Kata temanku,
“anak-anak itu tidak jelas apa maunya. Bagaimana mau ngobrol soal masa depan,
sedangkan ia belum selesai dengan dirinya. Apa kemauannya, mau minta saran atau
tidak. Ia bingung tapi hanya diam saja”
Aku hany
mengangguk. Setiap orang memang berbdea-beda dalam menanggapi suatu keadaan,
peristiwa ataupun masalah. Ada yang perlu curhat dengan teman atau orang tua,
ada yang perlu menulis diary, tidur atau bahkan menangis tersedu-sedu di tengah
malam buta, bersujud kepada sang ilahi tanpa seorang pun yang mengetahuinya.
Manusia memang berbeda-beda. Aku heran, mengapa manusia saling menyalahkan
dan gagal memahami. Aku juga manusia, kadang aku melakukan kesalahan, tapi
setidaknya aku banyak diam. Memperhatikan. Dari diam itu aku berfikir dan
merenung.
Aku coba tidak menghakimi, menilai dari sekedar penampakan luar apalagi
menyalahkan orang lain.
Katanya sih, orang itu seharusnya tidak kalah dengan mood atau
berubah-ubahnya musim perasaan dalam dirinya. Tidak boleh tergantung mood. Kita
harus mengkondisikan hati kita, agar bagaimanapun kondisi keadaan, semua
tanggung jawab dan amanah dapat terlaksana dengan baik.
Yah, meskipun hal itu tidak semudah yang tidak dibayangkan. Tidak seringan
diucapkan.
Saat ini, aku merasa bersyukur sekali. ingin nangis karena Allah telah
memampukanku melewati hari-hari pelik itu. Apapun itu. Baik yang dikejar
deadline, rasa malu yang berlebihan hingga rasa sakit yang hanya bisa ditahan
diri sendiri, hanya orang-orang yang benar terlibat saja tahu. Mengingat masa-masa
itu, rasanya perih sekali. Disayat pelan-pelan, tapi rasanya sampai ke dalam
hati.
Yang bisa dilakukan hanya menahan sekuat-kuatnya, menjerit di dalam hati
sedalam-dalam nya. mata terpejam. Sakit,
tapi tak ada orang yang tahu. Memang orang lain tak perlu ada yang tahu.
Bukankah begitu ?
Media Center, Jum’at, 07 April 2023.

0 Komentar