Seminggu sebelum diadakannya haul
Kiai Zainul Mu’in di PP. Nurur Rahmah, tidak ada istighotsah mingguan bersama
Kiai Hafit pada hari jum’at itu. Yang aku dengar dari Topek, bahwa jalur akan
kami lewati terlalu curam. Berbahaya. Akhirnya minggu itu libur. Entah Gus Hadi
atau Kiai Hafit saja yang berangkat sendirian, aku tak kurang tahu.
Karena libur istighotsah hari
jum’at itu, aku santai-santai di kamar. Leyeh-leyeh. Menikmati suasana libur.
Yang ku ingat, sore itu setelah sholat ashar berjama’ah, aku mengajak Faqih,
santri Riyadlus Sholihin yang menjadi pengurus kebersihan untuk keluar.
Ia awalnya bilang sakit perut
sebagai dalih untuk menolak ajakanku. Tapi aku menyangkal sambil ketawa-ketawa.
“tidak, tidak. Kamu berbohong,” ucapku dalam bahasa madura. Hahaha.
Aku meminta tolong padanya untuk
membawa tas yang berisi beberapa makanan hasil dari kulakan. (pada tulisan
sebelumnya kan aku sudah menceritakan soal kulakan beberapa makanan / snack).
Nah, contoh variasi snack/makanan
yang ada di dalam tas itu, hendak ku tawarkan ke Gus Busthomi. Sebagaimana
penawaran sebelumnya, kalau makanan yang ku bawa itu cocok pada beliau, beliau
akan kulakan/beli banyak padaku yang pada nantinya akan dijual ke Sidoarjo.
Sebagaimana bisnis yang biasa ia lakukan selama –kurang lebih- dua tahun ini.
Sesampai di sana, ternyata
dhalem beliau seda tutupan. Beliau sedang mios (keluar, red). Aku
tahu beliau mios karena ada salah satu santri –entah hadaman apa tidak-
memberitahuku demikian. Akhirnya aku dengan Faqih berjalan menuju pondok tapi
dengan jalur yang berbeda.
Aku dan Faqih pulang lewat asrama
santri putra yang pusat. Aku rekam dan dokumentasikan asrama pusat yang sore itu kebetulan sedang sepi. Para
santri sedang ada acara lomba ‘sepak bola’ dalam rangka menyambut haul Kiai
Zainul Mu’in.
Aku juga menengok sunga di
sebelah pondok pusat itu. Kata Faqih, para santri bisa mandi di sungai selain
memang kamar mandi santri sudah disediakan sebanyak dua kamar mandi.
Pada hari itu, aku juga sempat
buat story IG soal ini. Haha. Setelah itu, kami lewat depan gapura depan Pondok
Pesantren Nurur Rahmah. Faqih bertemu santri lainnya dan ia memutuskan untuk
bermain dengan temannya. Kami berpisah.
Ia bersama temannya dan aku berjalan sendiri menuju pondok.
Catatan BMs hari
Jum’at, 19 Agustus 2022. Selesai ditulis pada Rabu, 31 Agustus 2022 pukul 10.08
WIB. selesai menulis ketika sudah ada di pondok.
.png)
0 Komentar