Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (32) : Istighotsah Tahun Baru, Dapur dan Lomba Estafet Nadzom

 


Hah. Benar kata -tidak tahu siapa- di sebuah postingan instagram bilang, kalau hidup itu harus melawan diri sendiri. Musuhnya adalah diri sendiri. Diantaranya adalah males. Di rumah, ayah selalu tegas ke aku soal hidup yang harus disiplin dan melawan malas ini. Mesk ayah tiri, ayah selalu bilang tidak akan membeda-bedakan anak kandung dan anak tiri. Semua sama.

Saat ini ayah sudah lanjut usia. Kalau dipikir-pikir, nasehat dan marah-marah ayah dulu itu benar adanya. Aku bersyukur sudah dimarahi dan dididik seperti itu. Justru yang muncul sekarang, apakah aku bisa sehebat dan seberkualitas beliau ?

Hah. Entahlah.

Tadi di acara muslimatan, muncul rasa semangat ingin nambah tema tulisan. Tapi ketika sampai di kamar, kepinginnya malah tidur. Dulu aku sempat berpikiran, bahwa hidup ini isinya melawan rasa malas. Tapi begitu memang, kadang mental dan batin tiap orang itu berbeda. Sekali diserang, hancur dan porak-porandalah ia. Ingin tidur, jalan-jalan dan keluar dari jalur rutinitas yang harus didisiplinkan itu.

Saat ini aku ingin menyelesaikan tugas nulis catatan BMs hari Sabtu (30/07). Hari sabtu itu adalah 1 Muharram 1444 H. detik-detik menjelang shubuh, aku telah menuntaskan catatan hari jum’at. ketika ba’da shubuh, ada salah satu ustadz yang tidur dan saat itu waktunya pembinaan al-Qur’an.

Dia sulit dibangunkan. Akhirnya aku suruh para santri itu untuk membangunkannya. Aku rekam kejadian itu. Karena sulit bangun, akhirnya aku yang mengisi. Setelah mengisi pembinaan al-Qur’an, aku suruh mereka bangunkan ustadz yang asli. Aku rekam lagi. Sebenarnya ia bangun, tapi memang tidak bangun, akhirnya mau pakai metode apapun, tidak akan bangun.

Setelah itu, karena saat itu tahun baru hijriyah yang seharusnya libur, setelah pembinaan, mereka ke kamar masing-masing. Kebanyakan mereka tidur pagi. Ketika waktu kosong itu, aku usul kepada Ust. Taufiq agar nanti ada istighotsah tahun baru sekaligus amalan bulan muharram, yakni menulis basmalah sebanyak 113 kali.

Akhirnya, dari pukul enam itu akhirnya santri diwajibkan baca istighotsah tahun baru, yakni baca ayat kursi sebanyak 333 kali. Ku kira baca ayat kursi sebanyak 313 kali itu sebentar, tidak lama seperti hari arofah dulu itu. Tapi pembacaan amalan hari arofah itu masih ramai. Semua ustadz mengawal dan para santri semangat untuk membacanya, yakni baca surat al-ikhlas.

Sedangkan yang hari kemarin ini, tidak semua santri baca ayat kursi. Ternyata tidak semua santri hafal ayat kursi. Istighotsah tahun baru itu rasa ‘pemaksaan’. Selain adat di Sidogiri tidak ada istighotsah tahun baru jadi para guru tugas dari Sidogiri dan Karangpanas menyangkan hari sabtu itu tidak ada kegiatan tambahan. Apalagi ustadz yang bangunnya kesiangan tadi itu, dia di kamar tidak mengawal kegiatan istighotsahan ini. Duh, rasanya gimana ini ya.

Setelah itu, aku yang baca ayat kursi dengan cepat. Jadi, seolah-olah baca istighotsah ayat kursi sebanyak 313 kali itu ‘perwakilan’-nya adalah aku. Jam tujuh acara istighotsah usai. Aku baca do’a dan terakhir, Ust. Taufiq memberikan semacam sambutan atau instruksi kepada para santri. Isinya adalah tentang lomba-lomba PHBI Muharram dan juga menulis basmalah itu bersifat anjuran. Tidak harus sekarang.

Akhirnya, perkumpulan itu usai. Para santri gembira dan tidak ada piket halaman pagi itu. Aku diajak piket ambil kayu oleh Ust. Taufiq untuk bahan bakar dapur. Setelah piketan itu, Ust. Taufiq masih di dapur. Aku keluar dan menunggunya di luar. Tapi Ust. Taufiq ternyata tidak langsung keluar.

Aku masuk ke dapur lagi. Ia masih di dalam buat STMJ. Suaranya perat karena habis baca burdah keliling di pawai obot tersebut. Akhirnya aku disana. Nunggu Ust. Taufiq sekaligus bantu-bantu Mbak Rin, bagian dapur pondok yang tinggal di sebelah desa. Ia biasa di sini pada pagi dan sore hari untuk masak makanan santri.

Akhirnya aku di dapur, bantu-bantu dapur sampai jam sembilanan. Saat itu, Mbak Rin mau masak soto untuk persiapan menyambut tamu karena ada santri baru yang akan daftar disini. Saat itu, jadi pengalaman pertamaku bantu-bantu di dapur.

Sejak seharian, tidak ada kegiatan di sini. Termasuk sore hari. aku merasakan jenuh saat itu. ‘hidup gini-gini aja’. Tapi segera aku ingat bahwa semua yang terjadi adalah anugerah ilahi. Harus sabar dan bersyukur atas semua yang terjadi.

Malam harinya adalah lomba estafet nadzom. Aku malas menceritakannya karena penampilan mereka buruk. Kurang persiapan dan apa adanya. Baiklah. Aku skip dan sudah catatan ini.

*Catatan hari Sabtu, baru selesai hari Senin (01/08) pukul 16:14 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar