Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (60) : Tidak Sekolah dan Lanjut Garap Gardu

 



Hari Ahad, 28 Agustus 2022, sehari setelah hari Sabtu yang mana para siswa dan guru sedang capek-capeknya setelah acara semalaman. Pengajian yang bertempat di halaman MTs Nurur Rahmah itu sangat ramai sekali. Alhamdulillah aku bisa menyimak hingga akhir.

Yang ku tahu dan ku dengar dari Pak Rasek, salah satu guru MTs yang baik ini bilang bahwa pondok sini yang ngundang Kiai Musleh itu tahun lalu, baru bisa sekarang. Dan, diriiwayatkan dari Gus Hadi saat bincang-bincang di mobil dalam perjalanan menuju utama raya, beliau bilang bahwa setelah acara pengajian itu selesai, ada orang yang ingin mengundang beliau dan ternyata jadwal ceramah beliau itu full. Baru bisa pada tahun 2024 nanti.

Hah. Cobaan orang alim seperti itu memang.

Nah, pada hari ahad itu, aku sebenarnya ada jadwal ngajar di MTs, tapi aku tidak masuk. Selain karena bangunku yang kesiangan, jadwal pelajaran saat itu hanya sedikit. Jam sepuluh –kalau tidak salah- jam ngajarku sudah selesai. Setelah itu sampai jam 12 siang waktunya pramuka. karena nanggung, aku chat Pak Zen yang juga bertugas sebagai guru piket madrasah bahwa hari itu aku tidak bisa masuk sekolah.

Aku dan ustadz lainnya langsung garap gardu yang tak kunjung selesai. Hingga detik-detik penjemputan oleh panitia, kami masih garap gardu demi rampungnya proyek ini. Pukul setengah sembilan sepertinya,  kami masih sibuk berurusan dengan paku, palu dan gergaji. Silih berganti menggunakan alat-alat itu agar gardu itu benar-benar selesai.

Tapi aku saat ini fokus cerita pada hari ahad-nya, sedang detik-detik selesainya garap gardu itu pada hari Selasanya. Entahlah, soal gardu ini sebenarnya penjab proyeknya adalah Topek. Tapi secara konsep pembuatan gardu ini belum matang. Aku mau ngonsep juga kurang tahu.

Aku mau menyalahkan, tapi itu bukan solusi yang terbaik. Aku sangat berterimakasih sekali pada Ust. Taufiq yang mau membantu, memperbaiki ulang kayu-kayu yang sudah menempel dii rangka bangunan itu menjadi lebih kuat dan rapi. Meski pada ujung-ujungnya kami juga mengalami kebuntuan. Bagaimana dan seharusnya membuat gardu yang baik, rapi dan benar ?

Kami bekerja silih berganti. Tidak ada saling menyalahkan karena memang sudah dewasa tidak perlu teguran kasar-kasar, memang manusia tidak ada yang selalu benar. Pemakluman-pemakluman seperti  inilah yang ku dapati –salah satunya- BMs di PP. Nurur Rahmah.

Aku yang selalu berpikir ideal, perfeksionis dan mematok target tinggi, tapi secara realita di lapangan, banyak mengalami kekurangan. Dan, kekuragan-kekurangan ini mereka maklumi. Mereka tahu bahwa aku banyak kekurangannya, tapi mereka memilih diam. Bahkan ada yang diam-diam memujiku.

Duh, Rabb, Anta sattarul ‘uyub.

 

Catatan BMs hari Ahad, 28 Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari Kamis, 01 September 2022 pukul 11.15 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar