Trending

6/recent/ticker-posts

Cerita di Jakarta : Sejak Sini Kita Jadi Tahu, Kehidupan Memang Begitu (2/5) Kisah Hari Jum’at Yang Penuh Lika-Liku

Foto bareng Gus Hamzah Sahal, Bos Alif.id. Btw, foto merupakan pertama. Foto  pertama ditegur oleh beliau karena dua foto kiai kondang diatas tidak masuk dalam gambar secara kesuluruhan. Kata beliau, "foto itu perlu estetik mas" kira-kira begitu.

 

 

Ke PBNU : Menyerahkan Proposal & Bincang Santai Bareng Bos Alif

Pagi hari di Jakarta, perut seringkali lapar. Ingin nyemil (madura: ghengguk). Hah, begitulah nasib orang yang tidak merokok mungkin ya. Kesempatan kali aku hendak menulis secara random pengalamanku di Jakarta ini.

Hari Rabu (11/01) aku berangkat. Sekitar pukul 15.00 WIB aku sudah berada di bis. Sekitar Kamis (12/01) pukul 09.30 WIB aku sepertinya sudah sampai di Ciputat. Untuk hari Rabu dan Kamis, aku ada catatannya di buku diary. Aku keliling ke mana saja insyaallah sudah tercatat.

Sedangkan tulisanku kali ini fokus pada kegiatan hari Jum’at dan Sabtu. Hah. Bismillah.

Jadi, setelah menghubungi sana-sini, memperkirakan waktu dan menyesuaikan dengan jadwal orang-orang yang hendak ku temui, aku yang sejak awal ada di Tebet, sekretariat Pengurus Pembantu Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Jabodetabek ini menuju stasiun Tebet yang lokasinya cukup dekat. Hanya 1 KM.

Aku menuju ke sana karena hendak bertemu dengan kawanku yang ada di Ma’had Aly Asshiddiqiyah, Jakarta Barat, Pondok Jeruk. Namanya Isa. Aku mengenalnya saat kami sama-sama lolos di event penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang diadakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Keagamaan (Penda) Keementerian Agama (KEMENAG) di Jakarta pada tahun 2020 lalu. Di forum inilah, cikal bakal IBIDISM (organisasi literasi Ma’had Aly) lahir.

Aku bertemu di Stasiun Tebet. Aku yang awam soal ‘bagaimana’ menggunakan transportasi KRL Jakarta, coba beradaptasi. Rencananya kami mau pakai kartu Jakarta milik Isa untuk naik KRL  ini. Ternyata kata petugas di situ bahwa kami tidak bisa masuk karena kartu Jakarta tersebut belum bekerja sama dengan pihak KRL, sehingga belum bisa digunakan untuk menggunakan fasilitas KRL.

Cara paling mudah adalah menggunakan aplikasi Go-Jek. Kalau pakai aplikasi ini bisa. Syaratnya harus punya akunnya dan mengisi saldo di bagian petugasnya. Aku punya aplikasinya, tapi belum login karena syarat login di aplikasi ini adalah registrasi menggunakan nomer hp seluler. Aku tidak tahu dan tidak ingat nomer selulerku.

Akhirnya aku cek nomer xl-ku, alhamdulillah bisa. Registrasi lalu isi saldo di bagian petugas isi saldo di stasiun Tebet itu. Minimal isi saldo adalah Rp. 10.000. Setelah mengisi saldo, aku tanya ke petugas terkait bagaimana cara masuk stasiun menggunakan aplikasi go-jek. Setelah tahu pergerakan jari Pak Satpam menggunakan aplikais itu, akhirnya ia bertanya mau turun di stasiun apa ?,

“saya mau ke PBNU pak” jawabku polos.

“ke PBNU ?. ndak ada stasiun deket PBNU. Kalau mau ke PBNU naik grab aja” jawab petugas tersebut.

Setelah diskusi singkat, akhirnya kami memutuskan naik grab car. Harganya kalau tidak salah Rp. 19.000 rupiah. Setelah sampai, aku menyerahkan uang Rp. 20.000 dan bilang kalau uang kembaliannya ambil samean saja pak.

Kami sampai di depan kantor PBNU. Bergerak menuju resepsionis, mengisi daftar hadir dan bilang kalau kami sudah janjian dengan Mas Nufus bagian Syuriah PBNU. Resepsionis yang jaga saat itu adalah dua perempuan. Setelah mengisi prosedural yang ada, ada orang laki-laki mengarahkan kami menuju ke lantai 4 menggunakan lift yang berada di dekat resepsionis.

Di lantai 4, aku bertemu Pak Rofiq. Orang yang aku kenal semalam itu menduduki posisi protokuler atau bagian resepsionis di lantai 4. Aku bilang padanya bahwa aku hendak bertemua Mas Nufus, tapi Pak Rofiq sudah diberi instruksi oleh beliau kalau ada ‘aku’ atau orang yang hendak bertemu dengannya untuk menyerahkan berkas, dititpkan saja pada Pak Rofiq ini. Akhirnya aku serahkan padanya. Untuk komunikasi selanjutnya pada Mas Nufus, aku akan menghubungi melalui whatsapp.

Aku yang menyerahkan proposal tersebut sekitar pukul 10.50 WIB. Sebelumnya aku janjian dengan Gus Hamzah Sahal (direktur NU.Online sekaligus Bos Alif.id) untuk bertemu dengannya di PBNU pukul 11.10 WIB. Alhamdulillah, aku yang menunggunya di lantai 5. Sangat senang sekali ketika tepat waktu. Tidak sampai membuat menunggu orang-orang penting seperti Gus Hamzah ini.

Oh ya, lantai lima ini adalah bagian kantornya NU.Online dan syuriah PBNU. Aku diajak memasuki kantor redaksi tersebut oleh Gus Hamzah. Aku juga disambut oleh salah satu penulis NUO, yakni Mas Fathoni. Tapi, pertemuan dan obrolan kami semakin intens dengan Gus Hamzah saja, dikarenakan ada tamu lain sehingga kami bertiga harus geser tempat sebelah.

Pada Jum’at siang itu, aku juga memperkirakan waktu dzuhur tiba pukul berapa. Sebelumya oleh Pak Rofiq ini sudah diberi tahu kalau mau Sholat Jum’at di kantor PBNU itu di lantai dua. Jangan lama-lama kalau ke sana, takut tidak menemukan tempat (karena jama’ahnya banyak dan tempat yang terbatas).

Aku menjawab sebisanya, “iya pak. Insyaallah saya usahakan berangkat lebih awal,” mungkin begitu jawabanku.

Tapi, ngobrol dengan Gus Hamzah yang jarang-jarang, waktu terbatas dengan segala kesibukannya, rasanya eman menghentikan percakapan dengan alasan hendak sholat jum’at lebih awal. Pembahasan di kantor NU.Online tersebut lebih dominan perihal Gus Dur dengan segala dinamikanya. Mulai dari pengalaman, gagasan, tulisan hingga rancangan-rancangannya ke depan.

Percakapan kami sempat terhenti saat Mas Fathoni dengan keakrabannya mengingatkan Gus Hamzah untuk jadi imam sholat Jum’at. Ya sebenarnya mengingatkan kami bertiga untuk segera ke lantai dua. Tapi Gus Hamzah melihat jam sebentar dan melanjutkan percakapan. Berangkatnya bisa bentar lagi.

Diam-diam, aku merekam percakapan kami meski tidak sejak dari awal melalui hp-ku. Ku letakkan ponsel genggam tersebut di meja dengan alat perekam yang aktif. Entah suatu saat akan berguna atau tidak, aku tak tahu. Yang penting rekam saja dulu.

Gus Yahya jadi salah satu jama'ah sholat jum'at di masjid kantor PBNU. Khatib dan imam shalat jum'atnya adalah Gus Ulil Abshar Abdalla.


Setelah itu, Gus Hamzah mengambil wudhu’ untuk melaksanakan sholat jum’t. Aku sudah bilang pada Isa kalau kita sholat jum’at di kantor PBNU. Ia mengangguk saja karena di perjalanan tadi ia mengajakku untuk sholat jum’at di masjid istiqlal. Sebenarnya dulu pernah ke sana meski tidak ketika shoat jum’at. Dulu tapi, sekitar tahun 2019 bareng Alm. Kiai Romzi saat ada acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) yang berada di Jakarta Barat.

