Catatan BMs hari ke
sembilan belas ini, cukup berbeda. Aku bertemu dengan Pak Mudzakkir. Aktivis
pertanian dan agraria. Ia adalah salah satu warga desa yang kerap ikut
berdemonstrasi, membela hak-hak rakyat bahkan cukup akrab dengan Ra Fayyadl.
Sebelum cerita soal itu, aku ingin menulis apa saja
yang ku alami sejak awal hari tadi. Yang paling awal adalah tentang sholat
tahajud. Ya Allah, tadi telambes semua. Tidur semua. Telat yang mau
bangunin sholat tahajud. Biasanya jam tiga sudah bangunkan para santri, tapi
tadi aku bangun jam 04.04 WIB. Ku kira para santri di sini sudah tahajud dan
lain sebagainya. Ternyata musholla masih gelap. Para santri belum bangun.
Aku bergegas. Para
ustadz disini tidur semua. Aku langsung menuju kamar pengurus. Bangunkan
mereka. Musholla sudah bunyi bel yang berasal dari dhalem. Aku cari
Ustad Taufiq. Biasanya ia rutin bangunkan para santri dari pada ustadz yang
lain. Aku cari-cari, lalu ketemu. Ia baru turun dari lantai dua gedung ini. Ia
tidur diatas.
Aku langsung
menghidupkan lampu musholla. Membunyikan bel yang berfungsi untuk membangunkan
para santri. Ustadz Taufiq sudah berlari menuju ke kamar santri di lantai satu.
Aku bergegas menuju ke sana. Melihat sebagian besar santri di kamar itu bangun,
aku langsung menuju ke lantai dua. Aku bangunin semua. Ustadz Taufiq datang,
genap semua para santri langsung bangun.
Untungnya mereka
cukup gercep (gerak cepat). Mereka langsung ambil wudhu dan sholat tahajud
meski tidak berjama’ah. Setidaknya -kata Ustadz Taufiq- nanti kalau epereksani
(ditanyai, red) oleh Ning Iin, “ada tahajud atau tidak ?”, para ustadz ini
bisa jawab, “sholat tahajud ning”. Meski sholatnya sendiri-sendiri. Heheuy.
Hah. Ini evaluasi.
Ini kesalahan di pihak keamanan selaku aku bagian pendampingnya dan bagian
ubudiyah yang seharusnya menjaga kegiatannya tidak molor dan tepat waktu.
Memang kerja sama seharusnya. Di bagian keamanan, jadwal jaga begadang tidak
tertata rapai. Belum ada jadwal tetap. Sedangkan di pihak ubudiyah, ya jangan
mengandalkan keamanan dung karena tidak dibangunin. Heheuy.
Tadi pagi, tak ada
KBM safinah karena khusus hari sabtu dan ahad, jadwalnya adalah para
santri mengaji kitab (maknai, red) ke
Gus Hadi. Duh, aku lupa kitabnya. Aku dari tadi kepikiran gara-gara sholat
tahajud molor pertama kali di sejak kami disini. Bukan hanya sejak peserta BMs
disini, tapi sejak ada guru tugas dari Sidogiri itu disini, kejadian ini
pertama kalinya. Pagi itu, aku tertidur. Saat para santri ngaji kitab ke Gus Hadi.
Belum lagi kata
Ustadz Taufiq yang mengingatkan pesan dari Ning Iin yang bahasa Indonesianya
begini, “saya takut ustadz, kalau semua yang ada di sini ketiduran semua. Jadi
tidak ada tahajud”. Duh, duh. Aku tidak ingin, dengan adanya peserta BMs ini,
malah merusak kegiatan dan sistem yang ada disini. Apalagi melihat salah satu
dari lima kami, yang sering tidak mengikuti kegiatan, duh rasanya
teriris hati ini.
Bosan rasanya tadi
pagi. Aku sempatkan nonton sebuah video di chanel Santri Sarjana milik salah
satu pengurus di Nurul Jadid. Ku mendengarnya sambil tidur-tiduran, akhirnya tidur
beneran. Aku bangun jam sembilan lewat. Ah, aku tidah sholat dhuha berjama’ah.
Kata Ustadz Taufiq
-klarifikasi agar tidak paham-, tadi para santri selesai ngaji kitab jam enam
lewat tujuh belas (seingatku begitu). Lalu langsung jama’ah
sholat dhuha dan yang jadi imam itu Ust. Muhib. Agar waktu piket dan persiapan
sekolah para santri tidak terpotong banyak oleh menunggu imam sholat dhuha yang
lama, jadi akhirnya langsung sholat dah dan aku tidak dibangunkan.
