Hari ini sudah hari
ahad (24/07). Artinya, catatan sekarang ini adalah catatan ke 26. Untuk catatan
hari kemarin itu sebetulnya tidak lengkap satu hari full. Ada kisah dan cerita
yang belum aku ceritakan. Dan, aku sengaja menulisnya pada catatan ke 26 ini.
Kemarin siang, aku
mendapat telfon dari Gus Hadi bahwa acara bersama komunitas pemuda grup hadrah
desa itu. Agenda ini sebelumnya pernah dibahas oleh Gus Hadi saat aku dan Topek
dipanggil sesaat sebelum istighatsah wali santri dimulai. Pertemuan itu hanya
pengenalan saja, bukan penetapan kepastian kapan dan teknis pelaksanaanya. Nah,
untuk kemarin siang ini, dapat kabar dari Gus Hadi bahwa nanti malam acaranya
jadi.
Pemahamanku
sebenarnya dibuat resmi. Ada banner dan kami mengundang Pak Zainuddin Sunarto untuk
memberikan materi tentang tata cara pernikahan sesuai syariat dan regulasi
yang berlaku di Indonesia. Dan, salah
satu dari kami (BMs) yang jadi moderatornya. Sedangkan Gus Hadi menyangka bahwa
kami yang akan jadi pemateri. Sudah siap dan nanti tinggal tampil.
Akhirnya, mau tidak
mau kami harus tampil juga. Aku sudah bagi materi tentang munakahat untukku,
Anam dan Topek. Topek siang itu ada kerjaan mau pasang gembok di pintu, eh dia lalu
tidur. Terus Anam ngajar diniyah siang dan sore hari. Anam sempat mengeluh
karena belum belajar dan persiapan materi sama sekali. Sedangkan Topek, angkat
tangan aku.
Sore hari aku
sempatkan keluar. Pusing gara-gara kepikiran buat acara nanti malam karena
dadakan dan belum siap sama sekali. Mau ngomong apa. Aku keluar ke toko sebelah
pondok. Duduk-duduk di tempat duduk di depan toko sambil dengarkan Gus Baha’
ceramah tentang pernikahan.
Setelah dianggap
cukup, aku langsung menuju kamar. Sesampai di kamar, Topek memberi tahu bahwa
ia barusan dipanggil oleh Gus Hadi bahwa nanti malam yang tampil itu hanya satu
orang. Mereka, Anam dan Topek langsung pasrah kepadaku. Baiklah. Aku terima
saja. Meski kepikiran dan lain sebagainya, semua ini harus dilewati.
Memaksimalkan yang ada.
Ba’da isya’, belum
selesai dzikiran, kami sudah disuruh berangkat oleh Gus Hadi. Bawa dua sepeda
motor. Hiday, salah satu santri yang tau tempat diadakannya acara itu, disuruh
ikut oleh Gus Hadi. Sebagai penunjuk jalan.
Sampai di sana,
majelis sholawat itu sudah mulai. Kami telat. Kami langsung disambut dan
diarahkan duduk di tengah-tengah jama’ah. Di tembok sebelah selatan, ada sebuah
kain yang berukuran tidak terlalu besar bertuliskan, “jam’iyah sholawat
dzulfikar”.
Sebelum berangkat,
aku sudah chat kepada Ust. Ririn. Aku mendapat kontak nomer tersebut dari Gus
Hadi. Aku disuruh menghubungi Ust. Ririn untuk persiapan acara malam itu. Aku
tanya bagaimana teknis acaranya nanti malam, beliau menjawab kami dipersilahkan
bicara / pematerian setelah qiyam dan sebelum do’a dengan durasi 30 menit.
Tapi ketika di
lapangan, tidak seperti. Kami atau tepatnya aku dipersilahkan bicara setelah
do’a. Akhirnya aku bicara soal munakahat. Salah satu bidang yang Ma’had Aly
Nurul Jadid memilih jurus konsentrasi kajiannya. Tak lupa pula, sebelum itu aku
perkenalan terkait Ma’had Aly Nurul Jadid dan program BMs yang kami laksanakan.
