Sekali lagi, aku akui bahwa di tempat BMs itu benar kata Ra Syukron, jangan
anggap kamu senang dan enak saja di sana. Aku di Riyadlus Sholihin, huft, entahlah.
Apa karena cara pandangku menyikapi berbagai persoalan yang ku hadapai kurang
luwes dan legowo.
Soalnya aku pernah baca sebuah kutipan begini, masalah itu 20 % tapi cara
kita menyikapi masalah tersebut nilainya 80 %. Jadi antara masalah/realita yang
kita hadapi dan cara pandang serta sikap kita, yang paling menentukan adalah
bagaiaman pikiran, cara pandang dan sikap kita menindak lanjuti masalah
tersebut.
Jujur, banyak hal
yang tak bisa ku idealisasikan. Banyak hal tak bisa ku bagus-baguskan buanget.
Tapi soal ideal dan bagus, bukankah itu relatif ? bukankah standar ideal dan
bagus itu juga relatif ?
Jadi sekarang yang penting adalah banyak sholawatan, menerima segala yang
terjadi dengan penuh keikhlasan dan penerimaan karena semua dari Allah, juga
meyakini bahwa yang terjadi itu sudah yang terbaik.
Nah untuk mempraktikannya ini perlu latihan setiap hari. Apapun itu. Karena
ada hikmah besar di balik semua ini. Aku paham teori ini ya ketika BMs. Mau
mengeluh, mau protes dan lain sebagainya, tapi memang yang terjadi ini sudah
yang terbaik.
Tak apa gagal, tak apa jatuh, tak apa selalu tampak perfect dan sempurna.
Kata Gus Baha’, menuntut kesempurnaan adalah bentuk kesombongan. Ya sudahlah.
Ambil biasa dan santai saja. Dunia tempatnya ketidakidealan, kesalahan dan
kecacatan. Mari belajar untuk tidak alergi dengan kesalahan-kesalahan
Hahhh. Hari itu
hari selesa. Keesokan hari setelah begadang di Alit, pulang jam dua belas malam
dan aku mulai adaptasi dengan tambalan di gigiku. Pada malam harinya, Ust. Udin
sudah bilang kalau pada esok pagi, akan ada hataman al-Quran di desa Batugajah.
Aku memutuskan untuk tidak ikut, mengerjakan renstra dan tidur. aku ingin
istirahat dengan berbagai kesibukan. Aku ingin menikmati hari-hari di Riyadlus
Sholihin. Banyak tidur, tidak banyak kegiatan dan lain sebagainya. Karena kan
momennya sedang sakit. Jadi ya untuk urusan tanggung jawab bisa diserahkan pada
yang lain. meskipun dalam pikiran selalu ada berkecamuk soal target program BMs
yang tak kunjung selesai.
Siang itu, Ustadz Udin juga chat bahwa notebooknya yang sedang ku pinjam
itu hendak digunakan. Ia ingin mengambilnya dikarenakan ada tugas yang harus
segera diselesaikan. Sedang laptoku belum sembuh total. Microsoft wordnya
sedang failed sehingga tidak bisa dibuka. Aku mau minta tolong ke Pak Andy TU
MTs Nurur Rahmah tidak enak sedangkan beliau juga sibuk dan hari-hari itu mulai
mendekati haul Kiai Zainul Mu’in.
Jadwal dan agenda untuk mensukseskan acara tersebut mulai padat merayap.
Melingkupi semua pihak yang terlibat di Pondok Pesantren Nurur Rahmah. Hah.
Jadilah aku tidak pegang notebook/laptop saat menjelang detik-detik perpisahan.
Mau bagaiamana lagi. Kata ajaran stoikisme, fokuslah pada hal-hal yang bisa
kau kendalikan.
Catatan BMs hari Selasa, 23 Agustus 2022. Selesai
ditulis pada Rabu, 31 Agustus 2022 pukul 13:30 WIB.

0 Komentar