Hari Sabtu itu, sebagaiman
rutinitas pagi yang aku kerjakan. Tidur pagi dan bangun hingga hampir pukul
delapan sehingga telat untuk berangkat sekolah. Haduh. Sesampai di sekolah, kata
anak-anak kelas tiga itu, sedang ada latihan gerak jalan jadi tidak ada
pelajaran.
Akhirnya aku ke kantor. Aku tanya
Pak Sholah, kepala MTS Nurur Rahmah, ia menjawab ‘iya mungkin’. Aku hanya
mengiyakan. Lalu lanjut meletakkan laptop di kantor MTs dan langsung menuju Gus
Busthomi. Aku ke sana untuk ‘coba lagi’ agenda sowan pada beliau yang gagal
pada kemarin sore itu.
Ternyata beliau ada. Aku
dipersilahkan masuk. Tanpa basa-basi, aku langsung mengucapkan maksud dan
tujuanku. Juga, kejadian kemarin sore yang aku ke dhalem beliau tapi
tidak ketemu.
Setelah menawarkan beberapa
produk, aku sempat bingung ditanya soal harga karena memang aku kurang paham
harga beberapa snack yang aku bawa. Kata produsen yang aku kulakan ke sana
memang ada ukuran sedang, kecil dan besar. Dan yang ku bawa itu Cuma model
sedang dan besar. Dan, aku lupa –tepatnya kurang paham- akan ukuran itu karena
tidak ada perbandingan yang pas.
Setelah ‘interogasi’
kecil-kecilan itu, Gus Busthomi menolak tawaran beberapa makanan yang ku bawa
itu. Ia bilang bahwa di Sidoarjo banyak makanan sepert yang ku bawa ini. Tapi
ia membeli dua makanan yang ku bawa dengan harga normal.
Dari pertemuan ini, Gus Busthomi
bercerita banyak hal. Diantaranya yang ku ingat adalah :
Gus Busthomi sangat rajin dalam
mencari ilmu dan mengabdi ketika beliau mondok di amtsilati, Jepara, Jawa
Tengah dulu. Seolah-olah, hidupnya selama di pondok ingin menghabiskan ilmu di
sana. Belajar terus menerus. Namun, ada salah satu laku tirakat dan pengabdian
beliau selama mondok, yakni dawam al-wudhu´ (terus menerus dalam keadaan
suci karena wudhu’) dan membersihkan kamar mandi.
Ya, setiap malam ketika hendak
tidur, beliau berdo’a, “Ya Allah, bangunkan aku jam satu /dua. Meskipun saya
tidak ada sholat tahajud, hajat, witir, tasbih dan lain sebagainya, aku hendak
mencuci/membersihkan kamar mandi santri,” riwayat bil makna.
Barangkali sebab mensikat dan
membersihkan kamar mandi santri yang identik kotor itu, sehingga para santri
ketika ambil wudhu dan hendak sholat tahajud, hatinya merasa senang. Barangkali
sebab pengabdian itu, hidupnya beliau sekarang enak.
Barangkali karena itu ya, kata
beliau, Gus Busthomi sudah diajak umroh pada tahun 2018 oleh wali santri.
Beliau ikut bahstul masail ya ikut sebagaimana santri pada umumnya. Tapi selalu
ada saja kisah manis yang ia rasakan setiap menjalani pengabdian ke pondok
seperti itu.
Beliau asli orang Sidoarjo.
Secara keturunan, kakek beliau merupakan seorang kiai akan tetapi seiring
berjalannya waktu, pesantrennya tidak eksis. Entah kenapa, aku kurang tahu.
Namun ketika pada perjalanan hidup beliau, Gus Busthomi dinikahkan dengan salah
satu putri di PP. Nurur Rahmah ini. Ia lalu menjadi gus dan kepala pesantren di
PP. Nurur Rahmah.
Soal bisnis, ia sudah menjalani
bisnis selama lima tahun. Dua tahun ia hidup susah dan berjuang bersama
istrinya. Mencari kolega, relasi dan pasar bisnis di daerah sekitar. ‘ini
gimana putrinya kiai kok dibawa bawa kresek merah besar-besar keliling
ngantarkan makanan ke mana-mana’. Kenang Gus Bustomi saat itu.
Kehidupan tidak enak soal bisnis
itu berjalan sekitar dua tahun-an. Tapi sekarang tinggal enaknya saja. Di
Sidoarjo itu beliau sering ditelfon untuk mengirim makanan lagi dan lagi.
Saking larisnya. Jadi karena relasi produsen dan pasarnya sudah ketemu, sekarang
tinggal menjalankan roda bisnisnya secara mandiri. Lebih banyak mengontrol dan
duduk-duduk di rumah.
Selain kisah soal Gus Busthomi,
pada hari itu aku juga dimintai tolong oleh kawan-kawan Bakti Mahasantri (BMs)
di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Randutatah itu. Aku menyelesaikannya.
Alhamdulillah cocok.
Tapi tadi malam setelah aku tanya
lagi ke Syamsi bagaimana komentarnya tentang banner tersebut, katanya banner
itu terlalu sepi. Aku lanjut bertanya, sepertinya ukuran banner itu berubah ya
?. ia menjawab “iya” saja.
Catatan BMs hari
Sabtu, 20 Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari Rabu, 31 Agustus 2022 pukul
11:06 WIB.

0 Komentar