Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (18): Terimakasih Atas Semua Hal Ini

 



Sekali lagi, mau tidur, pingin rebahan, tapi rasanya harus nahan dulu karena ada beberapa tanggungan. Hari ini aku belum nulis catatan BMs, target mau menyelesaikan buat brosur pondok al-Imam Bondowoso, juga buat proposal tuntutan dari panitia BMs.

Dan sekarang aku sedang menggarap catatan BMs. Barusan, aku ingin tidur. Lalu pegang hp sebentar, lihat story instagram-nya Ust. Husain dan beliau di-tag oleh Mbak Afadha Izzah. Kata Ust. Husain dalam story itu, beliau salah seorang aktivis di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Aku sempatkan untuk stalking. Lihat bio dan postingannya, wah, tambah kecil aku rasanya. Belum ada apa-apa. Ia termasuk orang penting. Perempuan hebat memang. Aku pikir-pikir, memang semua orang tidak bisa di sama ratakan. Ukuran proses dan kesuksesannya.

Dulu, sebenarnya aku sudah paham, bahkan sempat bilang ke adik junior, dengan gaya ala-ala kakak kelas ‘ngebimbing’ adik kelasnya dengan pemahaman yang mirip dengan yang ku dapat barusan. Soal tidak menyamaratakan hasil dan progres masing-masing individu.

Dulu, aku tau pemahaman ini dari sebuah konten instagram yang menyebutkan bahwa, jangan ukur ikan, kambing, jerapah, buaya dan burung dengan satu variabel: terbang misalnya. Kalau anda mengukur begitu, jerapah dan hewan-hewan lainnya (selain burung), akan selamanya merasa bodoh.

Begitupula dengan tumbuh kembang anak, perkembangan manusia dewasa beserta capaian-capaiannya. Tidak bisa di sama ratakan dalam satu variabel dan satu kategori saja. Semua orang pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan, juga kekurangan-kekurangannya. Perjalanan setiap orang tentu tak sama.

Hanya saja, agar pemahaman ini selalu melekat dan terpatri dalam sanubari, kadang ada banyak  hal yang melupakan dan mengingatkan. Alhamdulillah bila kita selalu diberi hidayah untuk ingat pemahaman ini. Sehingga para murid dan adik junior bisa mendapat bimbingan, rasa optimis dan harapan meski mereka gagal dalam suatu bidang tertentu.

Hari sabtu ini, kehidupan berjalan normal dan tampak baik-baik saja. Alhamdulillah atas segalanya. Ku bersyukur atas segala karunia. Lingkungan yang baik, sandang-pangan tersedia, kewajiban ini-itu sebagaimana biasa. Intinya: lancar dan baik-baik saja. Zona nyaman.

Aku tak bisa membayangkan, bila suatu saat nanti, Indonesia mengalami perang seperti di Palestina atau di Ukraina. Para santri dan semua elemen masyarakat tidak bisa hidup tenang seperti sekarang ini. Bagaimana repotnya. Sedangkan bekal dan segala urusan akan berantakan. Hidup menuntut untuk bertahan atau mati menyerah begitu saja. Semoga tidak ya. Amin. Amiin.

Oleh karena itu, di waktu-waktu yang sangat kondusif, aman dan nyaman di Indonesia ini, khususnya di daerah Srambirampaklor, Kotaanyar, Probolinggo ini, aku ingin memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sangat baik sekali. Saking idealnya keinginan, hingga kecewa dan sangat sedih mendalam bila rencana gagal.

Tadi aku menjadwalkan, sebelum dhuhur berjama’ah, hasil rapat wilayah sudah selesai dan rapi semua. Lengkap dengan kop, font dan tata letaknya. Semua rapi. Ternyata molor sampai jam setengah dua lebih.

Selanjutnya aku ingin garap brosur penerimaan santri di program unggulan PP. Al-Imam Bondowoso. Untuk yang ini, aku mengiyakan permintaan Mbak Bibah. Teman kelas yang minta tolong agar aku mendesainkan brosur ukuran A 4 itu di canva. aku sudah proses garap tadi, ternyata tak ada ide dan inspirasi. Kosong. Belum lagi bahan foto yang sangat kurang layak sekali.

Aku tadi juga berencana untuk ke tetangga sini. Katanya ada aktvis lingkungan yang pernah berjuang bersama Gus Fayyad soal pertanian dan agraria. Aku ingin bekerja sama menggarap sebuah kegiatan berbasis masyarakat bersama orang itu.

Ada yang hampir lupa: aku tadi ingin buat form penilaian tes evaluasi baca al-Qur’an para santri. Ini kesepakatan dari rapat para asatidz awal-awal di sini dulu. Eh, ternyata, tadi molor. Merapikan hasil rapat pengurus itu cukup lama. Belum lagi buat brosur yang ternyata juga tak sebentar. Bahkan sampai detik ini belum selesai.

Hingga jelas ashar, Anam bilang ia minta aku gantikan ia mengajar diniyah setelah ini. Ia hendak bareng Topek di dapur menyiapkan makanan santri dan asatidz. Soalnya Neng Iin bilang akan mios ke Besuki dan Topek disuruh untuk jaga dapur. Lalu, Topek mengajak Anam.

Hah. Komplit sudah. Urung ke tetangga. Urung buat form penilaian. Ditambah ngantuk karena tidak tidur siang. Akhirnya saat maghrib sampai isya’ di musholla tadi aku ngantuk. Tapi dipaksakan untuk aman-aman saja. Hahaha.

Sebelum maghrib, Topek juga memberi tahu bahwa Ust. Udin sedang berduka. Kakek beliau meninggal dunia. Innalillah wa Inna Ilaihi Roji’un. Akhirnya ba’da maghrib tadi, tak ada pembinaan al-Qur’an. Tentunya tidak ada tes evaluasi perkembangan ngaji al-Qur’an para santri. Tadi maghrib diisi baca yasin dan tahlil yang dikhususkan pada kakek Ust. Udin.

Sampai saat ini, aku masih ingin menyelesaikan brosur itu. Semoga dimudahkan. Juga, garap konten-konten instagram yang menumpuk untuk segera di desain. Belum lagi tadi muncul kegelisahan: aku yang jarang belajar fathul mu’in. Duh, duh.

Padahal aku santri ma’had aly. Lembaga kaderisasi ulama. Kasarannya, ya aku dididik jadi kader ualama meski aku tidak berkeinginan jadi seperti para kiai itu. Aku Cuma ingin jadi rujukan otoritatif saat masyarakat tidak tahu perihal problematika keagamaan. Artinya, belajarku bertahun-tahun di pondok, ilmunya dapat dikembangkan. Diamalkan dan diajarkan.

Hah, entahlah. Ampuni hamba yang terlalu sibuk akan urusan-urusan ini Ya Rabb. Ampuun~

*Catatan BMs hari ke 18. Sabtu, 16 Juli 2022. Selesai menulis pada pukul 20:25 WIB.

 

Posting Komentar

0 Komentar