
Foto bareng Kiai Helmi Ali Yafie (70 thn-an), Putra Alm. Kiai Ali Yafie.
Isa mengajakku untuk
ke perpustakaan PBNU. Ketika hendak mengisi daftar hadir di sana, aku
mengurungkan niat karena janji dengan Kiai Helmy Ali Yafie (putra Kiai Ali
Yafie) yakni pagi – siang, karena sore hari beliau ada perawatan khusus. Aku
tidak ingin telat sebenarnya, karena jarak dari kantor PBNU yang berada di
Jakarta Pusat dengan kediaman Kiai Ali Yafie di Bintaro (cek di maps) itu
sejauh 26,2 KM.
Kalau naik kereta
(sesuai dengan pilihan transportasi di maps), butuh waktu sekitar dua hingga
dua jam setengah untuk menuju ke sana. Awalnya, perjalanan terlihat aman dan
baik-baik saja. Meski aku harus dikejar waktu karena siang itu -dalam jadwal
seharusnya- aku harus di kediaman Kiai Ali Yafie sesuai dengan arahan Kiai
Helmy. Sore hari jam empat mau ke Ust. Ahong (Pemred Bincangsyariah) yang
secara perjalanan dari daerah Bintaro ke kantor Bincang Syariah butuh waktu
sekitar 23 menit / setengah jam.
Lalu setelah dari
Bincang Syariah (BS), aku menjadwalkan diri ingin ketemu redaksi islami.co yang
mana perjalanan dari kantor BS ke Islami.co itu lumayan dekat, yakni butuh
waktu sekitar 12 menit. Karena dua kantor media keislaman ini sama-sama berada
di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.
Tapi, ekspektasi
tak sesuai realita. Aku dan Isa dari PBNU, naik grab car menuju stasiun KRL
Matraman lalu naik KRL menuju stasiun Sudimara itu butuh waktu cukup lama.
Butuh waktu sekitar satu jam lebih. Ketika sampai di stasiun Sudimara ini, aku
baru menyadari satu hal: uangku hilang.
Ah, ini kejadian
yang cukup memukulku sebenarnya. Aku kehilangan uang yang bagiku tak sedikit,
yakni Rp. 900.000. Ini adalah uang saku dan bekalku dari ibu yang hilang di
Jakarta. Aku merasa sedih, bersalah dan ingin marah.
Saat itu sebenarnya sedang dramatis meskipun
aku berusaha untuk tenang, meski tidak bisa dipungkiri pikiranku saat itu
sedang berkecamuk. Coba anda bayangkan, sendirian ke Jakarta tapi justru uang
saku yang sebesar itu hilang begitu saja. Tak tahu sebabnya. Ya Allah. Paringi
kesabaran.
Sekali lagi, aku
coba berdamai dengan keadaan.
Tapi bagaimanapun
keadaannya, kehidupan harus berlanjut. Aku harus sampai tepat waktu ke
kediamannya Kiai Ali Yafie. Aku ada janji untuk wawacara beliau sebelum beliau
ada perawatan khusus pada sore hari.
Waktu terus
berjalan. Pesan grab dan gojek itu kami cukup lama. Dari permasalahan jaringan,
tempat/titik penjemputan yang sangat beda dari tempat kami berdiri, hingga
banding-bandingkan harga yang paling murah, antara pakai motor/mobil dan juga
antara pakai jasa layajan grab atau
go-jek.
Aku mengandalkan
Isa untuk pesan transportasi. Aku mengandalkan Isa karena ia yang punya uang
sekarang, aku tidak pegang uang sama sekali. Hah. Kami berdiri cukup lama.
Sempat ditawari oleh ojek offline yang perorang harganya dua puluh ribu menuju
ke perumahannya Kiai Ali Yafie. Waktu semakin mendung. Sepertinya hujan akan
turun. Aku juga dikejar waktu. Akhirnya, aku memutuskan untuk naik grab motor
saja. Pelayanan lebih gercep dan mudah.
Aku pesan dua
motor, karena kalau pakai mobil itu lebih mahal. Uang Isa pas-pasan, jadi kami harus
berhemat. Satu motor datang lebih awal, Isa ku persilahkan untuk naik lebih
awal karena uangnya saat itu Rp. 100.000 tidak bisa dibagi dua. Jadi aku
bayarnya nanti setelah Isa sampai di tempat tujuan, nanti aku bayar pakai
uangnya Isa setelah Isa bayar grab yang ia tumpangi.