Tadi aku merasa
bosan. Chat Roni. Video call sebentar. Juga tadi ada pesan dari WA Ra Syukron.
Ael kirim pesan suara dan sempat nelfon ketika aku off. Ketika Online, Ael
nelfon lagi tapi tak terjawab. Akhirnya ku video call dia. Kami guyonan
sebentar juga disambung Topek yang menyapa nya.
Tadi pagi,
saat-saat itu juga, Kiai Hafidz ke sini. Beliau mendatangiku untuk menyelesaikan
proses revisi aurod santri. Aku ambil laptop dan jadilah kami mengedit beberapa
teks yang salah itu. Selebihnnya, kegiatan berjalan sebagaimana biasanya.
Karena hari ini
adalah hari ahad yang mana jadwalku mengajar di daerah An-Nur, tadi aku ngajar
kesana lagi. Dua jam full tanpa istirahat. Capek juga duduk-duduk dan
cerita-cerita. Duh, sangat kalah dengan daya tahan para kiai-kiai/santri-santri
di pondok salaf yang tahan lama duduk berjam-jam berteman dengan kitab.
Di sela-sela ngajar
itu, aku tanya siapa tetangga yang namanya yang aktif di bidang pertanian dan
pertanahan. Mereka langsung bilang nama Pak Mudzkkir. Kata mereka, kalau ada orang
yang pakai kacamata itu dia orangnya. Aku tau bahwa ada orang yang aktif di
bagian pertanian dan agraria ini dari kakak kelasku, yakni Mas Deny.
Sehari setelah tiba
di pesantren ini, kami diajak main-main oleh Mas Deny ke rumahnya. Kebetulan rumahnya
dekat dengan Riyadlus Sholihin ini. Hanya beberapa langkah saja, kami sudah
sampai. Waktu itu, Mas Deny bilang disini ada orang yang dekat dengan Ra Fayyadl.
Sering ikut Ra Fayyadl. Biasa membahas isu-isu pertanian dan agraria.
Akhirnya, ku tertarik
membuat kegiatan PKM tentang pertanian. Ingin bekerja sama dengan Pak
Mudzakkir. Setelah ngajar, jadi langsung aku menuju rumah beliau. Beliau sedang
dzikiran ba’da sholat. Aku memulai dengan uluk salam. Beliau hanya menjawab
salamku dan tidak keluar. Lha, beliau sedang dzikiran. Jadi tempat
sholatnya ada di ruang tamu.
Aku coba mendekat
ke pintu. Melihat ada orang berkacamata itu, aku langsung salaman. Memperkenalkan
diri bahwa aku adalah santri tugasan dari Nurul Jadid. Ku perjelas lagi, dari
Ma’had Aly Nurul Jadid. Supaya tau bahwa mudirku itu Ra Fayyadl.
Setelah itu aku
disambut agak berbeda. “Monggo, monggo. Duduk dulu”, kurang lebih begitu.
Beliau langsung
menyelesaikan dzikirannya dan berdo’a. Lalu bilang, “santrinya Ra Fayyadl ya”.
ah, tepat sudah. Ini dia Pak Mudzakkir.
Di ruang tamu itu,
ada sebuah bingkai yang berisi gambr tentang aktivis demonstrasi menolak orde
baru. Kata beliau, setelah bincang-bincang hangat selang beberapa waktu,
bingkai itu merupakan pemberian Ra Fayyadl.
Pembicaraan dengan Pak
Mudzakkir seperti berbicara yang berisi mutiara. Berharga semua. Tak henti-hentinya
aku dibuat kagum oleh orang desa, berperawakan biasa saja, tapi ilmu dan
pengalamannya tak perlu diragukan.
Aku sampai bingung
bagaimana mendiskripsikan pertemuan indah senja tadi. Ada anak muda yang masih
belajar seperti ini, bertemu dengan orang tua yang semangatnya lebih muda
dariku.
Setelah sedikit basa-basi
sebagai pengenalan, ku utarakan maksudku untuk mengadakan kegiatan kemasyarakatan
tentang petani. Aku usul: mengadakan sebuah acara bertani yang sesuai syariah. Praktik
bercocok tanam, mengelola, menjual hingga memanfaatkan kembali hasil pertanian
itu sesuai dengan fikih dan batasan syariat.
