Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (43) : Bincang Bisnis Dengan Gus Busthomi

 

 

Sejak lama aku ingin belajar bisnis kepada Gus Busthomi. Salah satu lora/gus/keluarga dhalem PP. Nurur Rahmah. Di Nurur Rahmah, beliau menjabat sebagai kepala pesantren. Tapi secara silsilah dan garis kekeluargaan, aku kurang tahu secara pasti beliau adalah siapa. Menantu/putra dari siapa. Yang jelas beliau masih keluarga dhalem disini.

Malam itu, malam kamis (11/08), setelah mengaji di astah Kiai Zainul Mu’in –yang notabene kegiatan rutin santri Riyadlus Sholihin- aku tidak langsung menuju ke kamar. Aku sempatkan diri ini untuk silaturahmi sekaligus hendak belajar bisnis kepada Gus Busthomi.

Memangnya, Gus Busthomi Ini Mendalami Bidang Bisnis Apa ? Sukseskah ?

Barangkali pembaca akan bertanya hal demikian padaku. Ceritanya begini, dulu ketika masih awal-awal di Daerah Riyadlus Sholihin ini, aku bincang-bincang dengan Ust. Udin. Dari bincang-bincang itu, aku jadi data info bahwa Gus Busthom itu orang yang mendalami bisnis di pesantren ini. Akhirnya aku penasaran dan aku ingin ‘curi’ ilmu beliau.

Berkisar pukul 20:45 WIB. Aku nekat untuk menuju rumah beliau. Rumah beliau tutu ternyata. Aku tanya pada santi disekitar sana, ternyata cara ‘sowan’ disini harus pencat bel terlebih dahulu. Aku pencet bel dan beliau-pun keluar. Aku dipersilahkan masuk dan duduk. Aku mengutarakan latar belakang datang e sini dan tujuan agar segalah harapan dapat hasil-maksud.

Dari pertemuan malam itu, aku jadi tahu beberapa hal. Diantaranya adalah :

1.       Gus Busthomi kulakan makanan-makanan di Kotaanyar lalu dijual ke Sidoarjo. Menurut beiau, Sidoarjo ini termasuk kota industry yang kebanyakan orang-orangnya tidak sempat masak. Jadi tak heran kalau layanana aplikasi seperti Go-Food sangat sering dipakai.

2.       Dagangan Gus Busthomi, biasanya laku seminggu hingga sepuluh hari.

3.       Bagi beliau, kalau menemukan/mencicipi makanan yang enak, beliau akan cari produsennya dan beliau akan borong barang itu lalu jual ke Sidoarjo.

4.       Bagi orang Sidoarjo, makanan/camilan di sini ini murah dan enak. Jadi beliau kulakan kripik pisang harganya empat ribu rupiah, beliau jual di Sidoarjo seharga tujuh ribu lima ratus rupiah.

5.       Beliau kalau kulakan tidak mau hutang. Katanya buat rezeki tidak barokah. Seandainya hutang dan nanti hasil, biasanya uang hasil bisnis itu ‘cepat habis’.

Aku tanya-tanya produsen makanan/camila rumah tangga-an / UMKM di sektar sini, dimana ? seandainya ada akan dijual di toko mana ?

Jadi aku ingin berbisnis yang tidak ruwet dan menggagu aktivitas BMs ku disini. Seperti system sales seperti itu. Di penutup perbincangan, aku ditawari jaringan. Mungkin ada produk yang bisa ditawarkan, nanti beliau mau kulakan dan di jual ke Sidoarjo.

Nambah, terakhir, ucapan terimakasih buat keripik pisangnya gus. Jadi sebelum pamitan pulang, aku dikasih lima bungkus kripik pisang. Ku kira biasa saja rasanya. Seperti kebanyak keripik pisang pada umumnya. Tapi setelah coba di kamar, ternyata enak. Aku ketagihan. Pokoknya makasih gus. J

Catatan BMs (43) Kamis, 11 Agustus 2022. Selesai ditulis pada Jum’at, 12 Agustus 2022. 21:05 WIB/

Posting Komentar

0 Komentar