Kamis H-1 hari H haul Kiai
Zainul Mu’in. Semua elemen pesantren sibuk. Esok harinya juga ada penutupan.
Sore itu para santri Riyadlus Sholihin melaksanakan kerja bakti. Aku sejak
siang berada di MTs Nurur Rahmah. Desain bener penutupan, buat pamflet dan
print keperluan-keperluan yang dibutuhkan wilayah. Karena capek, siang itu aku
langsung tidur di salah satu kursi tamu.
Siang itu sepi, karena sekolah
libur. Persiapan haul tentunya. Tinggal berdua di kantor saat itu, yakni aku
dan Pak Senol. Saat Pak Senol baru melaksanakan sholat Dzuhur aku merebahkan
diri. Tidur. Setelah beberapa waktu, hp ku berbunyi. Ada telfon. Ternyata
Topek. Ia bilang sekarang ada istighosah bareng Kiai Hafit.
Kegiatan rutin mingguan yang
biasa dilaksanakan hari Jum’at itu ternyata dimajukan. Barangkali karena ada haul.
Setelah tau ada istighosah dadakan itu, aku bergegas ke pondok. Eh, ternyata
pintu kantor terkunci. Sebelumnya, Pak Musleh sebelum keluar akan kembali ke
MTs karena saat itu ia sedang ke Kotaanyar. Ada keperluan. Mungkin agar kantor
aman lalu Pak Senol mengunci kantor MTs.
Akhirnya aku bingung yang mau
keluar dari kantor MTS. Aku kemudian menelpon Topek. Tidak diangkat. Lalu aku
menelpon ustad Muhib dan ternyata Topek yang mengangkat telepon tersebut. Aku
minta tolong kepadanya agar Je, salah satu santri Riyadlus Solihin untuk
mengambil kunci MTS di rumahnya Pak Zen.
Setelah menunggu beberapa
saat, sambil lalu aku salat dia datang. Aku langsung menuju daerah Riyadlus
Sholihin. Di sana aku telah ditunggu oleh Kiai Hafit. Kami pun berangkat menuju
tempat istighosah di daerah Gondosuli, Pakuniran, Desa Bima. Seperti biasa:
jalannya naik turun karena berada di gunung.
Saat itu aku yang menjadi
penceramah sesuai dengan kesepakatan teman-teman. Aku bercerita tentang kisah
yang ada di sebuah video yang pernah aku lihat atau tonton di postinganku. Saat
itu akunku Leni pegang dan ia yang posting video tersebut di feed Ig ku tapi
sayang video di IG itu tidak lengkap. Namun aku pernah menemukan video yang
sama tapi versi lengkapnya di IG Ra Ismael. Endingnya, aku ceritakan pada
kesempatan istighosah Kamis siang itu.
Kisah itu menjelaskan tentang
pentingnya keutamaan seorang mencari ilmu dan orang yang membiayai para pencari
ilmu. Allah perlakukan dia sedemikian baik mungkin tapi dengan satu syarat:
bahwasanya pencari ilmunya harus ikhlas karena Allah ta’ala. Karena mentaati
perintah Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah yang pertama kali turun, iqro'
bacalah.
Oh ya, pada kesempatan itu
kami juga dicabisin (disangonin) oleh tuan rumah yang ditempati istighosah.
Aku, Topek dan Anam dikasih 10 ribuan lalu ketika sampai di kamar kami
berdiskusi soal biaya pencetakan banner ini.
Aku sudah garap dan
mengirimkan filenya ke percetakan delta, akhirnya Topek dan Anam berangkat
setelah Magrib. Aku di sini di pondok menjadi imam Sholat maghrib hingga
memimpin pembacaan maulid atau sholawat nabi setelah isya. Aduh pengalaman yang
cukup menegangkan karena saya di pondok jarang mimpi jarang mimpin diba’.
Wkwkwkwk. Agak nervous jadinya.
Aku lihat-lihat ke halaman
pesantren ternyata mereka masih belum datang juga. Sesampai di kamar aku dibuka
HP dan ternyata aku mendapati pesan dari Anam dan Topek bahwasanya mereka
mendapati sebuah musibah, yakni ban sepeda yang mereka naiki bocor. Dan saya
dihubungi terus oleh pihak percetakan, “kok tidak sampai-sampai mas ?”.
Pihak percetakan menunggu
teman saya yang untuk mengambil banner yang akan dipakai besok siang. Aku hanya
bisa pasrah aku melanjutkan kegiatan ke asta bersama para santri dan setelah
itu mereka sampai di pondok. Mereka cerita kejadian detailnya dan lain
sebagainya. Mungkin itu saja cerita hari Kamis.
Sekian. Terimakasih.

0 Komentar