Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMS (42) : 2 Agenda Hari ini, Training Duta Santri Digital dan Persiapan Buat Selayang Pandang

 



Menjadi dan ditempatkan di posisi apa saja, kita seharusnya tidak boleh sombong. Kadang, entah karena lalai atau memang berjasa karena melakukan sesuatu, akhirnya sempat terbersit dalam hati ini merasa bangga dan besar kepala.

Ada semacam perasaan senioritas, semisal, “aku berjasa dan bisa berbuat banyak serta hal penting, kamu tidak. Berarti aku di atas dan kamu di bawah”.

Hah. Model pendidikan seperti ini yang tidak boleh diterapkan dalam dunia pendidikan, lebih-lebih ketika menjalani kehidupan sehari-hari.

Ketika Ra Fayyadl mengisi acara pembukaan tahun pelajaran baru di yayasan Nurur Rahmah seminggu lalu, ada salah satu peserta dari kalangan guru itu bertanya yang intinya begini,

“Kita tahu sendiri, kalau Ra Fayyadl ini orang besar, berilmu dan lain sebagainya. Tapi secara perawakan itu sangat sederhana luar biasa. Kalau kami ini sering berdebat, kalau ngomong tidak mau kalah, tapi disuruh kerja malah loyo. Pertanyaan saya, bagaimana cara menjadi orang yang seperti samean ini ?”

Seingatku (sebagaimana ku tulis dalam catatan), beliau jadi seperti ini tidak lepas dari faktor keluarga. Pendidikan karakter dalam keluarga agar menjadi generasi-generasi tawadhu’, sudah diajarkan dan –sepertinya- sudah mengakar di keluarga Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kalau kita ingin memiiki anak tawadhu’, ya harus perlakukan anak tawadhu’ pula. Jangan jadi santri yang berkarakter mengerikan, seperti bengis, pendedam dan lain sebagainya.

Setidaknya, itulah sedikit catatan tentang jawaban Ra Fayyadl pada guru tersebut.

***

Pada hari ini, setidaknya ada dua agenda yang sedang aku kerjakan. Pertama adalah tentang training duta santri digital. Barusan sudah aku tanya Anam siapa saja yang berkenan dan mau ikut jadi duta santri digital bagian editor video. Ia bilang terserah. Ya sudah aku koreksi dan tentukan saja, siapa nama-nama yang berhak mendapat pelatihan intensi dari ustadz-ustadz BMs ini.

Nama-nama tersebut adalah :

1.       Bagian penulis                   :

a.       Agus Salim (Rahmad)

b.       As’ad Syauky

2.       Bagian desain grafis        :

a.       Zainul Mujib (Je)

b.       Mu’tashim Billah (Fabil)

3.       Editor video                        :

a.       Moh. Hidayatullah

b.       M. Taufiqur Rahman

c.       Afgan Syadit Taqwa

d.       Faqih Hidayatullah

e.       Arifaldi

Kedua adalah minta izin copy paste (menukil) sejarah Pondok Pesantren Nurur Rahmah untuk disertakan dalam selayang pandang Daerah Riyadlus Sholihin. Sebenarnya aku ingin minta file mentahan dari beberapa bab yang ingin ku nukil, tapi penulisnya, Gus A. Nur Khotim bilang bahwa beliau juga tidak memiliki file tersebut. Sesuai perjanjian dengan penerbit buku itu, si penulis tidak boleh memiliki file tersebut. Sehingga kalau ingin cetak buku Kiai Zainul Mu’in, harus nerbitkan dan beli di penerbit leutika prio. (penerbit indie)

Alhamdulillah beliau berkenan dan sangat terbuka sekali. Terimakasih gus.

Baiklah. Mungkin itu saja. Aku ingin beralih mengerjakan tugas-tugas persiapan launching karya di 17 Agustusan nanti.

*Catatan BMs 42 (Hari Rabu, 10 Agustus 2022). Selesai hari ini pukul 21:08 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar