Mari bersyukur, menikmati hidup dan fokus. Fokus melatih
kesadaran, kemandirian dan pemahaman: bahwa menuntut keridhoan manusia itu ghoyah
(puncak) yang tidak bisa dijangkau. Sedangkan usaha mencapai keridhoan
Allah itu ghoyah (puncak) yang tidak boleh ditinggalkan.
Menulis blog ini, aku ingin membahas tentang 17 Agustusan di
Riyadlus Sholihin. Lihat story teman-teman BMs lain, rasanya insecure. Wkwkwk.
Hah. Begitulah hidup ya. Coba kalau kita sedang jaya dan aktif-aktifnya, buat
story, biasanya itu buat insecure ke lainnya. Mungkin begitu.
Tapi, sekali lagi, setiap hari kita harus berjuang dan
berperang. Melawan tuntutan dan omongan orang lain, lebih-lebih pikiran kita
sendiri. Rasanya, sulit dan berat. Tidak ada yang bisa melewati itu semua dengan baik kecuali
dengan adanya ‘pertolongan Allah’.
Katanya, “pemahaman manusia akan kelemahannya akan
mengantarkan pada Allah dengan segala kekuasaannya”.
Hari Rabu, 17 Agustus 2022, aku sempat merasa “deg”-an.
Hati merasa jatuh dan kepalaku ketiban kelapa saat membaca story WA Ra
Fayyadl. Story itu adalah :
1. 1. Apa nggak ada (a)cara yang lebih maju
dan “intelek” memperingati proklamasi kemedekaan Indonesia yang (belum 100%)
merdeka ini, daripada upacara-upacara?
2. 2. Upacara hanya memperingati simbol. Bendera adalah simbol. Sekian puluh tahun kita melihat
simbol, memperingati simbol, kadang memuja fanatik simbol dan saling bertengkar
karena simbol. Karangan sebaga bangsa, berpikir tentang substansi. Apa iya kita
“merdeka”? Apa arti “merdeka”? ketika “merdeka” hanya jadi kepercayaan, itu
namanya mitos. Dan, sayangnya, kita suka sekali percaya mitos. Meski
berkali-kali kita dikecewakan mitos itu.
3.
Soekarno menulis ratusan halaman untuk mendalami arti
“merdeka”, dan menggugah bangsanya agar yakin pada nilai “merdeka” dari segala
bentuk penjajahan. Pun Tan Malaka, Mbah Wahab dengan syair dan orasi
politiknya. Sementara, kita hanya bermodal status mengulang lagu lama “Selamat
HUT RI yang Ke-…” dan berpanas-panasan ikut upacara. “Merdeka” hari ini: bisnis
event-organizer dan pembuat baliho.
4. 3. Kalau mau “merdeka”, ya rebut ribuan hektar hutan di
Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra dari perusahaan-perusahaan perkebunan dan
tambang milik “orang Jakarta”. Berani ?.
5. 4. Kalau mau “merdeka”, ya bikin pemikiran maju daripada
pemikiran Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Doktor H. Agus Salim, atau Tan Malaka
yang tak pernah lulus dunia kampus. Berani ?
6. 5. Salah satu bentuk ketidakmengertian kita sebagai
bangsa hari ini (tentu akibat pembodohan sekian lama di media dan lembaga pendidikan) : menyandingka
logo bendera merah putih dengan logo G20 di ucapan-ucapan HUT RI. Apa itu G20?
Sebuah lembaga elite dunia yang dibentuk Negara-negara “maju” untuk menjalankan
globalisasi neoliberal dengan menghisap kekayaan Negara-negara miskin. Ini
potret penjajahan era kini. Semoga Allah selalu mengampuni kesalahan kita yang
sebagai bangsa, yang kadang kelewat memalukan.
7. 6. Sekelumit bacaan tentang G20 (mitos dan fakta) : https://awid.org/nes-and-analysis/5-myths-around-g20
Hah. Rasanya entahlah. Belajar jadi sangat berat sekali,
padahal belum apa-apa, tapi ekspektasinya tinggi banget. Duh, duh.
Pagi itu, kami para ustadz ikut upacara bendera bersama
seluruh guru dan murid/santri yayasan Nurur Rahmah yang bertempat di MTs Nurur
Rahmah. Sore harinya, ada instruksi dari ning kalau santri nobar saja.
Sudah sore, tidak bisa pinjam ke MTs. Kantor sudah tutup.
Kami sempat bingung dan akhirnya diganti dengan bakar-bakar. Beberapa hari
sebelumnya, aku sudah tanya mau dikonsep gimana acara 17 Agustusan ini, tapi
responnya begitu. Baik dah. Aku ikut saja.
Malam harinya, aku tidur ba’da maghrib. Capek. Bangun jam 8
lewat dan ikut bakar-bakar. Malam itu, semua berjalan sesuai takdir ilahi. Aku
hanya bisa menerima dengan senyum dan lapang dada. Sudahlah.
*Catatan BMs hari Rabu, 17 Agustus
2022. Selesai ditulis pada hari Jum’at, 19 Agustus 2022.

0 Komentar