Trending

6/recent/ticker-posts

Cerita di Jakarta: Dari Perjalanan Hingga Bermalam di P4NJ (1/5)

 

Foto di salah satu rumah makan menuju ke Jakarta. Btw, ada 2 kali makan ke RM menuju Jakarta itu.

Sebelum membahas detail soal perjalanan ke Jakarta, aku ingin menulis asal-usulku ke sini. Semua ini bermula sejak kebingunganku untuk membahas permasalahan apa dalam mengerjakan Tugas Akhir (TA). Aku awalnya pasrah ambil mengarang nadzam saja karena tak ada ide untuk meneliti apa. Beberapa orang menyayangkan keputusanku karena menurut mereka aku lebih cocok mengambil TA penelitian dari pada mengarang nadzam atau mensyarahi kitab.

Jadi aku sowan ke Gus Fayyadl. Nah, aku disaranin untuk meneliti fikih lingkungan-nya Kiai Ali Yafie. Aku juga ‘disaranin’ ke Jakarta untuk wawancara kepada beliau. Kiai Ali Yafie ini merupakan salah satu penggagas fikih lingkungan di Indonesia. Beliau lebih senior dari Kiai Sahal Mahfudz dan Kiai Ahmad Shiddiq.

Di era Gus Dur menjabat Ketum PBNU, Kiai Ali Yafie pernah menjabat sebagai Rois Am PBNU. Sebuah jajaran tertinggi di organisasi Islam ini. Tapi sayang, beliau mengundurkan diri karena ada permasalahan yang tak terjembatani. Saat ini, usia beliau menginjak sekitar 96 tahun Masehi. Aku yang ke rumah beliau pas hari Jum’at lalu, beliau dalam keadaan ‘gerah’. Kata Kiai Helmy Ali Yafie, putra Kiai Ali Yafie, beliau hanya ada di atas ranjang saja, tidak ada stamina sama sekali.

Infografis tentang Kiai Ali Yafie yang pernah dikirimi Gus Fayyadl


Tapi sebelum memutuskan berangkat, aku tentu konsultasi dengan pembimbing TA ku, yakni Ra Imdad dan Ust. Husen. Aku juga konsultasi ke ibu sebagai orang terdekat dan tentunya Gus Fayadl lagi. Sebenarnya beliau tak memaksa, seandainya cukup pakai buku-buku karya beliau, tidak usah ke Jakarta juga tidak apa-apa. Tapi setelah sidang proposal itu, para penguji tentu menyarankan aku ke sana sebagai sumber data primer penelitianku. Saat itu aku sudah merasa bahwa kenyataan untuk ke Jakarta, sendirian, akan ku laksanakan. Cepat atau lambat. Apalagi ibuku sudah mentransfer uang untuk bekal perjalanan cukup jauh ini.

Untuk pergi ke Jakarta memang tak selalu istimewa. Cukup punya uang, koneksi teman dan jaringan internet, barangkali teman-teman sekalian dapat ke sini juga. Dengan persiapan dan perencanaan lebih matang, insyaallah semua aman dan baik-baik saja. Tapi bagiku yang hidup di desa dan kawan-kawan) ku di pondok mayoritas belum pernah ke Jakarta, pengalaman ini merupakan pengalaman langka. Aku harus berjibaku dengan diri sendiri untuk menuntaskan semuanya. Ke Jakarta sendiri dan pulang sendirian juga. Semua serba alone.

Ada saja hal-hal yang cukup mengganggu dari pra keberangkatan hingga detik ini aku menulis catatan, yang membuat ingin mengelus dada dan berkata pelan-pelan dalam hati, “Hah, Ya Allah. Paringi kekuatan, kesabaran lan lapang dada. Syukur sebanyak-banyaknya”.

Perjalanan tak selalu mulus. Rasanya ingin menangis ketika sedang di masa-masa sulit. Tapi tidak apa-apa, semua memang harus dijalani.

Dari beberapa fase tadi, akhirnya diputuskanlah aku berangkat hari Rabu. Aku berangkat Rabu sore, sekitar jam 3. Sempat ada drama kecil-kecilan sebelum pemberangkatan.

Jadi gini, aku kan tidak punya ATM. ATM ku hilang karena suatu sebab yang tak ku ketahui. Nah, sebelum berangkat itu, siang hari sekitar jam 2, pihak bis yang menangani penumpang dan pembayaran ini bilang bahwa pembayaran harus via transfer. Aku baru tau saat itu. Loh, kok tidak dari jauh-jauh hari yang bilang harus transfer. Padahal rencana awal, aku berangkat jam 2 tapi baru jam 2 ini ia bilang pembayaran harus dilakukan trasnfer.

Awalnya kan aku nyangka nya bisa bayar cash di bis nanti. Ternyata untuk naik bis itu, dari pemesanan kursi hingga pembelian tiket harus transfer. Akhirnya setelah nelfon beberapa kali, akhirnya diputuskanlah aku naik bis jam 7 malam nanti, karena memang ada pemberangkatan pada jam tersebut. Kata orang itu, daripada terburu-buru dan ada barang ketinggalan, berangkat nanti saja. Fix dah. Padahal aku sudah siap dengan semuanya, ternyata harus ditunda. Iya dah. Tidak apa-apa.

Aku sama Zillul bergegas transfer. Aku yang ada yang uang cash langsung setor tunai dan transfer ke rekening orang itu. Dan lagi, ternyata setelah transfer lalu ku kirim bukti transfernya, orang ini telfon kalau berangkatnya sekarang. Bisnya ada di Besuki. Segera tunggu di Tanjung. Wah, auto panik aku kan. Aku langsung ke pondok, bawa barang bawaan dan gas menuju tanjung. Alhamdulillah, aku nututi bis itu. Aku sampai di tanjung dan bis Kramat Djati itu baru sampai. Hah.

Aku pun naik bis di nomer 2. Paling depan. Bisnya ber AC. Ada selimut tiap kursi dan tentu ada toilet atau kamar kecilnya. Aku sering kedinginan karena tidak pakai kaos kaki meski sudah memakai selimut. Aku juga pinjam kabel data untuk charger hp ke penumpang sebelah yang ternyata cukup ramah dan baik hati. Aku yang tidak bawa makanan camilan juga dikasih penumpang sebelah. Alhamdulillah. Perjalanan keberangkatan sejauh ini cukup aman.

Oh ya, biaya ke Jakarta dari Paiton itu sebesar Rp. 390.000. itu sudah makan dua kali. Makan pertama di daerah Surakarta - Solo dan yang ke dua di Indramayu, Jawa Barat. Untuk lama perjalanan, aku berangkat sekitar jam 3 sore dan sampai di Ciputat jam setengah sepuluh. Padahal, aku sebelum itu sudah tanya ke pihak yang menangani tiket bis kalau perjalanan Paiton – Jakarta itu 22 jam. Tapi Alhamdulillah dapat sampai lebih cepat dan selamat. Jadi aku ada waktu untuk istirahat.

Nah, untuk turun di mana, aku sudah mendapat arahan dari Mas Syahrul agar aku turun di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Ia kakak kelasku di MAK yang lanjut kuliah di Jakarta. Aku sudah tanya ke kernet dan supir busnya, mereka jawab, masih jauh mas. Nanti saya turunin kok.

Ya sudah, aku diam saja di bis, meski para penumpang sudah kosong. Memang sempat sih berhenti agak lama saat ngisi solar di pom tadi, tapi karena kata kernetnya nanti akan diturunin pas sampek UIN, ya sudah aku tetap diam di bis. Sendirian. Eh, ternyata bisnya melewati UIN dan aku tidak turun juga. Aku tahunya hal ini saat sudah lewat dan pihak kernet menyadari keberadaanku yang sendirian di dalam bis. Untungnya masih di daerah Ciputat. Alhamdulillah, sepertinya tidak terlalu jauh dari kosannya Mas Syahrul yang notabene adalah markasnya Fajar Zaini.

