Sambil
terseok-seok, ku menulis diary BMs ini. Meski tak selalu ideal, aku tetap
berjalan. Menulis catatan demi catatan. Ke-bisa-an ini, tentunya bukan
bersumber dariku semata, semua dari-Nya. Allah. Allah.
Kemarin, setelah
begadang menyelesaikan tulisan tentang Pak Mudzakir, alhamdulillah aku bangun
untuk tahajud juga. Meski aku melaksanakannya tidak di musholla. Aku sholat di
kamar karena mau ke musholla sudah telat. Apalagi aku begadang, sehingga
rasanya ngantuk sekali. Aku butuh tidur lagi setelah sholat. Meski sebentar dan
nanti ke shubuh tiba, aku akan pergi ke musholla.
Kegiatan hari
selasa (18/07) kemarin berjalan normal sebagaimana biasa, kecuali satu hal:
acara thoriqoh tijaniyah dan kunjungan seorang Habib ke Riyadlus Sholihin.
Beberapa hari sebelumnya, aku pernah disuruh oleh Ust. Udin buat baner ucapan
selamat datang para ikhwan thoriqoh tijaniyah.
Aku menyanggupi.
Pengalaman ke dua disuruh desain banner. Sebelumnya, aku pernah disuruh
desainkan sebuah banner, tapi karena minim ilmu, akhirnya hasil cetak bannernya
tidak terang. Setelah dengar percakapan dan sesekali nimbrung di grup komunitas
desainer canva (Klinik Canva), akhirnya aku tau cara agar hasil desain canva
kita tidak pecah saat cetak banner.
Setelah
memberanikan diri menyanggupi desain banner itu, akhirnya jadi dan
alhamdulillah hasil cetak baner desain canva-ku tidak pecah. Meski aku sekedar
melihat hasil baner itu melalui foto yang dikirimkan oleh Ust. Udin, setidaknya
aku senang. Puas. Aku sudah bisa desain dan bisa bikin baner. Cuma pakai canva.
Nah, ucapan selamat
datang para ikhwan thoriqah tijaniyah itu, kemarin selasa adalah acara kumpulan
mereka. Kami disini, para ustadz sudah diwanti-wanti beberapa menit sebelum
dzuhur tiba, bahwasanya seorang habib -pimpinan thoriqoh tijaniyah itu- akan
datang ke daerah Riyadlus Sholihin.
Para santri dan
ustadz wajib pakai baju. Saat itu ada miss-komunikasi. Seharusnya, sholat
dzuhur menunggu habib datang. Jadi dzikiran ba’da sholat sebelum iqomah itu di
lamakan. Agar bisa berjama’ah bersama habib. Tapi yang mendapat info ini adalah
Topek belum menyampaikan pada ustadz lain, utamanya Ust. Taufiq Sidogiri,
akhirnya Ust. Taufiq menginstruksikan para santri agar langsung sholat dzuhur.
Alhasil, ketika
habib rawuh (baca: datang), para santri cium tangan dan para santri-pun
sholat dzuhur berjama’ah lagi bersama habib. Sholat i’adah atau mengulang
sholat dzuhur yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Setelah itu, Habib
bilang bahwa ia senang dengan desain dan model musholla seperti ini. Soalnya
masjid di rumah beliau sedang direnovasi dan ingin dibangun seperti musholla
yang ada di Riyadlus Sholihin. Beliau kemudian tanya ukuran banguan musholla dan
memuji beberapa bagiannya.
Setelah selesai dan
turun dari mushollah, beliau tidak langsung menuju ke mobil. Beliau bertanya
asrama santri dan beberapa bangunan di Riyadlush Sholihin. Gus Hadi selaku tuan
rumah menemani sekaligus menjawaba pertanyaan demi pertanyaan beliau.
Di depan kamar
asatidz itu, sang habib berdo’a. Beberapa menit. Aku yang ada di kejauhan tidak
mendengar do’a itu. Bersama para santri dan asatidz di musholla hanya
mengaminkan doa habib dari kejauhan. Meng-aminkan sambil meyakini bahwa do’a
sang habib pasti baik dan mberkahi. Amiin.
Setelah itu sang
habib menuju mobil dan segera menuju lokasi acara thariqah dilaksanakan.
Sebagaimana arahan Ust. Udin sebelumnya, bahwa aku dan Topek akan diminta jadi
bagian dokumentasi acara tersebut. Acara yang berlokasi di kediaman Gus Hadi
itu tak ku ikuti dari awal hingga akhir.
Aku telat ke sana
dan Topek jadi bagian pubdekdok utama. Sedangkan aku disini bertugas menggarap
abstrak dan plagiasi skripsi-nya Riski. Salah seorang temannya Topek yang saat
ini menjadi kepala wilayah asrama SMA Unggulan. Ia sedang dalam masa menggarap
skripsi dan minta tolong pada Topek untuk menyelesaikannya. Dan, Topek minta tolong
padaku untuk menyelesaikan bagian abstrak dan plagiasi itu.
Haah, males
sebenarnya garap beginian, tapi karena ngabes kancah, akhirnya ku
mengiyakan. Apalagi meminta tolongnya, terburu-buru karena alasan tertentu,
bikin tak tega untuk menolak.
Kalau boleh jujur,
perbuatanku ini termasuk perbuatan tidak baik dan tercela sebagaimana yang pernah
dijelaskan Ust. Husain. Beliau selalu menolak untuk menggarap skripsi orang
lain, bahkan temannya sendiri. Barangkali, kalau ada kerjaan seperti ini aku
harus tegas menolak. Semoga bisa dan mampu saja. Amiin Ya Rabb.
Aku dan Topek
sepakat, bahwa aku akan nyusul ke sana pada pukul setengah dua. Tapi sekitar
jam satu lewat seperempat, aku dihubungi Topek bahwa memori HP-nya sudah full.
Intinya ia butuh hp-ku agar dokumentasi tetap berjalan. Aku akhirnya ke sana
dan garap skripsi itupun ku tinggalkan.
Sampai di sana,
ceramah sang habib hampir selesai. Acara dilanjutkan dengan baiat para anggota
baru. Mereka berkumpul ke depan. Di depan habib. Habib memberikan pesan-pesan
ikhwan yang mengikuti thariqah tijaniyah. Aku hanya ikut merapat bersama
mereka. Barangkali mendapat cipratan berkah orang-orang yang dekat dan menuju
pada Allah SWT.
Sesekali ada warga
yang baru datang. Aku menyimak dan sesekali memfoto keadaan. Eh, kok bisa ya.
Katanya memori hp full. Entahlah.
Acara usai. Semua
anggota mulai bubar. Sang habib mulai menerima salam dan ‘salam tempel’ dari
para ikhwan. Aku cium tangan beliau saja. Tidak ada amplop.
Setelah itu, aku
dan Topek hendak menuju ke pondok. Pulang. Ketika pamit kepada Ust. Udin,
beliau langsung memberikan kami dua berkat. Malu aku. Hadir sebentar tapi dapat
berkat. Seperti tak sesuai dengan jerih payah. Kami pun menerimanya dan pulang.
*Catatan hari ke
19. Selesai menulis pada Rabu, 20 Juli 2022.
.png)
0 Komentar