Sekali lagi, mau
tidur, pingin rebahan, tapi rasanya harus nahan dulu karena ada beberapa
tanggungan. Hari ini aku belum nulis catatan BMs, target mau menyelesaikan buat
brosur pondok al-Imam Bondowoso, juga buat proposal tuntutan dari panitia BMs.
Dan sekarang aku
sedang menggarap catatan BMs. Barusan, aku ingin tidur. Lalu pegang hp
sebentar, lihat story instagram-nya Ust. Husain dan beliau di-tag oleh Mbak
Afadha Izzah. Kata Ust. Husain dalam story itu, beliau salah seorang aktivis di
Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Aku sempatkan untuk
stalking. Lihat bio dan postingannya, wah, tambah kecil aku rasanya. Belum ada
apa-apa. Ia termasuk orang penting. Perempuan hebat memang. Aku pikir-pikir,
memang semua orang tidak bisa di sama ratakan. Ukuran proses dan kesuksesannya.
Dulu, sebenarnya
aku sudah paham, bahkan sempat bilang ke adik junior, dengan gaya ala-ala kakak
kelas ‘ngebimbing’ adik kelasnya dengan pemahaman yang mirip dengan yang ku
dapat barusan. Soal tidak menyamaratakan hasil dan progres masing-masing
individu.
Dulu, aku tau
pemahaman ini dari sebuah konten instagram yang menyebutkan bahwa, jangan ukur
ikan, kambing, jerapah, buaya dan burung dengan satu variabel: terbang
misalnya. Kalau anda mengukur begitu, jerapah dan hewan-hewan lainnya (selain
burung), akan selamanya merasa bodoh.
Begitupula dengan
tumbuh kembang anak, perkembangan manusia dewasa beserta capaian-capaiannya.
Tidak bisa di sama ratakan dalam satu variabel dan satu kategori saja. Semua
orang pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan, juga kekurangan-kekurangannya.
Perjalanan setiap orang tentu tak sama.
Hanya saja, agar
pemahaman ini selalu melekat dan terpatri dalam sanubari, kadang ada
banyak hal yang melupakan dan
mengingatkan. Alhamdulillah bila kita selalu diberi hidayah untuk ingat
pemahaman ini. Sehingga para murid dan adik junior bisa mendapat bimbingan,
rasa optimis dan harapan meski mereka gagal dalam suatu bidang tertentu.
Hari sabtu ini,
kehidupan berjalan normal dan tampak baik-baik saja. Alhamdulillah atas
segalanya. Ku bersyukur atas segala karunia. Lingkungan yang baik,
sandang-pangan tersedia, kewajiban ini-itu sebagaimana biasa. Intinya: lancar
dan baik-baik saja. Zona nyaman.
Aku tak bisa
membayangkan, bila suatu saat nanti, Indonesia mengalami perang seperti di
Palestina atau di Ukraina. Para santri dan semua elemen masyarakat tidak bisa
hidup tenang seperti sekarang ini. Bagaimana repotnya. Sedangkan bekal dan
segala urusan akan berantakan. Hidup menuntut untuk bertahan atau mati menyerah
begitu saja. Semoga tidak ya. Amin. Amiin.
Oleh karena itu, di
waktu-waktu yang sangat kondusif, aman dan nyaman di Indonesia ini, khususnya
di daerah Srambirampaklor, Kotaanyar, Probolinggo ini, aku ingin memanfaatkan
waktu dengan sebaik-baiknya. Sangat baik sekali. Saking idealnya keinginan,
hingga kecewa dan sangat sedih mendalam bila rencana gagal.
Tadi aku
menjadwalkan, sebelum dhuhur berjama’ah, hasil rapat wilayah sudah selesai dan
rapi semua. Lengkap dengan kop, font dan tata letaknya. Semua rapi. Ternyata
molor sampai jam setengah dua lebih.
Selanjutnya aku
ingin garap brosur penerimaan santri di program unggulan PP. Al-Imam Bondowoso.
Untuk yang ini, aku mengiyakan permintaan Mbak Bibah. Teman kelas yang minta
tolong agar aku mendesainkan brosur ukuran A 4 itu di canva. aku sudah proses
garap tadi, ternyata tak ada ide dan inspirasi. Kosong. Belum lagi bahan foto
yang sangat kurang layak sekali.
Aku tadi juga
berencana untuk ke tetangga sini. Katanya ada aktvis lingkungan yang pernah
berjuang bersama Gus Fayyad soal pertanian dan agraria. Aku ingin bekerja sama menggarap
sebuah kegiatan berbasis masyarakat bersama orang itu.
Ada yang hampir
lupa: aku tadi ingin buat form penilaian tes evaluasi baca al-Qur’an para
santri. Ini kesepakatan dari rapat para asatidz awal-awal di sini dulu. Eh,
ternyata, tadi molor. Merapikan hasil rapat pengurus itu cukup lama. Belum lagi
buat brosur yang ternyata juga tak sebentar. Bahkan sampai detik ini belum
selesai.
Hingga jelas ashar,
Anam bilang ia minta aku gantikan ia mengajar diniyah setelah ini. Ia hendak
bareng Topek di dapur menyiapkan makanan santri dan asatidz. Soalnya Neng Iin
bilang akan mios ke Besuki dan Topek disuruh untuk jaga dapur. Lalu,
Topek mengajak Anam.
Hah. Komplit sudah.
Urung ke tetangga. Urung buat form penilaian. Ditambah ngantuk karena tidak
tidur siang. Akhirnya saat maghrib sampai isya’ di musholla tadi aku ngantuk.
Tapi dipaksakan untuk aman-aman saja. Hahaha.
Sebelum maghrib,
Topek juga memberi tahu bahwa Ust. Udin sedang berduka. Kakek beliau meninggal
dunia. Innalillah wa Inna Ilaihi Roji’un. Akhirnya ba’da maghrib tadi,
tak ada pembinaan al-Qur’an. Tentunya tidak ada tes evaluasi perkembangan ngaji
al-Qur’an para santri. Tadi maghrib diisi baca yasin dan tahlil yang
dikhususkan pada kakek Ust. Udin.
Sampai saat ini,
aku masih ingin menyelesaikan brosur itu. Semoga dimudahkan. Juga, garap
konten-konten instagram yang menumpuk untuk segera di desain. Belum lagi tadi
muncul kegelisahan: aku yang jarang belajar fathul mu’in. Duh, duh.
Padahal aku santri
ma’had aly. Lembaga kaderisasi ulama. Kasarannya, ya aku dididik jadi kader
ualama meski aku tidak berkeinginan jadi seperti para kiai itu. Aku Cuma ingin
jadi rujukan otoritatif saat masyarakat tidak tahu perihal problematika
keagamaan. Artinya, belajarku bertahun-tahun di pondok, ilmunya dapat
dikembangkan. Diamalkan dan diajarkan.
Hah, entahlah.
Ampuni hamba yang terlalu sibuk akan urusan-urusan ini Ya Rabb. Ampuun~
*Catatan BMs
hari ke 18. Sabtu, 16 Juli 2022. Selesai menulis pada pukul 20:25 WIB.

0 Komentar