Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (19): Dari Sholat Tahajud Yang Molor Hingga Bertemu Pak Mudzakkir

 



Catatan BMs hari ke sembilan belas ini, cukup berbeda. Aku bertemu dengan Pak Mudzakkir. Aktivis pertanian dan agraria. Ia adalah salah satu warga desa yang kerap ikut berdemonstrasi, membela hak-hak rakyat bahkan cukup akrab dengan Ra Fayyadl.

Sebelum  cerita soal itu, aku ingin menulis apa saja yang ku alami sejak awal hari tadi. Yang paling awal adalah tentang sholat tahajud. Ya Allah, tadi telambes semua. Tidur semua. Telat yang mau bangunin sholat tahajud. Biasanya jam tiga sudah bangunkan para santri, tapi tadi aku bangun jam 04.04 WIB. Ku kira para santri di sini sudah tahajud dan lain sebagainya. Ternyata musholla masih gelap. Para santri belum bangun.

Aku bergegas. Para ustadz disini tidur semua. Aku langsung menuju kamar pengurus. Bangunkan mereka. Musholla sudah bunyi bel yang berasal dari dhalem. Aku cari Ustad Taufiq. Biasanya ia rutin bangunkan para santri dari pada ustadz yang lain. Aku cari-cari, lalu ketemu. Ia baru turun dari lantai dua gedung ini. Ia tidur diatas.

Aku langsung menghidupkan lampu musholla. Membunyikan bel yang berfungsi untuk membangunkan para santri. Ustadz Taufiq sudah berlari menuju ke kamar santri di lantai satu. Aku bergegas menuju ke sana. Melihat sebagian besar santri di kamar itu bangun, aku langsung menuju ke lantai dua. Aku bangunin semua. Ustadz Taufiq datang, genap semua para santri langsung bangun.

Untungnya mereka cukup gercep (gerak cepat). Mereka langsung ambil wudhu dan sholat tahajud meski tidak berjama’ah. Setidaknya -kata Ustadz Taufiq- nanti kalau epereksani (ditanyai, red) oleh Ning Iin, “ada tahajud atau tidak ?”, para ustadz ini bisa jawab, “sholat tahajud ning”. Meski sholatnya sendiri-sendiri. Heheuy.

Hah. Ini evaluasi. Ini kesalahan di pihak keamanan selaku aku bagian pendampingnya dan bagian ubudiyah yang seharusnya menjaga kegiatannya tidak molor dan tepat waktu. Memang kerja sama seharusnya. Di bagian keamanan, jadwal jaga begadang tidak tertata rapai. Belum ada jadwal tetap. Sedangkan di pihak ubudiyah, ya jangan mengandalkan keamanan dung karena tidak dibangunin. Heheuy.

Tadi pagi, tak ada KBM safinah karena khusus hari sabtu dan ahad, jadwalnya adalah para santri  mengaji kitab (maknai, red) ke Gus Hadi. Duh, aku lupa kitabnya. Aku dari tadi kepikiran gara-gara sholat tahajud molor pertama kali di sejak kami disini. Bukan hanya sejak peserta BMs disini, tapi sejak ada guru tugas dari Sidogiri itu disini, kejadian ini pertama kalinya. Pagi itu, aku tertidur. Saat para santri ngaji kitab ke Gus Hadi.

Belum lagi kata Ustadz Taufiq yang mengingatkan pesan dari Ning Iin yang bahasa Indonesianya begini, “saya takut ustadz, kalau semua yang ada di sini ketiduran semua. Jadi tidak ada tahajud”. Duh, duh. Aku tidak ingin, dengan adanya peserta BMs ini, malah merusak kegiatan dan sistem yang ada disini. Apalagi melihat salah satu dari lima kami, yang sering tidak mengikuti kegiatan, duh rasanya teriris hati ini.

Bosan rasanya tadi pagi. Aku sempatkan nonton sebuah video di chanel Santri Sarjana milik salah satu pengurus di Nurul Jadid. Ku mendengarnya sambil tidur-tiduran, akhirnya tidur beneran. Aku bangun jam sembilan lewat. Ah, aku tidah sholat dhuha berjama’ah.

Kata Ustadz Taufiq -klarifikasi agar tidak paham-, tadi para santri selesai ngaji kitab jam enam lewat tujuh belas (seingatku begitu).  Lalu langsung jama’ah sholat dhuha dan yang jadi imam itu Ust. Muhib. Agar waktu piket dan persiapan sekolah para santri tidak terpotong banyak oleh menunggu imam sholat dhuha yang lama, jadi akhirnya langsung sholat dah dan aku tidak dibangunkan.

Tadi aku merasa bosan. Chat Roni. Video call sebentar. Juga tadi ada pesan dari WA Ra Syukron. Ael kirim pesan suara dan sempat nelfon ketika aku off. Ketika Online, Ael nelfon lagi tapi tak terjawab. Akhirnya ku video call dia. Kami guyonan sebentar juga disambung Topek yang menyapa nya.

Tadi pagi, saat-saat itu juga, Kiai Hafidz ke sini. Beliau mendatangiku untuk menyelesaikan proses revisi aurod santri. Aku ambil laptop dan jadilah kami mengedit beberapa teks yang salah itu. Selebihnnya, kegiatan berjalan sebagaimana biasanya.

Karena hari ini adalah hari ahad yang mana jadwalku mengajar di daerah An-Nur, tadi aku ngajar kesana lagi. Dua jam full tanpa istirahat. Capek juga duduk-duduk dan cerita-cerita. Duh, sangat kalah dengan daya tahan para kiai-kiai/santri-santri di pondok salaf yang tahan lama duduk berjam-jam berteman dengan kitab.

Di sela-sela ngajar itu, aku tanya siapa tetangga yang namanya yang aktif di bidang pertanian dan pertanahan. Mereka langsung bilang nama Pak Mudzkkir. Kata mereka, kalau ada orang yang pakai kacamata itu dia orangnya. Aku tau bahwa ada orang yang aktif di bagian pertanian dan agraria ini dari kakak kelasku, yakni Mas Deny.

Sehari setelah tiba di pesantren ini, kami diajak main-main oleh Mas Deny ke rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dengan Riyadlus Sholihin ini. Hanya beberapa langkah saja, kami sudah sampai. Waktu itu, Mas Deny bilang disini ada orang yang dekat dengan Ra Fayyadl. Sering ikut Ra Fayyadl. Biasa membahas isu-isu pertanian dan agraria.

Akhirnya, ku tertarik membuat kegiatan PKM tentang pertanian. Ingin bekerja sama dengan Pak Mudzakkir. Setelah ngajar, jadi langsung aku menuju rumah beliau. Beliau sedang dzikiran ba’da sholat. Aku memulai dengan uluk salam. Beliau hanya menjawab salamku dan tidak keluar. Lha, beliau sedang dzikiran. Jadi tempat sholatnya ada di ruang tamu.

Aku coba mendekat ke pintu. Melihat ada orang berkacamata itu, aku langsung salaman. Memperkenalkan diri bahwa aku adalah santri tugasan dari Nurul Jadid. Ku perjelas lagi, dari Ma’had Aly Nurul Jadid. Supaya tau bahwa mudirku itu Ra Fayyadl.

Setelah itu aku disambut agak berbeda. “Monggo, monggo. Duduk dulu”, kurang lebih begitu.

Beliau langsung menyelesaikan dzikirannya dan berdo’a. Lalu bilang, “santrinya Ra Fayyadl ya”. ah, tepat sudah. Ini dia Pak Mudzakkir.

Di ruang tamu itu, ada sebuah bingkai yang berisi gambr tentang aktivis demonstrasi menolak orde baru. Kata beliau, setelah bincang-bincang hangat selang beberapa waktu, bingkai itu merupakan pemberian Ra Fayyadl.

Pembicaraan dengan Pak Mudzakkir seperti berbicara yang berisi mutiara. Berharga semua. Tak henti-hentinya aku dibuat kagum oleh orang desa, berperawakan biasa saja, tapi ilmu dan pengalamannya tak perlu diragukan.

Aku sampai bingung bagaimana mendiskripsikan pertemuan indah senja tadi. Ada anak muda yang masih belajar seperti ini, bertemu dengan orang tua yang semangatnya lebih muda dariku.

Setelah sedikit basa-basi sebagai pengenalan, ku utarakan maksudku untuk mengadakan kegiatan kemasyarakatan tentang petani. Aku usul: mengadakan sebuah acara bertani yang sesuai syariah. Praktik bercocok tanam, mengelola, menjual hingga memanfaatkan kembali hasil pertanian itu sesuai dengan fikih dan batasan syariat.