Ternyata oh ternyata,
saat itu hujan sedang turun. Aku menyempatkan ke parkiran sepeda motor di
stasiun Sudimara. Karena disitu aku ganti celana lalu pakai sarung. Karena mau
ketemu seorang kiai kan. Jadi kurang enak sepertinya kalau pakai celana.
Aku berlari
menuju tempat tadi aku ganti sarung laku kembali ke tempat Abang Grab di tempat
bernaung itu. Berlari menembus hujan sambil sarungan. Tapi uang itu tetap tidak
ada. Setelah abang Grab itu mencari plastik untuk membungkus hp-nya, kami pakai
mantel/jas hujan. Hanya saja mantel untuk celanaku tidak ada, hanya ada untuk
baju saja. Jadilah kami berangkat dengan memakai setengah jas hujan. Jelas,
sarungku basah.
Yang jadi masalah
lagi, setelah sampai di pintu masuk perumahan kediamannya Kiai Ali Yafie,
ternyata Isa belum sampai. Ia berteduh bersama abang Grab-nya. Aku sampai di
gerbang pos perumahan elit kediaman Kiai Ali Yafie. Dan, aku kebingungan
mencari uang untuk membayar Abang Grab yang gunakan jasanya. Sebagaimana konsep
/ rencana awal tadi, Isa nyampek duluan, bayar dulu lalu bayarin aku. Eh,
ternyata Isa berteduh saat hujan itu. Entah dimana. aku tahu dia berteduh
karena ia chat WA-ku.
Akhirnya aku cari
pinjaman uang ke satpam di perumahan itu. Pak Satpam bilang tidak ada. Ia juga
bertanya pada orang-orang disekitarnya, mereka juga menjawab tidak ada. Aku
akhrinya coba melobi Abang Grab agar menunggu temanku, Isa, untuk membayar
jasanya sebesar Rp. 15.000. Tapi si Abang Grab tetap bersikukuh tidak mau
menunggu dengan menjawab bahwa ia ingin cari orderan lagi. Hujan masih turun,
meski agak reda. Gerimis. Aku masih bingung dengan keadaan itu.
Wah, saat itu aku
rasanya melas sekali. Kalau mengenang peristiwa itu, aku ingin sedih, sekaligus
tertawa. Aku sedih karena saat itu aku dibuat bingung tidak tahu mau ngapain
lagi. Seolah nyawa diujung tanduk. Tidak tahu siapa yang mau nolong sedangkan
si Abang Grab tetap memaksa ingin dibayar. Aku ingin ketawa karena alhamdulillah
banget, ternyata Allah memampukanku berhasil melewati itu semua.
Alhamdulillah,
Pak Satpam akhirnya mau mencarikan aku uang pinjaman Rp. 15.000. Ia meminjam
orang-orang disekitarnya, dua ribu, lima
ribu, dll. Hingga terkumpul Rp. 15.000. Entahlah, bagaimana jadinya kalau aku
tidak dipinjami oleh Pak Satpam itu. Mungkin aku sudah dimarahi dan lain
sebagainya.
Kalau anda
mengira dan merespon, “santai fin, semua ujian sudah ditetapkan sesuai dengan
kapasitas dan kemampuan hambanya,” jujur saja, pernyataan ini tidak mudah
dilaksanakan. Jika ada yang bilang, misalnya,”semua akan baik-baik saja”, “semua akan indah pada waktunya”, “insyaallah
semua proses akan berlalu. Aman,” jujur ya, untuk menjalaninya tak semudah
seperti yang dibayangkan. Kita dituntut untuk kuat, bertahan dan tetap tenang.
Yah, meski sebenarnya ingin teriak dan
marah-marah tidak terima.
Tapi tidak
apa-apa, itu semua berlalu. Ada episode lagi yang lebih seru. Hahaha. Nanti
tapi.
Kembali pada
hutang ke satpam untuk bayar jasa Abang Grab itu, aku akhirnya berteduh di
tempat duduk/pos satpam perumahan Menteng Residence, Bintaro itu. Tempat
kediaman Kiai Ali Yafie berada. Salah satu kawasan elite di Jakarta.