Setelah ngomongin
materi-materi dasar munakahat itu, aku menyelipkan kisah beberapa ulama yang
memilih hidupnya menjomblo seperti Imam Nawawi dan kisahnya Ibnu Sina yang
berhasil menyembuhkan orang dengan cara menyuruhnya menikah.
Pematerian selesai.
Ustadz Ririn tanya padaku, “sudah ?”. Aku jawab, “sudah”.
Setelah selesai,
agenda selanjutnya adalah sholawatan hadrah. Para vokalis dan penabuh pun
bergerak memainkan peran. Sambil lalu, piring demi piring yang berisi gedang
goreng dari dalam rumah keluar. Begitupula dengan nampan-nampan teh.
Di tengah ramenya
suaranya sholawatan itu, aku sempatkan untuk bincang tipis-tipis dengan orang
di sebelahku. Ada dua orang yang aku ajak bicara. Orang yang pertama aku tidak
kenal. Aku bilang padanya keinginan teman-teman ingin foto bersama di sesi
akhir acara nanti.
Sedangkan orang ke
dua adalah Ustadz Bilqis. Nama aslinya aku lupa. Hanya saja ia menyebutkan
bahwa ia biasa dipanggil dengan nama anaknya yang bernama Bilqis. Jadi ia biasa
dipanggil Ustadz Bilqis.
Bicara
kesana-kesini, akhirnya kami menemukan topik yang menarik, yakni tentang
jamiyah sholawat zulfikar. Jam'iyah sholawat ini adalah wadah perkumpulan
pemuda di desa Sambirampak Kidul.
Komunitas pemuda ini
sudah berjalan selama empat tahun. Penggagas komunitas ini adalah Ustadz Ririn
dan Ustadz Balqis. Komunitas ini dibentuk untuk mengkader para pemuda agar
tidak terkejut berbagai hal yang ada di masyarakat dan bagaimana cara
menyikapinya.
Ustadz Bilqis mencontohkan,
misalnya ada orang yang sedang berduka dengan adanya kematian. Para pemuda ini
langsung bergerak mencarikan kayu dan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk
tajhiz al-mayyit (merawat mayit). Intinya membantu dan meringankan
kebutuhan masyarakat.
Ustadz Bilqis juga
menjelaskan bahwa lampu-lampu di sepanjang jalan (dekat persawahan) ini adalah hasil
dari perkumpulan para pemuda ini. Mereka cari dana melalui jalur proposal. Cari
sumbangan dana ke mana-mana. Lalu dana hasil cari uang dari proposal itu
dikelola oleh Ustadz Bilqis di usaha mebel.
Nanti hasil usaha
di mebel tersebut dialokasikan untuk komunitas tersebut. Hingga punya uang
cukup, akhirnya Ustadz Bilqis beli peralatan sound system. Beli peralatan
hadrah dan lain sebagainya. Termasuk
juga peralatan youtube. Di masing-masing bagian, ada yang bertugas dan
bertanggung jawab. Bagian sound sendiri, bagian hadrah sendiri dan bagian media
itu ada sendiri.
Saat itu, aku cek
“jam’iyah sholawat zulfikar” di google, lalu muncul sebuah nama chanel di
youtube. Aku buka lagi dan ternyata akun tersebut sudah memiliki lima ribu
lebih subscriber. Kata Pak Bilqis, “saya ini ada kegiatan seperti ini sudah
senang sekali. Karena jam’iyah ini berdiri sendiri. Mandiri. Bukan dibawah
pemerintah desa dan lain sebagainya,” katanya kepadaku.
Aku salut pada
perjuangan dan kegigihan para perintis komunitas ini. Aku menyampaikan pada
beliau, “enak pak kalau ada temannya (untuk berjuang). Yang repot dan susah itu
kalau sendirian,” jawabku pada beliau.
Salut untuk
komunitas ini. Ganbatte~
*Catatan hari ke
dua untuk hari sabtu, 23 Juli 2022. Selesai nulis hari ini juga. Pukul 20.20
WIB.

0 Komentar