Lalu, bagaimana dengan pandangan Pak Mudzakkir ?

Beliau tidak langsung menjawab pertanyaanku, tapi “tahqiqul mas’alah” / memperjelas permasalahan dari PKM, usulanku dan lain sebagainya. Hingga beliau menjawab seperti ini, “Apa Peran Pesantren Terhadap Dunia Pertanian ?”

Pak Mudzakkir akhirnya ngobrol ke mana-mana soal pertanian, relita di masyarakat dan mempertanyakan pesantren-pesantren daerah sekitar ini akan tantangan dunia pertanian. Beliau mengkritik para kiai dan pengelola lembaga pendidikan yang hanya fokus ngajari santri belajar baca kitab kuning saja, sedangkan permasalahan nyata dan problematika di luar pesantren tidak bisa terjawab dengan keberadaan mereka.

Padahal, pesantren sejak dulu-dulunya adalah tempat curhat dan mengadunya para masyarakat. Apabila ada tanaman dan kebunnya terkena musibah/bencana, maka para kiai memberikan amalan, azimat hingga solusi lainnya.

Sambil lalu cerita putranya yang merupakan alumni Nurul Jadid dan sekarang membangun karir di sebuah perusahaan internasional di Surabaya, beliau juga cerita bahwa saat ini putrinya mondok di Nurul Jadid di SMA. Saat ini pulang gara-gara sakit.

Pak Mudzakkir cerita, kalau visi Kiai Zaini itu betul. Nurul Jadid tidak hanya mencetak kiai saja. Ini menujukkan beliau bisa membaca zaman. Sebanyak-banyak santri itu tidak akan jadi kiai semua.

Soal kitab kuning dan pelajaran agama itu wajib dan penting. Itu semua adalah pengetahuan. Tapi soal rezeki dan prestasi, setiap orang tentu berbeda-beda. Jadi tak heran kalau alumni Nurul Jadid mengisi banyak kursi di banyak lembaga kepemerintahan dan bidang-bidang strategis lainnya. Bahkan, pendidikan salaf yang fokus kitab kuning, tak menjamin santr-santrinya jadi kiai.

Pak Mudzakkir juga cerita tentang kedekatan beliau dengan Ra Fayyadl. Beliau pernah ditelfon jam sebelas malam untuk ke dhalem Ra Fayyadl. Disana kumpul dengan masyarakat. Ra Fayyadl adalah sosok egaliter dan saat duduk bersama masyarakat, seolah tidak ada sekat diantara mereka. Mereka duduk sama rata. Fair, terbuka dan apa adanya.

Pak Mudzakkir juga biasa diskusi dengan Ra Fayyadl. Diskusi sampai jam tiga itu sudah biasa. Pak Mudzakkir bilang, bahwa ia merasa cocok dan klop dengan Ra Fayyadl. Ra Fayyadl itu kalau menjelaskan itu sangat detail sekali. Dan, yang tak kalah menarik keduanya biasa melaksanakan aksi demontrasi bersama.

Pak Mudzakkir juga cerita bahwa beliau ikut komunitas Aspek-Pro atau Aliansi Petani Kabupaten Probolinggo. Dan beliau ini adalah ketuanya. Beliau juga ikut komunitas petani yang kantor pusatnya ada di Jakarta. Aku lupa namanya.

Nah, suatu ketika, ada undangan dari sebuah organisasi yang fokus di bidang pertanian negara-negara Asean, mengundang delegasi dari Indonesia untuk sharing soal dunia pertanian di negara-negara Asia. Pak Mudzakkir salah satu delegasi itu.

Dalam beberapa tahun itu, Pak Mudzakkir pernah ‘jalan-jalan’ ke Korea, Singapura, Thailand dan beberapa negara lainnya untuk melihat perkembangan dunia pertanian di negara-negara itu. Tujuannya jelas: Pak Mudzakkir punya ilmu dan bandingan realita-lapangan pertanian di Indonesia dan juga yang ada di negara-negara Asia Tenggara sehingga dapat memberika perubahan lebih di dunia pertanian di Indonesia.

Petani-petani di sekitar sini masih konvensional, mereka tidak modern. Kalau begini terus, mereka akan mudah terombang-ambing. Gudang garam akan mematikan petani-petani kecil, karena para perusahaan kapitalis seperti gudang garam selalau mempermainkan harga hasil pertanian mereka. Misal pihak gudang garam menentukan harga tembakau sekilo tiga ribu, maka terpaksa para petani di sini harus mau juga. Karena mereka tidak bisa mencari pasar.

