Hari selasa ini, aku, Anam dan
Topek resmi dijemput dari tempat tugasan, yakni Pondok Pesantren Nurur Rahmah
Daerah Riyadlus Sholihin. Hari pertama ini, rasanya tidak enak, antara kerasan
dan tidak kerasan karena sudah terbiasa dengan suasana di desa Sambirampak Lor,
Kotaanyar, Probolinggo itu.
Rasanya, masih ada ‘sepotong
rindu’ masih di sana. Meski tidak semua enak terus di tempat tugasan, aku
mengakui bahwa di sana aku menemukan keluarga baru. Dari pihak keluarga dhalem,
guru tugas, masyarakat yang ramah, guru MTs yang terbuka hingga adik-adik
santri yang selalu mengajari kami arti bermasyarakat.
Maaf bila hati ini belum
benar-benar ikhlas dalam menjalani tugas. Masih terbersit hati ini menajalani
pengabdian karena laporan, untuk cerita dan hal-hal remeh temeh duniawi
lainnya. Kami masih belum ideal. Masih banyak kekuarangan.
Apalagi soal menjalani kegiatan
dan melaksanakan tugas-tugas, hah, rasanya jauh dari kata sempurna. Terimakasih kepada semua
pihak, terutama kepada ilahi rabbi yang telah memberikan pelajaran kehidupan
yang sangat berharga. Setidaknya dari pengalaman ini aku jadi kekuranganku
selama mondok, terutama sebagai bekal dan cermin ketika pulang ke bermasyarakat
nanti.
Dari pengalaman BMs ini, ada satu
modal yang sangat berharga, seperti berlian, mengkilau dan indah sekali.
Pelajaran itu adalah “oh memang baiknya memang begini ya” dari kejadian demi
kejadian di Daerah Riyadlus Sholihin.
Kita sebagai manusia mungkin
punya rencana, ekspektasi dan target-target tertentu. Tapi Allah yang maha kuasa
punya kehendak yang lebih baik lagi. Banyak kejadian yang memberikan kesan
dalam hati, “oh, memang baiknya begini ya”.
Bagaimanapun baik dan apiknya
konsep kita, yang terbaik versi Allah akan terjadi. Tak peduli bagaimana dan
dimana kondisi kita.
Kalau aku flashback dan
ingat-ingat dua bulan berlalu di tempat itu, ada masa-masa aku sangat marah, peghel,
suka-duka, pusing, konflik batin, konfil dengan kawan BMs hingga konflik
dengan para santri. Semua siapa yang merencanakan dan ‘mengizinkan’ semua ini
terjadi ?
Tiada lain dan tiada bukan adalah
Allah. Itu sudah pasti dan teori ini sudah aku tau dari pelajaran di pondok
pesantren bahkan hingga status/konten di media sosial. Tapi selama tugasan BMs
ini, aku benar-benar merasakan dampak teori ini.
Rasanya, “ya sudah terserah
engkau Ya Allah. Aku sudah berusaha dengan semaksimal, selebihnya terserah
engkau. Terserah bagaimana kehidupan akan terjadi. Aku pasrah. Kuatkan hamba Ya
Rabb”.
Sekali lagi, tidak ada yang
benar-benar selesai dalam masa tugasan BMs ini. Meski kami resmi selesai dan
telah sampai di Ma’had Aly Nurul Jadid, tak ada yang benar-benar selesai. Ada
hal-hal lain yang masih terikat dan semoga tidak akan pernah terlepas, semisal
tali persaudaraan-kekeluargaan, kenangan hingga pelajaran-pelajaran berharga di
setiap detiknya di tanah itu.
Terimakasih orang-orang baik,
mulai dari Gus Hadi, Neng Iin, Kiai Hafit, Ust. Udin, Ust. Taufiq, Ust. Muhib,
para santri Riyadlus Sholihin, Pak Rasek, Pak Ipung, Pak Muslen, Pak Sen, Pak
Mudzakkir, Bu Sarini, Bu Musripa, Bu Aisyah, Bu Aisyahnya Pak Mudzakir, Pak
Senol, Pak Abdullah Talkandang, Pak Andy, Pak Malik dan Pak Sholah.
Tak lupa, Kiai Zainur Rifa
(Pengasuh PP. Nurur Rahmah), Ust. Fatah, Gus Busthomi, Gus Chatim, Gus Burhan
serta keluarga dhalem lainnya. Para siswa MTs Nurur Rahmah, Ust. Asroful Anam
dan seluruh pihak yang terlibat. Baik secara langsung dan tidak.
Kalian semua orang baik. Semoga
selalu dalam lindungan-Nya, dalam naungan berkah, mau’nah, taufiq dan
inayah-nya. Maaf atas segala kecangkolangan dan seluruh kesalahan kami.
Mewakili segenap peserta BMs dan pihak Ma’had Aly Nurul Jadid, kami ucapkan
maaf sebesar-besarnya.
Ada hati yang masih belum utuh
saat balik ke Ma’had Aly Nurul Jadid. Ada sepotong rindu di Riyadlus Sholihin
dengan segala kenangan yang meliputinya.
Catatan BMs 62. Hari
Selasa, 30 Agustus 2022.
Tamat.

0 Komentar