Hah. Benar kata
-tidak tahu siapa- di sebuah postingan instagram bilang, kalau hidup itu harus
melawan diri sendiri. Musuhnya adalah diri sendiri. Diantaranya adalah males.
Di rumah, ayah selalu tegas ke aku soal hidup yang harus disiplin dan melawan
malas ini. Mesk ayah tiri, ayah selalu bilang tidak akan membeda-bedakan anak
kandung dan anak tiri. Semua sama.
Saat ini ayah sudah
lanjut usia. Kalau dipikir-pikir, nasehat dan marah-marah ayah dulu itu benar
adanya. Aku bersyukur sudah dimarahi dan dididik seperti itu. Justru yang
muncul sekarang, apakah aku bisa sehebat dan seberkualitas beliau ?
Hah. Entahlah.
Tadi di acara
muslimatan, muncul rasa semangat ingin nambah tema tulisan. Tapi ketika sampai
di kamar, kepinginnya malah tidur. Dulu aku sempat berpikiran, bahwa hidup ini
isinya melawan rasa malas. Tapi begitu memang, kadang mental dan batin tiap
orang itu berbeda. Sekali diserang, hancur dan porak-porandalah ia. Ingin
tidur, jalan-jalan dan keluar dari jalur rutinitas yang harus didisiplinkan
itu.
Saat ini aku ingin
menyelesaikan tugas nulis catatan BMs hari Sabtu (30/07). Hari sabtu itu adalah
1 Muharram 1444 H. detik-detik menjelang shubuh, aku telah menuntaskan catatan
hari jum’at. ketika ba’da shubuh, ada salah satu ustadz yang tidur dan saat itu
waktunya pembinaan al-Qur’an.
Dia sulit
dibangunkan. Akhirnya aku suruh para santri itu untuk membangunkannya. Aku
rekam kejadian itu. Karena sulit bangun, akhirnya aku yang mengisi. Setelah
mengisi pembinaan al-Qur’an, aku suruh mereka bangunkan ustadz yang asli. Aku
rekam lagi. Sebenarnya ia bangun, tapi memang tidak bangun, akhirnya mau pakai
metode apapun, tidak akan bangun.
Setelah itu, karena
saat itu tahun baru hijriyah yang seharusnya libur, setelah pembinaan, mereka
ke kamar masing-masing. Kebanyakan mereka tidur pagi. Ketika waktu kosong itu,
aku usul kepada Ust. Taufiq agar nanti ada istighotsah tahun baru sekaligus
amalan bulan muharram, yakni menulis basmalah sebanyak 113 kali.
Akhirnya, dari
pukul enam itu akhirnya santri diwajibkan baca istighotsah tahun baru, yakni
baca ayat kursi sebanyak 333 kali. Ku kira baca ayat kursi sebanyak 313 kali
itu sebentar, tidak lama seperti hari arofah dulu itu. Tapi pembacaan amalan
hari arofah itu masih ramai. Semua ustadz mengawal dan para santri semangat untuk
membacanya, yakni baca surat al-ikhlas.
Sedangkan yang hari
kemarin ini, tidak semua santri baca ayat kursi. Ternyata tidak semua santri
hafal ayat kursi. Istighotsah tahun baru itu rasa ‘pemaksaan’. Selain adat di
Sidogiri tidak ada istighotsah tahun baru jadi para guru tugas dari Sidogiri
dan Karangpanas menyangkan hari sabtu itu tidak ada kegiatan tambahan. Apalagi
ustadz yang bangunnya kesiangan tadi itu, dia di kamar tidak mengawal kegiatan
istighotsahan ini. Duh, rasanya gimana ini ya.
Setelah itu, aku
yang baca ayat kursi dengan cepat. Jadi, seolah-olah baca istighotsah ayat
kursi sebanyak 313 kali itu ‘perwakilan’-nya adalah aku. Jam tujuh acara
istighotsah usai. Aku baca do’a dan terakhir, Ust. Taufiq memberikan semacam
sambutan atau instruksi kepada para santri. Isinya adalah tentang lomba-lomba
PHBI Muharram dan juga menulis basmalah itu bersifat anjuran. Tidak harus
sekarang.
Akhirnya,
perkumpulan itu usai. Para santri gembira dan tidak ada piket halaman pagi itu.
Aku diajak piket ambil kayu oleh Ust. Taufiq untuk bahan bakar dapur. Setelah
piketan itu, Ust. Taufiq masih di dapur. Aku keluar dan menunggunya di luar.
Tapi Ust. Taufiq ternyata tidak langsung keluar.
Aku masuk ke dapur
lagi. Ia masih di dalam buat STMJ. Suaranya perat karena habis baca burdah
keliling di pawai obot tersebut. Akhirnya aku disana. Nunggu Ust. Taufiq
sekaligus bantu-bantu Mbak Rin, bagian dapur pondok yang tinggal di sebelah
desa. Ia biasa di sini pada pagi dan sore hari untuk masak makanan santri.
Akhirnya aku di dapur,
bantu-bantu dapur sampai jam sembilanan. Saat itu, Mbak Rin mau masak soto
untuk persiapan menyambut tamu karena ada santri baru yang akan daftar disini.
Saat itu, jadi pengalaman pertamaku bantu-bantu di dapur.
Sejak seharian,
tidak ada kegiatan di sini. Termasuk sore hari. aku merasakan jenuh saat itu.
‘hidup gini-gini aja’. Tapi segera aku ingat bahwa semua yang terjadi adalah
anugerah ilahi. Harus sabar dan bersyukur atas semua yang terjadi.
Malam harinya
adalah lomba estafet nadzom. Aku malas menceritakannya karena penampilan mereka
buruk. Kurang persiapan dan apa adanya. Baiklah. Aku skip dan sudah catatan
ini.
*Catatan hari
Sabtu, baru selesai hari Senin (01/08) pukul 16:14 WIB.

0 Komentar