Untuk tadi malam, aku
tidak menulis catatan sehari kemarin. Tadi malam aku tidur duluan. Barangkali karena
perut kekenyangan. Target-target harian yang seharusnya selesai kemarin,
akhirnya harus terbengkalai karena kurang ketat dalam menjaga disiplin diri. Duh,
dasar aku.
Akhirnya, tugas demi
tugas harus aku cicil hari ini. Oh ya, untuk rincian tugas-tugas itu tidak usah
ditulis disini. Biar menjadi konsumsi pribadi yang publik tak perlu tahu. Heheuy.
Soal aktvitas seharian kemarin, aku lebih banyak menggunakan waktu untuk tidur.
Tepatnya waktu diantara setelah sholat dhuha hingga hampir dzuhur itu.
Duh, sedih rasanya
bila banyak waktu terbuang, tidak produktif dan tidak banyak gerak. Tapi kadang-kadang,
kalau sudah sibuk dengan aktivitas, malah ingin santai-santai. Hidup kok jadi
repot begini ya.
Barangkali ini yang
dinamakan, pentingnya menejemen waktu dan prioritas. Visi tanpa ambisi, seperti
mimpi di siang bolong. Sedangkan ambisi tanpa misi, hanya jalan tempat. Kelihatannya
hanya sibuk, tapi tidak tahu mau berjalan ke arah mana.
Bagaiamanapun semagat,
strategi dan menejemennyaa, semua tetap engkau Ya Rabb yang menentukan semua. Kami
manusia ya sejatinya tidak bisa apa-apa. Kecuali engkau bisakan untuk
ini-itu. Kami sering lalai dan lupa, bahwa kau segalanya. Kami sering
mengandalkan amal dan tidak menggunakan daya fikir serta ilmu dengan maksimal.
Di tengah ketidak
idealan ini, sudi kiranya bila engkau menerima semua ini. Diantara banyak hal-hal
yang tidak bisa kami kontrol dan kendalikan, menulis menjadi salah satu jalan
meringankan beban pikiran. Menulis menjadi tempat meleburkan segala unek-unek
dan segala perasaan yang tidak terungkapkan dengan lisan.
Dalam sebuah
kesempatan ngaji ihya’, aku pernah bertanya kepada Gus Fayyadl, soal muhasabah.
Kira-kira begini pertanyaanya, “Kadang, ketika sudah beberapa tahun mondok, terdapat
pikiran, aku sudah dapat apa ya di pondok ?. apa aku sudah bisa membahagiakan
orang tua, dls. ? tapi saat saya diskusikan pertanyaan ini dengan teman saya,
ia malah menjawab, “jangan terlalu difikirkan hal seperti itu. Ini semua adalah
takdir dan sesuatu yang sudah digariskan”. Itu semua nafsu. Lalu apakah benar
anggapan teman saya itu gus ?”
Secara riwayat bil
makna, beliau menjawab begini: muhasabah seperti itu baik ya. kalau mau muhasabah
itu cukup 3 saja :
1. Apakah aku sudah mendapatkan ilmu di pondok ?
2. Apakah aku sudah mengamalkan ilmu yang saya punya
?
3. Apakah ilmuku barokah ?
Lalu beliau
melanjutkan, kalau muhasabahnya itu bersifat tidak mensyukuri sesuatu, misalnya:
“anda sudah lama di ma’had aly, lalu menyesal dan bilang pada diri anda sendiri:
‘seandainya saya kuliah di UI mungkin saya sudah sukses’ dll. Itu yang tidak
boleh. Anda tidak mensyukuri apa yang anda jalani saat ini.
Eh, aku kok malah
bahas ini. Skip dah.
Lanjut bahas
aktivitas kemarin ya. kemarin aktivitas tidak berbeda dari biasanya,
kecuali ada tiga hal :
Pertama, aku kemarin dengan Anam keluar. Ada keperluan sehingga membuat kami
harus izin ke Gus Hadi. Kami ke NJ, ambil beberapa barang yang perlu dibawa. Diantaranya
adalah buku diaryku. Alhamdulillah. Buku itu ketemu dan juga pulpennya.
Juga sebenarnya
kemarin ingin potong rambut, eh, tidak jadi soalnya terlalu sore. Kemarin sore
itu, tujuan utama adalah beli paketan data. Karena pada malam harinya, malam senin
itu, aku akan mengisi pelatihan desain grafis juga kepenulisan. Jadi butuh
internet. Praktiknya kan pakai canva. Aplikasi serba bisa yang harus terkoneksi
dengan internet.
Ke dua, kelas ekstrakurikuler dimulai tadi malam. Kelas tadi malam adalah kelas
perdana. Aku di bagian dua bidang itu, desain grafis juga kepenulisan. Lalu ada
Anam, yang mengampu kelas editing video. Dan, ada Topek yang mengampu khataman
kitab aqidatul awam.
Tapi tadi malam kelasku
dan kelasnya Anam yang berjalan. Sedang kelasnya Topek belum mulai soalnya tadi
malam beliau dipanggil keluarga dhalem. Entah untuk apa. Saat ditanya
jawabnya tidak jelas sob, jadinya males mau nanya lagi. :D
Rencana kelasku dan
kelasnya Anam ini, ingin mencetak santri-santri yang berkhidmah di bagian media
sosial. Saat kami peserta BMs ini sudah pulang nanti, akan ada santri-santri
yang bisa dan memiliki kemampuan untuk mengolah media sosial. Tentunya, skill ini
sifatnya sunah dan mereka tetap ditekankan untuk menguasai urusan yang fardhu ‘ain,
seperti materi-materi dalam al-miftah Sidogiri.
Ke tiga, pembacaan dua model sholawat setiap malam selasa. Jadi, setelah
kegiatan ba’da isya’ sebagaimana biasanya, tadi malam ada pembacaan dua model
sholawat. Sholawat pertamaang -wajib- adalah sholawat burdah karya Imam
al-Bushiri. Kemudian, sholawat yang ke dua itu bebas. Untuk tadi malam, kata
Ust. Taufiq Sidogiri, pembacaan sholawat diserahkan kepada kami. Guru tugas dan
para santri hanya sebagai makmum. Ya, sudah, kamipun membaca sholawat diba’i
ala santri Nurul Jadid.
Baca dua sholawat
seperti itu, dalam diri, aku agak merasa capek. Tapi salut dengan para santri
dan juga sistem yang berjalan disini. Meski pondok kecil, kegiatan ini bagi
saya cukup padat. Semoga tambah maju, sukses dan jaya ke depannya. Amiin.
Sekian. Terimakasih.
Catatan ini selesai
ditulis pada Selasa, 05 Juli 2022. Pukul 09:27 AM.
.png)
0 Komentar