Trending

6/recent/ticker-posts

Drama 1 : Uang Hilang dan Perjalanan Menuju Ke Kediaman Kiai Ali Yafie (2.1 / 5)

  

Foto bareng Kiai Helmi Ali Yafie (70 thn-an), Putra Alm. Kiai Ali Yafie.

Isa mengajakku untuk ke perpustakaan PBNU. Ketika hendak mengisi daftar hadir di sana, aku mengurungkan niat karena janji dengan Kiai Helmy Ali Yafie (putra Kiai Ali Yafie) yakni pagi – siang, karena sore hari beliau ada perawatan khusus. Aku tidak ingin telat sebenarnya, karena jarak dari kantor PBNU yang berada di Jakarta Pusat dengan kediaman Kiai Ali Yafie di Bintaro (cek di maps) itu sejauh 26,2 KM.

Kalau naik kereta (sesuai dengan pilihan transportasi di maps), butuh waktu sekitar dua hingga dua jam setengah untuk menuju ke sana. Awalnya, perjalanan terlihat aman dan baik-baik saja. Meski aku harus dikejar waktu karena siang itu -dalam jadwal seharusnya- aku harus di kediaman Kiai Ali Yafie sesuai dengan arahan Kiai Helmy. Sore hari jam empat mau ke Ust. Ahong (Pemred Bincangsyariah) yang secara perjalanan dari daerah Bintaro ke kantor Bincang Syariah butuh waktu sekitar 23 menit / setengah jam.

Lalu setelah dari Bincang Syariah (BS), aku menjadwalkan diri ingin ketemu redaksi islami.co yang mana perjalanan dari kantor BS ke Islami.co itu lumayan dekat, yakni butuh waktu sekitar 12 menit. Karena dua kantor media keislaman ini sama-sama berada di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Tapi, ekspektasi tak sesuai realita. Aku dan Isa dari PBNU, naik grab car menuju stasiun KRL Matraman lalu naik KRL menuju stasiun Sudimara itu butuh waktu cukup lama. Butuh waktu sekitar satu jam lebih. Ketika sampai di stasiun Sudimara ini, aku baru menyadari satu hal: uangku hilang.

Ah, ini kejadian yang cukup memukulku sebenarnya. Aku kehilangan uang yang bagiku tak sedikit, yakni Rp. 900.000. Ini adalah uang saku dan bekalku dari ibu yang hilang di Jakarta. Aku merasa sedih, bersalah dan ingin marah.

Saat itu sebenarnya sedang dramatis meskipun aku berusaha untuk tenang, meski tidak bisa dipungkiri pikiranku saat itu sedang berkecamuk. Coba anda bayangkan, sendirian ke Jakarta tapi justru uang saku yang sebesar itu hilang begitu saja. Tak tahu sebabnya. Ya Allah. Paringi kesabaran.

Sekali lagi, aku coba berdamai dengan keadaan.

Tapi bagaimanapun keadaannya, kehidupan harus berlanjut. Aku harus sampai tepat waktu ke kediamannya Kiai Ali Yafie. Aku ada janji untuk wawacara beliau sebelum beliau ada perawatan khusus pada sore hari.

Waktu terus berjalan. Pesan grab dan gojek itu kami cukup lama. Dari permasalahan jaringan, tempat/titik penjemputan yang sangat beda dari tempat kami berdiri, hingga banding-bandingkan harga yang paling murah, antara pakai motor/mobil dan juga antara pakai jasa layajan grab atau  go-jek.

Aku mengandalkan Isa untuk pesan transportasi. Aku mengandalkan Isa karena ia yang punya uang sekarang, aku tidak pegang uang sama sekali. Hah. Kami berdiri cukup lama. Sempat ditawari oleh ojek offline yang perorang harganya dua puluh ribu menuju ke perumahannya Kiai Ali Yafie. Waktu semakin mendung. Sepertinya hujan akan turun. Aku juga dikejar waktu. Akhirnya, aku memutuskan untuk naik grab motor saja. Pelayanan lebih gercep dan mudah.

