Setelah mendengarkan
beberapa lagu yang diputar oleh kawan-kawan, aku punya lagu yang cukup asyik
untuk diputar ketika dalam keadaan syahdu, tenang dan sendirian. Utamanya sebelum
menulis diary malam-malam hari seperti ini. Lagu itu adalah “Maafkan Aku” yang
dibawakan oleh Indah Yastami setelah sebelumnya ada lagu “Hati-Hati di Jalan”-nya
Tulus.
Sayangnya, untuk memutar
lagu tersebut di spotify, malah tidak sesuai yang kuharapkan. Di aplikasi itu malah milih sendiri
rekomendasi lagu apa dan mana yang lebih dulu diputar. Padahal aku pinginnya
kan langsung ke lagu “maafkan aku” itu. Barangkali aku yang kurang pandai
menggunakan aplikasi. Entahlah. Minimallah putar lagi Indah Yastami dulu dah.
Malam ini, aku ingin
bercerita aktivitas kegiatan hari ke-8 di Srambirampak Lor, Kotaanyar, Paiton,
Probolinggo ini. Pagi tadi, kegiatan sebagaimana biasa. Aku tadi juga menyelesaikan
desain dokumentasi foto bersama para santri itu di instagram @daerah_riyadlus_sholihin.
Ada tiga slide.
Setelah itu aku tidur,
lalu mimpi buruk dan akhirnya terbangun. Waktu menunjukkan sekitar jam sepuluh
lebih. Main HP sebentar, mandi dan aku laksanakan sholat dhuha lagi dua raka’at.
Entah mengapa aku ingin sholat dhuha. Tumben. Padahal setiap pagi disini selalu
melaksanakan sholat dhuha berjama’ah empat raka’at.
Barangkali karena
mimpi buruk tadi itu dan lama-lama tambah paham, kalau semua ini, tidak ada
artinya tanpa pertolongan Allah. Keinginan, kemampuan, inisiatif, bisa
melakukan ini-itu, sejatinya tidak ada apa-apanya kecuali Allah yang membisakan.
Manusia ? duh, duh, boro-boro melakukan ini-itu, ia ada saja di dunia itu
sudah untung.
Ya Allah.
Mudahkan segala urusan. Termasuk dalam kegiatan BMs dan PKM ini. Amiin.
Setelah itu, sholat
dhuhur berjama’ah. Badanku terasa tidak enak. Entah ini ingin apa. Ingin tidur
apa olahraga. Apa memang harus dipaksa aktivitas agar tidak tidur terus. Setelah
sholat itu, aku diminta Anam terlebih dahulu untuk niteni atau semacam
menerima setoran muroja’ah hafalan al-Qur’annya sebanyak tiga kaca.
Selesai memenuhi
hajatnya, aku langsung ke kamar. Biasanya ngaji qur’an setiap ba’da dhuhur, aku
pun tidak ngaji. Aku memilih istirahat di kamar. Tak lama dari badan yang tidak
merasa nyaman itu, lalu ada panggilan untuk makan siang di dhalem. Kami berempat,
kecuali Topek menuju ke sana segera. Topek ini, sejak awal dzulhijah selalu
puasa. Salut. Semoga lancar dan diterima puasanya. :D
Setelah makan, perasaan
tidak enak badan itu, sedikit demi sedikit reda dan hilang. Aku sudah enakan
ternyata. Aku lanjut main-main hp. Lagi, main hp, tak terasa hal itu seperti ada
yang bocor pada diri kita dan sesuatu yang kita miliki secara cepat dan
tiba-tiba hilang begitu saja. Sesuatu tersebut adalah waktu.
Entah berapa detik,
menit dan jam waktu ku melayang yang seharusya bisa ku gunakan untuk hal yang
bermanfaat, seperti mengetik, belajar fathul mu’in dll. Menggunakan waktu
dengan baik ini perlu dilatih karena membutuhkan keuletan dan kesabaran yang
ekstra.
Hingga pukul dua
siang, waktunya diniyah. Ust Taufiq langsung mengkondisikan para santri untuk
segera menuju musholla. Saat itu waktu pembelajaran milik Ust. Syarifuddin.
Nah, pada waktu
itu, Ust. Syarifudin menelpon Ust. Taufiq dan minta digantikan kepada saya. Awalnya
aku tidak percaya, masak ditentukan ke aku begitu ?. kata Ust. Taufiq, awalnya
dipasrahkan kepada anak BMs, lalu ditakhsis ke samean (aku).
Ya sudah. Terima saja. begitu banyak jasa dan pelayanan yang diberikan
pondok ini kepada kami. Masak disuruh ngajar saja masih ribet dan ruwet begitu.
Akhirnya aku berangkat. Kitab yang dikaji sudah khatam. Intinya: siang itu terserah
aku mau diisi apa. Jadilah aku ngajar dadakan saat itu.
