Tadi menemani Roni sowan ke Ra Fayyadl. Ia konsultasi tentang
keinginannya untuk ikut Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor bersamaku, tapi
di sisi lain ia masih belum sembuh total dari penyakitnya yang sudah lama
sekali.
Beliau banyak memberik masukan dan pertimbangan, yang pada intinya, kami
disarankan untuk konsultasi ke K.H. Moh. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid)
dan Kiai Fadhlurrahman Zaini (Banyuwangi). Beliau berdua akan memberikan pertimbangan
yang lebih matang untuk kedepannya.
Beliau juga bahas S2. Aku mau lanjut di mana. Sebenarnya aku juga bingung,
antara melanjutkan di dalam negeri atau luar negeri. Hah. Entahlah. Aku rasanya
masih nanggung-nanggung. Fikih ya sekedar tahu, sedangkan kajian pemikiran juga
begitu. Belum mendalam.
Beliau menegurku karena belum yakin betul mau melanjutkan ke mana. Selain itu,
jangan nanggung-nanggung. Jangan merasa banyak waktu. Intinya belajar secara mendalam
dan semangat jangan pernah padam. Yang penting bukan kuliah di mana, tapi
belajar apa.
Waktu setahun tanpa dunia perkuliahan ini, aku disuruh beliau untuk persiapan
S2 ini. Terutama terkait reading bahasa inggris. Karena pergaulan internasional,
penguasaan bahasa arab dan inggris itu mutlak. Bahkan, beliau siap mementori
soal kecakapan membaca teks bahasa inggris ini.
Sejenak, malam ini aku terdiam. Kemarin aku mendapat nasehat dari Gus
Fakhri untuk menjalani semua proses dengan enjoy, sedangkan tadi pagi aku mendapat
asupan baru soal bergegas dalam bertindak, tidak mengulur-ngulur waktu dan
melakukan semuanya dengan persiapan matang.
Entah bagaimana takdir akan mengantarkan kita ke mana. Satu hal yang pasti
dan kita perlu banyak belajar dari berbagai peristiwa yang disuguhkan-Nya
kepada kita, yakni ridha terhadapt takdir. Baik takdir baik maupun buruk.
Sekian. Terimakasih.
Kantor Wilayah. Rabu malam Kamis, 24 Februari 2023

0 Komentar