Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (62) : Sepotong Rindu Untuk Riyadlus Sholihin

 

 

Hari selasa ini, aku, Anam dan Topek resmi dijemput dari tempat tugasan, yakni Pondok Pesantren Nurur Rahmah Daerah Riyadlus Sholihin. Hari pertama ini, rasanya tidak enak, antara kerasan dan tidak kerasan karena sudah terbiasa dengan suasana di desa Sambirampak Lor, Kotaanyar, Probolinggo itu.

Rasanya, masih ada ‘sepotong rindu’ masih di sana. Meski tidak semua enak terus di tempat tugasan, aku mengakui bahwa di sana aku menemukan keluarga baru. Dari pihak keluarga dhalem, guru tugas, masyarakat yang ramah, guru MTs yang terbuka hingga adik-adik santri yang selalu mengajari kami arti bermasyarakat.

Maaf bila hati ini belum benar-benar ikhlas dalam menjalani tugas. Masih terbersit hati ini menajalani pengabdian karena laporan, untuk cerita dan hal-hal remeh temeh duniawi lainnya. Kami masih belum ideal. Masih banyak kekuarangan.

Apalagi soal menjalani kegiatan dan melaksanakan tugas-tugas, hah, rasanya jauh dari  kata sempurna. Terimakasih kepada semua pihak, terutama kepada ilahi rabbi yang telah memberikan pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Setidaknya dari pengalaman ini aku jadi kekuranganku selama mondok, terutama sebagai bekal dan cermin ketika pulang ke bermasyarakat nanti.

Dari pengalaman BMs ini, ada satu modal yang sangat berharga, seperti berlian, mengkilau dan indah sekali. Pelajaran itu adalah “oh memang baiknya memang begini ya” dari kejadian demi kejadian di Daerah Riyadlus Sholihin.

Kita sebagai manusia mungkin punya rencana, ekspektasi dan target-target tertentu. Tapi Allah yang maha kuasa punya kehendak yang lebih baik lagi. Banyak kejadian yang memberikan kesan dalam hati, “oh, memang baiknya begini ya”.

Bagaimanapun baik dan apiknya konsep kita, yang terbaik versi Allah akan terjadi. Tak peduli bagaimana dan dimana kondisi kita.

Kalau aku flashback dan ingat-ingat dua bulan berlalu di tempat itu, ada masa-masa aku sangat marah, peghel, suka-duka, pusing, konflik batin, konfil dengan kawan BMs hingga konflik dengan para santri. Semua siapa yang merencanakan dan ‘mengizinkan’ semua ini terjadi ?

Tiada lain dan tiada bukan adalah Allah. Itu sudah pasti dan teori ini sudah aku tau dari pelajaran di pondok pesantren bahkan hingga status/konten di media sosial. Tapi selama tugasan BMs ini, aku benar-benar merasakan dampak teori ini.

Rasanya, “ya sudah terserah engkau Ya Allah. Aku sudah berusaha dengan semaksimal, selebihnya terserah engkau. Terserah bagaimana kehidupan akan terjadi. Aku pasrah. Kuatkan hamba Ya Rabb”.

Sekali lagi, tidak ada yang benar-benar selesai dalam masa tugasan BMs ini. Meski kami resmi selesai dan telah sampai di Ma’had Aly Nurul Jadid, tak ada yang benar-benar selesai. Ada hal-hal lain yang masih terikat dan semoga tidak akan pernah terlepas, semisal tali persaudaraan-kekeluargaan, kenangan hingga pelajaran-pelajaran berharga di setiap detiknya di tanah itu.

Terimakasih orang-orang baik, mulai dari Gus Hadi, Neng Iin, Kiai Hafit, Ust. Udin, Ust. Taufiq, Ust. Muhib, para santri Riyadlus Sholihin, Pak Rasek, Pak Ipung, Pak Muslen, Pak Sen, Pak Mudzakkir, Bu Sarini, Bu Musripa, Bu Aisyah, Bu Aisyahnya Pak Mudzakir, Pak Senol, Pak Abdullah Talkandang, Pak Andy, Pak Malik dan Pak Sholah.

Tak lupa, Kiai Zainur Rifa (Pengasuh PP. Nurur Rahmah), Ust. Fatah, Gus Busthomi, Gus Chatim, Gus Burhan serta keluarga dhalem lainnya. Para siswa MTs Nurur Rahmah, Ust. Asroful Anam dan seluruh pihak yang terlibat. Baik secara langsung dan tidak.

Kalian semua orang baik. Semoga selalu dalam lindungan-Nya, dalam naungan berkah, mau’nah, taufiq dan inayah-nya. Maaf atas segala kecangkolangan dan seluruh kesalahan kami. Mewakili segenap peserta BMs dan pihak Ma’had Aly Nurul Jadid, kami ucapkan maaf sebesar-besarnya.

Ada hati yang masih belum utuh saat balik ke Ma’had Aly Nurul Jadid. Ada sepotong rindu di Riyadlus Sholihin dengan segala kenangan yang meliputinya.

Catatan BMs 62. Hari Selasa, 30 Agustus 2022.

Tamat.

Posting Komentar

0 Komentar