Sejak lama aku
ingin belajar bisnis kepada Gus Busthomi. Salah satu lora/gus/keluarga dhalem
PP. Nurur Rahmah. Di Nurur Rahmah, beliau menjabat sebagai kepala pesantren.
Tapi secara silsilah dan garis kekeluargaan, aku kurang tahu secara pasti
beliau adalah siapa. Menantu/putra dari siapa. Yang jelas beliau masih keluarga
dhalem disini.
Malam itu, malam
kamis (11/08), setelah mengaji di astah Kiai Zainul Mu’in –yang notabene
kegiatan rutin santri Riyadlus Sholihin- aku tidak langsung menuju ke kamar.
Aku sempatkan diri ini untuk silaturahmi sekaligus hendak belajar bisnis kepada
Gus Busthomi.
Memangnya,
Gus Busthomi Ini Mendalami Bidang Bisnis Apa ? Sukseskah ?
Barangkali
pembaca akan bertanya hal demikian padaku. Ceritanya begini, dulu ketika masih
awal-awal di Daerah Riyadlus Sholihin ini, aku bincang-bincang dengan Ust.
Udin. Dari bincang-bincang itu, aku jadi data info bahwa Gus Busthom itu orang
yang mendalami bisnis di pesantren ini. Akhirnya aku penasaran dan aku ingin
‘curi’ ilmu beliau.
Berkisar pukul
20:45 WIB. Aku nekat untuk menuju rumah beliau. Rumah beliau tutu ternyata. Aku
tanya pada santi disekitar sana, ternyata cara ‘sowan’ disini harus pencat bel
terlebih dahulu. Aku pencet bel dan beliau-pun keluar. Aku dipersilahkan masuk
dan duduk. Aku mengutarakan latar belakang datang e sini dan tujuan agar segalah
harapan dapat hasil-maksud.
Dari pertemuan
malam itu, aku jadi tahu beberapa hal. Diantaranya adalah :
1.
Gus
Busthomi kulakan makanan-makanan di Kotaanyar lalu dijual ke Sidoarjo. Menurut
beiau, Sidoarjo ini termasuk kota industry yang kebanyakan orang-orangnya tidak
sempat masak. Jadi tak heran kalau layanana aplikasi seperti Go-Food sangat
sering dipakai.
2.
Dagangan
Gus Busthomi, biasanya laku seminggu hingga sepuluh hari.
3.
Bagi
beliau, kalau menemukan/mencicipi makanan yang enak, beliau akan cari produsennya
dan beliau akan borong barang itu lalu jual ke Sidoarjo.
4.
Bagi orang
Sidoarjo, makanan/camilan di sini ini murah dan enak. Jadi beliau kulakan
kripik pisang harganya empat ribu rupiah, beliau jual di Sidoarjo seharga tujuh
ribu lima ratus rupiah.
5.
Beliau
kalau kulakan tidak mau hutang. Katanya buat rezeki tidak barokah. Seandainya
hutang dan nanti hasil, biasanya uang hasil bisnis itu ‘cepat habis’.
Aku tanya-tanya
produsen makanan/camila rumah tangga-an / UMKM di sektar sini, dimana ? seandainya
ada akan dijual di toko mana ?
Jadi aku ingin
berbisnis yang tidak ruwet dan menggagu aktivitas BMs ku disini. Seperti system
sales seperti itu. Di penutup perbincangan, aku ditawari jaringan. Mungkin ada
produk yang bisa ditawarkan, nanti beliau mau kulakan dan di jual ke Sidoarjo.
Nambah,
terakhir, ucapan terimakasih buat keripik pisangnya gus. Jadi sebelum pamitan
pulang, aku dikasih lima bungkus kripik pisang. Ku kira biasa saja rasanya.
Seperti kebanyak keripik pisang pada umumnya. Tapi setelah coba di kamar,
ternyata enak. Aku ketagihan. Pokoknya makasih gus. J
Catatan BMs (43)
Kamis, 11 Agustus 2022. Selesai ditulis pada Jum’at, 12 Agustus 2022. 21:05
WIB/

0 Komentar