Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (31) : Laporan Acara Seminar dan Pawai Obor Di Riyadlus Sholihin


Hari jum’at (29/07) kemarin ada kegiatan pembukaan Peringatan Hari Besar Islam Muharram (1444 H.) -meski di banner ada kesalahan, yakni 1443 H.- yang dibungkus dengan seminar pertanian. Kegiatan itu dilaksanakan pada pukul 08.20 WIB. molor dua puluh menitan.

Tamu VIP yang diundang itu jumlahnya ada sembilan, yang hadir dua. Alhamdulillah. Kemarin Ust. Udin juga hadir. Padahal tidak diundang. Duh, aku harus undang kalau ada acara-acara. Aku kira tidak perlu diundang. Mengingat semua kegiatan -kata Gus Hadi- itu dipasrahkan ke asatidz.

Ya Rabb, menabi bedeh se tak tepak, beri petunjuk. Ya Rabb.

Anam jadi moderatornya dan Pak Mudzakkir sebagai penyaji. Aku duduk sebagai peserta. Aku khawatir kalau tidak ada santri yang tanya. Akhirnya aku buatkan pertanyaan. Alhamdulillah. Acara ini lancar. Aku bersyukur sekali. Dari kotak nasi, konsumsi, bisyaroh hingga para pertanyaan juga oke.

Yang aku kurang sesuai ekspektasi adalah kegiatan pawai obor. Meski bisa dikatakan relatif lancar dan acara sudah selesai, jujur saja, tadi malam kurang persiapan. Topek sebagai penanggung jawab kurang persiapan. Padahal sudah aku wanti-wanti dari hari Kamis itu. Ketika diingatkan kemarin, jawabannya, "siap dah. tinggal ambil”.

Kerja sama dengan orang seperti ini, yang dipasrahi suatu amanah, membuat repot dan nyusahin pada orang lain. tadi malam, para santi kekurangan gas, sibuk dengan obor dan kurang kompak baca burdah. Duh, duh, aku mau marah dan negur tapi ini teman sendiri.

Bukan hanya sekali dua kali kejadian dengan Topek begini. hah. Entahlah, apakah ini termasuk ghibah ?

Setelah acara pawai obor selesai, lalu aku mendapati story orang-orang di kontak WA. Yang dawuh adalah Alm. K.H. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan. Intinya begini, kalau kamu mendapati aib pada diri orang lain, bersegeralah mencari aib-aib pada dirimu sendiri. Belum tentu aib pada orang lain lebih banyak daripada aibmu.

Selain itu, kemarin siang aku ya lihat sebuah konten di Instagram bahwa salah satu ciri orang bahagia adalah tidak mengurusi hidup orang lain. Dari dua statement ini, aku jadi muncul pertanyaan,

“iya kalau konteksnya hidup sendiri-sendiri. Tidak terikat dengan suatu organisasi atau suatu kelompok. Sedangkan aku saat ini sekelompok dengan ‘humann error’, solusinya: aku membiarkan seperti itu, kurang respon dan akhirnya aku juga yang terdampak dengan buruknya kegiatan nanti. Atau aku tegur dan mendapat respon negatif, aku yang takut akan retaknya perkawanan, aku yang takut hendak omongan orang ‘se-NJ kok begini’. duh, duh. Entahlah.  Lalu bagaimana ini pas ?”

Selama ini yang berjalan ya, saling mengisi kalau sudah mepet waktunya. Kurang persiapan. Jauh-jauh hari kurang persiapan. Ah, intinya begitulah. Tapi aku bersyukur dari pihak tuan rumah yang mendukung, perhatian bahkan Ust. Udin juga ikut mengawal meski dari jarak jauh.

Topek ya ketika kekurangan minyak gas itu langsung pinjam sepeda (paling sepedanya Ust. Udin) untuk beli bensin, juga Ust. Taufiq bersedia membaca burdah full khatam keliling pondok. Perat langsung suaranya. Ya, meskipun sebelumnya Aku dan Ust. Taufiq sudah sepakat bahwa kegiatan ini kurang persiapan.

Hah. Entahlah.

Setidaknya, dengan adanya Topek, hal ini menjadi alasan bagiku untuk selalu bermunajat dan mendekat pada Allah. Mengadukan segala permasalahan. Begini-gini juga, tidak ada yang tahu umur orang. Apa akan mati husnul khotimah atau tidak ?

Begini-gini juga, ia juga makhluknya Allah dan umat-nya Nabi Muhammad. Ia juga pernah sholat dan sujud. Potensi yang membuatnya masuk surga masih ada. Peluang rahmat Allah sangat terbuka lebar. Semoga Allah menguatkan kita untuk melewati ini semua dengan baik. Amiin.

Juga, semoga Allah menuntut kita selalu di jalan yang benar serta memudahkan segala urusan kita. Amiin.

*catatan BMs (31), Jum’at 29 Juli 2022. Selesai menulis pada hari Sabtu, 30 Juli 2022 pada pukul 03.24 WIB.


Posting Komentar

0 Komentar