Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (26): Perihal Berita Acara Wawasan Kebangsaan Yang Tidak Boleh Di-Share Oleh Kepala Madrasah

 

 

Sore Senin ini (25/07) ini, aku menulis catatan hari Sabtu (24/07) kemarin lusa. Kemarin aku sudah menulis dua catatan, tapi catatan BMs ke 25 itu ternyata ada dua part. Masing-masing part itu beda temanya. Sedangkan catatan BMs khusus hari kemarin (senin), aku belum buat. Saat ini aku meluangkan waktu untuk menulis catatan tersebut.

Kemarin, aku berencana untuk ke rumahnya Ust. Husain di perumahan Paiton. Sebelumnya, Ust. Husain bilang kalau ingin janjian harus tepat waktu. Ia berencana untuk menggagas manusia baru. Manusia yang disiplin dalam menjaga waktu. Kalau janjian harus jelas dan tepat waktu. Janjian pukul sembilan, ya diusahakan agar datang pukul sembilan atau sebelumnya.

Aku belum bisa memastikan saat itu akan datang jam berapa. Tapi aku bilang, kalau tidak jadi nanti aku konfirmasi lagi. Ternyata, beberapa hari sebelum hari Sabtu itu, Pak Mudzakkir mengajakku untuk mendampingin siswa kelas 9 MTs Nurur Rahmah untuk menulis catatan hasil nobar dan pematerian tentang wawasan kebangsaan.

Aku mengiyakan. Jadi keinginanku untuk ke rumahnya Ust. Husain harus diurungkan. Aku harus konfirmasi karena ada acara di tempat aku melaksanakan BMs.

Pagi itu, aku ke MTs. Di kantor ada seorang bapak-bapak berbaju tentara. Di temani Pak Mudzakkir, mereka berbincang-bincang. Aku salaman kepada mereka semua sebagai bentuk ‘hadir’ ke MTs. Pak Mudzakkir lalu bilang, bahwa bapak itu yang akan menjadi pemateri dan aku nanti disuruh menjelaskan teknis menulis catatan hasil pematerian.

Singkat cerita, acara dimulai di aula lantai dua. Putra-putri. Aku memberikan penjelasan singkat soal catatan pematerian itu. Lalu Pak Mudzakkir menjelaskan siapa aku dan tugasku. Aku dipercaya oleh beliau untuk mengoreksi tulisan para siswa-siswi tersebut. Nanti akan dinilai sepuluh besar dari keseluruhan tulisan yang terkumpul itu.

Bapak-bapak yang menjadi pemateri itu adalah Pak Syaiful Bahri, ketua komandan koramil Kotaanyar. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Ust. Udin. Pada Ust. Udin, aku bilang bahwa aku yang akan menulis berita acara ini. Beliau mengiyakan dengan penuh antusias.

Di tengah-tengah acara berlangsung, aku mulai menulis berita. Sesaat setelah acara selesai, berita selesai. Langsung ku kirim pada Mas Agus. Admin media jatimberitabaru.co yang sangat ramah sekali. Meski tidak pernah tatap muka dan bertemu langsung, hanya kenal lewat WA saja, ia tampak sangat humble sekali. Berulang-ulang kali ia selalu bilang mas padaku. Padahal secara usia dan pengalaman, tentu saja aku kalah.

Selesai dikirim, dikoreksi dan langsung dimuat, aku share link berita tersebut pada guru-guru MTs dan ku jadikan story WA. Dari sekian kontak guru madrasah yang ku kirimi linknya, Pak Sholah adalah satu diantara orang tersebut. Ia adalah kepala MTs.

Kata Pak Sholah saat aku kirimi link berita acara wawasan kebangsaan tersebut, beliau langung membalas (via WA) begini, “biar saya upload ust”.

Awalnya aku bingung. Apanya yang mau di upload. Aku hanya ‘read’ saja pesan Pak Sholah tanpa membalas apapun. Sejurus kemudian, Pak Sholah mendatangiku dan bilang, “link berita tersebut agar jangan di kirim ke siapapun, termasuk pada guru-guru disini. Ada yang perlu diubah dan diperbaiki. Agar koordinasinya itu sesuai karena ada yang harus diperbaiki”.

