Menjadi dan
ditempatkan di posisi apa saja, kita seharusnya tidak boleh sombong. Kadang,
entah karena lalai atau memang berjasa karena melakukan sesuatu, akhirnya
sempat terbersit dalam hati ini merasa bangga dan besar kepala.
Ada semacam
perasaan senioritas, semisal, “aku berjasa dan bisa berbuat banyak serta hal
penting, kamu tidak. Berarti aku di atas dan kamu di bawah”.
Hah. Model
pendidikan seperti ini yang tidak boleh diterapkan dalam dunia pendidikan,
lebih-lebih ketika menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketika Ra
Fayyadl mengisi acara pembukaan tahun pelajaran baru di yayasan Nurur Rahmah
seminggu lalu, ada salah satu peserta dari kalangan guru itu bertanya yang
intinya begini,
“Kita tahu
sendiri, kalau Ra Fayyadl ini orang besar, berilmu dan lain sebagainya. Tapi
secara perawakan itu sangat sederhana luar biasa. Kalau kami ini sering
berdebat, kalau ngomong tidak mau kalah, tapi disuruh kerja malah loyo.
Pertanyaan saya, bagaimana cara menjadi orang yang seperti samean ini ?”
Seingatku
(sebagaimana ku tulis dalam catatan), beliau jadi seperti ini tidak lepas dari
faktor keluarga. Pendidikan karakter dalam keluarga agar menjadi
generasi-generasi tawadhu’, sudah diajarkan dan –sepertinya- sudah mengakar di
keluarga Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Kalau kita ingin
memiiki anak tawadhu’, ya harus perlakukan anak tawadhu’ pula. Jangan jadi
santri yang berkarakter mengerikan, seperti bengis, pendedam dan lain
sebagainya.
Setidaknya,
itulah sedikit catatan tentang jawaban Ra Fayyadl pada guru tersebut.
***
Pada hari ini,
setidaknya ada dua agenda yang sedang aku kerjakan. Pertama adalah tentang
training duta santri digital. Barusan sudah aku tanya Anam siapa saja yang
berkenan dan mau ikut jadi duta santri digital bagian editor video. Ia bilang
terserah. Ya sudah aku koreksi dan tentukan saja, siapa nama-nama yang berhak
mendapat pelatihan intensi dari ustadz-ustadz BMs ini.
Nama-nama
tersebut adalah :
1.
Bagian
penulis :
a.
Agus Salim
(Rahmad)
b.
As’ad
Syauky
2.
Bagian
desain grafis :
a.
Zainul
Mujib (Je)
b.
Mu’tashim
Billah (Fabil)
3.
Editor
video :
a.
Moh.
Hidayatullah
b.
M.
Taufiqur Rahman
c.
Afgan
Syadit Taqwa
d.
Faqih
Hidayatullah
e.
Arifaldi
Kedua adalah
minta izin copy paste (menukil) sejarah Pondok Pesantren Nurur Rahmah untuk disertakan
dalam selayang pandang Daerah Riyadlus Sholihin. Sebenarnya aku ingin minta
file mentahan dari beberapa bab yang ingin ku nukil, tapi penulisnya, Gus A.
Nur Khotim bilang bahwa beliau juga tidak memiliki file tersebut. Sesuai
perjanjian dengan penerbit buku itu, si penulis tidak boleh memiliki file
tersebut. Sehingga kalau ingin cetak buku Kiai Zainul Mu’in, harus nerbitkan
dan beli di penerbit leutika prio. (penerbit indie)
Alhamdulillah
beliau berkenan dan sangat terbuka sekali. Terimakasih gus.
Baiklah. Mungkin
itu saja. Aku ingin beralih mengerjakan tugas-tugas persiapan launching karya
di 17 Agustusan nanti.
*Catatan BMs
42 (Hari Rabu, 10 Agustus 2022). Selesai hari ini pukul 21:08 WIB.

0 Komentar