Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (9): Istighotsah ke Gunung Lagi Hingga Penetapan Pengurus Daerah

 



Di tengah banyak distraksi dan hal-hal mengganggu lainnya, menyelesaikan satu artikel barangkali menjadi anugerah yang harus diingat dan disyukuri. Sebenarnya ini bukan hanya berlaku dalam dunia menulis saja, tapi semua tugas dan kewajiban. Ya, kadang ada saja yang menggangu. Peran kita sebagai subjek (pelaku) juga sangat menentukan terselesaikannya suatu tugas dan kewajiban.

Terkadang aku iri pada orang-orang yang sangat tekun dalam belajar, duduk berjam-jam berdiskusi, membuka kitab-buku, begadang tengah malam dan sat-set dalam mengerjakan tugas. Tapi saat aku mengerjakan suatu tugas itu lho, kadang di tengah-tengah aktivitas ingin melakukan istirahat sejenak, ngantuk atau ada faktor eksternal lainnya yang sering tiba tanpa di duga-duga.

Contoh kecil, dalam kehidupan pribadiku, ya rutinan menulis diary ini. Kemarin aku sudah menjalani berbagai aktivitas seharian. Tinggal satu ‘habit yang ingin saya bangun’ tapi belum ku kerjakan pada hari itu, yakni menulis diary.

Kemarin ada hal baru yang ku kerjakan. Sampai detik ini, sekitar jam lima sore kurang lima belas menit ini, aku bingung mau nulis dari mana dulu. Tapi tak apalah. Terlalu banyak berpikir seringkali membuat pekerjaan tak segera selesai. Baik. Karena ini nulisnya telat dan tidak tepat waktu, harap dimaklumi bila kurang sistematis.

Menulis diary ini seharusnya dilaksanakan malam hari sebelum tidur dan tadi malam aku tidur duluan. Entah godaan kasur atau tubuh yang ingin tenggelam memang, membuat ku tak menulis catatan  ini terlebih dahulu.

Mohon dimaklumi bila tulisan ini random ya~

Kemarin ini, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Gus Hadi, bahwa kami bertiga selaku peserta BMs akan diajak istighotsah di masyarakat. Tentunya dibarengi pihak tuan rumah sini. Kalau minggu lalu (pada hari jum’atnya), itu Ust. Hadi yang menjadi pengantar kami tampil di masyarakat. Sedangkan untuk kemarin ini, adalah K.H. Hafidz Ahmad yang menemani. Beliau merupakan mertua Gus Hadi.

Kegiatan rutin mingguan ini sebenarnya dilaksanakan hari jum’at. Tapi khusus untuk kemarin dilaksanakan pada hari kamis. Karena hari jum’at ini, masyarakat banyak yang puasa akhirnya kegiatan ini dilaksanakan pada hari kamis. Sehari sebelumnya.

Kemarin, acara istighotsah itu dilaksanakan di desa Bima, dusun apa aku lupa. Yang jelas kami naik gunung. Aku menaiki sepeda supra milik Kiai Hafidz. Kiai Hafidz saya gonceng dan tentunya kami memimpin perjalanan. Sedangkan Anam dan Topek ada di belakang menggunakan sepeda beat.

Menggonceng kiai, tentu ada rasa harap-harap cemas bercampur aduk di dalam diri. Cemas dan khawatir karena takut ada yang salah. Takut terlalu cepat atau lambat hingga cara mengemudi yang baik atau tidak, yang cocok ataut tidak dengan beliau. Juga, ada rasa harap agar kiai baik-baik saja dan puas terhadap permintaan beliau ini.

Dalam perjalanan, beliau sempat mengatakan begini, “pelan-pelan ustadz”. Barangkali aku terlalu cepat dalam mengemudi atau memang sebagai antisipasi saja. Selain itu, jalan yang kami gunakan juga tak sepenuhnya dalam keadaan baik. Beberapa rute justruk malah rusak parah.

Saat jalan semakin menanjak, aku sempat ketar-ketir gara-gara motor yang kami kendarai hampir tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum jalan mulai sangat menanjak di desa Bima – Pakuniran itu, aku sudah diperingatkan oleh Kiai Hafidz agar perseneleng masuk satu saja.

Di awal perjalanan, kami sudah cukup lancar dan tampak aman saja. Hingga sampailaj kami di jalan yang sudah agak mendatar. Lalu aku masukkan perseneleng sepeda menjadi masuk dua. Nah, ketika jalan menanjak selajutnya, ku kira sepeda kami kuat melewati jalan itu, ternyata saat di tengah-tengah, dengan gas yang terus mengeras karena ku tarik gas full, tetap saja motor itu tidak berjalan. Tidak kuat.

Kami sempat bertahan beberapa detik di tempat itu, sampai Kiai Hafidz bilang,

“Masuk senapah ustad ?”. artinya, masuk berapa (persenelngnya) ustadz.

“Masuk duek kaento”. Artinya, masuk dua.

“Masuk satu ustadz”. Jawab Kiai Hafidz.

Akhirnya langsung ku kurangi perseneleng sepeda. Akhirnya motor pun tergerak maju. Pelan. Kami selamat tanpa harus mundur saat di jalan tanjakan itu. Hingga akhirnya beberapa meter kemudian kami sampai di tempat acara berlangsung.