Aku pesan dua motor, karena kalau pakai mobil itu lebih mahal. Uang Isa pas-pasan, jadi kami harus berhemat. Satu motor datang lebih awal, Isa ku persilahkan untuk naik lebih awal karena uangnya saat itu Rp. 100.000 tidak bisa dibagi dua. Jadi aku bayarnya nanti setelah Isa sampai di tempat tujuan, nanti aku bayar pakai uangnya Isa setelah Isa bayar grab yang ia tumpangi.

Ternyata oh ternyata, saat itu hujan sedang turun. Aku menyempatkan ke parkiran sepeda motor di stasiun Sudimara. Karena disitu aku ganti celana lalu pakai sarung. Karena mau ketemu seorang kiai kan. Jadi kurang enak sepertinya kalau pakai celana.

Aku berlari menuju tempat tadi aku ganti sarung laku kembali ke tempat Abang Grab di tempat bernaung itu. Berlari menembus hujan sambil sarungan. Tapi uang itu tetap tidak ada. Setelah abang Grab itu mencari plastik untuk membungkus hp-nya, kami pakai mantel/jas hujan. Hanya saja mantel untuk celanaku tidak ada, hanya ada untuk baju saja. Jadilah kami berangkat dengan memakai setengah jas hujan. Jelas, sarungku basah.

Yang jadi masalah lagi, setelah sampai di pintu masuk perumahan kediamannya Kiai Ali Yafie, ternyata Isa belum sampai. Ia berteduh bersama abang Grab-nya. Aku sampai di gerbang pos perumahan elit kediaman Kiai Ali Yafie. Dan, aku kebingungan mencari uang untuk membayar Abang Grab yang gunakan jasanya. Sebagaimana konsep / rencana awal tadi, Isa nyampek duluan, bayar dulu lalu bayarin aku. Eh, ternyata Isa berteduh saat hujan itu. Entah dimana. aku tahu dia berteduh karena ia chat WA-ku.

Akhirnya aku cari pinjaman uang ke satpam di perumahan itu. Pak Satpam bilang tidak ada. Ia juga bertanya pada orang-orang disekitarnya, mereka juga menjawab tidak ada. Aku akhrinya coba melobi Abang Grab agar menunggu temanku, Isa, untuk membayar jasanya sebesar Rp. 15.000. Tapi si Abang Grab tetap bersikukuh tidak mau menunggu dengan menjawab bahwa ia ingin cari orderan lagi. Hujan masih turun, meski agak reda. Gerimis. Aku masih bingung dengan keadaan itu.

Wah, saat itu aku rasanya melas sekali. Kalau mengenang peristiwa itu, aku ingin sedih, sekaligus tertawa. Aku sedih karena saat itu aku dibuat bingung tidak tahu mau ngapain lagi. Seolah nyawa diujung tanduk. Tidak tahu siapa yang mau nolong sedangkan si Abang Grab tetap memaksa ingin dibayar. Aku ingin ketawa karena alhamdulillah banget, ternyata Allah memampukanku berhasil melewati itu semua.

Alhamdulillah, Pak Satpam akhirnya mau mencarikan aku uang pinjaman Rp. 15.000. Ia meminjam orang-orang  disekitarnya, dua ribu, lima ribu, dll. Hingga terkumpul Rp. 15.000. Entahlah, bagaimana jadinya kalau aku tidak dipinjami oleh Pak Satpam itu. Mungkin aku sudah dimarahi dan lain sebagainya.

Kalau anda mengira dan merespon, “santai fin, semua ujian sudah ditetapkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan hambanya,” jujur saja, pernyataan ini tidak mudah dilaksanakan. Jika ada yang bilang, misalnya,”semua akan baik-baik saja”,  “semua akan indah pada waktunya”, “insyaallah semua proses akan berlalu. Aman,” jujur ya, untuk menjalaninya tak semudah seperti yang dibayangkan. Kita dituntut untuk kuat, bertahan dan tetap tenang. Yah,  meski sebenarnya ingin teriak dan marah-marah tidak terima.

Tapi tidak apa-apa, itu semua berlalu. Ada episode lagi yang lebih seru. Hahaha. Nanti tapi.

Kembali pada hutang ke satpam untuk bayar jasa Abang Grab itu, aku akhirnya berteduh di tempat duduk/pos satpam perumahan Menteng Residence, Bintaro itu. Tempat kediaman Kiai Ali Yafie berada. Salah satu kawasan elite di Jakarta.

Aku mengabarkan situasiku saat itu pada Isa, yakni menunggunya dan pinjam uang ke satpam demi bayar Abang Grab yang keburu cari orderan baru. Ia meminta maaf, seharusnya aku yang minta maaf telah merepotkan dia.

Tak lama berselang, Isa akhirnya datang dengan Abang Grab-nya. Ia ternyata basah juga. Barangkali ia berangkat ketika hujan sedang agak mereda. Aku yang masih duduk-duduk, diajak naik sepeda untuk menuju ke kediamannya Kiai Ali Yafie. Naik sepeda motor Abang Grabnya Isa. Daripada jalan menuju ke rumahnya. Jadi kami boncengan bertiga diantar hingga menuju depan rumah Kiai Ali Yafie.

Sesampai di sana, aku oleh Abang Grab itu disuruh pencet bel rumah untuk mengecek, apakah betul ini kediamannya Kiai Ali Yafie. Ternyata betul, ini kediamannya Kiai Ali Yafie. Akhirnya Isa membayar jasa grab itu, ia pulang dan tak lama setelah itu, kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah Kiai Ali Yafie.

Awalnya, aku kurang begitu paham, ini yang menyambut saya adalah Kiai Ali Yafie apa Kiai Helmy Ali Yafie. Tadi Gus Hamzah bilang kalau Kiai Helmy yang notabene adalah putra Kiai Ali Yafie ini berumur 70-an. Putra saja itu sudah sepuh. Sedangkan menurut informasi yang telah aku telusuri, usia Kiai Ali Yafie berumur 96 tahun. Hitungan kalender masehi.

Perbincangan demi perbincangan kemudian aku jadi paham, bahwa sosok yang ada dihadapanku ini adalah Kiai Helmy. Beliau awal mula menceritakan kondisi ayahanda beliau. Kiai Helmy mengatakan bahwa Kiai Ali Yafie ini selama seminggu ini mendapat perawatan intens. Beliau sampai diinfus karena kekurangan cairan / dehidrasi gara-gara cuaca.

Kiai Helmy agak ragu merawat ayahandanya di rumah sakit karena di Rumah Sakit juga ada pasien Covid. Khawatir Kiai Ali Yafie didiagnosa terjangkit wabah tersebut. Baru kemarin atau tadi infus beliau dicopot.

Oh ya, perlu diingat, bahwa kami bertamu itu tetap dengan pakaian yang sama-sama kami kenakan saat naik Grab kehujanan tadi. Sarung hitamku basah meski tidak terlalu banyak menetaskan air bekas hujan itu. Sedangkan pakaian Isa basah tapi tidak terlalu basah.

Duh, begitu malunya aku saat bilang, “maaf kiai, barusan kehujanan”. Entah beliau mendengarkan dengan jelas atau tidak, tapi kami tetap bertamu sebagaimana mestinya. Seperti sedang baik-baik saja. Sekali lagi: bagaimanapun kondisinya, kehidupan harus terus berjalan.

Selain itu, Kiai Helmy juga membahas kiprahnya saat ini di dunia aktivis/organisasi pergerakan. Saat ini beliau aktif di Rahima. Dilansir dari website kupipedia, Rahima adalah salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat atau Oganisasi Non Pemerintah (Ornop) yang bergerak dengan isu utama penegakan hak-hak perempuan dengan perspektif Islam.

Rahima ini masih satu rumpun organisasi dengan fahmina institute, mubadalah dan kupipedia yang yang bergerak dibidang “membelak hak-hak perempuan dan kesetaraan”. Beliau masih dalam satu “rombongan” dengan Kiai Husen Muhamammad, Kiai Faqih Abdul Qodir, Kiai Marzuki Wahid dan para pembesar Kupi lainnya. Kapan hari, pada tanggal 24-26 November 2022, beliau juga hadir dalam Kongres Ulama Perempuan (KUPI) 2 di Semarang, Jawa Tengah.

Meskipun begitu, beliau lalu menyakanku ada instrumen wawancaranya atau tidak. Aku membacakan satu persatu, tapi belum sampai semuanya, ternyata beliau membahas dan menjelaskannya. Anggap saja Kiai Helmy ini merupakan wakil dari Kiai Ali Yafie perihal hajat wawancaraku ini.

