Hari kamis (18/08) kemarin, aku
pulang dari MTs sesaat sebelum ashar tiba. aku pulang dengan sarungan, membawa
tas di punggung dan proyektor di tangan. Saat memasuki areal pondok, saat itu
diniyah sedang berlangsung. Di tengah berlangsungnya KBM, ada salah seorang
santri berseru begini, “bagooos”. Duh, miris hati ini. Apalagi sorak-ramai dari
santri lainnya, rasanya aku sebagai pahlawan kesiangan dan sosok yang dapat
diandalkan karena memenuhi keinginan mereka: nobar.
Huhu. Gimana gitu ya ?
Setelah sholat ashar berjama’ah,
aku panggil santri itu. Ku
suruh pijat-pijat di punggung. Sambil lalu aku bilangi dan nasehati agar tidak
seperti itu lagi. Iya hanya mengangguk dan bilang, “engghi tadz”. Setelah itu pergi dan kembali ke kamar.
Persiapan diniyah sore.
Setelah kejadian itu, aku izin ke
Gus Hadi. Ngebel dhalem beliau
untuk izin keluar. Pinjam motor. Ternyata beliau sedang tidur dan aku saat
menunggu beliau keluar, ngebel ke dua kalinya. Duh, apakah aku kurang sabar ya.
Gus Hadi akhirnya keluar dan beliau tampak bangun tidur. Jawabannya sudah
ditebak, beliau mengizinkan dan mengiyakan.
Aku awalnya beli paketan data
karena kebetulan siang sebelum ashar itu, paketanku jleb habis. Kemudian
aku ke rumahnya Aulia Firdausiyah. Aku awalnya sudah janjian dengan Aulia ini
soal beli produksi makanannya untuk aku jual lagi.
Ternyata, ketika jam 16.00 WIB
dan aku masih belum beli paketan itu, ia kirim vn bahwa ia tidak bisa ketemu
denganku. Ia ada acara dan keluar sore itu. Katanya sih ngajar. Aku
tetap melanjutkan perjalanan. Barangkali ada orang yang bisa aku
temui dan aku mendapatkan produk makananya. Daripada aku bolak-balik ya kan.
Jaraknya lumayan jauh.
Ketika tiba disana, aku bertemu
dengan ibunya. Ada beberapa
varian produk beserta besar ukuran kemasannya. Aku pulang jam lima sore dari
rumah itu. Aku ngebut karena sholat maghrib adalah jadwal aku menjadi imam di
pondok. Takut telat nanti malah membuat tidak enak hati pada tuan rumah dan
ustadz yang lainnya.
Setelah urusan sore itu selesai,
ba’da sholat maghrib, para ustadz kemudian melakukan penggeledahan saat para
santri sedang melakukan kegiatan. Instruksi ini dari Neng Iin via chat WA pada
Topek. Para usatdz menggeledah, kecuali Ustadz Muhib standbye di musholla menjadi imam dan mengawal
kegiatan santri.
Ba’da kegiatan isya’, penggeladahan itu selesai. Tidak ada yang membawa
HP. Semuanya relatif aman. Hanya benda-benda kecil dan beberapa benda dilarang
sesuai dengan hasil kesepakatan aturan keamanan daerah tapi aturan itu belum
disosialisasikan.
Lanjut pada malam harinya, agenda
yang ditunggu-tunggu santri, yakni nonton bareng (nobar). Nobar filmnya adalah
sexy killers. Film yang mengungkap keboborokan pemerintah kita. Ada bisnis batu bara, pertambangan dan
lain sebagainya yang menghisap kekayaan Negara-negara miskin, merusak lingkungan dan
kebiadaban-kebiadaban lainnya.
Aku berharap, dengan nonton film
itu, para generasi bangsa ini semakin sadar realita dan fenomena di bagian bumi
Indonesia lainnya sedang ada mega-proyek tak ramah dan tak adil sama sekali.
Sadar akan realitas, menumbuhkan sikap dan gerak yang ‘seharusnya’ dan
‘bagaimana’.
Aku tidak dan belum nonton full
film itu. Aku hanya menonton sekilas. Aku tidur karena capek tidak tidur siang
tadi. Sejak beberapa hari ini aku forsir siang hari dengan main laptop dan lain
sebagainya.
Tapi kenyataan berbeda dengan harapan.
Para adik-adik santri ini ingin ganti film karena tidak seru. Ini ada masalah.
Gap antara harapan pengurus/ustadz dengan santri. Aku yang belum 100 % tidur
tadi malam sempat mendengar keributan –protes- tadi malam. Aku melanjutkan
tidur. Membiarkan begitu saja.
Masalah tadi malam ditangani oleh
Ust. Anam. Tak apalah. Gantian. Siapa tahu kalau ternyata mereka tidak suka ?
Catatan BMs Kamis, 18 Agustus
2022. Selesai ditulis pada Jum’at, 19 Agustus 2022.

0 Komentar