Di tengah banyak
distraksi dan hal-hal mengganggu lainnya, menyelesaikan satu artikel barangkali
menjadi anugerah yang harus diingat dan disyukuri. Sebenarnya ini bukan hanya
berlaku dalam dunia menulis saja, tapi semua tugas dan kewajiban. Ya, kadang
ada saja yang menggangu. Peran kita sebagai subjek (pelaku) juga sangat
menentukan terselesaikannya suatu tugas dan kewajiban.
Terkadang aku iri
pada orang-orang yang sangat tekun dalam belajar, duduk berjam-jam berdiskusi,
membuka kitab-buku, begadang tengah malam dan sat-set dalam mengerjakan tugas.
Tapi saat aku mengerjakan suatu tugas itu lho, kadang di tengah-tengah
aktivitas ingin melakukan istirahat sejenak, ngantuk atau ada faktor eksternal
lainnya yang sering tiba tanpa di duga-duga.
Contoh kecil, dalam
kehidupan pribadiku, ya rutinan menulis diary ini. Kemarin aku sudah
menjalani berbagai aktivitas seharian. Tinggal satu ‘habit yang ingin saya
bangun’ tapi belum ku kerjakan pada hari itu, yakni menulis diary.
Kemarin ada hal
baru yang ku kerjakan. Sampai detik ini, sekitar jam lima sore kurang lima
belas menit ini, aku bingung mau nulis dari mana dulu. Tapi tak apalah. Terlalu
banyak berpikir seringkali membuat pekerjaan tak segera selesai. Baik. Karena ini
nulisnya telat dan tidak tepat waktu, harap dimaklumi bila kurang sistematis.
Menulis diary ini
seharusnya dilaksanakan malam hari sebelum tidur dan tadi malam aku tidur
duluan. Entah godaan kasur atau tubuh yang ingin tenggelam memang, membuat ku
tak menulis catatan ini terlebih dahulu.
Mohon dimaklumi
bila tulisan ini random ya~
Kemarin ini,
sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Gus Hadi, bahwa kami bertiga selaku
peserta BMs akan diajak istighotsah di masyarakat. Tentunya dibarengi pihak
tuan rumah sini. Kalau minggu lalu (pada hari jum’atnya), itu Ust. Hadi yang
menjadi pengantar kami tampil di masyarakat. Sedangkan untuk kemarin ini,
adalah K.H. Hafidz Ahmad yang menemani. Beliau merupakan mertua Gus Hadi.
Kegiatan rutin
mingguan ini sebenarnya dilaksanakan hari jum’at. Tapi khusus untuk kemarin
dilaksanakan pada hari kamis. Karena hari jum’at ini, masyarakat banyak yang
puasa akhirnya kegiatan ini dilaksanakan pada hari kamis. Sehari sebelumnya.
Kemarin, acara
istighotsah itu dilaksanakan di desa Bima, dusun apa aku lupa. Yang jelas kami
naik gunung. Aku menaiki sepeda supra milik Kiai Hafidz. Kiai Hafidz saya
gonceng dan tentunya kami memimpin perjalanan. Sedangkan Anam dan Topek ada di
belakang menggunakan sepeda beat.
Menggonceng kiai,
tentu ada rasa harap-harap cemas bercampur aduk di dalam diri. Cemas dan
khawatir karena takut ada yang salah. Takut terlalu cepat atau lambat hingga
cara mengemudi yang baik atau tidak, yang cocok ataut tidak dengan beliau.
Juga, ada rasa harap agar kiai baik-baik saja dan puas terhadap permintaan
beliau ini.
Dalam perjalanan,
beliau sempat mengatakan begini, “pelan-pelan ustadz”. Barangkali aku terlalu
cepat dalam mengemudi atau memang sebagai antisipasi saja. Selain itu, jalan
yang kami gunakan juga tak sepenuhnya dalam keadaan baik. Beberapa rute justruk
malah rusak parah.
Saat jalan semakin
menanjak, aku sempat ketar-ketir gara-gara motor yang kami kendarai hampir
tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum jalan mulai sangat menanjak di
desa Bima – Pakuniran itu, aku sudah diperingatkan oleh Kiai Hafidz agar
perseneleng masuk satu saja.
Di awal perjalanan,
kami sudah cukup lancar dan tampak aman saja. Hingga sampailaj kami di jalan yang
sudah agak mendatar. Lalu aku masukkan perseneleng sepeda menjadi masuk dua.
Nah, ketika jalan menanjak selajutnya, ku kira sepeda kami kuat melewati jalan
itu, ternyata saat di tengah-tengah, dengan gas yang terus mengeras karena ku
tarik gas full, tetap saja motor itu tidak berjalan. Tidak kuat.
Kami sempat
bertahan beberapa detik di tempat itu, sampai Kiai Hafidz bilang,
“Masuk senapah
ustad ?”. artinya, masuk berapa (persenelngnya) ustadz.
“Masuk duek kaento”.
Artinya, masuk dua.
“Masuk satu
ustadz”. Jawab Kiai Hafidz.
Akhirnya langsung
ku kurangi perseneleng sepeda. Akhirnya motor pun tergerak maju. Pelan. Kami
selamat tanpa harus mundur saat di jalan tanjakan itu. Hingga akhirnya beberapa
meter kemudian kami sampai di tempat acara berlangsung.
Untuk kali ini kami
sudah janjian. Siapa yang akan mengisi mauizhotul hasanah, baca rotibul haddad
dan sholawat nariyah. Bagian ceramah itu adalah Topek. Kalau urusan baca
rotibul haddad dan sholawat itu tidak ditentukan. Karena tidak perlu persiapan
lebih. Apalagi saat sampai di tempat, kata Kiai Hafidz yang baca rotibul haddad
itu jama’ah, tapi ketika sudah sampai waktu baca rotib itu, eh ternyata
dipasrahkan pada kami juga.
Selesai acara, kami
langsung menuju pondok. Perjalanan indah. Sesekali muncul keinginan indahnya
daerah pegunungan itu. Oh ya, ada yang lupa. Saat di acara tadi itu, ketika
menunggu masyarakat hadir, kebetulan aku duduk dengan salah satu masyarakat
yang secara postur dan wajah masih seumuran.
Ia bernama Mahrus
Ali (21 th.). Aku tahu karena memberanikan diri untuk basa-basi lalu
berkenalan. Aku coba mengajak ngobrol seputar dunia pedesaan di sekitar sini.
Tak luput dari perhatian juga adalah perihal nikah muda yang masih subur di
pelosok-pelosok desa.
Mas Mahrus, bahkan
sudah menikah dan saat ini sudah memiliki satu anak. Saat ini ia sedang
mengejar paket C di sebuah sekolah di Kotaanyar. Ia ingin melanjutkan pendidikan di perguruan
tinggi. Ketika ditanya, apa kemauannya suatu saat nanti, ia menjawab bahwa ia
ingin mengajar. Oleh karena itu ia mengejar paket C dan ingin melanjutkan
kuliah.
Soal ekonomi,
sebenarnya untuk kebutuhan sehari-hari di desa itu cukup. Sayangnya, ketika pas
tidak ada (makanan, dll mungkin/ekonomi sedang tidak berputar), hal
demikian berlangsung cukup lama.
Aku juga menanyakan
soal pemotongan pohon dan juga penambangan di sekitar ini. Katanya, dulu ada
banyak, tapi semenjak ada Corona itu semakin berkurang. Soal ekonomi, katanya
lagi, sebenarnya cukup sulit.
Hidup di desa, jauh
dari keramaian dan hiruk pikuk dinamika manusia modern yang sangat berbeda
dengan kehidupan di desa. Aku pun juga minta nomer WA nya. Barangkali suatu
ketika kami bsa menjalin kerja sama dan lain sebagainya.
Acara selesai, kami
pulang sebagaimana biasa. Sesampai di pesantren, Kiai Hafidz bertanya padaku, “setelah
ashar ini ada kegiatan atau tidak ustadz ?”.
Aku menjawab,
“punten (baca : tidak)”
Beliau lalu
menimpali, “oh engghi, sebentar lagi aurod-nya mau saya ambil”.
Aku meng-engghi
(baca: iya) kan saja. Pembahasan ini terkait pembuatan aurod/buku panduan
dzikir santri di daerah ini. Peserta BMs dipasrahi untuk menggarap proyek ini.
Sesampai di kamar, aku baru ingat kalau aku dan Topek hendak menuju ke rumahnya
Cak Lukman. Rencana ini sebenarnya tadi pagi, tapi ditunda karena takut molor dan
mengganggu agenda istighotsah ba’da dhuhur itu.
Kami pun berangkat.
Ternyata Rumahnya Cak Lukman ini ada di gunung lagi, tapi di bagian timurnya
pondok. Perjalanan kurang lebih hampir setengah jam. Kami naik-turun jalanan
yang cukup curam itu. Tak ku sangka, ternyata sampai juga di rumahnya Cak Luk. Bagi
yang belum tahu, ia adalah kakak kelas satu tingkat dulu saat duduk di bangku
aliyah.
Disana kami ngobrol
ringan, dari hal remeh sampai soal pengalamannya menyelesaikan jurnal hingga dimuat
jurnal nasional. Banyak hal yang aku pelajarinya. Terutama soal segera dan
bergeges melaksanakan yang wajib ketimbang yang sunah, apalagi mubah. Tidak santai-santai
di awal daripada harus bersusah-susah di akhir.
Setelah makan dan
foto bersama, aku dan Topek pun segera pulang. Waktu semakin senja. Hampir jam
lima. Aku mengira kami akan sampai maghrib ketika di pondok nanti. Duh,
ternyata benar. Kami sampai di sini
ketika wiridan maghrib sedang berlangsung.
Pada hari itu, kami
juga rapat penetapan struktural pengurus daerah/wilayah bersama teman-teman pengurus.
Ada kabar baru: aku dijadikan koordinator devisi bendahara dan keamanan. Duh,
duh, mimpi apa aku semalam ?
Soal ustadz yang jadi
koordinator/bagian pendamping pengurus para santri itu merupakan instruksi dari
Gus Hadi saat kami ngumpul bersama. Selain ini, ada beberapa keinginan tuan
rumah yang setidaknya harus kami laksanakan selama.
Baiklah. Setelah rapat
itu, bincang-bincang sebentar dengan Zainul Mujib. Pengurus yang diamanahi
bagian bendahara dan keamanan itu. Lalu, aku melanjutkan tidur. Yang seharusnya
aku nulis dan desain untuk konten hari itu, malah molor hingga sekarang.
Begitulah, repotnya
jadi ustadz/pengurus, apa-apa harus mandiri. Tidak ada yang mengurusi dan
mengingatkan. Begitulah~
Catatan hari ke 9
BMs. Tapi baru selesai di tulis pada Jum’at, 08 Juli 2022 pukul 19.55 WIB.
.png)
0 Komentar