Sampek ke Fajar Zaini, aku jadi ingat pesan Mas Hilman saat izin di wilayah agar aku main-main juga ke Fajar Zaini. Alhamdulillah lagi, secara tidak sengaja aku sudah menunaikan amanahnya Mas Hilman.

Aku di Fajar Zaini itu makan pagi, istirahat dan selebihnya banyak main hp hingga sore hari. Sore hari, aku menuju ke kantor PBNU. Sebenarnya aku ada rencana ke kantor bincangsyariah dan islami.co. Ke dua kantor media keislaman ini terletak tak jauh dari Fajar Zaini. Masih sama-sama di Ciputat lah. Tapi karena menyesuaikan dengan orang yang hendak aku temui, akhirnya aku ke Kramat Raya, di kantor PBNU terlebih dahulu. Aku hendak menemui Mas Alhafiz Kurniawan.

Mas Hafiz ini adalah dosen Universitas Indonesia yang kini aktif di bagian keislaman dan reportase NU.Online. Senang sekali ketemu orang ramah meski dengan berbagai kesibukan pentingnya. Menemui orang sepertiku yang tak penting sekali, adalah hal yang berkesan tersendiri bagiku.

Aku di kantor PBNU itu juga ketemu Pak Anas. Beliau ini merupakan bagian dari Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) PBNU. Sebelum itu, aku sudah kontak Pak Anas tapi tidak dibalas. Ketika tidak sengaja ketemu dan salaman di lantai 4 PBNU itu, aku bilang bahwa nanti mau ngobrol di mana geh ?, Beliau langsung menunjuk ke arah ruangan LWP PBNU itu.

Jadi aku menemui Mas Hafiz dulu. Ia berada di ruangan LBM PBNU karena selain aktif di NU Online, ia juga termasuk bagian LBM PBNU bareng Gus Kholili Kholil. Aku juga ada rencana bertemu Gus Kholili Kholil, tapi sayang beliau pulang saat aku berangkat ke Jakarta.

Aku ngobrol dengan Mas Hafiz, dari Maghrib hingga pukul sekitar setengah sembilan malam. Mulai dari latar belakang, pengalaman, pentingnya BM Qonuniyah di lingkungan ma’had Aly dan terakhir ditutup dengan sesi foto bersama.

Terimakasih ya mas sudah mau direpotin, menyempatkan waktu hingga telat pulang gara-gara saya.

Bincang santai bareng Mas Hafiz Kurniawan, Redaktur Berita dan Konten Keislaman NU Online. Ngobrol di lantai 4 kantor PBNU.


 

Bincang Dengan Pak Anas Nasikhin

Aku pun berlanjut ke ruangan sebelah. Ruangan LWP PBNU itu juga di lantai 4. Bareng Pak Anas. Beliau ini ternyata pernah ngajar di Ma'had Aly Nurul Jadid saat mudirnya masih Kiai Zuhri Zaini. Ma'had Aly masih jurusan dakwah. Beliau saat itu ngajar analisis sosial. Saat ini beliau menjadi bagian LWP PBNU. Terimakasih sudah berkenan ditemui kami ya pak.

Cukup malam perbincangan kami. Ada banyak nasehat, kisah dan tentunya guyonan yang kami dapatkan malam itu. Malam itu juga, aku kenalan dengan Pak Haris selaku staf di LWP PBNU dan Pak Rofiq, bagian resepsionis lantai 4. Pak Rofiq ini ternyata alamat rumahnya dekat dengan rumahku. Di daerah Jember sana. Selain itu, aku juga minta kontaknya Pak Umam, ia ahli Ushul fikih, lulusan Sudan dan sekarang sepertinya aktif di LWP PBNU juga.

Malam itu, akhirnya kami (aku dan Mas Syahrul) bermalam di Tebet, Sekretariat P4NJ Jabodetabek. Lokasinya cukup dekat dari PBNU daripada kami harus kembali ke Ciputat. Terimakasih semuanya.

Bersambung.

Foto bareng Cak Anas Nasikhin (tengah), alumnus PP. Nurul Jadid. Sekarang menjadi bagian di Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) PBNU. Foto bareng Mas Syahrul (kanan). 


Posting Komentar

0 Komentar