Begitupula praktik culas dan menyalahi syariat di sekitar sini. Kalau aku tahu ngeri jadinya.

Pesan Pak Mudzakkir, kalau mau mengadakan kegiatan kemasyarakatan, “pinginnya saya itu membahas tentang ‘peran pesantren dalam dunia pertanian’”. Kritik saya -kata beliau lagi- pada pesantren (disekitar sini) itu, seharusnya para santri diajari cara bertani. Padi umur sekian itu bagaimana ? kalau padinya seperti ini itu berarti umur berapa ?

Jadi tidak hanya belajar kitab saja. Persoalan dan keilmuan harus banyak keluar. Tidak bisa mengandalkan ilmu dari kelembagaan saja.

Saat ini, Pak Mudzakkir aktif mengajar menjadi guru di tsanawiyah. Beliau sempat cerita bahwa, dulu ia mengajar di Madrasah Aliyah, tapi dipecat gara-gara mengajak para muridnya untuk ikut berdomenstrasi. Tentunya, demo menyuarakan suara dan pendapat membela rakyat lemah.

Setelah itu, Pak Mudzakkir lalu dipecat dan dijadikan guru di tsanawiyah. Pak Mudzakkir bilang, ia ingin mengajarkan pada muridnya tentang kebebasan berpendapat sebagaimana tertuang dalam sebuah pasal (yang saat itu beliau menyebutkan pasal tertentu dan aku lupa).

Pak Mudzakkir juga sedikit cerita perjuangan masyayikh Nurul Jadid membela petani. Diantaranya adalah Kiai Zaini yang membela para petani dalam sebuah pengadilan yang kemudian membuat beliau di penjara. Juga ada cerita Kiai Wahid yang aku tidak terlalu paham saat beliau menyebutkan episode ini.

Kata Pak Mudzakkir, seandainya para petani di sini kompak, membuat koperasi mandirri sehingga memiliki daya tawar sendiri dalam menentukan harga hasil pertanian mereka, para perusahaan kapitalis akan kalah. Para petani kita tidak akan dijajah oleh kebodohan.

Selama ini kan, praktik di lapangan, para petani kita dijajah oleh kebodohan. Yang tahu menjajah yang bodoh. Misal warga membeli 1 bal tembakau kepada pihak feodalis (pemilik modal dan tembakau), tapi dikurangi takarannya sebanyak 4-5 Kg. Kemudian kalikan bila orang-orang itu tidak hanya membeli satu bal saja.

Di sela-sela cerita itu, Pak Mudzakkir tak henti-hentinya mengkritik pemerintah dan pemangku kebijakan di Indonesia. Baik di pusat maupun di tingkat kabupaten. Mereka setengah hati pada petani.

Aku coba memberanikan diri bertanya, lalu yang menjadi masalah itu apa pak? Apakah ide keberpihakan kepada petani belum sampai pada pemerintah atau memang dari pihak pemerintah sudah tahu ide ini tapi tetap tidak merealisasikannya ?

Kata beliau, pemerintah ini setengah hati pada rakyat. Hal ini bisa dilihat dari anggaran belanja negara untuk pertanian. Realita ini berbeda dengan negara-negara maju, seperti Korea dan Amerika yang sangat memperhatikan petani. Karena berkat para petanilah, sehar-hari kita dapat makan nasi. Bagi mereka, petani adalah pahlawan negeri.

Oleh karena itu, kita perlu mengubah mindset para petani agar lebih modern dan bisa kompak. Agar para petani tidak kalah terus pada kaum feodal (pemilik modal). Karena para pemilik modalnya tidak berpihak pada rakyat, maka para petani harus kompak.

“Oh, saya jadi orang kaya yang berpihak pada petani saja pak”, cetusku main-main. Hahaha.

Beliau menanggapi serius. “loh, iya. Tidak papa. Kata Kia Abdul Haq, “Santri NJ itu harus 3: sakteh, soghi ben alem (sakti, kaya dan alim)”.

 

*Catatan BMs hari ke 19. Catatan yang cukup panjang. Selesai ditulis pada hari Senin, 18 Juli 2022 pukul 01:14 WIB.

 

Posting Komentar

0 Komentar