Lalu, bagaimana
dengan pandangan Pak Mudzakkir ?
Beliau tidak langsung
menjawab pertanyaanku, tapi “tahqiqul mas’alah” / memperjelas permasalahan dari
PKM, usulanku dan lain sebagainya. Hingga beliau menjawab seperti ini, “Apa
Peran Pesantren Terhadap Dunia Pertanian ?”
Pak Mudzakkir akhirnya
ngobrol ke mana-mana soal pertanian, relita di masyarakat dan mempertanyakan
pesantren-pesantren daerah sekitar ini akan tantangan dunia pertanian. Beliau
mengkritik para kiai dan pengelola lembaga pendidikan yang hanya fokus ngajari
santri belajar baca kitab kuning saja, sedangkan permasalahan nyata dan problematika
di luar pesantren tidak bisa terjawab dengan keberadaan mereka.
Padahal, pesantren
sejak dulu-dulunya adalah tempat curhat dan mengadunya para masyarakat. Apabila
ada tanaman dan kebunnya terkena musibah/bencana, maka para kiai memberikan
amalan, azimat hingga solusi lainnya.
Sambil lalu cerita
putranya yang merupakan alumni Nurul Jadid dan sekarang membangun karir di sebuah
perusahaan internasional di Surabaya, beliau juga cerita bahwa saat ini
putrinya mondok di Nurul Jadid di SMA. Saat ini pulang gara-gara sakit.
Pak Mudzakkir
cerita, kalau visi Kiai Zaini itu betul. Nurul Jadid tidak hanya mencetak kiai
saja. Ini menujukkan beliau bisa membaca zaman. Sebanyak-banyak santri itu
tidak akan jadi kiai semua.
Soal kitab kuning
dan pelajaran agama itu wajib dan penting. Itu semua adalah pengetahuan. Tapi soal
rezeki dan prestasi, setiap orang tentu berbeda-beda. Jadi tak heran kalau
alumni Nurul Jadid mengisi banyak kursi di banyak lembaga kepemerintahan dan
bidang-bidang strategis lainnya. Bahkan, pendidikan salaf yang fokus kitab
kuning, tak menjamin santr-santrinya jadi kiai.
Pak Mudzakkir juga
cerita tentang kedekatan beliau dengan Ra Fayyadl. Beliau pernah ditelfon jam
sebelas malam untuk ke dhalem Ra Fayyadl. Disana kumpul dengan
masyarakat. Ra Fayyadl adalah sosok egaliter dan saat duduk bersama masyarakat,
seolah tidak ada sekat diantara mereka. Mereka duduk sama rata. Fair, terbuka
dan apa adanya.
Pak Mudzakkir juga
biasa diskusi dengan Ra Fayyadl. Diskusi sampai jam tiga itu sudah biasa. Pak
Mudzakkir bilang, bahwa ia merasa cocok dan klop dengan Ra Fayyadl. Ra Fayyadl
itu kalau menjelaskan itu sangat detail sekali. Dan, yang tak kalah menarik keduanya
biasa melaksanakan aksi demontrasi bersama.
Pak Mudzakkir juga
cerita bahwa beliau ikut komunitas Aspek-Pro atau Aliansi Petani Kabupaten
Probolinggo. Dan beliau ini adalah ketuanya. Beliau juga ikut komunitas petani
yang kantor pusatnya ada di Jakarta. Aku lupa namanya.
Nah, suatu ketika,
ada undangan dari sebuah organisasi yang fokus di bidang pertanian negara-negara
Asean, mengundang delegasi dari Indonesia untuk sharing soal dunia pertanian di
negara-negara Asia. Pak Mudzakkir salah satu delegasi itu.
Dalam beberapa
tahun itu, Pak Mudzakkir pernah ‘jalan-jalan’ ke Korea, Singapura, Thailand dan
beberapa negara lainnya untuk melihat perkembangan dunia pertanian di negara-negara
itu. Tujuannya jelas: Pak Mudzakkir punya ilmu dan bandingan realita-lapangan
pertanian di Indonesia dan juga yang ada di negara-negara Asia Tenggara
sehingga dapat memberika perubahan lebih di dunia pertanian di Indonesia.
Petani-petani di
sekitar sini masih konvensional, mereka tidak modern. Kalau begini terus,
mereka akan mudah terombang-ambing. Gudang garam akan mematikan petani-petani
kecil, karena para perusahaan kapitalis seperti gudang garam selalau mempermainkan
harga hasil pertanian mereka. Misal pihak gudang garam menentukan harga
tembakau sekilo tiga ribu, maka terpaksa para petani di sini harus mau juga. Karena
mereka tidak bisa mencari pasar.
