Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (8): Malam Perdana Khataman Kitab, Melanjutkan Agenda Guru Tugas Sebelumnya

 



Setelah mendengarkan beberapa lagu yang diputar oleh kawan-kawan, aku punya lagu yang cukup asyik untuk diputar ketika dalam keadaan syahdu, tenang dan sendirian. Utamanya sebelum menulis diary malam-malam hari seperti ini. Lagu itu adalah “Maafkan Aku” yang dibawakan oleh Indah Yastami setelah sebelumnya ada lagu “Hati-Hati di Jalan”-nya Tulus.

Sayangnya, untuk memutar lagu tersebut di spotify, malah tidak sesuai yang kuharapkan.  Di aplikasi itu malah milih sendiri rekomendasi lagu apa dan mana yang lebih dulu diputar. Padahal aku pinginnya kan langsung ke lagu “maafkan aku” itu. Barangkali aku yang kurang pandai menggunakan aplikasi. Entahlah. Minimallah putar lagi Indah Yastami dulu dah.

Malam ini, aku ingin bercerita aktivitas kegiatan hari ke-8 di Srambirampak Lor, Kotaanyar, Paiton, Probolinggo ini. Pagi tadi, kegiatan sebagaimana biasa. Aku tadi juga menyelesaikan desain dokumentasi foto bersama para santri itu di instagram @daerah_riyadlus_sholihin. Ada tiga slide.

Setelah itu aku tidur, lalu mimpi buruk dan akhirnya terbangun. Waktu menunjukkan sekitar jam sepuluh lebih. Main HP sebentar, mandi dan aku laksanakan sholat dhuha lagi dua raka’at. Entah mengapa aku ingin sholat dhuha. Tumben. Padahal setiap pagi disini selalu melaksanakan sholat dhuha berjama’ah empat raka’at.

Barangkali karena mimpi buruk tadi itu dan lama-lama tambah paham, kalau semua ini, tidak ada artinya tanpa pertolongan Allah. Keinginan, kemampuan, inisiatif, bisa melakukan ini-itu, sejatinya tidak ada apa-apanya kecuali Allah yang membisakan. Manusia ? duh, duh, boro-boro melakukan ini-itu, ia ada saja di dunia itu sudah untung.

Ya Allah. Mudahkan segala urusan. Termasuk dalam kegiatan BMs dan PKM ini. Amiin.

Setelah itu, sholat dhuhur berjama’ah. Badanku terasa tidak enak. Entah ini ingin apa. Ingin tidur apa olahraga. Apa memang harus dipaksa aktivitas agar tidak tidur terus. Setelah sholat itu, aku diminta Anam terlebih dahulu untuk niteni atau semacam menerima setoran muroja’ah hafalan al-Qur’annya sebanyak tiga kaca.

Selesai memenuhi hajatnya, aku langsung ke kamar. Biasanya ngaji qur’an setiap ba’da dhuhur, aku pun tidak ngaji. Aku memilih istirahat di kamar. Tak lama dari badan yang tidak merasa nyaman itu, lalu ada panggilan untuk makan siang di dhalem. Kami berempat, kecuali Topek menuju ke sana segera. Topek ini, sejak awal dzulhijah selalu puasa. Salut. Semoga lancar dan diterima puasanya. :D

Setelah makan, perasaan tidak enak badan itu, sedikit demi sedikit reda dan hilang. Aku sudah enakan ternyata. Aku lanjut main-main hp. Lagi, main hp, tak terasa hal itu seperti ada yang bocor pada diri kita dan sesuatu yang kita miliki secara cepat dan tiba-tiba hilang begitu saja. Sesuatu tersebut adalah waktu.

Entah berapa detik, menit dan jam waktu ku melayang yang seharusya bisa ku gunakan untuk hal yang bermanfaat, seperti mengetik, belajar fathul mu’in dll. Menggunakan waktu dengan baik ini perlu dilatih karena membutuhkan keuletan dan kesabaran yang ekstra.

Hingga pukul dua siang, waktunya diniyah. Ust Taufiq langsung mengkondisikan para santri untuk segera menuju musholla. Saat itu waktu pembelajaran milik Ust. Syarifuddin.

Nah, pada waktu itu, Ust. Syarifudin menelpon Ust. Taufiq dan minta digantikan kepada saya. Awalnya aku tidak percaya, masak ditentukan ke aku begitu ?. kata Ust. Taufiq, awalnya dipasrahkan kepada anak BMs, lalu ditakhsis ke samean (aku).

Ya sudah. Terima saja. begitu banyak jasa dan pelayanan yang diberikan pondok ini kepada kami. Masak disuruh ngajar saja masih ribet dan ruwet begitu. Akhirnya aku berangkat. Kitab yang dikaji sudah khatam. Intinya: siang itu terserah aku mau diisi apa. Jadilah aku ngajar dadakan saat itu.

Aku menyampaikan materi tipis-tipis soal idul adha, puasa hari tarwiyah-arofah, hewan buas yang ikut berpuasa pada hari arofah dan cerita-cerita lainnya. Aku juga menerangkan soal rencana target peserta BMs agar para santri bisa menulis pego dan arab dengan dengan baik dan benar.

Sekalin saja, aku langsung tes mereka menulis pego di papan tulis.  Aku menuliskan sebuah kalimat dalam bahasa arab, lalu ku tantang mereka. Siapa yang benar bacaan dan pemaknaanya, akan aku beri hadiah. Beberapa santri diam, tidak tahu dan ada juga yang mencoba tapi salah. Akhirnya ada juga yang benar menjawabnya, yakni Fabil. Santri senior dan pengurus bagian Ubudiyah itu.

Sore hari, Topek dan Anam keluar. Mereka pergi untuk print program peserta BMs untuk dimaturkan pada Gus Hadi. Sekalian, mereka juga mau beli es degan sehingga aku langsung gas untuk nitip kepada mereka. Beli es degan seharga lima ribu untuk hadiahnya Fabil dan lima ribu untuk diminum disini.

Semua lancar dan aman. Hinga pembinaan al-Qur’an ba’da maghrib tadi, aku yang biasa memberikan motivasi soal pentingnya semangatnya belajar, mulai mengajak mereka berdiskusi kecil-kecilan agar mereka tidak malas belajar. Memiliki  ghiroh dan semangat tinggi  untuk menguasai ilmu yang ada. Akhirnya terhasilkanlah suatu agenda, yakni khataman kitab.

Kitab yang akan dikhatamkan adalah washiyatul musthafa, Taysir al-Kholaq dan al-Jalal wa al-Kamal. Untuk nama kitab terakhir telingaku cukup asing. Ternyata kitab itu menjelaskan sifat dan fisik nabi. Khataman kitab ini akan dimulai nanti malam setelah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) malam usai. Berarti setelah jam sepuluh.

Kata Wahyu, salah santri yang ikut pengajian al-Qur’an di kelompokku bilang, ia mengusulkan agar mengadakan khataman kitab meneruskan agenda dari guru tugas sebelumnya yang berasal dari Madura. Ust. Rofiq katanya. Ia pulang terlebih dahulu, entah karena apa, sedangkan kitab yang dikaji belum sepenuhnya khatam.

Aku juga menghimbau kepada mereka, bahwa khataman kitab ini tidak bersifat wajib, siapapun boleh ikut dan ajak juga yang lain barangkali ada yang ingin belajar. Sebelum pengajian benar-benar dimulai, pada jam sepuluh lebih hingga pukul sebelas malam di musholla, teman-teman BMs ini dipanggil ke dhalem terlebih dahulu. Saat para santri KBM itu.

Kami membincang program kerja kami selama disini serta titipan-titipan Gus Hadi kepada kami selama menetap -kurang lebih-  selama dua bulan ini. Menyetorkan program kerja berarti menyanggupi menyelesaikannya dengan tuntas. Semoga saja hasilnya maksimal dan tidak mengecewakan.

Cukup lama bincang-bincang itu, sampai aku merasa agak ngantuk. Rasanya mata ini kekuatan waat-nya sudah mulai menurun. Ketika sudah selesai pembicaraan malam itu, kami segera menuju ke kamar. Aku tidak banyak bicara dan tidak menggunakan HP. Aku langsung merebahkan badan dan tak perlu waktu lama, aku lenyap. Hilang. Tidur.

Lalu bagaiman dengan janji khataman kitab itu ?

Ternyata aku bangun ketika KBM usai. Teringat janji ini, aku langsung menuju pintu kamar. Barangkali ada anak-anak santri itu yang hendak menagih janji. Ternyata betul. Ada Roziqin datang ke saya dan membawakan kitab washiyatul musthofa. Malam dan kitab perdana yang hendak dikhatamkan terlebih dahulu adalah kitab tersebut.

Khataman dimulai dari pukul sepuluh lewat hingga pukul sebelas. Ada lima santri yang menetap mengikuti khataman kitab itu. Tapi yang bertahan, matanya terjaga hingga selesai pengajian itu ada empat santri. Satu santri yang paling kecil, yang ada di bagian barat, setelah memaknai beberapa lafadz ia malah tidur. Aku biarkan saja. Takut capek dan malah membuatnya tidak kembali esok hari untuk mengikuti pengajian ini.

Selamat malam. Sekian. Terimakasih.

 

Catatan hari ke 8 BMs. Selesai ditulis pada hari Kamis, 07 Juli 2022 pada pujul 00:50 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar