Tulisan terakhir aku menulis pada hari Sabtu. Sekarang sudah hari Selasa.
Hari Ahad pergi walimah ke rumah Ust. Mi’roj dan Uszth. Ira. Malam harinya itu
tidak sempat nulis karena KBM fathul mu’in ternyata terlalu lama. Sampai jam 12
malam. Waduh.
Esok harinya, hari Senin dan Selasa tadi pagi, aku sakit. Sejak tadi pagi
mulai mendingan. Sampai detik ini, selasa sore ini, aku masih belum benar-benar
sehat. Tapi alhamdulillah, aktivitas mulai kembali normal.
Hari Selasa ini, bila kita flashback, hari ini adalah hari aku kembali
pondok. Sore-sore mampir ke Utama Raya, jalan-jalan bentar, foto-foto lalu
ba’da maghrib sampai di pondok. Alhamdulillah. Bsia jalan-jalan bareng
keluarga, meski tanpa Leni. Mudah-mudahan, liburan maulid nanti, jalan-jalannya
tambah lengkap. Bareng leni juga. Kalau perlu, bareng Mas Husni dan Istrinya.
(semoga cepat nikah). Amiin.
Sakit kemarin ini, tentu ada hikmah dan pelajaran. Entah itu apa. Tapi bila
ku renung dan fikir-fikir, ya mungkin karena banyak aktivitas yang aku kerjakan
dalam sehari. Btw, catatan terakhir aku kan menulis jadwal harian seperti itu,
rasanya itu terlalu banyak.
Aku harus melakukan yang prioritas dari semua pekerjaan. Prioritas saat ini
adalah tugas Ra Fayyadl, terutama garap buku fikih lingkungan. Oh ya, aku
sekarang tidak di media center lagi, tapi di bagian penerbitan. Kepindahanku
saat ini merupakan pakonan langsung dari Ra Fayyadl.
Selain mengucapkan hal itu padaku saat selesai pengajian hari sabtu
(pengajian ihya’) di Ma’had Aly, aku juga disuruh garap buku fikih lingkungan.
Mohon doanya ya teman-teman, semoga kepercayaan dari guru ini tidak pupus lagi.
Amiin.
Menulis di blog ini, bagi saya, merupakakan pemanasan untuk menulis
artikel-artikel keislaman atau kolom di media-media online. Sebenarnya, sempat
iri pada teman-teman saya yang mengalami kemajuan di banyak hal, termasuk soal
produktifitas dalam menulis. Tapi tak apa, saya coba bangkit kembali untuk
menulis artikel kembali.
Kalau tulisan di blog ini, sebenarnya ini tidak terlalu bergizi amat, karena
isinya lebih pada curhat. Kalau teman-teman hendak membaca ya dipersilahkan.
Kalau tidak ya tidak apa-apa.
Oh ya, aku ada dua cerita yang bisa
aku narasikan untuk di blog ini. Pertama, cerita tentang Program Kaderisasi
Ulama (PKU) Gontor, yang aku rencananya
mau ke sana bulan ini. Ke dua tentang pentingnya seleksi dalam memilih pasangan
hidup. Sebuah kisah dari adik ipar bibi-ku yang sebelumnya pernah aku tulis
ceritanya tentang sholawat.
Sekarang sudah jam 16:47 WIB. Saya mau mandi dulu. Lanjut nanti nulisnya
ya.
***
Sekarang jam 19.01. Aku melanjutkan cerita itu.
Jadi begini, sebenarnya, aku telah daftar PKU di Gontor, Probolingo, Jawa
Timur. Pendaftaran dan seleksinya via online. Aku ingat betul kapan seleksinya,
yakni sehari sebelum haul Habib Sholeh. Tepatnya Sabtu, 06 Mei 2023.
Tes-nya meliputi tes bahasa arab, bahasa inggris, psikotes, pemikiran dan
baca al-Qur’an. Pada hari Selasa (09/05) aku berangkat ke pondok. Dan, keesokan
harinya, yakni pada hari Rabu (10/05) lalu pengumuman tes KPU itu.
Alhamdulillah, aku lolos.
Pada hari kamis (11/05) ada pengarahan dari pihak PKU bagi peserta yang
lolos via zoom. Pengarahan itu membahas: kapan harus ada di Gontor, barang apa
saja yang harus dibawa, larangan selama di Gontor, termasuk resign/lanjut di
program yang sangat serius ini.
Sebelumnya, bagi yang belum mengetahui PKU, akan ku jelaskan. Jadi PKU ini
merupakan salah satu program Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor,
Ponorogo, Jawa Timur. Program ini merupakan program kajian pemikiran tentang
timur dan barat yang mana para pesrta akan mengikuti berbagai kajian dan
kegiatan yang cukup intensif. Mulai dari kajian/diskusi, menulis
artikel/makalah mingguan, dua mingguan hingga bulanan.
Salah satu alumnus PKU ini adalah Gus Imdad Robbani yang merupakan putra
pengasuh PP. Nurul Jadid. Selama 6 bulan, seluruh biaya ditanggung Gontor,
kecuali perjalanan transport ke sana dan pulang ke instansi/rumah
masing-masing. Jadi, seluruh biaya makan, mentor, pembelajaran dsb. Ditanggung
pihak sana. Para peserta tinggal belajar dengan maksimal.
Menurut pihak PKU, biaya pada bulan ke enam yang akan diisi semacam
seminari beberapa daerah/hotel (para peserta KPU yang akan jadi pemateri) ini
biayanya sudah hanpir delapan ratus juta. Biaya semua orang. Nah, ini belum termasuk
biaya bulan pertama hingga ke lima.
Kegiatan ini dimulai sejak bulan Mei hingga bulan November 2023. Paling
akhir harus berada di Gontor itu tanggal 17 dan kegiatan akan dimulai pada
tanggal 21 Mei. Jadi kira-kira, besoklah paling terakhir aku berangkat
(seandainya jadi).
Nah ketika dinyatakan lolos begini, pihak KPU memberikan peringatan agar
peserta yang lolos ini akan memberikan kepastian, terkait bisa/tidaknya untuk
melanjutkan di PKU. Kalau mau resign/tidak ikut, lebih baik berhenti dari
sekarang. daripada berhenti di pertengahan jalan, berarti peserta yang berhenti
ini mendzolimi peserta lain yang gagal/tidak lolos padahal kuota-nya diberikan
kepada peserta tadi.
Kalau dari aku pribadi, sebenarnya dari Ra Fayyadl disetujui. Tapi dari Ra
Barizi (menantu Alm. Kiai Romzi) atau Naib Mudir II Ma’had Aly Nurul Jadid
tidak mengizinkan.
Jadi, selesai ngezoom pengarahan dari pihak KPU itu sekitar jam 11 siang
menjelang sholat dzuhur. Nah, ada peringatan melanjutkan/tidak, aku langsung
terbayag untuk izin ke Ra Barizi, karena dari pihak keluarga dhalem, hanya
beliau yang belum ku mintai izin.
Dalam hati, aku berharap agar Ra Barizi bisa ngimami (baca: menjadi
imam) di sholat dzuhur berjama’ah. karena biasanya beliau tidak ngimami. Entah
karena beliau sedang berpergian atau mungkin sedang istirahat.
Singkat cerita, ternyata beliau ngimami. Setelah selesai sholat
berjamaah dzuhur itu, aku mengutarakan maksudku, yakni hendak ikut PKU dan soal
menjadi guru abdi di ma’had aly yang harus 1 tahun itu, bisa nambah nantinya.
Aku juga bilang, bahwa aku sudah mendapat izin dari Ra Fayyadl. Aku juga
bilang, kalau rencanaku ingin ikut PKU, kuliah S2 dan lain sebagainya. intinya
soal pengabdian belakangan, bahkan andaikan aku nanti menetap di sekitar
pondok. Berkeluarga dan menetap di sini, sehingga lebih mudah ngabdinya.
Tapi, siang itu beliau sedang ada urusan ke Madrasah Ibtidaiyah Nurul
Mun’im (MINM). Akhirnya beliau menunda ‘ngobrol’ siang itu. Beliau akan manggil
aku lagi nanti. Aku juga bilang, bahwa hari ini penetapan terakhir fix/tidaknya
aku ikut PKU Gontor. Beliau mengiyakan.
Akhirnya, aku kembali ke asrama. Sekitar jam dua siang lebih, beliau
memanggilku. Dawuh beliau singkatnya begini :
“Hasil istikharah terkait ikut tidaknya aku pada
PKU ini adalah tidak baik. Barangkali, 1 tahun di sini, aku akan mendapat
balasan yang lebih besar. Jadi tahun depan saja”.
Aku juga matur terkait hasil istikharah ini
pada Gus Fayyadl. Beliau mengiyakan. Sore itu, sekitar jam 15.00 WIB, aku ke
dhalem Gus Fayyadl bersama Bang Mun’im. Aku menjelaskan semuanya soal lolos
ikut PKU, Ra Barizi yang tidak setuju hingga pengumuman tempat tugasan guru
abdi yang belum jelas.
Hah. Intinya, beliau mengizinkan, mendukung bahkan
aku disuruh matur lagi ke Ra Barizi. Tapi berhubung aku bilang lagi,
bahwasanya keputusan dari Ra Barizi merupakan hasil istikhoroh beliau, akhirnya
Gus Fayyadl menerima.
Di akhir sowan itu,
Gus Fayyadl memberi nasehat padaku, bahwa kalau ada program-program lagi, sebelum
ikut, matur ke beberapa pihak. Biar mendapat restu/izin, kalau mendapat
restu/izin, nanti didukung. Kalau didukung berarti didoakan.
Begitulah. Aku kemudian chat staff PKU Gontor. Aku resign dan bilang:
barangkali tahun depan bisa ikut. Semoga tahun esok lebih indah. Amiin.

0 Komentar