Untuk kali ini kami sudah janjian. Siapa yang akan mengisi mauizhotul hasanah, baca rotibul haddad dan sholawat nariyah. Bagian ceramah itu adalah Topek. Kalau urusan baca rotibul haddad dan sholawat itu tidak ditentukan. Karena tidak perlu persiapan lebih. Apalagi saat sampai di tempat, kata Kiai Hafidz yang baca rotibul haddad itu jama’ah, tapi ketika sudah sampai waktu baca rotib itu, eh ternyata dipasrahkan pada kami juga.

Selesai acara, kami langsung menuju pondok. Perjalanan indah. Sesekali muncul keinginan indahnya daerah pegunungan itu. Oh ya, ada yang lupa. Saat di acara tadi itu, ketika menunggu masyarakat hadir, kebetulan aku duduk dengan salah satu masyarakat yang secara postur dan wajah masih seumuran.

Ia bernama Mahrus Ali (21 th.). Aku tahu karena memberanikan diri untuk basa-basi lalu berkenalan. Aku coba mengajak ngobrol seputar dunia pedesaan di sekitar sini. Tak luput dari perhatian juga adalah perihal nikah muda yang masih subur di pelosok-pelosok desa.

Mas Mahrus, bahkan sudah menikah dan saat ini sudah memiliki satu anak. Saat ini ia sedang mengejar paket C di sebuah sekolah di Kotaanyar.  Ia ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ketika ditanya, apa kemauannya suatu saat nanti, ia menjawab bahwa ia ingin mengajar. Oleh karena itu ia mengejar paket C dan ingin melanjutkan kuliah.

Soal ekonomi, sebenarnya untuk kebutuhan sehari-hari di desa itu cukup. Sayangnya, ketika pas tidak ada (makanan, dll mungkin/ekonomi sedang tidak berputar), hal demikian berlangsung cukup lama.

Aku juga menanyakan soal pemotongan pohon dan juga penambangan di sekitar ini. Katanya, dulu ada banyak, tapi semenjak ada Corona itu semakin berkurang. Soal ekonomi, katanya lagi, sebenarnya cukup sulit.

Hidup di desa, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk dinamika manusia modern yang sangat berbeda dengan kehidupan di desa. Aku pun juga minta nomer WA nya. Barangkali suatu ketika kami bsa menjalin kerja sama dan lain sebagainya.

Acara selesai, kami pulang sebagaimana biasa. Sesampai di pesantren, Kiai Hafidz bertanya padaku, “setelah ashar ini ada kegiatan atau tidak ustadz ?”.

Aku menjawab, “punten (baca : tidak)”

Beliau lalu menimpali, “oh engghi, sebentar lagi aurod-nya mau saya ambil”.

Aku meng-engghi (baca: iya) kan saja. Pembahasan ini terkait pembuatan aurod/buku panduan dzikir santri di daerah ini. Peserta BMs dipasrahi untuk menggarap proyek ini. Sesampai di kamar, aku baru ingat kalau aku dan Topek hendak menuju ke rumahnya Cak Lukman. Rencana ini sebenarnya tadi pagi, tapi ditunda karena takut molor dan mengganggu agenda istighotsah ba’da dhuhur itu.

Kami pun berangkat. Ternyata Rumahnya Cak Lukman ini ada di gunung lagi, tapi di bagian timurnya pondok. Perjalanan kurang lebih hampir setengah jam. Kami naik-turun jalanan yang cukup curam itu. Tak ku sangka, ternyata sampai juga di rumahnya Cak Luk. Bagi yang belum tahu, ia adalah kakak kelas satu tingkat dulu saat duduk di bangku aliyah.

Disana kami ngobrol ringan, dari hal remeh sampai soal pengalamannya menyelesaikan jurnal hingga dimuat jurnal nasional. Banyak hal yang aku pelajarinya. Terutama soal segera dan bergeges melaksanakan yang wajib ketimbang yang sunah, apalagi mubah. Tidak santai-santai di awal daripada harus bersusah-susah di akhir.

Setelah makan dan foto bersama, aku dan Topek pun segera pulang. Waktu semakin senja. Hampir jam lima. Aku mengira kami akan sampai maghrib ketika di pondok nanti. Duh, ternyata benar. Kami sampai  di sini ketika wiridan maghrib sedang berlangsung.

Pada hari itu, kami juga rapat penetapan struktural pengurus daerah/wilayah bersama teman-teman pengurus. Ada kabar baru: aku dijadikan koordinator devisi bendahara dan keamanan. Duh, duh, mimpi apa aku semalam ?

Soal ustadz yang jadi koordinator/bagian pendamping pengurus para santri itu merupakan instruksi dari Gus Hadi saat kami ngumpul bersama. Selain ini, ada beberapa keinginan tuan rumah yang setidaknya harus kami laksanakan selama.

Baiklah. Setelah rapat itu, bincang-bincang sebentar dengan Zainul Mujib. Pengurus yang diamanahi bagian bendahara dan keamanan itu. Lalu, aku melanjutkan tidur. Yang seharusnya aku nulis dan desain untuk konten hari itu, malah molor hingga sekarang.

Begitulah, repotnya jadi ustadz/pengurus, apa-apa harus mandiri. Tidak ada yang mengurusi dan mengingatkan. Begitulah~

 

 

Catatan hari ke 9 BMs. Tapi baru selesai di tulis pada Jum’at, 08 Juli 2022 pukul 19.55 WIB.

 

Posting Komentar

0 Komentar