Aku tinggal jaket dan tas ku di kantor NU.Online. Kami bertiga menuju lantai dua, masjid PBNU. Disana Gus Ulil baru saja memulai khutbah-nya. Ku kira yang berkhutbah adalah Gus Yahya, ternyata tidak.

Full. Saya harus cari celah yang begitu kecil untuk sekedar melaksanakan sholat di lantai 2, berupa Masjid di kantor PBNU.


Ucapan Pak Rofiq benar. Ternyata masjid itu sudah dipenuhi orang. Full. Kami bertiga akhirnya duduk di kursi di samping masjid. Gus Hamzah melanjutkan percakapan. Kali ini lebih spesifik tentang Kiai Ali Yafie dan Gus Dur. Sepertinya Gus Hamzah ini betul-betul menjiwai Gus Dur melalui banyak literatur dan sempat nututi sepak terjangnya.

Aku dan beliau sempat foto di kursi tersebut. Aku awalnya mengingkan foto candid. Foto saat aku benar-benar ngobrol dan bercakap-cakap dengan beliau. Ternyata saat Isa mengarahkan kamera HP pada kami, Gus Hamzah juga ikut melihat kamera. Akhirnya tidak jadi candid, tapi kami berdua sama-sama tersenyum menghadap kamera. Dengan disengaja. Hahaha.

Setelah selesai, Gus Hamzah malah bertanya sekaligus mengoreksi hasil jepretan fotonya, apa gambar Mbah Bisyri dan Kiai Hasyim Asy’ari ini kelihatan. Ternyata gambar dua kiai besar ini terpotog dan tidak tertangkap secara utuh. Akhirnya, beliau minta foto ulang agar dua kiai ini (yang sebagai background) di tembok juga ikut ada masuk di foto dokumentasi itu.

Kata Gus Hamzah, “estetika atau seni dalam mengambil foto itu penting”. Begitu kira-kira.

Membahas soal foto, Gus Hamzah ini juga menyinggung soal foto tentangnya dan Gus Dur di kantor NU.Online tadi. Katanya, banyak orang mengira bahwa Gus Hamzah ini orang yang kurang sopan dengan Gus Dur, padahal Gus Hamzah ini tidak pernah foto bersama Gus Dur.

Alasannya sederhana: Gus Dur matanya ‘kurang baik’, kalau ia mengajak Gus Dur berarti penghinaan. Padahal Gus Hamzah ini pernah memiliki tekad untuk foto denga beliau. Ia sudah bawa kamera DSLR tapi tiba di tempat dan bertemu Gus Dur, ia mengurungkann niat. Karena takut dianggap penghinaan. Meski barangkali Gus Dur tidak akan berpikiran seperti itu, tapi Gus Hamzah tetap mengurungkan niatnya foto berdua dengan Gus Dur.

Setelah selesai sholat jum’at, Gus Hamzah sudah pergi terlebih dahulu. Aku dan Isa segera menyusulnya ke lantai 5. Gus Hamzah keburu mau pergi karen ada janji. Aku mencegatnya terlebih dahulu untuk diajak foto bersama. Alhamdulillah. Terimakasih Gus.

Sebelum melanjutkan perjalanan, aku mengambil jaket dan tasku yang sebelumnya ku tinggal di kantor NU.Online. Aku mampir ke toko NU.Online dan membeli sebuah buku tentang pengelolaan SDM yang salah di Indonesia. Aku sudah membacanya -kira-kira- sudah separuh buku. Aku agak kecewa karena ternyata isinya kurang begitu bernas. Banyak kalimat dan paragraf yang di ulang-ulang. Duh, duh. (kalau orang yang biasa ke perpustakaan PBNU atau toko NU.Online barangkali tahu buku ini)

Kenalin, ini Isa. Teman KTI Jogja asal Ma'had Aly Jakarta. Yang barengin aku di Jakarta, diantaranya dia ini. Makasih ya~




 Drama 2 : Perjalan Menuju Tebet dan Gagal Ke 2 Kantor Media Keislaman Itu

Saat itu, senja sudah hilang. Malam benar-benar tiba. Aku dan Isa sholat maghrib di musholla kecil di sebelah pintu gerbang keluar Menteng Residence. Setelah itu, kami pesan gojek tidak nemu-nemu gara-gara aplikasi ojek online saat itu sedang error.