Aku menyampaikan
materi tipis-tipis soal idul adha, puasa hari tarwiyah-arofah, hewan buas yang
ikut berpuasa pada hari arofah dan cerita-cerita lainnya. Aku juga menerangkan
soal rencana target peserta BMs agar para santri bisa menulis pego dan arab
dengan dengan baik dan benar.
Sekalin saja, aku
langsung tes mereka menulis pego di papan tulis. Aku menuliskan sebuah kalimat dalam bahasa
arab, lalu ku tantang mereka. Siapa yang benar bacaan dan pemaknaanya, akan aku
beri hadiah. Beberapa santri diam, tidak tahu dan ada juga yang mencoba tapi
salah. Akhirnya ada juga yang benar menjawabnya, yakni Fabil. Santri senior dan
pengurus bagian Ubudiyah itu.
Sore hari, Topek
dan Anam keluar. Mereka pergi untuk print program peserta BMs untuk dimaturkan
pada Gus Hadi. Sekalian, mereka juga mau beli es degan sehingga aku langsung
gas untuk nitip kepada mereka. Beli es degan seharga lima ribu untuk hadiahnya
Fabil dan lima ribu untuk diminum disini.
Semua lancar dan
aman. Hinga pembinaan al-Qur’an ba’da maghrib tadi, aku yang biasa memberikan
motivasi soal pentingnya semangatnya belajar, mulai mengajak mereka berdiskusi
kecil-kecilan agar mereka tidak malas belajar. Memiliki ghiroh dan semangat tinggi untuk menguasai ilmu yang ada. Akhirnya terhasilkanlah
suatu agenda, yakni khataman kitab.
Kitab yang akan
dikhatamkan adalah washiyatul musthafa, Taysir al-Kholaq dan al-Jalal
wa al-Kamal. Untuk nama kitab terakhir telingaku cukup asing. Ternyata kitab
itu menjelaskan sifat dan fisik nabi. Khataman kitab ini akan dimulai nanti
malam setelah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) malam usai. Berarti setelah jam
sepuluh.
Kata Wahyu, salah
santri yang ikut pengajian al-Qur’an di kelompokku bilang, ia mengusulkan agar
mengadakan khataman kitab meneruskan agenda dari guru tugas sebelumnya yang
berasal dari Madura. Ust. Rofiq katanya. Ia pulang terlebih dahulu, entah
karena apa, sedangkan kitab yang dikaji belum sepenuhnya khatam.
Aku juga menghimbau
kepada mereka, bahwa khataman kitab ini tidak bersifat wajib, siapapun boleh
ikut dan ajak juga yang lain barangkali ada yang ingin belajar. Sebelum pengajian
benar-benar dimulai, pada jam sepuluh lebih hingga pukul sebelas malam di musholla,
teman-teman BMs ini dipanggil ke dhalem terlebih dahulu. Saat para
santri KBM itu.
Kami membincang
program kerja kami selama disini serta titipan-titipan Gus Hadi kepada kami
selama menetap -kurang lebih- selama dua
bulan ini. Menyetorkan program kerja berarti menyanggupi menyelesaikannya
dengan tuntas. Semoga saja hasilnya maksimal dan tidak mengecewakan.
Cukup lama bincang-bincang
itu, sampai aku merasa agak ngantuk. Rasanya mata ini kekuatan waat-nya sudah
mulai menurun. Ketika sudah selesai pembicaraan malam itu, kami segera menuju
ke kamar. Aku tidak banyak bicara dan tidak menggunakan HP. Aku langsung
merebahkan badan dan tak perlu waktu lama, aku lenyap. Hilang. Tidur.
Lalu bagaiman
dengan janji khataman kitab itu ?
Ternyata aku bangun
ketika KBM usai. Teringat janji ini, aku langsung menuju pintu kamar. Barangkali
ada anak-anak santri itu yang hendak menagih janji. Ternyata betul. Ada Roziqin
datang ke saya dan membawakan kitab washiyatul musthofa. Malam dan kitab
perdana yang hendak dikhatamkan terlebih dahulu adalah kitab tersebut.
Khataman dimulai
dari pukul sepuluh lewat hingga pukul sebelas. Ada lima santri yang menetap mengikuti
khataman kitab itu. Tapi yang bertahan, matanya terjaga hingga selesai
pengajian itu ada empat santri. Satu santri yang paling kecil, yang ada di
bagian barat, setelah memaknai beberapa lafadz ia malah tidur. Aku biarkan
saja. Takut capek dan malah membuatnya tidak kembali esok hari untuk mengikuti
pengajian ini.
Selamat malam. Sekian.
Terimakasih.
Catatan hari ke 8
BMs. Selesai ditulis pada hari Kamis, 07 Juli 2022 pada pujul 00:50 WIB.
.png)
0 Komentar