Tidak semua orang memiliki self-control yang baik. Tidak semua latar belakang dan kondisi sosial-masyarakat yang sama. Sehingga wajar jika capaian dan prestasi tiap individu itu berbeda-beda. Termsuk juga kegiatan BMs dan PKM ini. Termasuk juga praktik, laku dan kejadian-kejadian dalam kehidupan ini.
Oleh karena itu,
perbedaan dan semua capaian ini, tidak boleh dijadikan alasan untuk sombong dan
berkecil hati. Semua hal yang tak bisa kendalikan sebagaimana variabel-variabel
yang aku sebutkan tadi, itu adalah takdir. Begitupula usaha yang sudah semampai
dan menjulang tinggi, lalu hasil belum sesuai harapan yang diingini.
Hidup memang
begitu. Tidak semua hal harus sesuai dengan apa yang kita ekspektasikan. Kita
dipaksa bersabar atas apa yang tidak kita inginkan. Atas semua masalah. Semua
hal yang menggangu pikiran dan segala masalah berasal dari keinginan.
Karena definisi
dari masalah itu sendiri adalah gap atau kesenjangan antara keinginan/idealitas/cita-cita
dan kenyataan atau realitas yang terjadi. Jadi tesis yang dapat aku ambil saat
ini adalah bila tidak ingin ada masalah, sebaiknya lakukan dua hal :
Pertama, hilangkan keinginan, sehingga semua hal yang terjadi anda terima begitu
saja.
Kedua, rendahkan idealitas. Karena kadang-kadang angan-angan dan cita-cita
yang begitu tinggi, menuntut untuk berjuang dan melewati luka yang sangat
perih.
Heheuy. ini
pembukaan karena yang belum masuk inti catatan BMs ya. Duh, duh.
Ahad pagi, aku
desain pamflet acara “kajian islami” bersama pimpinan anak cabang (PAC) muslimmat
dan fatayat NU Kotaanyar. Acara kajian islami itu, pematerinya adalah Topek.
Aku buat pamfletnya dan disebar ke mana-mana.
Sesampai di sana,
kami disambut Bu Is. Tuan rumah yang aku awalnya tidak kenal. Kami disambut
tuan rumah karena ada jasa Bu Aisyah MTs. Berkat kebaikan beliau yang
menghubungkan kami dengan ibu-ibu muslimat dan fatayatan itu, akhirnya kami
diterima dengan baik. Tidak ada satu pun orang yang kami kenal dari ibu-ibu. Bu
Aisyah tidak hadir karena ada udzur.
Sekitar jam sepuluh
kami tiba disana. Aku dan Anam izin tidak masuk MTs karena ada acara PKM ini. Intinya,
di acara itu, aku dibuat takjub oleh para ibu-ibu pergerakan yang jiwa pemuda.
Kesadaran ber-Nu para ibu-ibu ini sangat tinggi sekali.
Saat di sana, acara
sudah dimulai, yakni pembacaan istighotsah. Setelah acara istighotsah usai,
agenda selanjutnya adalah menyanyikan lagu Indonesia raya, mars muslimat, mars
fatayat, mars banser dan sholawat haji.
Saat pembacaan mars
ini, ibu-ibu itu sangat semangat sekali. Apalagi saat aku tau ada agenda
menyanyikan lagu Indonesia raya. Aku bilang ke Anam, “wah, nasionalis banget
para ibu-ibu NU ini,” ucap ku sambil ketawa tipis.
Belum lagi saat
baca mars banser, badan otonom NU yang bertugas mengawal para Kiai-Kiai NU,
liriknya bernada membakar api semangat. Buat ibu-ibu tampak lagi mau berperang
di medan juang. Hahaha.
Kami bertiga
awalnya ada di luar pintu. Ketika agenda acara ‘kajian islami’ itu, kami
bertiga diarahkan untuk ke dalam. Berada di tengah ibu-ibu itu. Saat di sana,
kami di dampingi oleh Bu Azizah selaku ketua Muslimat NU dan Bu Supiani selaku
wakil ketua Muslimat NU Kotaanyar. Kata Bu Supiani, mereka berdua sama-sama
alumni Nurul Jadid. Bu Supiani bilang, dengan adanya acara kami ini, mereka
berdua ingin mendampingi kami sampai kegiatan selesai.
Topek menyampaikan
materi tentang keutamaan dan amalan bulan Muharram. Karena momennya kan tahun
baru. Pada mulanya, kegiatan sekarang adalah tentang kajian darah haid. Kami ingin mengundang Bu
Nyai Lathifah Wafi atau Neng Viky Amalia Romzi. Tapi keduanya tidak bisa karena
ada satu-dua hal.
Tanpa dikoordinasi,
ada salah seorang jama’ah dari ibu-ibu itu yang mendokumentasikan acara ini.
Baik foto ataupun video. Namanya Bu Sariyani. Aku sempat diantarkan beliau ke
kamar mandi karena ada kebutuhan (hajat) buang air kecil.
Selain itu, aku
juga minta hasil dokumentasi itu. Akan tetapi karena memori Bu Sariyani full,
akhirnya harus ada file-file yang dihapus. Ketika menyerahkan hpnya padaku, aku
bilang bahwa file-filenya ini perlu dihapus. Bu Sariyani langsung bilang,
“hapus semua dah nak”.
“Lho bu, takut ada
yang penting ini,” jawabku seketika.
“Ndak papa dah,
Nak.”
Aku mencoba
menghapus sebagian foto-foto itu, takut ada yang penting. Tapi kata Bu
Sariyani, “kalau hapus satu-satu, biar dah nak. Biar saya sendiri.
Akhirnya,
pengiriman file video Topek pas memberikan ceramah, tidak saat itu. Aku
bilang bahwa, “pengirimannya nanti saja”. sekali lagi, aku ucapkan
banyak-banyak terimakasih pada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun
tidak langsung yang telah mensukseskan acara ini.
Setelah itu, kami
pulang ke pondok. Kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Pada malam harinya,
disini ada lomba nasyid acapela. Mengaca pada lomba sebelumnya yang para santri
belum ada persiapan, yakni lomba estafet nadhom, akhirnya sebelum lomba
dimulai, diadakan latihan bersama wali asuh.
Sekitar jam
setengah sembilan, lomba pun dimulai. Lomba berakhir sekitar pukul setengah
sepuluh-an. Aku agak kecewa sih, karena kelompok anak asuhku kurang tampil
maksimal, tapi aku paksanakan diri untuk menerima semuanya. Lomba telah usai.
Apa yang sudah terjadi adalah takdir. Tak perlu menyesal, karena semua telah
dipersiapkan, masalah realitas bukan menjadi sesuatu yang bisa kita kendalikan.
Hah. Begitulah.
*Catatan BMs
(33) hari Ahad, 31 Agustus 2022. Selesai menulis pada hari Senin, 01 Agustus
2022.

0 Komentar