Trending

6/recent/ticker-posts

Akhirnya, Pelatihan Jurnalistik Itu Rampung

 



Hari Selasa (23/05) lalu, pelatihan jurnalistik part 2 ku rampung. Alhamdulillah. Kegiatan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Kegiatan ini dilaksanakan di aula mahrom al-Hasyimiyah Dhalem Timur (Daltim). Kegiatan ini diikuti oleh anggota Badan Informasi dan Penerbitan (BIP) asrama Madrasah Aliyah Peminatan Keagamaan (MA-PK).

Kegiatan dimulai –kira-kira- sejak pukul dua siang hingga jam 4 lebih. Aku pulang jam setengah lima sore, mampir ke asrama MA-PK Putra dan nyantai di sana. Silaturahmi dan pulang ke asrama ma’had aly ketika hampir maghrib.

Pertemuan itu, kalau dalam materi dalam undangannya membahas tentang praktik membuat berita. Alhamdulillah, adik-adik ini sudah membuat dan mengumpulkan satu berita.

Sebelum pematerian, sesunggunya, aku sempat bingung mau ngomong apa. Karena soal jurnalistik ini, apalagi dalam membuat berita, tidak ada hal yang paling banyak dilakukan selain praktik. Membaca dan menulis. Soal materi bisa menyusul belakangan atau dipelajari sambil jalan. Learning by doing.

Sebelum mengoreksi berita-berita adik-adik itu, aku coba menerangkan tentang pondasi jurnalistik. Aku mencari bahan ini di OpenAI ChatGPT. Aku baca-baca, pahami lalu tinggal menyampaikannya pada adik-adik.

Selain itu, aku juga banyak menyelipkan obrolan seputar hal-hal yang lebih prinsip. Hal-hal yang lebih prinsip dari materi jurnalistik ini tentu saja subjektif. Menurutku pribadi sekali. Hal-hal itu adalah tentang nilai-nilai yang kita anut dan yakini, cara berpikir, mengatasi masalah dan merespon hal-hal yang kita temui di sekitar kita.

Sedikit-dikit bahas tasawuf dan nilai-nilai keimanan. Karena bagiku, hal-hal ini yang lebih penitng daripada materi jurnalistik yang merupakan satu hal kecil dalam kehidupan kita.. Bila kita tidak diberi pemahaman soal bersifat “prinsip” dan “metodologis”, maka pengetahuan hanya menjadi “file” dalam otak kita. Materi itu tidak menemukan perannya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, itu yang sangat tidak aku sukai.

Contohnya adalah ketika ada yang bertanya padaku, bagaimana mengatasi anggota di organisasi jurnalistik ada yang kurang aktif ?

Ya, aku jawab, soal ikhtiar itu bisa dengan cara menegurnya. Dialog. Kita buka ruang kesepahaman, kesetaraan dan bagaimana enaknya kedepannya. Ada permasalahan apa dan bagaimana solusinya.

Tapi kalau soal solusi spiritual, ya difatihahi anggota itu. Alfatihah itu salah satu surat paling ampuh mengabulkan permintaan. Asal kita yakin saja, insyaallah terkabul. Makanya, tak heran bila ada anak mengirim fatihah pada orang tua dan sebaliknya. Guru pada santrinya atau sebaliknya, dengan hajat tertentu. Ya, memang al-fatihah memiliki keistimewaan tersendiri.

Intinya, ketika menghadapi masalah apapun, tidak mengandalkan usaha diri kita sendiri, tapi hanya Dia yang memampukan semuanya. Termasuk perihal anggota yang kurang aktif itu. Ini kelihatan sepele, tapi kalau tidak kita pahami dan hayati betul, suatu saat bisa jadi kita meyakini bahwa usaha kita itu memiliki dampak yang hebat, makan itu bisa mengenyangkan misalnya, dan banyak hal lain. Padahl, semuanya adalah nol, yang bisa dan mampu hanyalah Dia.

Soal teori dan pertanyaan-pertanyaan tentang jurnalistik, adik-adik bisa tanya ke AI Cat GPT saja. tingga tanya, semua muncul. Sedangkan soal nilai-nilai, siapa yang mau mengajari kalau tidak mengaji, mondok dan memiliki guru spiritual seperti para kiai dan bu nyai ?

Entahlah. Aku cocok apa tidak jadi narasumber seperti itu. Lha, pembahasanku tidak seputar jurnalistik saja. Macam-macam. Entahlah. Semoga bermanfaat dan membawa dampak positif kepada semua pihak yang terlibat. Amiin.

 

Kantor Wilayah. Rabu malam selasa, 24 Mei 2023.

Posting Komentar

0 Komentar