Kalau pakai grab tidak error, cuma ketika dapat driver dan ditelfon, si driver ini tidak tahu titik penjemputan kami. Aku sudah menjelaskan bahwa kami ada di depan menteng residence, ia tetap menjawab tak tahu. Padahal biasanya kan titik lokasi penjemputan di aplikasi grab itu otomatis. Tempat yang sekarang aku berdiri ini.

Aku berdiri cukup lama. Isa yang seharian berpuasa, makan gorengan yang entah kapan ia beli. Ia berdiri dan sesekali menunggu sambil berjongkok. Di taman di depan pintu utama Menteng Residen itu. Ia menawariku, aku hanya mengiyakan dan menyuruhnya untuk makan saja. Batinku luruh, aku sudah makan sejak tadi, juga minum, tapi malam ini aku sudah lemas sekali.

Sampailah ada ojol driver go-jek yang menghampiri kami. Ia mengatakan bahwa ada orang yang order dia, tapi karena aplikasi go-jek sedang gangguan, akhirnya ia juga kebingungan, siapa yang mengorder jasanya. Akhirnya ia menghampiri kami dan menanyakan nama orang yang mengorder go-jeknya. Ternyata kami bukan nama yang dimaksud.

Tapi karena kami sama butuh transportasi dan ia butuh uang, akhirnya kami sepakati untuk gonceng bertiga menuju stasiun terdekat. Aku lupa nama stasiunnya, yang jelas aku dan Isa dikenai tarif Rp. 20.000. Lagi-lagi, Isa yang bayar. Aku tidak enak ke dia dan bilang beberapa kali bahwa aku akan ganti uangnya. Tapi Isa tidak menjawab, antara mengiyakan perkataanku atau menolaknya.

Entahlah.

Akhirnya aku dan Isa naik KRL menuju stasiun tebet. Oh ya, sebelum itu aku ada rencana untuk ke kantor bincang syariah dan islami.co kan, tapi berhubung bateriku tinggal 15 %, tidak ada tempat untuk charger, apalagi uang yang kosong blong, akhirnya aku membatalkan rencana ke dua tempat tersebut. Aku berencana langsung pulang saja. Capek. Aku juga belum makan sejak tadi pagi. Apalagi Isa, ia justru puasa selama menemani aku keliling Jakarta.

Ia juga sempat bilang, kalau ketika aku wawacara tadi, ia dalam kondisi setengah sadar. Ia ngantuk sebenarnya. Dari tadi malam belum tidur, dari siang hingga petang itu ia juga puasa. Tidak membatalkannya. Aku lupa bertanya ia sedang puasa apa, padahal hari jum’at.

Aku di KRL lebih banyak berdiri. Memang suasananya orang-orang sedang pulang kerja. Saat transit KRL, banyak orang-orang berlarian mengejar waktu agar tak ketinggalan kereta. Ada yang mengejar kursi agar tidak kedahuluan orang lain supaya ia bisa duduk di kereta itu, dan berbagai fenomena orang-orang terburu lainnya. Hah. Beginilah suasana di kota. Serba sibuk.

Hari pertama dan ke dua sangat sibuk. Janjian dengan orang ini dan itu, menyesuaikan janji. Rasanya entahlah, enak dan tidak. Enak karena seolah-olah menggunakan waktu sebaik-baiknya tidak menganggur. Tidak enak karena tidak menikmati perjalanan hidup. Hidup seolah-olah ‘dibudak’ oleh keadaan.

Malam itu, ketika sampai di stasiun Tebet, aku mengajak Isa makan. Aku lapar. Hahaha. Alhamdulillah Isa pengertian. Kami langsung mencari warung yang jualan nasi. Kami mendapati pedagang kaki lima yang jualan nasi goreng. Satu porsi harganya 13.000, setelah kami makan bersama, ia tak lupa membelikanku air botolan. Aku berterimakasih banyak padanya. Ia pengertian.

Posting Komentar

0 Komentar