Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (5): Bahaya HP dan Pengalaman Perdana Mengajar di Daerah An-Nur



Main HP itu sangat tidak terasa ketika kalau waktu banyak terbuang sia-sia. Padahal sekitar jam dua belas malam lebih aku bangun dari tidur, terus main HP. Inginnya main HP bentar, sebagai selingan lalu wudhu dan menulis sesuatu sebagai rutinan diary/nge-blog yang hitung-hitung sebagai laporan BMs juga.

Tapi tak terasa, sekarang sudah jam 01.20 WIB. Aku baru menulis sesuatu. Di hari-hari BMs seperti ini, banyak pelajaran dan kejadian yang membuat aku teringat kepada nasihat-nasihat lama, yang diajarkan di pesantren maupun didikan orang tua di rumah.

Soal main HP ini, aku jadi ingat pesan ibu yang selalu mewanti-wanti agar tidak terlena dengan benda HP itu. HP sangat melenakan bila kita tidak mampu mengontrolnya. Tidak terasa kita scroll dan mantengin HP berjam-jam. Padahal buka fathul mu’in atau baca buku tidak se rajin dan selama itu.

Mari kta bandingkan saja, antara main HP dengan segala tetek begeknya seperi lihat status orang lain, berselancar di instagram, nonton tiktok, nunggu download audio/video dari orang lain dengan durasi kita untuk membaca buku yang manfaatnya lebih jelas ketimbang main HP.

Atau belajar skill/pengetahuan baru yang membuat kita semakin meingkatkan kualitas diri, bertumbuh dan tentunya aktivitas itu sangat berpengaruh dengan kesuksesan yang kita harapkan di masa mendatang nanti.

Baiklah. Semoga kita tidak termasuk orang yang terbuai dan terlenan menggunakan HP.

Pada hari ke lima ini, seagaimana kemarin Ust. Syarifuddin nembusi (baca: mengkonfirmasi) kami, salah satunya aku untuk mengajar, akhirnya tadi siang aku pun ngajar. Aku tadi ngajar  nubdzatul bayan juz 1 di daerah An-Nur. Daerah An-Nuur ini merupakan daerah cabang dari Pesantren Nurur Rahmah. Sama seperti daerah yang aku tempati ini, daerah Riyadlus Sholihin, tapi daerah An-Nur ini lebih tua daripada daerah Riyadlus Sholihin.

Meski lebih tua dan lama, daerah An-Nur ini kekurangan tenaga pengurus. Pengurus senior banyak yang sudah boyong. Kira-kira santri disana itu ada dua puluh lima, entah dari dua pluh lima-an santri itu berapa orang yang jadi pengurus.

Yang disayangkan lagi, disana tidak mengambil guru tugas dari pesantren-pesantren besar. Kata Ust.Syarifuddin, insyaallah tahun depan akan mengambil guru tugas. Jadi, untuk tenaga pengajar keilmuan, seperti nubdzatul bayan dan lain-lain, sependek yang aku ketahui, itu ada tiga orang, yakni Ust. Syarifuddin, Kia Fattah dan istrinya.

Oh ya, Kiai Fattah ini merupakan pemangku daerah sana. Beliau merupakan alumnus Sarang, Nurul Jadid dan pernah juga menimba ilmu di Mekah. Untuk biaya pondok di An-Nur, mereka ditariki biaya sebesar lima puluh ribu untuk diniyah dan lima puluh ribu untuk pondok kalau tidak salah. Yang jelas sebulan itu biayanya seratus ribu. Ini lain dengan biaya sekolah.

“Untuk sekolah itu, paling mahal di aliyah. Sekitar satu juta dua ratus ribu selama satu tahun. Itu bisa dicicil. Kadang ada juga yang selama tiga tahun, dari kelas satu hingga kelas tiga, nunggak. Belum bayar sama sekali. Karena kebanyak ekonomi masyarakat sekitar itu menengah ke bawah,” kurang lebih demikian ucap Ust. Syarifuddin.

Soal biaya operasional pondok ini jangan lewat untuk diperbincangkan. Para santri tentu butuh fasilitas yang cukup dan memadai dalam menempuh proses pendidikan-pembelajaran. Kita butuh listrik, air bersih yang mengalir, makan dua kali sehari dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Semua tentu butuh uang.

Sistem biaya operasional di daerah An-Nur ini, berbeda dengan yang ada di daerah Riyadlus Sholihin. Memang, di daerah ini tidak ditarik biaya apapun. Para santri makan dua kali sehari. Apalagi ada guru tugas dan BMs, makan tiga kali sehari ditanggung. Juga selalalu ada hidangan di saban pagi hingga sore juga sore hingga malam. Belum lagi peralatan kebersihan bagi para guru tugas dan peserta BMs.

