Hari jum’at (29/07)
kemarin ada kegiatan pembukaan Peringatan Hari Besar Islam Muharram (1444 H.)
-meski di banner ada kesalahan, yakni 1443 H.- yang dibungkus dengan seminar
pertanian. Kegiatan itu dilaksanakan pada pukul 08.20 WIB. molor dua puluh
menitan.
Tamu VIP yang
diundang itu jumlahnya ada sembilan, yang hadir dua. Alhamdulillah. Kemarin
Ust. Udin juga hadir. Padahal tidak diundang. Duh, aku harus undang kalau ada
acara-acara. Aku kira tidak perlu diundang. Mengingat semua kegiatan -kata Gus
Hadi- itu dipasrahkan ke asatidz.
Ya Rabb, menabi
bedeh se tak tepak, beri petunjuk. Ya Rabb.
Anam jadi
moderatornya dan Pak Mudzakkir sebagai penyaji. Aku duduk sebagai peserta. Aku
khawatir kalau tidak ada santri yang tanya. Akhirnya aku buatkan pertanyaan.
Alhamdulillah. Acara ini lancar. Aku bersyukur sekali. Dari kotak nasi, konsumsi,
bisyaroh hingga para pertanyaan juga oke.
Yang aku kurang
sesuai ekspektasi adalah kegiatan pawai obor. Meski bisa dikatakan relatif
lancar dan acara sudah selesai, jujur saja, tadi malam kurang persiapan. Topek
sebagai penanggung jawab kurang persiapan. Padahal sudah aku wanti-wanti dari
hari Kamis itu. Ketika diingatkan kemarin, jawabannya, "siap dah. tinggal
ambil”.
Kerja sama dengan
orang seperti ini, yang dipasrahi suatu amanah, membuat repot dan nyusahin pada
orang lain. tadi malam, para santi kekurangan gas, sibuk dengan obor dan kurang
kompak baca burdah. Duh, duh, aku mau marah dan negur tapi ini teman sendiri.
Bukan hanya sekali
dua kali kejadian dengan Topek begini. hah. Entahlah, apakah ini termasuk
ghibah ?
Setelah acara pawai
obor selesai, lalu aku mendapati story orang-orang di kontak WA. Yang dawuh
adalah Alm. K.H. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan. Intinya begini, kalau kamu
mendapati aib pada diri orang lain, bersegeralah mencari aib-aib pada dirimu
sendiri. Belum tentu aib pada orang lain lebih banyak daripada aibmu.
Selain itu, kemarin
siang aku ya lihat sebuah konten di Instagram bahwa salah satu ciri orang
bahagia adalah tidak mengurusi hidup orang lain. Dari dua statement ini, aku
jadi muncul pertanyaan,
“iya kalau
konteksnya hidup sendiri-sendiri. Tidak terikat dengan suatu organisasi atau
suatu kelompok. Sedangkan aku saat ini sekelompok dengan ‘humann error’,
solusinya: aku membiarkan seperti itu, kurang respon dan akhirnya aku juga yang
terdampak dengan buruknya kegiatan nanti. Atau aku tegur dan mendapat respon
negatif, aku yang takut akan retaknya perkawanan, aku yang takut hendak omongan
orang ‘se-NJ kok begini’. duh, duh. Entahlah.
Lalu bagaimana ini pas ?”
Selama ini yang
berjalan ya, saling mengisi kalau sudah mepet waktunya. Kurang persiapan.
Jauh-jauh hari kurang persiapan. Ah, intinya begitulah. Tapi aku bersyukur dari
pihak tuan rumah yang mendukung, perhatian bahkan Ust. Udin juga ikut mengawal
meski dari jarak jauh.
Topek ya ketika
kekurangan minyak gas itu langsung pinjam sepeda (paling sepedanya Ust. Udin)
untuk beli bensin, juga Ust. Taufiq bersedia membaca burdah full khatam keliling
pondok. Perat langsung suaranya. Ya, meskipun sebelumnya Aku dan Ust. Taufiq
sudah sepakat bahwa kegiatan ini kurang persiapan.
Hah. Entahlah.
Setidaknya, dengan
adanya Topek, hal ini menjadi alasan bagiku untuk selalu bermunajat dan
mendekat pada Allah. Mengadukan segala permasalahan. Begini-gini juga, tidak
ada yang tahu umur orang. Apa akan mati husnul khotimah atau tidak ?
Begini-gini juga,
ia juga makhluknya Allah dan umat-nya Nabi Muhammad. Ia juga pernah sholat dan
sujud. Potensi yang membuatnya masuk surga masih ada. Peluang rahmat Allah
sangat terbuka lebar. Semoga Allah menguatkan kita untuk melewati ini semua
dengan baik. Amiin.
Juga, semoga Allah
menuntut kita selalu di jalan yang benar serta memudahkan segala urusan kita.
Amiin.
*catatan BMs (31),
Jum’at 29 Juli 2022. Selesai menulis pada hari Sabtu, 30 Juli 2022 pada pukul
03.24 WIB.
.png)
0 Komentar