Begitupula praktik culas dan menyalahi syariat di sekitar sini. Kalau aku
tahu ngeri jadinya.
Pesan Pak
Mudzakkir, kalau mau mengadakan kegiatan kemasyarakatan, “pinginnya saya itu
membahas tentang ‘peran pesantren dalam dunia pertanian’”. Kritik saya -kata
beliau lagi- pada pesantren (disekitar sini) itu, seharusnya para santri
diajari cara bertani. Padi umur sekian itu bagaimana ? kalau padinya seperti
ini itu berarti umur berapa ?
Jadi tidak hanya
belajar kitab saja. Persoalan dan keilmuan harus banyak keluar. Tidak bisa
mengandalkan ilmu dari kelembagaan saja.
Saat ini, Pak
Mudzakkir aktif mengajar menjadi guru di tsanawiyah. Beliau sempat cerita bahwa,
dulu ia mengajar di Madrasah Aliyah, tapi dipecat gara-gara mengajak para muridnya
untuk ikut berdomenstrasi. Tentunya, demo menyuarakan suara dan pendapat
membela rakyat lemah.
Setelah itu, Pak
Mudzakkir lalu dipecat dan dijadikan guru di tsanawiyah. Pak Mudzakkir bilang,
ia ingin mengajarkan pada muridnya tentang kebebasan berpendapat sebagaimana tertuang
dalam sebuah pasal (yang saat itu beliau menyebutkan pasal tertentu dan aku lupa).
Pak Mudzakkir juga
sedikit cerita perjuangan masyayikh Nurul Jadid membela petani. Diantaranya adalah
Kiai Zaini yang membela para petani dalam sebuah pengadilan yang kemudian
membuat beliau di penjara. Juga ada cerita Kiai Wahid yang aku tidak terlalu
paham saat beliau menyebutkan episode ini.
Kata Pak Mudzakkir,
seandainya para petani di sini kompak, membuat koperasi mandirri sehingga
memiliki daya tawar sendiri dalam menentukan harga hasil pertanian mereka, para
perusahaan kapitalis akan kalah. Para petani kita tidak akan dijajah oleh
kebodohan.
Selama ini kan,
praktik di lapangan, para petani kita dijajah oleh kebodohan. Yang tahu menjajah
yang bodoh. Misal warga membeli 1 bal tembakau kepada pihak feodalis (pemilik modal
dan tembakau), tapi dikurangi takarannya sebanyak 4-5 Kg. Kemudian kalikan bila
orang-orang itu tidak hanya membeli satu bal saja.
Di sela-sela cerita
itu, Pak Mudzakkir tak henti-hentinya mengkritik pemerintah dan pemangku
kebijakan di Indonesia. Baik di pusat maupun di tingkat kabupaten. Mereka setengah
hati pada petani.
Aku coba memberanikan
diri bertanya, lalu yang menjadi masalah itu apa pak? Apakah ide keberpihakan
kepada petani belum sampai pada pemerintah atau memang dari pihak pemerintah
sudah tahu ide ini tapi tetap tidak merealisasikannya ?
Kata beliau, pemerintah
ini setengah hati pada rakyat. Hal ini bisa dilihat dari anggaran belanja
negara untuk pertanian. Realita ini berbeda dengan negara-negara maju, seperti
Korea dan Amerika yang sangat memperhatikan petani. Karena berkat para
petanilah, sehar-hari kita dapat makan nasi. Bagi mereka, petani adalah
pahlawan negeri.
Oleh karena itu,
kita perlu mengubah mindset para petani agar lebih modern dan bisa kompak. Agar
para petani tidak kalah terus pada kaum feodal (pemilik modal). Karena para
pemilik modalnya tidak berpihak pada rakyat, maka para petani harus kompak.
“Oh, saya jadi
orang kaya yang berpihak pada petani saja pak”, cetusku main-main. Hahaha.
Beliau menanggapi
serius. “loh, iya. Tidak papa. Kata Kia Abdul Haq, “Santri NJ itu harus 3:
sakteh, soghi ben alem (sakti, kaya dan alim)”.
*Catatan BMs
hari ke 19. Catatan yang cukup panjang. Selesai ditulis pada hari Senin, 18
Juli 2022 pukul 01:14 WIB.
.png)
0 Komentar