Kabar duka tentang wafatnya Kiai Azizi Hasbullah masih menyelimuti hati saya. meski hanya mendengar nama dan sekilas soal cerita-cerita dedikasi beliau soal ilmu, rasanya sangat eman sekali beliau sampun kapundhut. Allah telah memanggil beliau agar pulang ke dalam pangkuan rahmat-Nya.
Jangankan untuk nyantri, pernah
duduk satu majelis dalam sebuah forum bahtsul masail saja, saya pun tidak
pernah. Tapi entah mengapa, dari banyak pengakuan orang, rasanya dalam nurani
ini tidak bisa mengingkari beliau memang orang alim, dzohir dan batin.
Pengabdian tanpa batas waktu, baik kepada ilmu dan ahli-nya, merupakan teladan nyata yang beliau wariskan kepada generasi berikutnya. Saya juga heran, mengapa saya ikut sedih ketika Kiai Azizi wafat. Padahal ngaji di youtube sekali saja, itu –seingat saya- tidak pernah habis/full. Tapi dalam hati, saya yakin beliau benar-benar orang alim. Dan, bagaimana kedudukan orang alim di dalam agama Islam ?
Banyak sekali riwayat yang menjelaskan. Diantaranya adalah sabda nabi yang menjelaskan perbedaan kasta antara orang alim dan orang ahli ibadah tapi bodoh itu seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.
Intinya begini, orang alim itu
sangat mulia sekali, baik di sisi manusia maupun Allah. Melalui perantara guru
dan ilmunya, kita jadi tahu mana yang baik dan buruk. Mana yang agak baik dan
agak buruk. Mana yang samar di antara ke duanya dan masih banyak hal yang
lainnya.
Tadi pagi, sekitar pukul jam tujuh lebih, saya coba komentar story WA ucapan duka Gus Fakhri Nur Chotim Zaini (NCH) tentang wafatnya Kiai Azizi. Sebelum bahas, saya jelaskan dulu bahwa beliau merupakan cucu K.H. Zaini Mun'im (Pendiri PP. Nurul Jadid, tempat saya mondok sekarang). Beliau merupakan cucu dari jalur K. Nur Chotim Zaini yang merupakan putra terakhir dari tujuh bersaudara putra Kiai Zaini Mun'im.
Nah, pagi tadi, saya berkomentar begini, “Amiin. Semoga muncul Kiai Azizi-Kiai Azizi lainnya di Nurul Jadid kiai (pakai emot tangan berdoa dan orang dengan mata berkaca-kaca”.
Beliau mengamini dan mengatakan, “saya
tidak peseimis dan tidak over optimis. Saya realistis”. Beliau kemudian
mengirim screenshot sebuah memoar tentang Kiai Azizi yang beliau tulis di Grup
Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) Nurul Jadid.
Saya coba ketik ulang memoar
beliau dalam tulisan ini :
Bagi beliau dan terutama semua perumus angkatan-angkatan lawas, entah sekarang ini, mengedepankan prinsip atau apa yang jadi kebiasaanya para kiai zaman dulu: “hanya cukup dengan fathul qarib saja dalam mencari rumusan jawaban as’ila”. Dalam teori dasar semestinya bisa ditemukan secara prinsi dari pertanyaan/as’ilah yang ada apa arah inti gagasan utamanya. Bukan tidak perlu dan butuh rujukan yang lebih tebal dan lengkap. Tapi perlu menggali terlebih dulu dari yang mendasar kemudian baru pengembangan prinsip-prinsip konsepnya.
Berjilid-jilid
kitab dipajang di display rak buku. Tapi isi konsepsinya nihil masuk ke pikiran
dan kalbu santri, entah pengurus maupun bukan yang berkepentingan buka-buka
kitab-kitab tersebut sebagai referensi rujukannya.
Begitulah, Alm. K.H. Azizi Hasbullah mempopulerkan tradisi prinsip-prinsip lama
para kiai zaman dulu tadi.
Prinsip back to
basic atau kembali pada hal-hal yang mendasar ini mendukung pada hal-hal yang
mendasar ini mendukung pada ketajaman berpikir dan mengasah pisau analisis juga
ketelitian dan sisi kekritisan nalar berpikir.
Lah, kalau dijejali pentingnya literatur seabrek tanpa tahu urgensinya apa selain pengembangan konsep-konsepnya lantas dari mana mau dapat pondasinya kalau bukan hal-hal yang mendasar, juga di sisi lainnya yang ada hanya akan berisi kebingungan dan kebuntuan, bukan pencerahan yang berasal dari pemahaman yang mendalam.
Mau mengakar
dari mana perakaran tradisi literasinya kalau soal pemahaman mendasar saja
tidak punya ?
***
Ada banyak ilmu dan muhasabah
dari memoar di atas. Diantara “serpihan” cerita beliau adalah pentingnya
memahami konsep dasar-dasar pondasinya dari hal-hal terkecil dan bahkan itu
induk dari semua konsepi-konsepsinya.
Beliau juga bercerita tentang Forum
Kajian Ilmiah (FKI) Lirboyo yang kemudian menerbitkan karya. Forum ini menjadi cikal bakal karya terbitan Lirboyo yang seringkali produk terbitan karya mereka sangat diterima banyak pesantren di Indonesia.
“Dulu, alm. KH. Azizi Hasbullah
itu menelorkan -salah satunya- Kiai Darul Azka yang nama FB-nya Laisa Azka
Minka Ashlan & Kiai Asnawi yang nama FB-nya Asnawi Sonodikromo. Beliau
berdua di angkatan kami Turaats Cak Mad, garap sorogan Ushul fiqh dengan
bentuknya. Salah satunya ngajak belajar menyusun kerangka berpikir fiqih. Dan,
asalnya dari Fathul Qarib. Agar tidak selalu selamanya dikembalikan ke kaidah-kaidah
fiqih terlebih dulu.
Dengan tujuan biar mempermudah
pakai literatur dasar ysng mudah dipahaminya. Baru nyebrang ke kaidah-kaidah Ushul
dengan berbagai macam hadits juga Qur'an sebagai dalil Naqlinya & ma'tsur-aat
dari para sahabat juga tabii'in termasuk pemikiran madzahib itu.”
Pagi tadi, tidak hanya membahas almarhum
Kiai Azizi, tapi juga soal FKI atau literasi, penitngnya menikmati proses kehidupan,
cerita Kiai Zaini perihal mendidik Kiai Abdu Haq & Kiai Nur Chotim Zaini
dan lima kegiatan sehari-hari Ra Fakhri di Lirboyo.
Ya, saya takut untuk menyimpulkan
langsung-langsung tanpa menghayati betul meresapi nasehat tersebut dengan penuh
penghayatan. di akhir percakapan istifadah pada beliau, selain minta izin
menulisnya di blog pribadi, tak lupa saya minta bersyukur dan berdoa semoga diakui
santri NJ serta masih erat robitoh (ikatan batiniah, red) dengan
masyayikh Nurul Jadid. Amiin.
Sehat selalu para guru-masyayikh
Nurul Jadid. ila jami’i walidiina, wa masyayikhina wa ila Kiyahi Azizi
Hasbullah, Lahumul Fatihah.

0 Komentar