Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (25) ke dua: Sharing Materi Munakahat Dasar Bareng Jam’yah Sholawat Zulfikar

 




 

Hari ini sudah hari ahad (24/07). Artinya, catatan sekarang ini adalah catatan ke 26. Untuk catatan hari kemarin itu sebetulnya tidak lengkap satu hari full. Ada kisah dan cerita yang belum aku ceritakan. Dan, aku sengaja menulisnya pada catatan ke 26 ini.

Kemarin siang, aku mendapat telfon dari Gus Hadi bahwa acara bersama komunitas pemuda grup hadrah desa itu. Agenda ini sebelumnya pernah dibahas oleh Gus Hadi saat aku dan Topek dipanggil sesaat sebelum istighatsah wali santri dimulai. Pertemuan itu hanya pengenalan saja, bukan penetapan kepastian kapan dan teknis pelaksanaanya. Nah, untuk kemarin siang ini, dapat kabar dari Gus Hadi bahwa nanti malam acaranya jadi.

Pemahamanku sebenarnya dibuat resmi. Ada banner dan kami mengundang Pak Zainuddin Sunarto untuk memberikan materi tentang tata cara pernikahan sesuai syariat dan regulasi yang  berlaku di Indonesia. Dan, salah satu dari kami (BMs) yang jadi moderatornya. Sedangkan Gus Hadi menyangka bahwa kami yang akan jadi pemateri. Sudah siap dan nanti tinggal tampil.

Akhirnya, mau tidak mau kami harus tampil juga. Aku sudah bagi materi tentang munakahat untukku, Anam dan Topek. Topek siang itu ada kerjaan mau pasang gembok di pintu, eh dia lalu tidur. Terus Anam ngajar diniyah siang dan sore hari. Anam sempat mengeluh karena belum belajar dan persiapan materi sama sekali. Sedangkan Topek, angkat tangan aku.

Sore hari aku sempatkan keluar. Pusing gara-gara kepikiran buat acara nanti malam karena dadakan dan belum siap sama sekali. Mau ngomong apa. Aku keluar ke toko sebelah pondok. Duduk-duduk di tempat duduk di depan toko sambil dengarkan Gus Baha’ ceramah tentang pernikahan.

Setelah dianggap cukup, aku langsung menuju kamar. Sesampai di kamar, Topek memberi tahu bahwa ia barusan dipanggil oleh Gus Hadi bahwa nanti malam yang tampil itu hanya satu orang. Mereka, Anam dan Topek langsung pasrah kepadaku. Baiklah. Aku terima saja. Meski kepikiran dan lain sebagainya, semua ini harus dilewati. Memaksimalkan yang ada.

Ba’da isya’, belum selesai dzikiran, kami sudah disuruh berangkat oleh Gus Hadi. Bawa dua sepeda motor. Hiday, salah satu santri yang tau tempat diadakannya acara itu, disuruh ikut oleh Gus Hadi. Sebagai penunjuk jalan.

Sampai di sana, majelis sholawat itu sudah mulai. Kami telat. Kami langsung disambut dan diarahkan duduk di tengah-tengah jama’ah. Di tembok sebelah selatan, ada sebuah kain yang berukuran tidak terlalu besar bertuliskan, “jam’iyah sholawat dzulfikar”.

Sebelum berangkat, aku sudah chat kepada Ust. Ririn. Aku mendapat kontak nomer tersebut dari Gus Hadi. Aku disuruh menghubungi Ust. Ririn untuk persiapan acara malam itu. Aku tanya bagaimana teknis acaranya nanti malam, beliau menjawab kami dipersilahkan bicara / pematerian setelah qiyam dan sebelum do’a dengan durasi 30 menit.

Tapi ketika di lapangan, tidak seperti. Kami atau tepatnya aku dipersilahkan bicara setelah do’a. Akhirnya aku bicara soal munakahat. Salah satu bidang yang Ma’had Aly Nurul Jadid memilih jurus konsentrasi kajiannya. Tak lupa pula, sebelum itu aku perkenalan terkait Ma’had Aly Nurul Jadid dan program BMs yang kami laksanakan.