Aku mengabarkan
situasiku saat itu pada Isa, yakni menunggunya dan pinjam uang ke satpam demi
bayar Abang Grab yang keburu cari orderan baru. Ia meminta maaf, seharusnya aku
yang minta maaf telah merepotkan dia.
Tak lama
berselang, Isa akhirnya datang dengan Abang Grab-nya. Ia ternyata basah juga.
Barangkali ia berangkat ketika hujan sedang agak mereda. Aku yang masih
duduk-duduk, diajak naik sepeda untuk menuju ke kediamannya Kiai Ali Yafie.
Naik sepeda motor Abang Grabnya Isa. Daripada jalan menuju ke rumahnya. Jadi
kami boncengan bertiga diantar hingga menuju depan rumah Kiai Ali Yafie.
Sesampai di sana,
aku oleh Abang Grab itu disuruh pencet bel rumah untuk mengecek, apakah betul
ini kediamannya Kiai Ali Yafie. Ternyata betul, ini kediamannya Kiai Ali Yafie.
Akhirnya Isa membayar jasa grab itu, ia pulang dan tak lama setelah itu, kami
dipersilahkan masuk ke dalam rumah Kiai Ali Yafie.
Awalnya, aku
kurang begitu paham, ini yang menyambut saya adalah Kiai Ali Yafie apa Kiai
Helmy Ali Yafie. Tadi Gus Hamzah bilang kalau Kiai Helmy yang notabene adalah
putra Kiai Ali Yafie ini berumur 70-an. Putra saja itu sudah sepuh. Sedangkan
menurut informasi yang telah aku telusuri, usia Kiai Ali Yafie berumur 96
tahun. Hitungan kalender masehi.
Perbincangan demi
perbincangan kemudian aku jadi paham, bahwa sosok yang ada dihadapanku ini
adalah Kiai Helmy. Beliau awal mula menceritakan kondisi ayahanda beliau. Kiai
Helmy mengatakan bahwa Kiai Ali Yafie ini selama seminggu ini mendapat
perawatan intens. Beliau sampai diinfus karena kekurangan cairan / dehidrasi
gara-gara cuaca.
Kiai Helmy agak
ragu merawat ayahandanya di rumah sakit karena di Rumah Sakit juga ada pasien
Covid. Khawatir Kiai Ali Yafie didiagnosa terjangkit wabah tersebut. Baru
kemarin atau tadi infus beliau dicopot.
Oh ya, perlu
diingat, bahwa kami bertamu itu tetap dengan pakaian yang sama-sama kami
kenakan saat naik Grab kehujanan tadi. Sarung hitamku basah meski tidak terlalu
banyak menetaskan air bekas hujan itu. Sedangkan pakaian Isa basah tapi tidak
terlalu basah.
Duh, begitu
malunya aku saat bilang, “maaf kiai, barusan kehujanan”. Entah beliau
mendengarkan dengan jelas atau tidak, tapi kami tetap bertamu sebagaimana
mestinya. Seperti sedang baik-baik saja. Sekali lagi: bagaimanapun kondisinya,
kehidupan harus terus berjalan.
Selain itu, Kiai
Helmy juga membahas kiprahnya saat ini di dunia aktivis/organisasi pergerakan.
Saat ini beliau aktif di Rahima. Dilansir dari website kupipedia, Rahima adalah salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat atau Oganisasi
Non Pemerintah (Ornop) yang bergerak dengan isu utama penegakan hak-hak
perempuan dengan perspektif Islam.
Rahima ini masih satu rumpun organisasi dengan fahmina institute, mubadalah
dan kupipedia yang yang bergerak dibidang “membelak hak-hak perempuan dan
kesetaraan”. Beliau masih dalam satu “rombongan” dengan Kiai Husen Muhamammad,
Kiai Faqih Abdul Qodir, Kiai Marzuki Wahid dan para pembesar Kupi lainnya.
Kapan hari, pada tanggal 24-26 November 2022, beliau juga hadir dalam Kongres
Ulama Perempuan (KUPI) 2 di Semarang, Jawa Tengah.
Meskipun begitu, beliau lalu menyakanku ada instrumen wawancaranya atau
tidak. Aku membacakan satu persatu, tapi belum sampai semuanya, ternyata beliau
membahas dan menjelaskannya. Anggap saja Kiai Helmy ini merupakan wakil dari
Kiai Ali Yafie perihal hajat wawancaraku ini.
Beliau tetap menanggapi dengan ramah dan baik. Aku jadi segan pada beliau
karena beliau mau memberikan ulasan wacana perihal gagasan ayahandanya. Ada enam
pertanyaan yang ada dalam list pertanyaanku. Dari semua pertanyaan, setidaknya
ada satu pertanyaan yang beliau kurang mengerti bagaimana menjawabnya, karena
itu harus dijawab langsung oleh Kiai Ali Yafie.
Enam pertanyaan tersebut adalah :
1. Batasan rusaknya alam dalam
fikih itu bagaimana ?
2. Apa landasan berpikir Kiai Ali
yafie mengusulkan hifzhul biah dalam maqoshidus syariah ?
3. Bukankah hifzhul biah ini cukup
bisa ditafsiri masuk dalam 5 maqoshid yang dicetuskan para ulama ?
4. Seandainya bertentangan antara
hifzhul biah dan hifzhu2 yang lain bagaimana ? Mana yang dimenangkan ?
5. Bagaimana menjelaskan konsep ini
dalam konteks Ushul fiqh klasik ?
6. Apakah termasuk dalam pengertian alam adalah lingkungan manusia, yakni ekonomi sosial-budaya politik dll. ?
Alhamdulillah,
aku sudah mencatatnya dalam buku tulis. Tinggal menarasikan, mengolah dan
menganalisisnya dengan data-data yang telah diarahkan oleh pembimbing.
![]() |
| Ini outline jurnal yang mau aku garap~ |
Oh ya, saat di
awal-awal ngobrol dengan Kiai Ali Yafie tadi, aku sempatkan ngechat ke Mas
Alhafizh Kurniawan karena ia sebenarnya ada rencana hendak ke Kiai Ali Yafie.
Dengan segera Mas Hafiz balas, ia akan menyusul. “Sharelock mas”, begitu kira-kira.
Mungkin satu jam
setengah kami di sana. Ngobrol sana-sini dengan topik yang aku bawa jauh-jauh
dari Ma’had Aly Nurul Jadid. Aku bersyukur dapat menunaikan amanah guru, yakni
Gus Fayyadl. Alhamdulillah. Dari ngobrol-ngobrol ini, Mas Hafiz sesekali
nimbrung dan meramaikan diskusi pembahasan. Kami sesekali tertawa.
Setelah itu, Kiai
Helmy mengajak kami menjenguk dan melihat kondisi Kiai Ali Yafie di kamar
beliau. Mas Hafiz langsung mengeluarkan buku dan berencana untuk minta tanda
tangan pada Kiai Ali Yafie. Tapi Kiai Helmy langsung mengatakan bahwa Kiai Ali
Yafie sedang tidak ada stamina dan tenaga sama sekali. Beliau hanya berbaring
di tempat tidur terus.
Sesampai di
kamar, Kiai Helmy meminta kami untuk Kiai Ali Yafie. Aku dan Mas Hafiz saling
tunjuk untuk memimpin do’a. Jelas aku tak mau karena beliau lebih senior.
Akhirnya Mas Hafiz mengalah dan ia yang memimpin do’a. Aku sempatkan diri untuk
memfoto Kiai Ali Yafie.
![]() |
| Allah. Setelah wawancara, kami diajak oleh Kiai Helmy untuk menuju kamar Kiai Ali Yafie. Kami diminta untuk mendoakan beliau. Nah, Mas Hafiz ini yang kemudian memimpin doa. |
Setelah itu, kami
kembali ke ruang tamu, bincang-bincang lagi sebentar. Sebelum pamit, kami
sempatkan untuk foto bersama. Aku menyerahkan bingkisan/oleh-oleh sejumlah
kitab karya Alm. Kiai Romzi pada beliau sebagaimana pesan Gus Fayyadl.
Nah, episode yang
agak tidak mengenakkan pada saat itu ada dua lagi, yakni saat menunggu
grab/ojol dari Menteng Residence, Bintaro menuju stasiun KRL terdekat dan
perjalanan dari stasiun tebet yang kesasar menuju perumahan Tebet yang entah
ada dimana. Bagaimana kisahnya ? mari tetap sabar membaca ceritaku.
![]() |
| Foto bersama setelah semua urusan selesai~ |



0 Komentar