Ke PBNU : Menyerahkan
Proposal & Bincang Santai Bareng Bos Alif
Pagi hari di
Jakarta, perut seringkali lapar. Ingin nyemil (madura: ghengguk). Hah,
begitulah nasib orang yang tidak merokok mungkin ya. Kesempatan kali aku
hendak menulis secara random pengalamanku di Jakarta ini.
Hari Rabu (11/01)
aku berangkat. Sekitar pukul 15.00 WIB aku sudah berada di bis. Sekitar Kamis
(12/01) pukul 09.30 WIB aku sepertinya sudah sampai di Ciputat. Untuk hari Rabu
dan Kamis, aku ada catatannya di buku diary. Aku keliling ke mana saja
insyaallah sudah tercatat.
Sedangkan tulisanku
kali ini fokus pada kegiatan hari Jum’at dan Sabtu. Hah. Bismillah.
Jadi, setelah
menghubungi sana-sini, memperkirakan waktu dan menyesuaikan dengan jadwal
orang-orang yang hendak ku temui, aku yang sejak awal ada di Tebet, sekretariat
Pengurus Pembantu Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Jabodetabek ini menuju
stasiun Tebet yang lokasinya cukup dekat. Hanya 1 KM.
Aku menuju ke
sana karena hendak bertemu dengan kawanku yang ada di Ma’had Aly Asshiddiqiyah,
Jakarta Barat, Pondok Jeruk. Namanya Isa. Aku mengenalnya saat kami sama-sama
lolos di event penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang diadakan oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Keagamaan (Penda)
Keementerian Agama (KEMENAG) di Jakarta pada tahun 2020 lalu. Di forum inilah,
cikal bakal IBIDISM (organisasi literasi Ma’had Aly) lahir.
Aku bertemu di
Stasiun Tebet. Aku yang awam soal ‘bagaimana’ menggunakan transportasi KRL
Jakarta, coba beradaptasi. Rencananya kami mau pakai kartu Jakarta milik Isa
untuk naik KRL ini. Ternyata kata
petugas di situ bahwa kami tidak bisa masuk karena kartu Jakarta tersebut belum
bekerja sama dengan pihak KRL, sehingga belum bisa digunakan untuk menggunakan
fasilitas KRL.
Cara paling mudah
adalah menggunakan aplikasi Go-Jek. Kalau pakai aplikasi ini bisa. Syaratnya
harus punya akunnya dan mengisi saldo di bagian petugasnya. Aku punya
aplikasinya, tapi belum login karena syarat login di aplikasi ini adalah
registrasi menggunakan nomer hp seluler. Aku tidak tahu dan tidak ingat nomer
selulerku.
Akhirnya aku cek
nomer xl-ku, alhamdulillah bisa. Registrasi lalu isi saldo di bagian petugas
isi saldo di stasiun Tebet itu. Minimal isi saldo adalah Rp. 10.000. Setelah
mengisi saldo, aku tanya ke petugas terkait bagaimana cara masuk stasiun
menggunakan aplikasi go-jek. Setelah tahu pergerakan jari Pak Satpam menggunakan
aplikais itu, akhirnya ia bertanya mau turun di stasiun apa ?,
“saya mau ke PBNU
pak” jawabku polos.
“ke PBNU ?. ndak
ada stasiun deket PBNU. Kalau mau ke PBNU naik grab aja” jawab petugas
tersebut.
Setelah diskusi
singkat, akhirnya kami memutuskan naik grab car. Harganya kalau tidak salah Rp.
19.000 rupiah. Setelah sampai, aku menyerahkan uang Rp. 20.000 dan bilang kalau
uang kembaliannya ambil samean saja pak.
Kami sampai di
depan kantor PBNU. Bergerak menuju resepsionis, mengisi daftar hadir dan bilang
kalau kami sudah janjian dengan Mas Nufus bagian Syuriah PBNU. Resepsionis yang
jaga saat itu adalah dua perempuan. Setelah mengisi prosedural yang ada, ada
orang laki-laki mengarahkan kami menuju ke lantai 4 menggunakan lift yang
berada di dekat resepsionis.
Di lantai 4, aku bertemu
Pak Rofiq. Orang yang aku kenal semalam itu menduduki posisi protokuler atau
bagian resepsionis di lantai 4. Aku bilang padanya bahwa aku hendak bertemua
Mas Nufus, tapi Pak Rofiq sudah diberi instruksi oleh beliau kalau ada ‘aku’
atau orang yang hendak bertemu dengannya untuk menyerahkan berkas, dititpkan
saja pada Pak Rofiq ini. Akhirnya aku serahkan padanya. Untuk komunikasi
selanjutnya pada Mas Nufus, aku akan menghubungi melalui whatsapp.
Aku yang
menyerahkan proposal tersebut sekitar pukul 10.50 WIB. Sebelumnya aku janjian
dengan Gus Hamzah Sahal (direktur NU.Online sekaligus Bos Alif.id) untuk
bertemu dengannya di PBNU pukul 11.10 WIB. Alhamdulillah, aku yang menunggunya
di lantai 5. Sangat senang sekali ketika tepat waktu. Tidak sampai membuat
menunggu orang-orang penting seperti Gus Hamzah ini.
Oh ya, lantai
lima ini adalah bagian kantornya NU.Online dan syuriah PBNU. Aku diajak
memasuki kantor redaksi tersebut oleh Gus Hamzah. Aku juga disambut oleh salah
satu penulis NUO, yakni Mas Fathoni. Tapi, pertemuan dan obrolan kami semakin
intens dengan Gus Hamzah saja, dikarenakan ada tamu lain sehingga kami bertiga
harus geser tempat sebelah.
Pada Jum’at siang
itu, aku juga memperkirakan waktu dzuhur tiba pukul berapa. Sebelumya oleh Pak
Rofiq ini sudah diberi tahu kalau mau Sholat Jum’at di kantor PBNU itu di
lantai dua. Jangan lama-lama kalau ke sana, takut tidak menemukan tempat
(karena jama’ahnya banyak dan tempat yang terbatas).
Aku menjawab
sebisanya, “iya pak. Insyaallah saya usahakan berangkat lebih awal,” mungkin
begitu jawabanku.
Tapi, ngobrol
dengan Gus Hamzah yang jarang-jarang, waktu terbatas dengan segala
kesibukannya, rasanya eman menghentikan percakapan dengan alasan hendak
sholat jum’at lebih awal. Pembahasan di kantor NU.Online tersebut lebih dominan
perihal Gus Dur dengan segala dinamikanya. Mulai dari pengalaman, gagasan,
tulisan hingga rancangan-rancangannya ke depan.
Percakapan kami
sempat terhenti saat Mas Fathoni dengan keakrabannya mengingatkan Gus Hamzah
untuk jadi imam sholat Jum’at. Ya sebenarnya mengingatkan kami bertiga
untuk segera ke lantai dua. Tapi Gus Hamzah melihat jam sebentar dan
melanjutkan percakapan. Berangkatnya bisa bentar lagi.
Diam-diam, aku
merekam percakapan kami meski tidak sejak dari awal melalui hp-ku. Ku letakkan
ponsel genggam tersebut di meja dengan alat perekam yang aktif. Entah suatu
saat akan berguna atau tidak, aku tak tahu. Yang penting rekam saja dulu.
![]() |
| Gus Yahya jadi salah satu jama'ah sholat jum'at di masjid kantor PBNU. Khatib dan imam shalat jum'atnya adalah Gus Ulil Abshar Abdalla. |
Setelah itu, Gus
Hamzah mengambil wudhu’ untuk melaksanakan sholat jum’t. Aku sudah bilang pada
Isa kalau kita sholat jum’at di kantor PBNU. Ia mengangguk saja karena di
perjalanan tadi ia mengajakku untuk sholat jum’at di masjid istiqlal.
Sebenarnya dulu pernah ke sana meski tidak ketika shoat jum’at. Dulu tapi, sekitar
tahun 2019 bareng Alm. Kiai Romzi saat ada acara Muktamar Pemikiran Santri
Nusantara (MPSN) yang berada di Jakarta Barat.
Aku tinggal jaket
dan tas ku di kantor NU.Online. Kami bertiga menuju lantai dua, masjid PBNU.
