Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (59) : Rangkaian Kegiatanku Pada Haul Kiai Zainul Mu’in ke 13

 


 

Hari Jum’at, 26 Agustus 2022 adalah hari dimana haul Kiai Zainul Mu’in digelar. Apa saja kegiatan haul di sini ?. Setidaknya ada tiga kegiatan saat haul Kiai Zainul Mu’in itu.

Pertama, pagi hari sekitar pukul delapan pagi, ada acara haul yang berisi tentang pembacaan manaqib dan sirah Kiai Zainul Mu’in. Kalau tidak keliru, yang mengisi sesi ini adalah pengasuh PP. Darul Ulum, Paiton. Tapi bukan Kiai Mahrus, entahlah siapa. Aku kurang tahu juga. Yang jelas, antara Pondok Darul Ulum dan Pondok Nurur Rahmah itu ada ikatan keluarga.

Aku dan Ust. Taufiq saat itu berangkat duluan karena takut telat. Akhirnya kami berdua sampai duluan daripada ustadz-ustadz lainnya. Kami berdua dihaturi duduk di bagian depan. Di dhalem Kiai Zainur Rifa’. Di samping kanan-kiri sudah duduk dan hadir para keluarga dhalem PP. Nurur Rahmah. Termasuk diantaranya adalah Gus Hadi, Gus Busthomi, Kiai Hafit dan nama-nama yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.

Di depanku ada Kiai Zainur Rifa’, pengasuh PP. Nurur Rahmah. Aku yang belum tidur sama sekali semenjak subuh itu, jadi merasa ngantuk saat acara dimulai. Duh, aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak tidur tapi tetap saja mata ini sulit untuk diajak kompromi. Di pinggirku, Ust. Taufiq diam-diam tidur.

Duh, malu rasanya tidur di tengah acara sakral dan di kelilingi orang-orang besar ini. Aku bagaikan debu di terompahmu kiai. Tak ada apa-apanya. Bisa masuk dalam bagian pondok ini sudah untung. Hmmm~

Setelah acara selesai, kami selaku guru tugasan akhirnya masuk sesi ramah-tamah. Tapi, sesi ramah tamah ini kami nimbrung di bagian prasmanan, sedangkan masyarakat sekitar di berikan hidangan piringan tersendiri, bukan prasmanan. Kami jadi tidak enak sendiri. Jadi merasa diistimewakan. Duh duh.

Kegiatan ke dua adalah penutuan dan lepas pisah peserta BMs di Musholla Riyadlus Sholihin yang cerita ini sudah ku tulis pada catatan sebelumnya.

Kegiatan ke tiga adalah pengajian umum yang dibawakan oleh Kiai Musleh Adnan. Pengajian yang menarik dan sangat menghibur. Isinya berbobot. Ya Basyiron (memberi kabar gembira) dan nadziro (memberi peringatan). Tak terasa pengajian selesai hampir pukul dua belas malam.

Sayang, meski aku berada di sebelah panggung acara, aku tidak bisa melihat Kiai Musleh terus-terusan karena terhalang sound-system di sana. Meski tidak terlalu fokus, aku mencatat poin-poin yang disampaikan oleh Kiai Musleh. Catatan itu ada di HP-ku.

Oh ya, sebelum acara pengajian itu dimulai, ada pembacaan puisi lho. Yang baca puisinya adalah Mas Firman Hamda, senior di komunitas satra titik koma. Dulu aku pernah belajar puisi di komunitas itu saat duduk di bangku aliyah kelas 3. Tapi semenjak lulus dan tidak berdomisi di pusat, aku jarang ikut kajin puisi itu. Hah. Aku jadi terkenang masa-masa dulu berproses, sejak awal masuk komunitas itu hingga juara puisi di acara OSKAR 2019 lalu.

 

Catatan Sabtu, 27 Agustus 2022. Tapi isinya lebih menceritakan pengalaman hari Jum’at, 26 Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari Kamis, 01 September 2022

Posting Komentar

0 Komentar