Hari Jum’at, 26 Agustus 2022 adalah hari dimana haul Kiai Zainul Mu’in
digelar. Apa saja kegiatan haul di sini ?. Setidaknya ada tiga kegiatan saat
haul Kiai Zainul Mu’in itu.
Pertama, pagi hari sekitar pukul delapan pagi, ada acara
haul yang berisi tentang pembacaan manaqib dan sirah Kiai Zainul Mu’in. Kalau
tidak keliru, yang mengisi sesi ini adalah pengasuh PP. Darul Ulum, Paiton.
Tapi bukan Kiai Mahrus, entahlah siapa. Aku kurang tahu juga. Yang jelas,
antara Pondok Darul Ulum dan Pondok Nurur Rahmah itu ada ikatan keluarga.
Aku dan Ust. Taufiq saat itu berangkat duluan karena takut telat. Akhirnya
kami berdua sampai duluan daripada ustadz-ustadz lainnya. Kami berdua dihaturi
duduk di bagian depan. Di dhalem Kiai Zainur Rifa’. Di samping kanan-kiri sudah
duduk dan hadir para keluarga dhalem PP. Nurur Rahmah. Termasuk diantaranya
adalah Gus Hadi, Gus Busthomi, Kiai Hafit dan nama-nama yang tak bisa ku
sebutkan satu persatu.
Di depanku ada Kiai Zainur Rifa’, pengasuh PP. Nurur Rahmah. Aku yang belum
tidur sama sekali semenjak subuh itu, jadi merasa ngantuk saat acara dimulai.
Duh, aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak tidur tapi tetap saja mata ini
sulit untuk diajak kompromi. Di pinggirku, Ust. Taufiq diam-diam tidur.
Duh, malu rasanya tidur di tengah acara sakral dan di kelilingi orang-orang
besar ini. Aku bagaikan debu di terompahmu kiai. Tak ada apa-apanya. Bisa masuk
dalam bagian pondok ini sudah untung. Hmmm~
Setelah acara selesai, kami selaku guru tugasan akhirnya masuk sesi
ramah-tamah. Tapi, sesi ramah tamah ini kami nimbrung di bagian prasmanan,
sedangkan masyarakat sekitar di berikan hidangan piringan tersendiri, bukan
prasmanan. Kami jadi tidak enak sendiri. Jadi merasa diistimewakan. Duh duh.
Kegiatan ke dua adalah penutuan
dan lepas pisah peserta BMs di Musholla Riyadlus Sholihin yang cerita ini sudah
ku tulis pada catatan sebelumnya.
Kegiatan ke tiga adalah
pengajian umum yang dibawakan oleh Kiai Musleh Adnan. Pengajian yang menarik
dan sangat menghibur. Isinya berbobot. Ya Basyiron (memberi kabar gembira) dan
nadziro (memberi peringatan). Tak terasa pengajian selesai hampir pukul dua
belas malam.
Sayang, meski aku berada di sebelah panggung
acara, aku tidak bisa melihat Kiai Musleh terus-terusan karena terhalang
sound-system di sana. Meski tidak terlalu fokus, aku mencatat poin-poin yang
disampaikan oleh Kiai Musleh. Catatan itu ada di HP-ku.
Oh ya, sebelum acara pengajian itu dimulai, ada pembacaan puisi lho. Yang
baca puisinya adalah Mas Firman Hamda, senior di komunitas satra titik koma.
Dulu aku pernah belajar puisi di komunitas itu saat duduk di bangku aliyah
kelas 3. Tapi semenjak lulus dan tidak berdomisi di pusat, aku jarang ikut
kajin puisi itu. Hah. Aku jadi terkenang masa-masa dulu berproses, sejak awal
masuk komunitas itu hingga juara puisi di acara OSKAR 2019 lalu.
Catatan Sabtu, 27 Agustus 2022. Tapi isinya lebih
menceritakan pengalaman hari Jum’at, 26 Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari
Kamis, 01 September 2022

0 Komentar