Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (46) : Kunjungan MPL dan Panitia, Kasusnya Rahul Hingga Garap Portofolio di Rumahnya Ust. Zen


Siang itu, aku pulang awal. Sebelum dzuhur aku sudah di daerah. Biasanya aku pulang sore hingga kantor MTs mau ditutup. Aku disana wifi-an, desain dan garap tugas-tugas. Tapi khusus hari itu aku pulang lebih dahulu, bukan karena pada jam dua siangnya aku mengajar di daerah An-Nuur. Tidak. Tapi ada kungjungan MPL dan Panitia.

Saat aku sampai di Riyadlus Sholihin, ternyata Ust. Muhib sudah dengan beberapa orang di musholla. Aku kira Ust. Muhib kiriman saat itu juga. Ternyata tidak. Ust. Muhib ada kunjungan dadakan dari guru tugas pula. Dari Karangpanas sepertinya. Aku kurang tahu juga. Dan tentunya, beberapa orang itu disuruh ke dhalem untuk dihaturi hidangan.

Tak lama setelah itu, rombongan besar-besaran datang. Ini baru kiriman dan kunjungan keluarganya Ust. Muhib. Banyak juga ya. Duh, duh. Aku agak gimana gitu melihatnya. Entahlah. Wkwkw. Namanya juga silaturahmi, masak tidak boleh ya kan ?

Aku salut dan apresiasi kunjungan itu kepada santri dan pemuda bagian dari mereka yang sedang menjalani masa-masa menjadi guru tugas di pesantren ini. Aku jarang begitu dan tidak pernah sama sekali sepertinya. Dulu pernah dikirim rombongan, itupun tidak sampai rombongan sebanyak itu.

Saat ramai-ramainya tamunya Ust. Muhib, sebuah mobil putih/silver memasuki daerah ini. Ternyata panitia dan MPL dari Ma’had Aly Nurul Jadid telah tiba. Mereka adalah Ust. Tohet, Ust. Afif, Ust. Huwaidi dan Ust. Muzayyin. Dari pihak tuan rumah ada Ust. Udin dan Gus Hadi dan tak lupa kami bertiga ikut nimbrung di musholla.

Ust. Taufiq sendirian. Tak ada kunjungan. Ia lebih banyak di kamar dan di dapur. Makan sendirian. Sedangkan kami sedang asyik-asyiknya mengobrol dan tertawa sana-sini. Awalnya aku duduk berada di antara Ust. Tohet dan Ust. Udin, lalu saat gerimis turun, aku menyelamatkan handuk dan beberapa pakaianku agar tidak terkena hujan. Setelah itu aku pindah duduk di sebelah Ust. Huwaidi.

Dengannya, aku banya bicara tugas menumpuk dan PR-PR yang belum rampung. Kami saling sharing. Aku curhat pengalaman disini. Ia cerita pengalaman BMs-nya di Nurul Yaqin. Sesekali ia memberikan arahan.

Setidaknya, dari bincang-bincang itu aku jadi tahu kelemahan dan kekurangan kami. Langkah apa yang harus kami tempuh dan tak lupa bagaimana cara menyikapi sekian pekerjaan rumah tangga yang belum usai dan rampung itu.

Setelah itu, para MPL dan panitia melaksanakan sholat berjama’ah di mushola. Lalu menuju ke dhalem untuk dihaturi makanan dan hidangan. Ust. Taufiq yang baru keluar dari dapur kami panggil dan ajak ke musholla ini.

Santai-santai itu, aku sempat mengeluhkan PR-PR BMs yang belum selesai. Ya, aku ungkapkan saja. Aku yakin mereka paham. Tapi sayang, bahasanku siang itu juga tidak terlalu digubris dan diperhatikan. Aku bahas konsep perayaan tujuh belas Agustus ini, mau bagaimana, tapi sumbangan pikiran dan ide dari salah satu mereka, tak kunjung dapat atensi dari yang lainnya. Memang acara ini mau milik sebagaian orang saja ?

Entahlah. Kalau acara-acara sebelumnya, biasanya aku dan Ust. Taufiq yang mengonsep acara. Nanti acara mau digimanakan. Kadang capek sih karena yang lain kurang semangat dan ‘merasa memiliki’ terhadap terselenggaranya acara. Males mau buat konsep ini-itu lagi.

Jadi saat bincang menyambut dirgahayu RI itu aku hanya usul ada pematerian Pak Zarkasy. Disambut iya. Untuk waktu dan kapannya, sudah berhenti tidak ada lanjutan. Semua kembali ke urusan hp masing-masing. Aku mau menyalahkan tidak mau. Semua hal di luarku adalah sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan.

Ya sudah. Aku diam saja. Tidak mau koar-koar soal dirgahayu RI ini. Capek bermitra sama orang yang tidak peduli dengan kita. Yang ada malah capek sendiri. Ribet-ribet sendiri dan yang lain tinggal menikmati saja.

Hati ini tersayat rasanya, saat ada orang lain/teman yang tidak ikut memikirkan acara, rapat tidak ikut, saat rapat tidak sumbang gagasan, saat diberi kepercayaan dan dipasrahi tugas, malah tidak amanah. Tidak menepati janji. Mau ditegur malah malah, atau bahkan cengingisan. Duh, repot.

Ya sudah. Aku diam. Aku mau fokus sama tugas-tugasku. Kelompokku memang tidak sebagus dan seideal kelompoknya Ust. Huwaidi ketika di Nurul Yaqin dulu. Biar sudah. Kita tidak harus sama.

Selesai bahas tugas BMs itu, kami beralih bahas kasusnya Rahul. Aku males mau bahas ini kawan. Ia berhasil membuatku ‘gregetan’, mau mukul dan main fisik, tapi selalu ku tahan. Saat mendengar cerita demi cerita kasus pelanggarannya, aku menahan emosi. Ingat Rahul tidak spontan begitu. Rahul itu masih beriman, masih sujud dan tidak semua orang langsung baik dan bagus. Aku coba menghibur diri agar tidak semakin emosi.

Siang itu, diniyah menjadi satu kelas di musholla. Aku langsung menuju ke asta. Mengaji sebentar. Ketika ashar tiba, hujan turun agak deras. Ketika agak mereda, aku sudahi dan bergegas menuju musholla untuk melaksanakan sholat ashar.

Ba’da ashar, aku langsung menuju rumahnya Ust. Zen bagian perlengkapan MTs. Aku disana garap portofolio daftar jadi panitia Garuda Nusa (sebuah komunitas non-profit) untuk memberikan pengalaman dan pengabdian pada peserta yang mendaftarkan diri. Mereka akan difasilitasi –sesuai program yang ada- ke Labuan Bajo, manca Negara dan daerah-daerah lainnya.

Aku di rumah Ust. Zen hingga malam hari. Hampir pukul Sembilan malam aku pulang. Aku tuntas garap portofolio sekaligus mengirimkannya pada panitia. Aku sengaja garap di rumahnya Ust. Zen karena disana ada wifi-nya. Sekaligus biar fokus dan tidak ada intervensi kegiatan, para ustadz dan santri di daerah. Terimakasih Ust. Zen telah membantuku hari itu.

*Catatan BMs hari Ahad, 14 Agustus 2022. Selesai ditulis pada hari Kamis, 18 Agustus 2022 pukul 07:40 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar