Sudah dua hari saya
tidak menulis catatan diary BMs, yakni pada hari Rabu dan Kamis (27-28/07).
Bila ku lihat rekap catatan BMs itu, aku belum menulis catatan hari rabu dan
kamis. Sekarang hari jum’at, tapi aku ‘dituntut’ mengingat-ingat kejadian hari
Rabu lalu agar ku tulis disini.
Dua hari lalu
adalah hari perdana aku mengajar siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurur Rahmah.
Karena pertemuan perdana, seperti biasa, waktu di kelas lebih banyak dihabiskan
untuk perkenalan. Perkenalan antara saya dan mereka.
Sebagian mungkin
ada yang telah tahu nama saya karena sebelumnya, Pak Mudzakir pernah
mengenalkan sekilas tentang saya sesaat sebelum acara wawasan kebangsaan
beberapa hari lalu. Tapi, perkenalan tetap dilakukan, sekaligu mengisi
waktu/jam pelajaran yang tersisa. Tanya-jawab dan lain sebagainya.
Kalau boleh jujur,
mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah tantangan
sekaligus ujian. Saya dituntut untuk belajar mater-materi IPS sebelum masuk
kelas, sebelum menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan materi itu di buku pegangan
LKS siswa. Disisi lain amanah mengampu pelajaran IPS adalah ujian bagi saya.
Saya tidak menyukai sistem pendidikan di Indonesi, para siswa dituntut untuk
belajar banyak pelajaran, padahal hanya beberapa saja yang mereka butuhkan di
kehidupan nyata.
Bagi saya, pelajaran-pelajaran
di sekolah sangat normatif, formal dan tidak memenuhi kebutuhan kehidupan
manusia secara mendesak. Secara sekilas pengamatan dan pengalaman pribadi,
materi-materi yang ada di sekolah kurang membumi. Padahal banyak hal dan PR
bangsa kita yang perlu kita selesaikan, bukan sekadar belajar materi-materi
yang tidak terlalu penting.
Saban hendak
berangkat ke sekoolah, kadang hati ini ingin menangis dan menolak untuk
mengajar. Saya merasa tidak mampu, soal IPS bukan aku bidangnya, kepikiran
nanti mau ngomong apa di depan para siswa dan masih banyak yang lainnyaa.
Keadaan ini
berjalan beberapa hari, bahkan hingga detik ini ketika saya menulis diary.
Sesekali perasawaan khawatir/takut (fomo) semacam ini reda tatkala saya melihat
beberapa video edukatif-inspiratif yang isinya daging, membuat kita semakin
berkembang dan meningkatkan kualitas diri setiap hari (growyt mindset).
Hari Rabu itu,
setelah waktu istirahat (09.00 s/d 09.20 WIB), aku ada jam masuk di kelas VIII
-kalau tidak salah-. Tapi aku saat itu tidak masuk karena ada salah seorang
siswa bertanya maksud sebuah pertanyaan di lembaran yang ia pegang. Kata salah
satu guru MTs di kantor saat itu, anak itu disuruh tanya kepada saya.
Akhirnya, saya
suruh di duduk di samping. Saya kira ia bertanya satu soal yang berbahasa arab
saja, tapi ternyata tidak. Ada beberapa soal yang sekalian ia tanyakan pada
saya. aku melayani sekaligus sebagai ‘pengalihan’ ketidak siapan materi IPS
yang akan saya ajarkan. Pengalihan untuk tidak mengajar.
Duh, bila melihat
fenomena ini, aku jadi malu. Mengapa tidak belajar sebelum masuk kelas. Pada
guru-guru termasuk diantaranya adalah K.H. Moh. Zuhri Zaini, pengasuh PP. Nurul
Jadid itu selalu istiqomah dalam mengajar. Ditengah kesibukan beliau yang selalu
padat, beliau selalu mengusahakan agar masuk kelas/mengajar tepat waktu.
Bagaimanapun caranya.
Dalam sebuah
kesempatan ngaji ihya’, K. Muhammad al-Fayyadl berkata bahwa, ketika ada
pengarahan pengurus – pegawai, Kiai Zuhri dawuh kalau seorang guru telat masuk
kelas / tidak tepat waktu masuk kelas untuk mengajar, maka ia telah melakukan
kesalahan. Ia harus minta maaf. Seandainya muridnya berjumlah 30 orang. Maka ia
harus minta maaf pada 30 murid tersebut.
Allah, ampuni hamba
ya rabb yang masih jauh dari kata ideal.
Hari rabu itu, aku
juga begadang. Garap desain persiapan muharram. Ternyara desain canva -yang
banyak templatenya itu- perlu waktu lama. Yang bikin lama karena ditunda-tunda,
inspirasi yang nge-blank, memang banyak job atau pekerjaan lainnya dan bikin karakter
desain di setiap tema.
Begadangpun,
tugas-tugas desain itu belum selesai. Akhirnya ku lanjut keesokan harinya. Hari
kamis ketika saya ada di MTs.
*Catatan BMs (29).
Catatan hari Rabu, 27 Juli 2022. Selesai nulis pada hari Jum’at, 29 Juli 2022.

0 Komentar