Biaya operasional pondok di daerah Riyadlus Sholihin ini tidak mematok harga tertentu. Hanya saja, para wali santri diberikan semacam wadah/omplong yang dibawa ke rumah mereka masing-masing. Mereka dianjurkan untuk bersedekan setiap pagi yang pada sebulan sekali akan diadakan istighotsah bersama sekaligus penyerahan sedekah/uang yang di wadah itu ke pihak pondok.

Kata Ust. Syarifuddin, istilah sedekah semacam ini disebut sedekah subuh. Soal sedekah subuh ini, memang ada keutamaan dan anjuran tersendiri dalam Islam. Ibu di rumah seringkali mengingatkanku untuk sedekah subuh, dimasukkan ke kaleng, nanti seminggu sekalian uang itu dibelikan gorengan/makananan yang nantinya di makan bersama dengan teman-teman di kamar.

Hanya saja aku saja yang bandel dan kurang komitmen menjalankan itu semua. Jadi, setauku, hanya ibu di rumah yang rutin untuk melaksanakan sedekah subuh meski hanya seribu-dua ribu rupiah setiap paginya.

Untuk mengajar siang menjelang sore hari itu, jatah waktunya adalah dua jam full. Dari jam dua hingga pukul empat sore. Tidak ada jeda. Meski adzan ashar, kelas tetap berlangsung. Para santri dan tenaga pengajar tidak istirahat sebagaimana yang di daerah Riyadlus Sholihin. Kalau disini kan, jam dua sampai ashar. Sholat berjama’ah lalu nanti jam setengah empat kembali ke kelas masing-masing untuk melaksanakan diniyah.

Tadi setelah ada muqoddimah dari Ust. Syarifuddin soal penetapan regulasi baru dan juga ustadz baru, yakni aku yang akan menggantikan beliau, lalu aku ditinggal disana untuk diberi kebebasan dalam mengajar, tiba-tiba ada yang memberikan air teh, krupuk dan juga nasi pecel.

Kata santri yang membawakan makanan itu ketika ditanya dari siapa, “ini dari ibu kantin”.

Ya aku agak terkejut saja. Baru ngajar kok dikasih nasi. Aku ngisi di musholla lagi, tiba-tiba ada makanan. Dalam hati aku bergumam, “ini disuruh makan apa ngajar ya”. hahaha. Tapi tak apalah. Jadi ingat kata-kata Ust. Tohet saat pembekalan BMs, adh-dhoif kal mayyit (tamu itu seperti mayit). Jadi digimana-gimanakan ya nurut dan ikut saja.

Kejadian yang barusan aku ceritakan itu, terjadi siang . Sebelum siang hari, tepatnya setelah makan pagi, aku tidur cukup lama. Dari jam setengah sembilan sampai jam sebelas siang. Ada dua jam setengah aku terlelap. Awalnya aku menyangka kalau aku perlu tidur sebagai ganti waktu begadang tadi malam. Tapi setelah bangun, ada rasa penyesalan dalam hati, “duh, kok lama banget tidurku ini.”

***

Tak terasa, lima hari berlalu sudah. Beberapa teman/peserta BMs ada yang masih kebingungan mau mengadakan kegiatan atau program apa di lokasi masing-masing. Bukan hanya mereka yang jauh disana, teman BMs yang bersamaku, yaitu Anam, selalu tanya kepadaku, “pin, ayo PKm mau mengadakan apa ?”. Yang agak menyebalkan juga, kalau pertanyaan ini selalu diulang-ulang saban pagi, sore dan malam. Mirip resep dokter untuk minim obat tiga kali sehari saja.

Kawan seperti ini, menujukkan kepedulian, tapi kalau keseringan menimbulkan kepikiran juga. Dalam hati rasanya ditohok, “kamu kan koordinatornya pin ?”. tapi aku lawan lagi dalam hati, “memang semua harus selalu dari koordinator ya ?”. Akhirnya pertengkaran batin itu agak mereda.

Jujur saja, beberapa hari disini, yang perlu digalakkan -menurutku pribadi-, ya soal komunikasi. Dengan sekitar, para santri dan juga dengan pengasuh/pemangku. Terutama Gus Hadi. Kami ingin ngapain saja, hendaknya koordinasi. Tapi untuk komunikasi ini lho, kok rasanya agak berat gitu ya. entahlah. Kata orang Madura, beliau itu ekesengkaen. Semacam ada perasaan tidak enak sendiri bilang mau membincang sesuatu.

Baiklah. Barangkali nanti bila ada waktu luang, akan coba kami sampaikan unek-unek kami. Dan, tentunya juga perihal program, keinginan dan lain sebagainya ini harus dirembukkan dengan Anam, Topek juga 2 guru tugas yang keren-keren ini. Supaya tidak ada kesenjangan diantara berbagai pihak manapun.

Sekian. Terimakasih. Wassalam.

Paiton, 04 Juli 2022.

Catatan BMs hari ke lima. Selesai menulis sak ngedite pukul 02.30 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar