Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan Bms (20) : Acara Thoriqoh Tijaniyah Dan Kunjungan Seorang Habib Ke Riyadlus Sholihin

 



Sambil terseok-seok, ku menulis diary BMs ini. Meski tak selalu ideal, aku tetap berjalan. Menulis catatan demi catatan. Ke-bisa-an ini, tentunya bukan bersumber dariku semata, semua dari-Nya. Allah. Allah.

Kemarin, setelah begadang menyelesaikan tulisan tentang Pak Mudzakir, alhamdulillah aku bangun untuk tahajud juga. Meski aku melaksanakannya tidak di musholla. Aku sholat di kamar karena mau ke musholla sudah telat. Apalagi aku begadang, sehingga rasanya ngantuk sekali. Aku butuh tidur lagi setelah sholat. Meski sebentar dan nanti ke shubuh tiba, aku akan pergi ke musholla.

Kegiatan hari selasa (18/07) kemarin berjalan normal sebagaimana biasa, kecuali satu hal: acara thoriqoh tijaniyah dan kunjungan seorang Habib ke Riyadlus Sholihin. Beberapa hari sebelumnya, aku pernah disuruh oleh Ust. Udin buat baner ucapan selamat datang para ikhwan thoriqoh tijaniyah.

Aku menyanggupi. Pengalaman ke dua disuruh desain banner. Sebelumnya, aku pernah disuruh desainkan sebuah banner, tapi karena minim ilmu, akhirnya hasil cetak bannernya tidak terang. Setelah dengar percakapan dan sesekali nimbrung di grup komunitas desainer canva (Klinik Canva), akhirnya aku tau cara agar hasil desain canva kita tidak pecah saat cetak banner.

Setelah memberanikan diri menyanggupi desain banner itu, akhirnya jadi dan alhamdulillah hasil cetak baner desain canva-ku tidak pecah. Meski aku sekedar melihat hasil baner itu melalui foto yang dikirimkan oleh Ust. Udin, setidaknya aku senang. Puas. Aku sudah bisa desain dan bisa bikin baner. Cuma pakai canva.

Nah, ucapan selamat datang para ikhwan thoriqah tijaniyah itu, kemarin selasa adalah acara kumpulan mereka. Kami disini, para ustadz sudah diwanti-wanti beberapa menit sebelum dzuhur tiba, bahwasanya seorang habib -pimpinan thoriqoh tijaniyah itu- akan datang ke daerah Riyadlus Sholihin.

Para santri dan ustadz wajib pakai baju. Saat itu ada miss-komunikasi. Seharusnya, sholat dzuhur menunggu habib datang. Jadi dzikiran ba’da sholat sebelum iqomah itu di lamakan. Agar bisa berjama’ah bersama habib. Tapi yang mendapat info ini adalah Topek belum menyampaikan pada ustadz lain, utamanya Ust. Taufiq Sidogiri, akhirnya Ust. Taufiq menginstruksikan para santri agar langsung sholat dzuhur.

Alhasil, ketika habib rawuh (baca: datang), para santri cium tangan dan para santri-pun sholat dzuhur berjama’ah lagi bersama habib. Sholat i’adah atau mengulang sholat dzuhur yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Setelah itu, Habib bilang bahwa ia senang dengan desain dan model musholla seperti ini. Soalnya masjid di rumah beliau sedang direnovasi dan ingin dibangun seperti musholla yang ada di Riyadlus Sholihin. Beliau kemudian tanya ukuran banguan musholla dan memuji beberapa bagiannya.

Setelah selesai dan turun dari mushollah, beliau tidak langsung menuju ke mobil. Beliau bertanya asrama santri dan beberapa bangunan di Riyadlush Sholihin. Gus Hadi selaku tuan rumah menemani sekaligus menjawaba pertanyaan demi pertanyaan beliau.

Di depan kamar asatidz itu, sang habib berdo’a. Beberapa menit. Aku yang ada di kejauhan tidak mendengar do’a itu. Bersama para santri dan asatidz di musholla hanya mengaminkan doa habib dari kejauhan. Meng-aminkan sambil meyakini bahwa do’a sang habib pasti baik dan mberkahi. Amiin.

Setelah itu sang habib menuju mobil dan segera menuju lokasi acara thariqah dilaksanakan. Sebagaimana arahan Ust. Udin sebelumnya, bahwa aku dan Topek akan diminta jadi bagian dokumentasi acara tersebut. Acara yang berlokasi di kediaman Gus Hadi itu tak ku ikuti dari awal hingga akhir.

Aku telat ke sana dan Topek jadi bagian pubdekdok utama. Sedangkan aku disini bertugas menggarap abstrak dan plagiasi skripsi-nya Riski. Salah seorang temannya Topek yang saat ini menjadi kepala wilayah asrama SMA Unggulan. Ia sedang dalam masa menggarap skripsi dan minta tolong pada Topek untuk menyelesaikannya. Dan, Topek minta tolong padaku untuk menyelesaikan bagian abstrak dan plagiasi itu.

Haah, males sebenarnya garap beginian, tapi karena ngabes kancah, akhirnya ku mengiyakan. Apalagi meminta tolongnya, terburu-buru karena alasan tertentu, bikin tak tega untuk menolak.

Kalau boleh jujur, perbuatanku ini termasuk perbuatan tidak baik dan tercela sebagaimana yang pernah dijelaskan Ust. Husain. Beliau selalu menolak untuk menggarap skripsi orang lain, bahkan temannya sendiri. Barangkali, kalau ada kerjaan seperti ini aku harus tegas menolak. Semoga bisa dan mampu saja. Amiin Ya Rabb.

Aku dan Topek sepakat, bahwa aku akan nyusul ke sana pada pukul setengah dua. Tapi sekitar jam satu lewat seperempat, aku dihubungi Topek bahwa memori HP-nya sudah full. Intinya ia butuh hp-ku agar dokumentasi tetap berjalan. Aku akhirnya ke sana dan garap skripsi itupun ku tinggalkan.

Sampai di sana, ceramah sang habib hampir selesai. Acara dilanjutkan dengan baiat para anggota baru. Mereka berkumpul ke depan. Di depan habib. Habib memberikan pesan-pesan ikhwan yang mengikuti thariqah tijaniyah. Aku hanya ikut merapat bersama mereka. Barangkali mendapat cipratan berkah orang-orang yang dekat dan menuju pada Allah SWT.

Sesekali ada warga yang baru datang. Aku menyimak dan sesekali memfoto keadaan. Eh, kok bisa ya. Katanya memori hp full. Entahlah.

Acara usai. Semua anggota mulai bubar. Sang habib mulai menerima salam dan ‘salam tempel’ dari para ikhwan. Aku cium tangan beliau saja. Tidak ada amplop.

Setelah itu, aku dan Topek hendak menuju ke pondok. Pulang. Ketika pamit kepada Ust. Udin, beliau langsung memberikan kami dua berkat. Malu aku. Hadir sebentar tapi dapat berkat. Seperti tak sesuai dengan jerih payah. Kami pun menerimanya dan pulang.

 

*Catatan hari ke 19. Selesai menulis pada Rabu, 20 Juli 2022.

Posting Komentar

0 Komentar