Setelah ngomongin materi-materi dasar munakahat itu, aku menyelipkan kisah beberapa ulama yang memilih hidupnya menjomblo seperti Imam Nawawi dan kisahnya Ibnu Sina yang berhasil menyembuhkan orang dengan cara menyuruhnya menikah.

Pematerian selesai. Ustadz Ririn tanya padaku, “sudah ?”. Aku jawab, “sudah”.

Setelah selesai, agenda selanjutnya adalah sholawatan hadrah. Para vokalis dan penabuh pun bergerak memainkan peran. Sambil lalu, piring demi piring yang berisi gedang goreng dari dalam rumah keluar. Begitupula dengan nampan-nampan teh.

Di tengah ramenya suaranya sholawatan itu, aku sempatkan untuk bincang tipis-tipis dengan orang di sebelahku. Ada dua orang yang aku ajak bicara. Orang yang pertama aku tidak kenal. Aku bilang padanya keinginan teman-teman ingin foto bersama di sesi akhir acara nanti.

Sedangkan orang ke dua adalah Ustadz Bilqis. Nama aslinya aku lupa. Hanya saja ia menyebutkan bahwa ia biasa dipanggil dengan nama anaknya yang bernama Bilqis. Jadi ia biasa dipanggil Ustadz Bilqis.

Bicara kesana-kesini, akhirnya kami menemukan topik yang menarik, yakni tentang jamiyah sholawat zulfikar. Jam'iyah sholawat ini adalah wadah perkumpulan pemuda di desa Sambirampak Kidul.

Komunitas pemuda ini sudah berjalan selama empat tahun. Penggagas komunitas ini adalah Ustadz Ririn dan Ustadz Balqis. Komunitas ini dibentuk untuk mengkader para pemuda agar tidak terkejut berbagai hal yang ada di masyarakat dan bagaimana cara menyikapinya.

Ustadz Bilqis mencontohkan, misalnya ada orang yang sedang berduka dengan adanya kematian. Para pemuda ini langsung bergerak mencarikan kayu dan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk tajhiz al-mayyit (merawat mayit). Intinya membantu dan meringankan kebutuhan masyarakat.

Ustadz Bilqis juga menjelaskan bahwa lampu-lampu di sepanjang jalan (dekat persawahan) ini adalah hasil dari perkumpulan para pemuda ini. Mereka cari dana melalui jalur proposal. Cari sumbangan dana ke mana-mana. Lalu dana hasil cari uang dari proposal itu dikelola oleh Ustadz Bilqis di usaha mebel.

Nanti hasil usaha di mebel tersebut dialokasikan untuk komunitas tersebut. Hingga punya uang cukup, akhirnya Ustadz Bilqis beli peralatan sound system. Beli peralatan hadrah dan lain sebagainya. Termasuk  juga peralatan youtube. Di masing-masing bagian, ada yang bertugas dan bertanggung jawab. Bagian sound sendiri, bagian hadrah sendiri dan bagian media itu ada sendiri.

Saat itu, aku cek “jam’iyah sholawat zulfikar” di google, lalu muncul sebuah nama chanel di youtube. Aku buka lagi dan ternyata akun tersebut sudah memiliki lima ribu lebih subscriber. Kata Pak Bilqis, “saya ini ada kegiatan seperti ini sudah senang sekali. Karena jam’iyah ini berdiri sendiri. Mandiri. Bukan dibawah pemerintah desa dan lain sebagainya,” katanya kepadaku.

Aku salut pada perjuangan dan kegigihan para perintis komunitas ini. Aku menyampaikan pada beliau, “enak pak kalau ada temannya (untuk berjuang). Yang repot dan susah itu kalau sendirian,” jawabku pada beliau.

Salut untuk komunitas ini. Ganbatte~

 

 

*Catatan hari ke dua untuk hari sabtu, 23 Juli 2022. Selesai nulis hari ini juga. Pukul 20.20 WIB.


Posting Komentar

0 Komentar