Beliau tetap menanggapi dengan ramah dan baik. Aku jadi segan pada beliau karena beliau mau memberikan ulasan wacana perihal gagasan ayahandanya. Ada enam pertanyaan yang ada dalam list pertanyaanku. Dari semua pertanyaan, setidaknya ada satu pertanyaan yang beliau kurang mengerti bagaimana menjawabnya, karena itu harus dijawab langsung oleh Kiai Ali Yafie.

Enam pertanyaan tersebut adalah :

1.    Batasan rusaknya alam dalam fikih itu bagaimana ?

2.    Apa landasan berpikir Kiai Ali yafie mengusulkan hifzhul biah dalam maqoshidus syariah ?

3.    Bukankah hifzhul biah ini cukup bisa ditafsiri masuk dalam 5 maqoshid yang dicetuskan para ulama ?

4.    Seandainya bertentangan antara hifzhul biah dan hifzhu2 yang lain bagaimana ? Mana yang dimenangkan ?

5.  Bagaimana menjelaskan konsep ini dalam konteks Ushul fiqh klasik ?

6. Apakah termasuk dalam pengertian alam adalah lingkungan manusia, yakni ekonomi sosial-budaya politik dll. ?

Alhamdulillah, aku sudah mencatatnya dalam buku tulis. Tinggal menarasikan, mengolah dan menganalisisnya dengan data-data yang telah diarahkan oleh pembimbing.


Ini outline jurnal yang mau aku garap~


Oh ya, saat di awal-awal ngobrol dengan Kiai Ali Yafie tadi, aku sempatkan ngechat ke Mas Alhafizh Kurniawan karena ia sebenarnya ada rencana hendak ke Kiai Ali Yafie. Dengan segera Mas Hafiz balas, ia akan menyusul. “Sharelock  mas”, begitu kira-kira.

Mungkin satu jam setengah kami di sana. Ngobrol sana-sini dengan topik yang aku bawa jauh-jauh dari Ma’had Aly Nurul Jadid. Aku bersyukur dapat menunaikan amanah guru, yakni Gus Fayyadl. Alhamdulillah. Dari ngobrol-ngobrol ini, Mas Hafiz sesekali nimbrung dan meramaikan diskusi pembahasan. Kami sesekali tertawa.




Setelah itu, Kiai Helmy mengajak kami menjenguk dan melihat kondisi Kiai Ali Yafie di kamar beliau. Mas Hafiz langsung mengeluarkan buku dan berencana untuk minta tanda tangan pada Kiai Ali Yafie. Tapi Kiai Helmy langsung mengatakan bahwa Kiai Ali Yafie sedang tidak ada stamina dan tenaga sama sekali. Beliau hanya berbaring di tempat tidur terus.

Sesampai di kamar, Kiai Helmy meminta kami untuk Kiai Ali Yafie. Aku dan Mas Hafiz saling tunjuk untuk memimpin do’a. Jelas aku tak mau karena beliau lebih senior. Akhirnya Mas Hafiz mengalah dan ia yang memimpin do’a. Aku sempatkan diri untuk memfoto Kiai Ali Yafie.

Allah. Setelah wawancara, kami diajak oleh Kiai Helmy untuk menuju kamar Kiai Ali Yafie. Kami diminta untuk mendoakan beliau. Nah, Mas Hafiz ini yang kemudian memimpin doa.


Setelah itu, kami kembali ke ruang tamu, bincang-bincang lagi sebentar. Sebelum pamit, kami sempatkan untuk foto bersama. Aku menyerahkan bingkisan/oleh-oleh sejumlah kitab karya Alm. Kiai Romzi pada beliau sebagaimana pesan Gus Fayyadl.

Nah, episode yang agak tidak mengenakkan pada saat itu ada dua lagi, yakni saat menunggu grab/ojol dari Menteng Residence, Bintaro menuju stasiun KRL terdekat dan perjalanan dari stasiun tebet yang kesasar menuju perumahan Tebet yang entah ada dimana. Bagaimana kisahnya ? mari tetap sabar membaca ceritaku.

 

Foto bersama setelah semua urusan selesai~

 

Posting Komentar

0 Komentar