Main HP itu sangat tidak terasa ketika kalau waktu banyak terbuang sia-sia. Padahal sekitar jam dua belas malam lebih aku bangun dari tidur, terus main HP. Inginnya main HP bentar, sebagai selingan lalu wudhu dan menulis sesuatu sebagai rutinan diary/nge-blog yang hitung-hitung sebagai laporan BMs juga.
Tapi tak terasa,
sekarang sudah jam 01.20 WIB. Aku baru menulis sesuatu. Di hari-hari BMs
seperti ini, banyak pelajaran dan kejadian yang membuat aku teringat kepada
nasihat-nasihat lama, yang diajarkan di pesantren maupun didikan orang tua di
rumah.
Soal main HP ini, aku
jadi ingat pesan ibu yang selalu mewanti-wanti agar tidak terlena dengan benda HP
itu. HP sangat melenakan bila kita tidak mampu mengontrolnya. Tidak terasa kita
scroll dan mantengin HP berjam-jam. Padahal buka fathul mu’in atau baca buku tidak
se rajin dan selama itu.
Mari kta bandingkan
saja, antara main HP dengan segala tetek begeknya seperi lihat status orang
lain, berselancar di instagram, nonton tiktok, nunggu download audio/video dari
orang lain dengan durasi kita untuk membaca buku yang manfaatnya lebih jelas
ketimbang main HP.
Atau belajar
skill/pengetahuan baru yang membuat kita semakin meingkatkan kualitas diri,
bertumbuh dan tentunya aktivitas itu sangat berpengaruh dengan kesuksesan yang
kita harapkan di masa mendatang nanti.
Baiklah. Semoga kita
tidak termasuk orang yang terbuai dan terlenan menggunakan HP.
Pada hari ke lima ini,
seagaimana kemarin Ust. Syarifuddin nembusi (baca: mengkonfirmasi) kami,
salah satunya aku untuk mengajar, akhirnya tadi siang aku pun ngajar. Aku tadi
ngajar nubdzatul bayan juz 1 di daerah
An-Nur. Daerah An-Nuur ini merupakan daerah cabang dari Pesantren Nurur Rahmah.
Sama seperti daerah yang aku tempati ini, daerah Riyadlus Sholihin, tapi daerah
An-Nur ini lebih tua daripada daerah Riyadlus Sholihin.
Meski lebih tua dan
lama, daerah An-Nur ini kekurangan tenaga pengurus. Pengurus senior banyak yang
sudah boyong. Kira-kira santri disana itu ada dua puluh lima, entah dari dua pluh
lima-an santri itu berapa orang yang jadi pengurus.
Yang disayangkan
lagi, disana tidak mengambil guru tugas dari pesantren-pesantren besar. Kata
Ust.Syarifuddin, insyaallah tahun depan akan mengambil guru tugas. Jadi, untuk
tenaga pengajar keilmuan, seperti nubdzatul bayan dan lain-lain, sependek yang aku
ketahui, itu ada tiga orang, yakni Ust. Syarifuddin, Kia Fattah dan istrinya.
Oh ya, Kiai Fattah
ini merupakan pemangku daerah sana. Beliau merupakan alumnus Sarang, Nurul
Jadid dan pernah juga menimba ilmu di Mekah. Untuk biaya pondok di An-Nur,
mereka ditariki biaya sebesar lima puluh ribu untuk diniyah dan lima puluh ribu
untuk pondok kalau tidak salah. Yang jelas sebulan itu biayanya seratus ribu. Ini
lain dengan biaya sekolah.
“Untuk sekolah itu,
paling mahal di aliyah. Sekitar satu juta dua ratus ribu selama satu tahun. Itu
bisa dicicil. Kadang ada juga yang selama tiga tahun, dari kelas satu hingga
kelas tiga, nunggak. Belum bayar sama sekali. Karena kebanyak ekonomi masyarakat
sekitar itu menengah ke bawah,” kurang lebih demikian ucap Ust. Syarifuddin.
Soal biaya operasional
pondok ini jangan lewat untuk diperbincangkan. Para santri tentu butuh fasilitas
yang cukup dan memadai dalam menempuh proses pendidikan-pembelajaran. Kita butuh
listrik, air bersih yang mengalir, makan dua kali sehari dan kebutuhan-kebutuhan
lainnya. Semua tentu butuh uang.
Sistem biaya
operasional di daerah An-Nur ini, berbeda dengan yang ada di daerah Riyadlus
Sholihin. Memang, di daerah ini tidak ditarik biaya apapun. Para santri makan
dua kali sehari. Apalagi ada guru tugas dan BMs, makan tiga kali sehari
ditanggung. Juga selalalu ada hidangan di saban pagi hingga sore juga sore
hingga malam. Belum lagi peralatan kebersihan bagi para guru tugas dan peserta
BMs.
