Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (36) : Catatan Kunjungan Ra Fayyadl di PP. Nurur Rahmah


Hidup enak adalah ujian. Hidup dalam keadaan sulit juga ujian. Keduanya menuntut setiap muslim agar orientasi hidupnya hanyalah dua, yakni sabar dan syukur. Sabar dan syukur dengan makna seluas-luasnya.

Aku di tempat BMs ini, sangat kerasan dan enak sekali. Semua fasilitas enak lah. Tidak seperti di pondok yang seringkali diikat oleh aturan yang sangat mengekang. Sedangkan aku disini, bisa pegang hp dan laptop sepuasnya. Tidur dengan nyaman. Begitupula dengan kamar mandi yang dikhususkan dan lain sebagainya.

Disisi lain, ini adalah ujian bagiku. Ujian agar aku dapat menuntaskan segalas tugas-tugas BMs dan PKM. Sabar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang semakin menumpuk bila tidak kerjakan. Termasuk diantara ujian itu adalah kenyamanan ini membuatku terlena untuk tidak menulis di blog setiap hari. Duh, yang mau konsisten ini berat.

Berapa kali aku ada niat untuk menulis, dan banyak kali aku gagal. Waktu luangku habis dengan  tugas-tugas dari orang lain, aku yang sering-sering tidur-tiduran ketika menulis belum tuntas bahkan hingga tertidur pulas, dan masih banyak contoh lainnya.

Berat.

Hari Rabu (03/08) itu adalah hari dimana Ra Fayyadl hadir di pondok ini. Beliau menjadi pemateri untuk para guru-guru di yayasan PP. Nurur Rahmah. Bagaimana berkhidmah, tujuan dan macam-macamnya. Aku mencatatanya hingga dapat satu lembar atau dua halaman. Sejak baru masuk dan hendak duduk di kursi yang telah disediakan, sudah ada kertas di masing-masing kursi dan ini tandanya disuruh nulis dari pihak panitia.

Usut punya usut, ternyata adanya kertas di setiap kursi ini adalah permintaan dari Ra Fayyadl. Beliau ingin pematerian yang ia sampaikan itu dutulis dan dicatat. Kan tidak mungkin semua materi yang disampaikan oleh Ra Fayyadl akan diserap dan dinggat betul oleh para peserta. Tentu tidak kan ?

Saat pematerian itu, Ra Fayyadl meminta kepada seluruh peserta untuk menjawab tiga pertanyaan ini :

1.       Apa alasan utama saya mengabdi ?

2.       Alasan utama saya punya semangat (himmah) dalam mengadi ?

3.       Pengalaman terkesan bagi saya selama mengabdi ?

Semakin mudah kita menjawab pertanyan-pertanyaan diatas, berarti semakin mudah pula kita dalam menentukan pijakan dalam mengabdi. 

Dalam pertemuan tersebut, beliau juga menjelaskan tentang barokah. Barokah itu tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Suatu kualitas dalam kehidupan. Dan, mengabdi di dunia ilmu adalah jalan kemuliaan kita.

Kesimpulan pematerian ra fayyadl ada empat, yakni :

1.       Ikhlas itu perlu latihan. Latihannya sepanjang waktu. Ikhlas itu adalah rahasia antara dia dengan Allah. Jangan katakan, “saya sudah ikhlas” tapi “saya sedang latihan untuk ikhlas”.

2.       Jaga silaturahmi dengan para kiai-nya. Jangan jadi pengabdi mental karyawan yang memperlakukan kiai-nya seperti bos yang takut kalau mau ketemu atau silaturahmi pada beliau.

3.       Berempati pada anak didik/siswa. (al-Ihtimam bil mustaqbalati at-Talamidz)

4.       Dalam mengabdi, tinggalkanlah dua zona, yakni zona nyaman dan zona jenuh.

Setelah selesai acara, kami bertiga salaman dan membarengi Ra Fayyadl. Kami juga ikut ke dhalem Ust. Fattah selaku ketua yayasan. Kami juga ikut makan dan sambil lalu bincang-bincang santai dengan beliau.

Ra Fayyadl memberikan arahan agar kami membuat program-program yang bisa menjadi jariyah pada nantinya, seperti media center. Intinya, selama disini itu meng-instal program-program yang bisa dilanjutkan dan diteruskan oleh orang-orang yang ada disini. Setelah bincang sana-sini, antara Ra Fayyadl dengan pihak tuan rumah, akhirnya beliau buber. Kamipun juga ikut pulang ke pondok.

Kegiatan selanjutnya adalah persiapan lomba rangking 1 untuk malam harinya. Alhamdulillah rangking berjalan lancar, meski ada beberapa soal yang salah ketik atau terbuka jawabannya karena geser slide PPT tidak sesuai instruksi, tapi secara umum acara ini lancar.

Posting Komentar

0 Komentar