Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (57) : Drama-Drama H-1 Haul Kiai Zainul Mu'in

 



Kamis H-1 hari H haul Kiai Zainul Mu’in. Semua elemen pesantren sibuk. Esok harinya juga ada penutupan. Sore itu para santri Riyadlus Sholihin melaksanakan kerja bakti. Aku sejak siang berada di MTs Nurur Rahmah. Desain bener penutupan, buat pamflet dan print keperluan-keperluan yang dibutuhkan wilayah. Karena capek, siang itu aku langsung tidur di salah satu kursi tamu.

Siang itu sepi, karena sekolah libur. Persiapan haul tentunya. Tinggal berdua di kantor saat itu, yakni aku dan Pak Senol. Saat Pak Senol baru melaksanakan sholat Dzuhur aku merebahkan diri. Tidur. Setelah beberapa waktu, hp ku berbunyi. Ada telfon. Ternyata Topek. Ia bilang sekarang ada istighosah bareng Kiai Hafit.

Kegiatan rutin mingguan yang biasa dilaksanakan hari Jum’at itu ternyata dimajukan. Barangkali karena ada haul. Setelah tau ada istighosah dadakan itu, aku bergegas ke pondok. Eh, ternyata pintu kantor terkunci. Sebelumnya, Pak Musleh sebelum keluar akan kembali ke MTs karena saat itu ia sedang ke Kotaanyar. Ada keperluan. Mungkin agar kantor aman lalu Pak Senol mengunci kantor MTs.

Akhirnya aku bingung yang mau keluar dari kantor MTS. Aku kemudian menelpon Topek. Tidak diangkat. Lalu aku menelpon ustad Muhib dan ternyata Topek yang mengangkat telepon tersebut. Aku minta tolong kepadanya agar Je, salah satu santri Riyadlus Solihin untuk mengambil kunci MTS di rumahnya Pak Zen.

Setelah menunggu beberapa saat, sambil lalu aku salat dia datang. Aku langsung menuju daerah Riyadlus Sholihin. Di sana aku telah ditunggu oleh Kiai Hafit. Kami pun berangkat menuju tempat istighosah di daerah Gondosuli, Pakuniran, Desa Bima. Seperti biasa: jalannya naik turun karena berada di gunung.

Saat itu aku yang menjadi penceramah sesuai dengan kesepakatan teman-teman. Aku bercerita tentang kisah yang ada di sebuah video yang pernah aku lihat atau tonton di postinganku. Saat itu akunku Leni pegang dan ia yang posting video tersebut di feed Ig ku tapi sayang video di IG itu tidak lengkap. Namun aku pernah menemukan video yang sama tapi versi lengkapnya di IG Ra Ismael. Endingnya, aku ceritakan pada kesempatan istighosah Kamis siang itu.

Kisah itu menjelaskan tentang pentingnya keutamaan seorang mencari ilmu dan orang yang membiayai para pencari ilmu. Allah perlakukan dia sedemikian baik mungkin tapi dengan satu syarat: bahwasanya pencari ilmunya harus ikhlas karena Allah ta’ala. Karena mentaati perintah Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah yang pertama kali turun, iqro' bacalah.

Oh ya, pada kesempatan itu kami juga dicabisin (disangonin) oleh tuan rumah yang ditempati istighosah. Aku, Topek dan Anam dikasih 10 ribuan lalu ketika sampai di kamar kami berdiskusi soal biaya pencetakan banner ini.

Aku sudah garap dan mengirimkan filenya ke percetakan delta, akhirnya Topek dan Anam berangkat setelah Magrib. Aku di sini di pondok menjadi imam Sholat maghrib hingga memimpin pembacaan maulid atau sholawat nabi setelah isya. Aduh pengalaman yang cukup menegangkan karena saya di pondok jarang mimpi jarang mimpin diba’. Wkwkwkwk. Agak nervous jadinya.

Aku lihat-lihat ke halaman pesantren ternyata mereka masih belum datang juga. Sesampai di kamar aku dibuka HP dan ternyata aku mendapati pesan dari Anam dan Topek bahwasanya mereka mendapati sebuah musibah, yakni ban sepeda yang mereka naiki bocor. Dan saya dihubungi terus oleh pihak percetakan, “kok tidak sampai-sampai mas ?”.

Pihak percetakan menunggu teman saya yang untuk mengambil banner yang akan dipakai besok siang. Aku hanya bisa pasrah aku melanjutkan kegiatan ke asta bersama para santri dan setelah itu mereka sampai di pondok. Mereka cerita kejadian detailnya dan lain sebagainya. Mungkin itu saja cerita hari Kamis.

Sekian. Terimakasih.

 

Posting Komentar

0 Komentar