Biaya operasional
pondok di daerah Riyadlus Sholihin ini tidak mematok harga tertentu. Hanya saja,
para wali santri diberikan semacam wadah/omplong yang dibawa ke rumah mereka
masing-masing. Mereka dianjurkan untuk bersedekan setiap pagi yang pada sebulan
sekali akan diadakan istighotsah bersama sekaligus penyerahan sedekah/uang yang
di wadah itu ke pihak pondok.
Kata Ust. Syarifuddin,
istilah sedekah semacam ini disebut sedekah subuh. Soal sedekah subuh ini, memang
ada keutamaan dan anjuran tersendiri dalam Islam. Ibu di rumah seringkali mengingatkanku
untuk sedekah subuh, dimasukkan ke kaleng, nanti seminggu sekalian uang itu
dibelikan gorengan/makananan yang nantinya di makan bersama dengan teman-teman
di kamar.
Hanya saja aku saja
yang bandel dan kurang komitmen menjalankan itu semua. Jadi, setauku, hanya ibu
di rumah yang rutin untuk melaksanakan sedekah subuh meski hanya seribu-dua
ribu rupiah setiap paginya.
Untuk mengajar
siang menjelang sore hari itu, jatah waktunya adalah dua jam full. Dari jam dua
hingga pukul empat sore. Tidak ada jeda. Meski adzan ashar, kelas tetap
berlangsung. Para santri dan tenaga pengajar tidak istirahat sebagaimana yang di
daerah Riyadlus Sholihin. Kalau disini kan, jam dua sampai ashar. Sholat
berjama’ah lalu nanti jam setengah empat kembali ke kelas masing-masing untuk
melaksanakan diniyah.
Tadi setelah ada muqoddimah
dari Ust. Syarifuddin soal penetapan regulasi baru dan juga ustadz baru, yakni aku
yang akan menggantikan beliau, lalu aku ditinggal disana untuk diberi kebebasan
dalam mengajar, tiba-tiba ada yang memberikan air teh, krupuk dan juga nasi
pecel.
Kata santri yang
membawakan makanan itu ketika ditanya dari siapa, “ini dari ibu kantin”.
Ya aku agak
terkejut saja. Baru ngajar kok dikasih nasi. Aku ngisi di musholla lagi,
tiba-tiba ada makanan. Dalam hati aku bergumam, “ini disuruh makan apa ngajar ya”.
hahaha. Tapi tak apalah. Jadi ingat kata-kata Ust. Tohet saat pembekalan
BMs, adh-dhoif kal mayyit (tamu itu seperti mayit). Jadi digimana-gimanakan
ya nurut dan ikut saja.
Kejadian yang
barusan aku ceritakan itu, terjadi siang . Sebelum siang hari, tepatnya setelah
makan pagi, aku tidur cukup lama. Dari jam setengah sembilan sampai jam sebelas
siang. Ada dua jam setengah aku terlelap. Awalnya aku menyangka kalau aku perlu
tidur sebagai ganti waktu begadang tadi malam. Tapi setelah bangun, ada rasa
penyesalan dalam hati, “duh, kok lama banget tidurku ini.”
***
Tak terasa, lima
hari berlalu sudah. Beberapa teman/peserta BMs ada yang masih kebingungan mau
mengadakan kegiatan atau program apa di lokasi masing-masing. Bukan hanya
mereka yang jauh disana, teman BMs yang bersamaku, yaitu Anam, selalu tanya kepadaku,
“pin, ayo PKm mau mengadakan apa ?”. Yang agak menyebalkan juga, kalau
pertanyaan ini selalu diulang-ulang saban pagi, sore dan malam. Mirip resep
dokter untuk minim obat tiga kali sehari saja.
Kawan seperti ini, menujukkan
kepedulian, tapi kalau keseringan menimbulkan kepikiran juga. Dalam hati
rasanya ditohok, “kamu kan koordinatornya pin ?”. tapi aku lawan lagi dalam hati,
“memang semua harus selalu dari koordinator ya ?”. Akhirnya pertengkaran batin
itu agak mereda.
Jujur saja,
beberapa hari disini, yang perlu digalakkan -menurutku pribadi-, ya soal
komunikasi. Dengan sekitar, para santri dan juga dengan pengasuh/pemangku. Terutama
Gus Hadi. Kami ingin ngapain saja, hendaknya koordinasi. Tapi untuk komunikasi
ini lho, kok rasanya agak berat gitu ya. entahlah. Kata orang Madura, beliau
itu ekesengkaen. Semacam ada perasaan tidak enak sendiri bilang mau membincang
sesuatu.
Baiklah. Barangkali
nanti bila ada waktu luang, akan coba kami sampaikan unek-unek kami. Dan,
tentunya juga perihal program, keinginan dan lain sebagainya ini harus
dirembukkan dengan Anam, Topek juga 2 guru tugas yang keren-keren ini. Supaya tidak
ada kesenjangan diantara berbagai pihak manapun.
Sekian. Terimakasih.
Wassalam.
Paiton, 04 Juli
2022.
Catatan BMs hari
ke lima. Selesai menulis sak ngedite pukul 02.30 WIB.

0 Komentar