Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (44): Tak Jadi Moderator di NJ Hingga Kunjungan Teman Seangkatan



Pada hari Jum’at (12/08) itu ada beberapa peristiwa yang terjadi menimpa diriku. Padahal saat itu, aku sudah merancanakan atau membuat apa saja yang harus aku kerjakan, tapi apa-apa yang sudah aku rencanakan itu tidak terjadi dikarenakan ‘aku tak memaksakan diri’ untuk mengerjakan tugas-tugasku. Akhirnya pagi hingga siang menjelang sholat jum’at aku pun tidur. Barangkali demikian yang namanya takdir.

Setidaknya, pada catatan kali ini aku menulis tiga peristiwa itu menjadi tiga bagian.

Pertama, aku tidak jadi moderator di sebuah acara mengisi liburan para mahasiswi Nurul Jadid daerah az-Zainiyah (Dalbar). Sebenarnya aku tidak mau untuk menjadi moderator acara tersebut dikarenakan aku sedang BMs ini. Tapi karena ‘agak dipaksa’, akhirnya aku mengiyakan.

Setelah diundur dari waktu sebenarnya dan ditetapkan pada malam sabtu itu, panitia mengonfirmasi Ra Fayyadl dan aku. Aku siap insyaallah. Pihak panitia juga bilang bahwa moderatornya itu aku pada Ra Fayyadl via chat WhatsApp (WA) tersebut. Tapi, dawuh Ra Fayyad adalah kalau bisa ganti yang lain moderatornya karena Alfin sedang KKN. Moderatornya putri tidak apa-apa,

Pihak panitia akhirnya menghubungi aku dan aku disuruh mengonfirmasi pada Ra Fayyadl agar ‘sekiranya’ aku tetap jadi moderator. Pertimbangannya dari pihak panitia tidak mau ganti moderator adalah kalau putri yang jadi moderator itu tidak enak.

Aku yang chat Ra Fayyadl disuruh bilang begitu. Tapi aku juga tidak enak kalau bilang, “kalau diganti putri moderatornya tidak enak” jadi aku chat ke beliau kurang lebih begini, “waktunya sudah mepet seandainya moderatornya diganti”. Tapi beliau dawuh, “ga perlu fin. Kamu fokus sama BMs-nya”.

Oke. Fix. Aku tidak jadi moderator. Ngireng dawuh. Meskipun tak enak sendiri dan merasa ‘cangkolang’ saat chat beliau untuk sekedar keperluan ini-itu.

Kedua adalah istighotsah rutinan ba’da jum’at. Saat itu aku dan Anam yang ikut istighotsah bersama Kiai Hafidz. Tempatnya tetap di daerah Gondosuli. Topek tidak ikut karena jemput Dany untuk diajak ke pondok.

Aku kira istighotsah kali itu tidak ada lagi. Karena pada minggu sebelumnya tidak ada istighotsah dan kami bertiga sudah mengambil peran secara adil. Jadi pemberi ceramah, baca ratib dan sholawat nariyah sudah semua. Eh, waktu kemarin ini masih ada istighotsah.

Ketiga adalah kunjungan dari Dany. Ia adalah teman angkatan ketika duduk di bangku aliyah. Awalnya ia mampir di café Alit setelah pulang dari Jember. Saat itu ia balik dan mampir ke sini sebagai bentuk ‘main-main’ dan  ‘silaturahmi’. Ia di sini sampai sore hari.

Awalnya, ba’da ashar itu aku mau ngantarkan dia ke pondok karena memang aku ada keperluan juga. Ambil buku induk dan data pelanggaran santri di percetakan pesona. Ternyata saat izin dan ‘konsultasi’ pada Gus Hadi itu, aku bincang-bincang dengan beliau cukup seru. Bahas bisnis dan beberapa tugas peserta BMs yang belum selesai. Percakapan itu berlangsung hingga adzan maghrib tiba. Akhirnya, aku yang mengantarkan Dany ke pondok setelah maghrib.

Aku yang ada jadwal ngimami akhirnya minta diwakilkan pada Ust. Taufiq. Aku sholat di musholla dan langsung berangkat ke pondok. Aku ngantarkan ke Pos 2 dan disana aku bertemu dengan Sairofi dan Zaim. Kami bincang-bincang sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke ATM yang ada di UNUJA dan aku lanjut menuju percetakan pesona buat ambil dua buku itu dan berlanjut ke Ust. Tohet untuk konsultasi restra. Tapi Pak Tohet tidak ada dan akupun langsung menuju daerah Riyadlus Sholihin.             

 

*Catatan BMs hari Jum’at 12 Agustus lalu. Selesai ditulis pada Kamis, 18 Agustus 2022 pukul 05:19 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar