Pada hari Jum’at (12/08) itu ada
beberapa peristiwa yang terjadi menimpa diriku. Padahal saat itu, aku sudah
merancanakan atau membuat apa saja yang harus aku kerjakan, tapi apa-apa yang
sudah aku rencanakan itu tidak terjadi dikarenakan ‘aku tak memaksakan diri’
untuk mengerjakan tugas-tugasku. Akhirnya pagi hingga siang menjelang sholat
jum’at aku pun tidur. Barangkali
demikian yang namanya takdir.
Setidaknya, pada catatan kali ini
aku menulis tiga peristiwa itu menjadi tiga bagian.
Pertama, aku tidak jadi
moderator di sebuah acara mengisi liburan para mahasiswi Nurul Jadid daerah
az-Zainiyah (Dalbar). Sebenarnya aku tidak mau untuk menjadi moderator acara
tersebut dikarenakan aku sedang BMs ini. Tapi karena ‘agak dipaksa’, akhirnya
aku mengiyakan.
Setelah diundur dari waktu
sebenarnya dan ditetapkan pada malam sabtu itu, panitia mengonfirmasi Ra
Fayyadl dan aku. Aku siap insyaallah. Pihak panitia juga bilang bahwa
moderatornya itu aku pada Ra Fayyadl via chat WhatsApp (WA) tersebut. Tapi,
dawuh Ra Fayyad adalah kalau bisa ganti yang lain moderatornya karena Alfin
sedang KKN. Moderatornya putri tidak apa-apa,
Pihak panitia akhirnya
menghubungi aku dan aku disuruh mengonfirmasi pada Ra Fayyadl agar ‘sekiranya’
aku tetap jadi moderator. Pertimbangannya dari pihak panitia tidak mau ganti
moderator adalah kalau putri yang jadi moderator itu tidak enak.
Aku yang chat Ra Fayyadl disuruh
bilang begitu. Tapi aku juga tidak enak kalau bilang, “kalau diganti putri
moderatornya tidak enak” jadi aku chat ke beliau kurang lebih begini, “waktunya sudah mepet seandainya
moderatornya diganti”. Tapi beliau dawuh, “ga perlu fin. Kamu fokus sama
BMs-nya”.
Oke. Fix. Aku tidak jadi
moderator. Ngireng dawuh. Meskipun tak enak sendiri dan merasa ‘cangkolang’
saat chat beliau untuk sekedar keperluan ini-itu.
Kedua adalah istighotsah
rutinan ba’da jum’at. Saat itu aku dan Anam yang ikut istighotsah bersama Kiai
Hafidz. Tempatnya tetap di daerah Gondosuli. Topek tidak ikut karena jemput
Dany untuk diajak ke pondok.
Aku kira istighotsah kali itu
tidak ada lagi. Karena pada minggu sebelumnya tidak ada istighotsah dan kami
bertiga sudah mengambil peran secara adil. Jadi pemberi ceramah, baca ratib dan
sholawat nariyah sudah semua. Eh, waktu kemarin ini masih ada istighotsah.
Ketiga adalah kunjungan
dari Dany. Ia adalah teman angkatan ketika duduk di bangku aliyah. Awalnya ia
mampir di café Alit setelah pulang dari
Jember. Saat itu ia balik dan mampir ke sini sebagai bentuk ‘main-main’
dan ‘silaturahmi’. Ia di sini sampai
sore hari.
Awalnya, ba’da ashar itu aku mau
ngantarkan dia ke pondok karena memang aku ada keperluan juga. Ambil buku induk
dan data pelanggaran santri di
percetakan pesona. Ternyata saat izin dan ‘konsultasi’ pada Gus Hadi
itu, aku bincang-bincang dengan beliau cukup seru. Bahas bisnis dan beberapa
tugas peserta BMs yang belum selesai. Percakapan itu berlangsung hingga adzan
maghrib tiba. Akhirnya, aku
yang mengantarkan Dany ke pondok setelah maghrib.
Aku yang ada jadwal ngimami
akhirnya minta diwakilkan pada Ust. Taufiq. Aku sholat di musholla dan langsung
berangkat ke pondok. Aku ngantarkan ke Pos 2 dan disana aku bertemu dengan
Sairofi dan Zaim. Kami bincang-bincang sebentar lalu melanjutkan perjalanan.
Mereka menuju ke ATM yang ada di UNUJA dan aku lanjut menuju percetakan pesona
buat ambil dua buku itu dan berlanjut ke Ust. Tohet untuk konsultasi restra.
Tapi Pak Tohet tidak ada dan akupun langsung menuju daerah Riyadlus Sholihin.
*Catatan BMs hari Jum’at 12
Agustus lalu. Selesai ditulis pada Kamis, 18 Agustus 2022 pukul 05:19 WIB.

0 Komentar