Trending

6/recent/ticker-posts

Drama 2 : Tersesat Sebelum ke Sekretariat P4NJ Jabodetabek (2.2 / 5)

  

Tampak depan kontrakan sekretariat P4NJ Jabodetabek -  Banten. Terimakasih telah diberi tumpangan.


Akhirnya ia pamitan pulang naik busway /bus transjakarta. Aku sendirian. Aku telah menghubungi Mas Syahrul dan Mas Zaka. Ternyata Mas Syahrul sedang urusan, ia tak bisa langsung menjemput. Sepeda ia gunakan, entah di mana. Sedangkan Mas Zaka ada di P4NJ. Setelah ku telfon, ia bilang bahwa tidak ada sepeda di sana. Aku pun terpaksa menunggu.

Sekali lagi, aku coba berdamai dengan keadaan. Aku coba membaca buku yang ku beli di toko NU.Online itu. Buku yang tidak terlalu bagus-bagus banget. Aku agak menyesal menyadarinya setelah itu.

Sesekali aku tidak fokus membaca. Aku memperhatikan keadaan sekitar. Aku mendapati segolongan orang yang sepertinya setelah ‘menjajakan hiburan’ dengan bermain barongsai. Aku lupa ada berapa orang. Diantaranya ada yang duduk di kursi di sebelahku. Ia seorang perempuan. Aku coba iseng-iseng bertanya soal aktivitas mereka. Dari penghasilan, daerah mana saja biasanya mereka tampil, mau ke mana dan hal-hal remeh lainnya.

Salah satu anggota itu ada yang bilang haus, aku tak sengaja mendengarnya. Spontan aku memberikan air yang dibelikan Isa tadi itu. Ia berterimakasih dan alhamdulillah mereka menikmatinya. Aku menunggu cukup lama, sampai aku menelfon Mas Syahrul dan ia menyarankan ku untuk memesan grab, lalu sesampai di P4NJ nanti biar Mas Zaka yang bayar.

Akhirnya aku pesan grab yang pakai motor listrik. Aku memilhanya karena ada yang bilang sepeda listrik ini adalah program ramah lingkungan. Meskipun ide ini masih diperdebatkan. Setelah memesan dan aku naik sepeda ini, aku telfon Mas Zaka. Katanya sudah ada sepeda, jangan naik grab. Tapi karena aku sudah memesan, akhirnya aku jalan saja.

Oh ya, aku naik grab ini, arah tujuanku -seingatku- adalah alamat yang dikirim oleh Mas Zaka itu. Aku copy paste saja. Tapi realitanya aku tidak sampai di P4NJ Jabodetabek ini. Sepertinya aku salah memasukkan alamat. Kalau cek di mapsnya sih, aku sudah sampai, tapi aku tidak sampai pada apa yang aku maksud.

Akhirnya aku sempat muter-muter di sebuah perumahan. Abang Grabnya marah-marah. Aku hanya diam. Duh, Ya Allah. Ampuni hamba. Sampai aku tanya ke orang, kata orang itu aku tanya ke satpam ke pos satpam di daerah itu.

Sampai di pos satpam tersebut, aku jelaskan semua akar permasalahannya. Hingga endingnya aku telfon Mas Zaka, Abang Grabnya pulang dan sambil marah-marah karena kesalahanku. Ia langsung pulang dan mengikhlaskan tidak aku bayar. Ya karena aku tidak punya uang. Aku sempat melobi, jalan terus dah bang, nanti aku bayar lebih.

Foto pag-pagi menuju stasiuan KRL terdekat. Mau ketemu Isa lalu ke kantor PBNU.


Aku akhirnya terdiam sejenak di pos satpam itu. Mas Zaka akhirnya datang menjemput. Ia bercerita kalau sebenarnya tidak tahu juga aku di mana, di pos satpam perumahan mana. Tapi ia kemudian tanya-tanya akhirnya tahu juga.

Malam itu adalah malah yang lelah. Sesampai di P4NJ tidak ada Mas Syahrul. Ia orang yang mungkin paling aku kenal di Jakarta ini. Aku langsung diarahkan ke kamar atas. Setelah menaruh barang-barang, aku langsung sholat isya’. Berusaha mengikhlaskan semua ini.

Aku lalu menuju ke bawah. Di ruang tamu. Aku tidur lebih awal, dengan kondisi lampu yang masih terang. Aku capek. Aku lelah. Aku hanya bisa pasrah. Hah. Sudahlah. Setidaknya, dari sini kita tahu, memang kehidupan penuh lika-liku. Keadaan sulit menuntut orang harus dan mau tidak mau untuk menjadi kuat. Orang kuat biasanya menciptakan kemudahan-kemudahan. Situasi yang enak dan mudah membuat orang lemah. Orang lemah akan dihadapkan dengan situasi sulit supaya kita kuat. Begitu seterusnya.

Bersambung.....

 

Foto ini ada di sorotan IG. Backsoundnya musik klasik. Musik kesukaan Gus Dur.


Posting Komentar

0 Komentar