Hidup enak adalah ujian. Hidup dalam keadaan sulit juga ujian. Keduanya menuntut setiap muslim agar orientasi hidupnya hanyalah dua, yakni sabar dan syukur. Sabar dan syukur dengan makna seluas-luasnya.
Aku di tempat BMs
ini, sangat kerasan dan enak sekali. Semua fasilitas enak lah. Tidak seperti di
pondok yang seringkali diikat oleh aturan yang sangat mengekang. Sedangkan aku
disini, bisa pegang hp dan laptop sepuasnya. Tidur dengan nyaman. Begitupula
dengan kamar mandi yang dikhususkan dan lain sebagainya.
Disisi lain, ini
adalah ujian bagiku. Ujian agar aku dapat menuntaskan segalas tugas-tugas BMs
dan PKM. Sabar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang semakin menumpuk bila tidak
kerjakan. Termasuk diantara ujian itu adalah kenyamanan ini membuatku terlena
untuk tidak menulis di blog setiap hari. Duh, yang mau konsisten ini berat.
Berapa kali aku ada
niat untuk menulis, dan banyak kali aku gagal. Waktu luangku habis dengan tugas-tugas dari orang lain, aku yang
sering-sering tidur-tiduran ketika menulis belum tuntas bahkan hingga tertidur
pulas, dan masih banyak contoh lainnya.
Berat.
Hari Rabu (03/08)
itu adalah hari dimana Ra Fayyadl hadir di pondok ini. Beliau menjadi pemateri
untuk para guru-guru di yayasan PP. Nurur Rahmah. Bagaimana berkhidmah, tujuan
dan macam-macamnya. Aku mencatatanya hingga dapat satu lembar atau dua halaman.
Sejak baru masuk dan hendak duduk di kursi yang telah disediakan, sudah ada
kertas di masing-masing kursi dan ini tandanya disuruh nulis dari pihak
panitia.
Usut punya usut,
ternyata adanya kertas di setiap kursi ini adalah permintaan dari Ra Fayyadl.
Beliau ingin pematerian yang ia sampaikan itu dutulis dan dicatat. Kan tidak
mungkin semua materi yang disampaikan oleh Ra Fayyadl akan diserap dan dinggat
betul oleh para peserta. Tentu tidak kan ?
Saat pematerian
itu, Ra Fayyadl meminta kepada seluruh peserta untuk menjawab tiga pertanyaan
ini :
1. Apa alasan utama saya mengabdi ?
2. Alasan utama saya punya semangat (himmah) dalam
mengadi ?
3. Pengalaman terkesan bagi saya selama mengabdi ?
Semakin mudah kita
menjawab pertanyan-pertanyaan diatas, berarti semakin mudah pula kita dalam
menentukan pijakan dalam mengabdi.
Dalam pertemuan
tersebut, beliau juga menjelaskan tentang barokah. Barokah itu tidak bisa
dilihat tapi bisa dirasakan. Suatu kualitas dalam kehidupan. Dan, mengabdi di
dunia ilmu adalah jalan kemuliaan kita.
Kesimpulan
pematerian ra fayyadl ada empat, yakni :
1. Ikhlas itu perlu latihan. Latihannya sepanjang
waktu. Ikhlas itu adalah rahasia antara dia dengan Allah. Jangan katakan, “saya
sudah ikhlas” tapi “saya sedang latihan untuk ikhlas”.
2. Jaga silaturahmi dengan para kiai-nya. Jangan jadi
pengabdi mental karyawan yang memperlakukan kiai-nya seperti bos yang takut
kalau mau ketemu atau silaturahmi pada beliau.
3. Berempati pada anak didik/siswa. (al-Ihtimam bil
mustaqbalati at-Talamidz)
4. Dalam mengabdi, tinggalkanlah dua zona, yakni zona
nyaman dan zona jenuh.
Setelah selesai
acara, kami bertiga salaman dan membarengi Ra Fayyadl. Kami juga ikut ke dhalem
Ust. Fattah selaku ketua yayasan. Kami juga ikut makan dan sambil lalu
bincang-bincang santai dengan beliau.
Ra Fayyadl
memberikan arahan agar kami membuat program-program yang bisa menjadi jariyah
pada nantinya, seperti media center. Intinya, selama disini itu meng-instal
program-program yang bisa dilanjutkan dan diteruskan oleh orang-orang yang ada
disini. Setelah bincang sana-sini, antara Ra Fayyadl dengan pihak tuan rumah,
akhirnya beliau buber. Kamipun juga ikut pulang ke pondok.
Kegiatan
selanjutnya adalah persiapan lomba rangking 1 untuk malam harinya.
Alhamdulillah rangking berjalan lancar, meski ada beberapa soal yang salah
ketik atau terbuka jawabannya karena geser slide PPT tidak sesuai instruksi, tapi
secara umum acara ini lancar.

0 Komentar