Disana Gus Ulil baru saja memulai khutbah-nya. Ku kira yang berkhutbah adalah
Gus Yahya, ternyata tidak.
![]() |
| Full. Saya harus cari celah yang begitu kecil untuk sekedar melaksanakan sholat di lantai 2, berupa Masjid di kantor PBNU. |
Ucapan Pak Rofiq
benar. Ternyata masjid itu sudah dipenuhi orang. Full. Kami bertiga akhirnya
duduk di kursi di samping masjid. Gus Hamzah melanjutkan percakapan. Kali ini
lebih spesifik tentang Kiai Ali Yafie dan Gus Dur. Sepertinya Gus Hamzah ini
betul-betul menjiwai Gus Dur melalui banyak literatur dan sempat nututi
sepak terjangnya.
Aku dan beliau
sempat foto di kursi tersebut. Aku awalnya mengingkan foto candid. Foto saat
aku benar-benar ngobrol dan bercakap-cakap dengan beliau. Ternyata saat Isa
mengarahkan kamera HP pada kami, Gus Hamzah juga ikut melihat kamera. Akhirnya
tidak jadi candid, tapi kami berdua sama-sama tersenyum menghadap kamera.
Dengan disengaja. Hahaha.
Setelah selesai,
Gus Hamzah malah bertanya sekaligus mengoreksi hasil jepretan fotonya, apa
gambar Mbah Bisyri dan Kiai Hasyim Asy’ari ini kelihatan. Ternyata gambar dua
kiai besar ini terpotog dan tidak tertangkap secara utuh. Akhirnya, beliau
minta foto ulang agar dua kiai ini (yang sebagai background) di tembok juga
ikut ada masuk di foto dokumentasi itu.
Kata Gus Hamzah,
“estetika atau seni dalam mengambil foto itu penting”. Begitu kira-kira.
Membahas soal
foto, Gus Hamzah ini juga menyinggung soal foto tentangnya dan Gus Dur di
kantor NU.Online tadi. Katanya, banyak orang mengira bahwa Gus Hamzah ini orang
yang kurang sopan dengan Gus Dur, padahal Gus Hamzah ini tidak pernah foto
bersama Gus Dur.
Alasannya
sederhana: Gus Dur matanya ‘kurang baik’, kalau ia mengajak Gus Dur berarti
penghinaan. Padahal Gus Hamzah ini pernah memiliki tekad untuk foto denga
beliau. Ia sudah bawa kamera DSLR tapi tiba di tempat dan bertemu Gus Dur, ia
mengurungkann niat. Karena takut dianggap penghinaan. Meski barangkali Gus Dur
tidak akan berpikiran seperti itu, tapi Gus Hamzah tetap mengurungkan niatnya
foto berdua dengan Gus Dur.
Setelah selesai
sholat jum’at, Gus Hamzah sudah pergi terlebih dahulu. Aku dan Isa segera
menyusulnya ke lantai 5. Gus Hamzah keburu mau pergi karen ada janji.
Aku mencegatnya terlebih dahulu untuk diajak foto bersama. Alhamdulillah.
Terimakasih Gus.
Sebelum
melanjutkan perjalanan, aku mengambil jaket dan tasku yang sebelumnya ku
tinggal di kantor NU.Online. Aku mampir ke toko NU.Online dan membeli sebuah
buku tentang pengelolaan SDM yang salah di Indonesia. Aku sudah membacanya
-kira-kira- sudah separuh buku. Aku agak kecewa karena ternyata isinya kurang
begitu bernas. Banyak kalimat dan paragraf yang di ulang-ulang. Duh, duh.
(kalau orang yang biasa ke perpustakaan PBNU atau toko NU.Online barangkali
tahu buku ini)
![]() |
| Kenalin, ini Isa. Teman KTI Jogja asal Ma'had Aly Jakarta. Yang barengin aku di Jakarta, diantaranya dia ini. Makasih ya~ |
Saat itu, senja
sudah hilang. Malam benar-benar tiba. Aku dan Isa sholat maghrib di musholla
kecil di sebelah pintu gerbang keluar Menteng Residence. Setelah itu, kami
pesan gojek tidak nemu-nemu gara-gara aplikasi ojek online saat itu sedang
error.
Kalau pakai grab
tidak error, cuma ketika dapat driver dan ditelfon, si driver ini tidak tahu
titik penjemputan kami. Aku sudah menjelaskan bahwa kami ada di depan menteng
residence, ia tetap menjawab tak tahu. Padahal biasanya kan titik lokasi
penjemputan di aplikasi grab itu otomatis. Tempat yang sekarang aku berdiri
ini.
Aku berdiri cukup
lama. Isa yang seharian berpuasa, makan gorengan yang entah kapan ia beli. Ia
berdiri dan sesekali menunggu sambil berjongkok. Di taman di depan pintu utama
Menteng Residen itu. Ia menawariku, aku hanya mengiyakan dan menyuruhnya untuk
makan saja. Batinku luruh, aku sudah makan sejak tadi, juga minum, tapi malam
ini aku sudah lemas sekali.
Sampailah ada
ojol driver go-jek yang menghampiri kami. Ia mengatakan bahwa ada orang yang
order dia, tapi karena aplikasi go-jek sedang gangguan, akhirnya ia juga
kebingungan, siapa yang mengorder jasanya. Akhirnya ia menghampiri kami dan
menanyakan nama orang yang mengorder go-jeknya. Ternyata kami bukan nama yang
dimaksud.
Tapi karena kami
sama butuh transportasi dan ia butuh uang, akhirnya kami sepakati untuk gonceng
bertiga menuju stasiun terdekat. Aku lupa nama stasiunnya, yang jelas aku dan
Isa dikenai tarif Rp. 20.000. Lagi-lagi, Isa yang bayar. Aku tidak enak ke dia
dan bilang beberapa kali bahwa aku akan ganti uangnya. Tapi Isa tidak menjawab,
antara mengiyakan perkataanku atau menolaknya.
Entahlah.
Akhirnya aku dan
Isa naik KRL menuju stasiun tebet. Oh ya, sebelum itu aku ada rencana untuk ke
kantor bincang syariah dan islami.co kan, tapi berhubung bateriku tinggal 15 %,
tidak ada tempat untuk charger, apalagi uang yang kosong blong, akhirnya aku
membatalkan rencana ke dua tempat tersebut. Aku berencana langsung pulang saja.
Capek. Aku juga belum makan sejak tadi pagi. Apalagi Isa, ia justru puasa selama
menemani aku keliling Jakarta.
Ia juga sempat
bilang, kalau ketika aku wawacara tadi, ia dalam kondisi setengah sadar. Ia
ngantuk sebenarnya. Dari tadi malam belum tidur, dari siang hingga petang itu
ia juga puasa. Tidak membatalkannya. Aku lupa bertanya ia sedang puasa apa,
padahal hari jum’at.
Aku di KRL lebih
banyak berdiri. Memang suasananya orang-orang sedang pulang kerja. Saat transit
KRL, banyak orang-orang berlarian mengejar waktu agar tak ketinggalan kereta.
Ada yang mengejar kursi agar tidak kedahuluan orang lain supaya ia bisa duduk
di kereta itu, dan berbagai fenomena orang-orang terburu lainnya. Hah.
Beginilah suasana di kota. Serba sibuk.
Hari pertama dan
ke dua sangat sibuk. Janjian dengan orang ini dan itu, menyesuaikan janji.
Rasanya entahlah, enak dan tidak. Enak karena seolah-olah menggunakan waktu
sebaik-baiknya tidak menganggur. Tidak enak karena tidak menikmati perjalanan
hidup. Hidup seolah-olah ‘dibudak’ oleh keadaan.
Malam itu, ketika
sampai di stasiun Tebet, aku mengajak Isa makan. Aku lapar. Hahaha.
Alhamdulillah Isa pengertian. Kami langsung mencari warung yang jualan nasi.
Kami mendapati pedagang kaki lima yang jualan nasi goreng. Satu porsi harganya
13.000, setelah kami makan bersama, ia tak lupa membelikanku air botolan. Aku
berterimakasih banyak padanya. Ia pengertian.




0 Komentar