Aku dalam hati muncul keganjalan, “ngapain share berita harus ada koordinasi dari atasan ke bawahan ?. Bukankah berita menyebar bukan hanya dari dikirim link saja, bisa saja ia tau sendiri ke website tertentu terkait acara tertentu pula ?. Apalagi ada yang mau diperbaiki berita tersebut. Apa yang mau diperbaiki ? Apakah bapak bisa mengubahnya bila bapak tidak kenal pada pemred atau redaksi media tersebut ?”

Hah. Entahlah~

Aku hanya menerima keadaan. setelah mendapat instruksi seperti itu, aku langsung hapus beberapa chat yang telah ku kirim ke beberapa guru. Diantaranya adalah Pak Zen TU, Bu Aiysah, Ust. Udin dan Pak Mudzakkir. Sedangkan untuk status WA, (link tersebut ku jadikan story WA) tidak ku hapus.

Kan instruksi kepala menghapus pesan atau tidak menyebarkan link berita pada guru-guru. bukan menghapus di status.

Setelah kejadian itu, kegiatan dan aktivitas berjalan sebagaimana mestinya. Hingga waku berlalu dan setelah kegiatan sholat maghrib berjam’ah plus paket dzikirannya, kegiatan biasanya diisi dengan pembinaan al-Qur’an. Tapi saat itu tidak.

Tiba-tiba Ust. Udin saat itu menginstruksikan pada para santri untuk membentuk lingkaran. Ia memegang al-Qur’an yang biasa dipakai untuk khataman al-Qur’an. Ternyata benar dugaanku (dalam hati). Ada khataman al-Qur’an. Sedangkan yang memimpin tawassul ada Gus Hadi.

Setelah 30 juz itu dibagi pada para santri dan juga asatidz, mereka semua lalu membaca al-Qur’an sesuai bagian/juz yang mereka pegang. Di tengah-tengah khataman itu, Pak Sholah datang. Malam itu. Aku dipanggil dan kami ngobrol soal berita itu.

Duh. Ternyata belum selesai~

Sekali lagi, Pak Sholah mewanti-wanti agar berita itu tidak di share ke siapapun. Kalau ditanya Pak Mudzakkir, bilang saja belum sempat buat. Setelah menyimak penjelasan Pak Sholah, ia tampak keberatan dengan beberapa kalimat yang ku tulis.

Semisal aku menulis bahwa, “seharusnya pelajaran PPKN ini kalian di bawa ke gedung DPR agar kalian tau apa isinya dan apa pekerjaan orang-orang di dalamnya. Bukan hanya materi yang mengawang-ngawang saja,”. Aku tulis itu sesuai fakta di lapangan yang ku dengar langsung dari Pak Mudzakkir.

Pak Sholah juga cerita tentang Pak Mudzakkir. Ia mengkritik Pak Mudzakkir dalam beberapa titik. Aku mengiyakan saja. Setelah mendengar semua penjelasan Pak Sholah, akhirnya story WA ku tentang wawasan kebangsaan tersebut, langsung ku hapus.

Dari pengalaman ini, aku males menulis berita untuk MTs Nurur Rahmah. Baru nulis sekali sudah di brondong aturan ini-itu dari kepala. Baiklah kalau begitu~

Setelah Pak Sholah mengundurkan diri, aku melanjutkan khataman. Khataman selesai, semua melaksanakan isya’ berjama’ah. setelah sholat isya’ berjama’ah,Ust. Udin membagikan sekotak geprek ayam sa’i dan segelas tes dingin. Para santri dan asatidz tentu senang sekali karena ada menu makan baru. Gratis lagi.

Kami semua makan dengan senang tentunya. Sekian. Terimakasih.

*Catatan BMs. Selesai menulis tadi malam (Selasa dini hari), pukul 02.30 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar