![]() |
| Tampak depan kontrakan sekretariat P4NJ Jabodetabek - Banten. Terimakasih telah diberi tumpangan. |
Akhirnya ia
pamitan pulang naik busway /bus transjakarta. Aku sendirian. Aku telah
menghubungi Mas Syahrul dan Mas Zaka. Ternyata Mas Syahrul sedang urusan, ia
tak bisa langsung menjemput. Sepeda ia gunakan, entah di mana. Sedangkan Mas
Zaka ada di P4NJ. Setelah ku telfon, ia bilang bahwa tidak ada sepeda di sana.
Aku pun terpaksa menunggu.
Sekali lagi, aku
coba berdamai dengan keadaan. Aku coba membaca buku yang ku beli di toko
NU.Online itu. Buku yang tidak terlalu bagus-bagus banget. Aku agak menyesal
menyadarinya setelah itu.
Sesekali aku
tidak fokus membaca. Aku memperhatikan keadaan sekitar. Aku mendapati
segolongan orang yang sepertinya setelah ‘menjajakan hiburan’ dengan bermain
barongsai. Aku lupa ada berapa orang. Diantaranya ada yang duduk di kursi di
sebelahku. Ia seorang perempuan. Aku coba iseng-iseng bertanya soal aktivitas
mereka. Dari penghasilan, daerah mana saja biasanya mereka tampil, mau ke mana
dan hal-hal remeh lainnya.
Salah satu anggota
itu ada yang bilang haus, aku tak sengaja mendengarnya. Spontan aku memberikan
air yang dibelikan Isa tadi itu. Ia berterimakasih dan alhamdulillah mereka
menikmatinya. Aku menunggu cukup lama, sampai aku menelfon Mas Syahrul dan ia
menyarankan ku untuk memesan grab, lalu sesampai di P4NJ nanti biar Mas Zaka
yang bayar.
Akhirnya aku
pesan grab yang pakai motor listrik. Aku memilhanya karena ada yang bilang
sepeda listrik ini adalah program ramah lingkungan. Meskipun ide ini masih
diperdebatkan. Setelah memesan dan aku naik sepeda ini, aku telfon Mas Zaka.
Katanya sudah ada sepeda, jangan naik grab. Tapi karena aku sudah memesan,
akhirnya aku jalan saja.
Oh ya, aku naik
grab ini, arah tujuanku -seingatku- adalah alamat yang dikirim oleh Mas Zaka
itu. Aku copy paste saja. Tapi realitanya aku tidak sampai di P4NJ Jabodetabek
ini. Sepertinya aku salah memasukkan alamat. Kalau cek di mapsnya sih, aku
sudah sampai, tapi aku tidak sampai pada apa yang aku maksud.
Akhirnya aku
sempat muter-muter di sebuah perumahan. Abang Grabnya marah-marah. Aku hanya
diam. Duh, Ya Allah. Ampuni hamba. Sampai aku tanya ke orang, kata orang itu
aku tanya ke satpam ke pos satpam di daerah itu.
Sampai di pos
satpam tersebut, aku jelaskan semua akar permasalahannya. Hingga endingnya aku
telfon Mas Zaka, Abang Grabnya pulang dan sambil marah-marah karena
kesalahanku. Ia langsung pulang dan mengikhlaskan tidak aku bayar. Ya karena
aku tidak punya uang. Aku sempat melobi, jalan terus dah bang, nanti aku bayar
lebih.
![]() |
| Foto pag-pagi menuju stasiuan KRL terdekat. Mau ketemu Isa lalu ke kantor PBNU. |
Aku akhirnya
terdiam sejenak di pos satpam itu. Mas Zaka akhirnya datang menjemput. Ia
bercerita kalau sebenarnya tidak tahu juga aku di mana, di pos satpam perumahan
mana. Tapi ia kemudian tanya-tanya akhirnya tahu juga.
Malam itu adalah
malah yang lelah. Sesampai di P4NJ tidak ada Mas Syahrul. Ia orang yang mungkin
paling aku kenal di Jakarta ini. Aku langsung diarahkan ke kamar atas. Setelah
menaruh barang-barang, aku langsung sholat isya’. Berusaha mengikhlaskan semua
ini.
Aku lalu menuju
ke bawah. Di ruang tamu. Aku tidur lebih awal, dengan kondisi lampu yang masih
terang. Aku capek. Aku lelah. Aku hanya bisa pasrah. Hah. Sudahlah. Setidaknya,
dari sini kita tahu, memang kehidupan penuh lika-liku. Keadaan sulit menuntut
orang harus dan mau tidak mau untuk menjadi kuat. Orang kuat biasanya
menciptakan kemudahan-kemudahan. Situasi yang enak dan mudah membuat orang
lemah. Orang lemah akan dihadapkan dengan situasi sulit supaya kita kuat.
Begitu seterusnya.
Bersambung.....
![]() |
| Foto ini ada di sorotan IG. Backsoundnya musik klasik. Musik kesukaan Gus Dur. |



0 Komentar