Siang itu, aku pulang awal. Sebelum
dzuhur aku sudah di daerah. Biasanya aku pulang sore hingga kantor MTs mau
ditutup. Aku disana wifi-an, desain dan garap tugas-tugas. Tapi khusus hari itu
aku pulang lebih dahulu,
bukan karena pada jam dua siangnya aku mengajar di daerah An-Nuur. Tidak. Tapi
ada kungjungan MPL dan Panitia.
Saat aku sampai di Riyadlus
Sholihin, ternyata Ust. Muhib sudah dengan beberapa orang di musholla. Aku kira
Ust. Muhib kiriman saat itu juga. Ternyata tidak. Ust. Muhib ada kunjungan
dadakan dari guru tugas pula. Dari Karangpanas sepertinya. Aku kurang tahu
juga. Dan tentunya, beberapa orang itu disuruh ke dhalem untuk dihaturi
hidangan.
Tak lama setelah itu, rombongan
besar-besaran datang. Ini baru kiriman dan kunjungan keluarganya Ust. Muhib.
Banyak juga ya. Duh, duh. Aku agak gimana gitu melihatnya. Entahlah. Wkwkw.
Namanya juga silaturahmi, masak tidak boleh ya kan ?
Aku salut dan apresiasi kunjungan
itu kepada santri dan pemuda bagian dari mereka yang sedang menjalani masa-masa menjadi guru tugas di
pesantren ini. Aku jarang begitu dan tidak pernah sama sekali sepertinya. Dulu
pernah dikirim rombongan, itupun tidak sampai rombongan sebanyak itu.
Saat ramai-ramainya tamunya Ust.
Muhib, sebuah mobil putih/silver memasuki daerah ini. Ternyata panitia dan MPL
dari Ma’had Aly Nurul Jadid telah tiba. Mereka adalah Ust. Tohet, Ust. Afif,
Ust. Huwaidi dan Ust. Muzayyin. Dari pihak tuan rumah ada Ust. Udin dan Gus
Hadi dan tak lupa kami bertiga ikut nimbrung di musholla.
Ust. Taufiq sendirian. Tak ada
kunjungan. Ia lebih banyak di kamar dan di dapur. Makan sendirian. Sedangkan
kami sedang asyik-asyiknya mengobrol dan tertawa sana-sini. Awalnya aku duduk
berada di antara Ust. Tohet dan Ust. Udin, lalu saat gerimis turun, aku
menyelamatkan handuk dan beberapa pakaianku agar tidak terkena hujan. Setelah
itu aku pindah duduk di sebelah Ust. Huwaidi.
Dengannya, aku banya bicara tugas
menumpuk dan PR-PR yang belum rampung. Kami saling sharing. Aku curhat
pengalaman disini. Ia cerita pengalaman BMs-nya di Nurul Yaqin. Sesekali ia
memberikan arahan.
Setidaknya, dari bincang-bincang
itu aku jadi tahu kelemahan dan kekurangan kami. Langkah apa yang harus kami
tempuh dan tak lupa bagaimana cara menyikapi sekian pekerjaan rumah tangga yang
belum usai dan rampung itu.
Setelah itu, para MPL dan panitia
melaksanakan sholat berjama’ah di mushola. Lalu menuju ke dhalem untuk dihaturi
makanan dan hidangan. Ust. Taufiq yang baru keluar dari dapur kami panggil dan
ajak ke musholla ini.
Santai-santai itu, aku sempat
mengeluhkan PR-PR BMs yang belum selesai. Ya, aku ungkapkan saja. Aku yakin
mereka paham. Tapi sayang, bahasanku siang itu juga tidak terlalu digubris dan
diperhatikan. Aku bahas konsep perayaan tujuh belas Agustus ini, mau bagaimana,
tapi sumbangan pikiran dan ide dari salah satu mereka, tak kunjung dapat atensi
dari yang lainnya. Memang acara ini mau milik sebagaian orang saja ?
Entahlah. Kalau acara-acara
sebelumnya, biasanya aku dan Ust. Taufiq yang mengonsep acara. Nanti acara mau
digimanakan. Kadang capek sih karena yang lain kurang semangat dan
‘merasa memiliki’ terhadap terselenggaranya acara. Males mau buat konsep
ini-itu lagi.
Jadi saat bincang menyambut
dirgahayu RI itu aku hanya usul ada pematerian Pak Zarkasy. Disambut iya. Untuk
waktu dan kapannya, sudah berhenti tidak ada lanjutan. Semua kembali ke urusan
hp masing-masing. Aku mau menyalahkan tidak mau. Semua hal di luarku adalah
sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.
Ya sudah. Aku diam saja. Tidak
mau koar-koar soal dirgahayu RI ini. Capek bermitra sama orang yang tidak
peduli dengan kita. Yang ada malah capek sendiri. Ribet-ribet sendiri dan yang
lain tinggal menikmati saja.
Hati ini tersayat rasanya, saat
ada orang lain/teman yang tidak ikut memikirkan acara, rapat tidak ikut, saat
rapat tidak sumbang gagasan, saat diberi kepercayaan dan dipasrahi tugas, malah
tidak amanah. Tidak menepati janji. Mau ditegur malah malah, atau bahkan
cengingisan. Duh, repot.
Ya sudah. Aku diam. Aku mau fokus
sama tugas-tugasku. Kelompokku memang tidak sebagus dan seideal kelompoknya
Ust. Huwaidi ketika di Nurul Yaqin dulu. Biar sudah. Kita tidak harus sama.
Selesai bahas tugas BMs itu, kami
beralih bahas kasusnya Rahul. Aku males mau bahas ini kawan. Ia berhasil
membuatku ‘gregetan’, mau
mukul dan main fisik, tapi selalu ku tahan. Saat mendengar cerita demi cerita
kasus pelanggarannya, aku menahan emosi. Ingat Rahul tidak spontan begitu.
Rahul itu masih beriman, masih sujud dan tidak semua orang langsung baik dan bagus. Aku coba
menghibur diri agar tidak semakin emosi.
Siang itu, diniyah menjadi satu
kelas di musholla. Aku langsung menuju ke asta. Mengaji sebentar. Ketika ashar tiba, hujan turun agak
deras. Ketika agak mereda, aku sudahi dan bergegas menuju musholla untuk
melaksanakan sholat ashar.
Ba’da ashar, aku langsung menuju
rumahnya Ust. Zen bagian perlengkapan MTs. Aku disana garap portofolio daftar
jadi panitia Garuda Nusa (sebuah komunitas non-profit) untuk memberikan pengalaman dan pengabdian pada peserta
yang mendaftarkan diri. Mereka akan difasilitasi –sesuai program yang ada- ke
Labuan Bajo, manca Negara dan daerah-daerah lainnya.
Aku di rumah Ust. Zen hingga
malam hari. Hampir pukul Sembilan malam aku pulang. Aku tuntas garap portofolio
sekaligus mengirimkannya pada panitia. Aku sengaja garap di rumahnya Ust. Zen
karena disana ada wifi-nya. Sekaligus biar fokus dan tidak ada intervensi kegiatan, para ustadz dan
santri di daerah. Terimakasih Ust. Zen telah membantuku hari itu.
*Catatan BMs hari Ahad, 14
Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari Kamis, 18 Agustus 2022 pukul 07:40 WIB.

0 Komentar