Diantara hasil keputusan malam selasa itu adalah mengunjungi
rumahnya Agus Salim, santri / pengurus di sini yang orang tuanya jarang hadir
saat isitghotsah wali santri di daerah Riyadlus Sholihin. Dan, Agus Salim itu
nama aslinya. Sedangkan nama panggilannya adalah Rahmad.
Menurut kabar yang atau pembahasan pada rapat itu adalah
Rahmad itu (1) soal peralatan mandi selalu pakai punya temannya. Soal uang saku
dan finansial, ia selalu rang tekorang (kekurangan, red).
Dulu, ketika kelas dua MI, (2) Mad itu mondok tidak diantar
ke orang tuanya. Ia kesini bersama Ama’ (cucu Kiai Hafit / putrnya Gus Hadi).
Ia awalnya mondok di pusat, entah kelas berapa, ia-pun pindah ke sini.
Selanjutnya, (3) orang tuanya Mad jarang hadir saat
istighotsah wali santri. Orangtuanya tidak pegang HP android. Tidak bisa
mungkin. Biasa orang desa.
Akhirnya, ba’da ashar itu, ada empat orang yang ke sana,
yakni aku, Ust. Taufiq, Topek dan Rahmad. Kami berangkat saat diniyah sore baru
mulai. Jam setengah empat lebih. Kata Mad, rumahnya ada di daerah terpencil.
Hanya ada 13 rumah di desanya. Selebihnya sawah.
Setelah sampai, ternyata benar juga. Rumah-rumah di
daerahnya Mad cukup sedikit. Ternyata aku pernah lewat
depan rumahnya saat pergi ke rumahnya Cak Luk sebelum idul adha dulu. Sesampai disana, awalnya kami tidak langsung
dipersilahkan
masuk. Mad masih masuk dan cari orang tuanya.
Ternyata orang tua Mad baru berangkat. Entah ke sawah atau
cari rumput. Sedangkan kakak laki-lakinya baru saja keluar dan salipan. Aku
menghampiri Mad dan bilang, “ayo, ustadz-ustadznya ini disuruh duduk dulu.
Kasian”.
Hahaha. Aku suruh dia begitu dulu karena mendengar keluhan
mereka (Ustaadz Taufiqoin) tidak langsung dipersilahkan duduk. Kata Mad, di
rumahnya tidak ada siapa-siapa. Tapi saat baru masuk, aku barusan melihat
seorang perempuan paruh baya itu.
Aku tanya pada Mad, “siapa itu ?”
Mad menjawab, itu kakak iparnya atau istri kakak laki-lakinya
yang salipan tadi.
Ah, entahlah.
Kami duduk di ruang tamu itu. Tak lama setelah itu, kakak
yang salipan itu akhirnya datang. Kami ngobrol ngalor-ngidul. Hingga
hamir maghrib, ibunya Mad tiba. sedangkan urusan dan kepentinga kami sudah
selesai dibicarakan dengan kakaknya Mad. Akhirnya, obrolan dengan ibunya Mad
tak berlangsung lama. Waktu sudah senja dan kami pun pamit pulang.
Catatan BMs ke 48. Hari Selasa, 16 Agustus 2022.

0 Komentar