiran tentang timur dan barat yang mana para pesrta akan mengikuti berbagai kajian dan kegiatan yang cukup intensif. Mulai dari kajian/diskusi, menulis artikel/makalah mingguan, dua mingguan hingga bulanan.

Salah satu alumnus PKU ini adalah Gus Imdad Robbani yang merupakan putra pengasuh PP. Nurul Jadid. Selama 6 bulan, seluruh biaya ditanggung Gontor, kecuali perjalanan transport ke sana dan pulang ke instansi/rumah masing-masing. Jadi, seluruh biaya makan, mentor, pembelajaran dsb. Ditanggung pihak sana. Para peserta tinggal belajar dengan maksimal.

Menurut pihak PKU, biaya pada bulan ke enam yang akan diisi semacam seminari beberapa daerah/hotel (para peserta KPU yang akan jadi pemateri) ini biayanya sudah hanpir delapan ratus juta. Biaya semua orang. Nah, ini belum termasuk biaya bulan pertama hingga ke lima.

Kegiatan ini dimulai sejak bulan Mei hingga bulan November 2023. Paling akhir harus berada di Gontor itu tanggal 17 dan kegiatan akan dimulai pada tanggal 21 Mei. Jadi kira-kira, besoklah paling terakhir aku berangkat (seandainya jadi).

Nah ketika dinyatakan lolos begini, pihak KPU memberikan peringatan agar peserta yang lolos ini akan memberikan kepastian, terkait bisa/tidaknya untuk melanjutkan di PKU. Kalau mau resign/tidak ikut, lebih baik berhenti dari sekarang. daripada berhenti di pertengahan jalan, berarti peserta yang berhenti ini mendzolimi peserta lain yang gagal/tidak lolos padahal kuota-nya diberikan kepada peserta tadi.

Kalau dari aku pribadi, sebenarnya dari Ra Fayyadl disetujui. Tapi dari Ra Barizi (menantu Alm. Kiai Romzi) atau Naib Mudir II Ma’had Aly Nurul Jadid tidak mengizinkan.

Jadi, selesai ngezoom pengarahan dari pihak KPU itu sekitar jam 11 siang menjelang sholat dzuhur. Nah, ada peringatan melanjutkan/tidak, aku langsung terbayag untuk izin ke Ra Barizi, karena dari pihak keluarga dhalem, hanya beliau yang belum ku mintai izin.

Dalam hati, aku berharap agar Ra Barizi bisa ngimami (baca: menjadi imam) di sholat dzuhur berjama’ah. karena biasanya beliau tidak ngimami. Entah karena beliau sedang berpergian atau mungkin sedang istirahat.

Singkat cerita, ternyata beliau ngimami. Setelah selesai sholat berjamaah dzuhur itu, aku mengutarakan maksudku, yakni hendak ikut PKU dan soal menjadi guru abdi di ma’had aly yang harus 1 tahun itu, bisa nambah nantinya.

Aku juga bilang, bahwa aku sudah mendapat izin dari Ra Fayyadl. Aku juga bilang, kalau rencanaku ingin ikut PKU, kuliah S2 dan lain sebagainya. intinya soal pengabdian belakangan, bahkan andaikan aku nanti menetap di sekitar pondok. Berkeluarga dan menetap di sini, sehingga lebih mudah ngabdinya.

Tapi, siang itu beliau sedang ada urusan ke Madrasah Ibtidaiyah Nurul Mun’im (MINM). Akhirnya beliau menunda ‘ngobrol’ siang itu. Beliau akan manggil aku lagi nanti. Aku juga bilang, bahwa hari ini penetapan terakhir fix/tidaknya aku ikut PKU Gontor. Beliau mengiyakan.

Akhirnya, aku kembali ke asrama. Sekitar jam dua siang lebih, beliau memanggilku. Dawuh beliau singkatnya begini :

“Hasil istikharah terkait ikut tidaknya aku pada PKU ini adalah tidak baik. Barangkali, 1 tahun di sini, aku akan mendapat balasan yang lebih besar. Jadi tahun depan saja”.

Aku juga matur terkait hasil istikharah ini pada Gus Fayyadl. Beliau mengiyakan. Sore itu, sekitar jam 15.00 WIB, aku ke dhalem Gus Fayyadl bersama Bang Mun’im. Aku menjelaskan semuanya soal lolos ikut PKU, Ra Barizi yang tidak setuju hingga pengumuman tempat tugasan guru abdi yang belum jelas.

Hah. Intinya, beliau mengizinkan, mendukung bahkan aku disuruh matur lagi ke Ra Barizi. Tapi berhubung aku bilang lagi, bahwasanya keputusan dari Ra Barizi merupakan hasil istikhoroh beliau, akhirnya Gus Fayyadl menerima.

                Di akhir sowan itu, Gus Fayyadl memberi nasehat padaku, bahwa kalau ada program-program lagi, sebelum ikut, matur ke beberapa pihak. Biar mendapat restu/izin, kalau mendapat restu/izin, nanti didukung. Kalau didukung berarti didoakan.

Begitulah. Aku kemudian chat staff PKU Gontor. Aku resign dan bilang: barangkali tahun depan bisa ikut. Semoga tahun esok lebih indah. Amiin.

 


Posting Komentar

0 Komentar