Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (17): 2 Kunjungan Dari Ma’had Aly Pada Hari Ini





Hari jum’at (15/07) ini, acara istighotsah/rotibul haddad-an sengaja diliburkan. Sebenarnya ada, tapi kami sengaja tak diajak oleh Gus Hadi karena jalan yang sangat curam. Bahaya. Ini semua demi keselamatan. Toh, hari ini ada dua episode kunjungan dari Ma’had Aly kepada kami.

Episode pertama, yakni tim Ust. Huwaidi dan Ust. Sohaifni. Mereka datang -kalau tidak salah- pukul setengah sebelas. Mereka berdua datang menggunakan sepeda pembangunan wilayah. Mereka bercerita, bahwa sebelum ke PP. Nurur Rahmah ini, mereka sudah sampai ke PP. Darul Ulum.

Obrolan kami yang utama tentu soal kegiatan BMs dan PKM. Jatah dana sebesar empat ratus ribu tiap kelompok, masuknya kegiatan sarwa’an/istighotsah rutin mingguan itu sebagai bagian/masuk dari kegiatan PKM, tentangg pembuatan proposal kegiatan dan lain sebagainya. Banyak masukan dan saran. Selain itu semuanya aman.

Mereka berdua sholat jum’at di daerah sini. Tidur-tiduran sebentar, makan-minum jamuan yang telah disediakan lalu melanjutkan perjalanan. Mereka bilang hendak menuju ke PP. Nurul Hidayah dan PP. Darul Hikmah. Sebelum beranjak, tak lupa kami ajak mereka untuk foto bersama terlebih dahulu. Dokumentasi.

Oh, soal tim pertama ini mereka adalah tim panitia BMs dan PKM. Sedangkan tim ke dua atau episode ke dua kunjungan dari Ma’had Aly adalah tim MPL atau singkatan dari Mursyid Pembimbing Lapangan (MPL).

Episode ke dua atau tim ke dua ini adalah Ust. Suliyanto dan Ust. Muzayyin. Ust. Suli itu MPL-nya, sedangkan Ust. Muzayyin itu ketua panita. Pembahasan kami juga tentang BMs dan PKM. Ada beberapa info yang bisa ku tulis disini.

Diantaranya adalah hanya tiga kelompok yang belum mengirimkan proposal kegiatan, yakni kelompokku, kelompok yang ada di PP. Darul Ulum dan PP. Darul Hikmah. Duh, soal proposal kegiatan, sepertinya aku belum terlalu membutuhkan.

Biaya kegiatan BMs dan PKM selama ini, selalu bisa kami atasi. Selain ada dana yang cukup hasil dari para santri baru yang mendaftar, juga para ustadz (kami berlima) ini cukup dermawan soal sumbangsih pada pesantren. Duh, disebut sumbangsih saja tidak cocok rasanya, mengingat pelayanan dari pihak tuan rumah yang sangat mewah begini.

Tadi, Pak Suli dan Ust. Muzayyin datang -kalau tidak salah- pukul dua siang. Ada satu topik yang sempat dibahas Pak Suli kepadaku, yakni beasiswa santri yang berasal dari Jember. Persoalan yang tak kunjung jelas dari dulu, lalu ketika sebelum berangkat BMs ku sempatkan bertanya, akhirnya tadi baru ada titik terang.

Sebenarnya, aku malas untuk mengurus persoalan beasiswa ini. Mengharap bantuan pemerintah atau orang lain. Tapi setelah ingat perjuangan mengurus beasiswa itu, mengurus berkas dan lain-lain yang bukan hanya melibatkan aku saja, tapi ibu, tak tega hati ini membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Akhirnya ku sempatkan untuk bertanya. Sebuah usaha menemukan titik terang soal aliran dana beasiswa yang kurang transparan.

Persoalan dana seringkali menjadi persoalan riskan dan rentan. Rentan menimbulkan fitnah antar sesama. Banyak kasusnya. Tak perlu disebutkan disini. Seandainya saja, manusia meletakkan dunia ada di tangannya tidak di hatinya, insyaallah mungkin urusan dana tidak akan menjadi runyam sebagaimana fenomena yang sering kita hadapi.

Tadi, Gus Syauqi yang merupakan suami dari Neng Ais itu juga ke kamar. Beliau ternyata masih muridnya Pak Suli. Jadilah pembicaraan semakin cair dan berlangsung beberapa menit. Padahal saat itu Gus Syauqi sudah mau berangkat ke Bondowoso.

Selesai bincang ini-itu, tak luput juga perkembangan BMs dan PKM kelompok lain, mereka berdua kemudian dipanggil ke dhalem. Biasanya sih makan-makan menjadi agenda utama. Setelah sholat ashar berjama’ah, kami (aku, Topek dan Anam) foto bersama MPL. Pak Suli.

Mereka pulang dan sebelum berangkat, tak lupa juga kami minta sambungan do’a agar BMs dan PKM ini berjalan lancar. Amiin.

Kegiatan malam sabtu ini ada kegiatan istighotsah rutin para wali santri. Aku barusan baca sedikit soal tradisi istighatsahan dua minggu sekali para wali santri di PP. Nurur Rahmah. Tradisi ini ternyata sudah ada sejak masa pendiri, yakni sejak masa Kiai Zainul masih ada. Beliau menjadikan istighotsah rutin dua minggu sekali ini sebagai media untuk mendidik dan mengajar masyarakat, selain untuk menggembleng spiritual mereka tentunya.

Sebelum mulai istighotsah itu, anak BMs dipanggil Gus Hadi untuk membincang kegiatan kemasyarakat (PKM) dengan beberapa warga penggerak di desa masing-masing. Pada kesempatan itu memang belum ada kesepakatan yang jelas soal kegiatan. Tapi, aku menyampaikan bahwa kami ini butuh empat lahan/jama’ah yang berbeda.

Soal kegiatan, teknis dan lain sebagainya bisa diurus belakangan. Itu gampang. Karena kalau jama’ahnya sama sedangkan acaranya berbeda, nanti pengalamannya kurang. Audiensnya itu-itu saja. setelah itu, para bapak-bapak, juga Kiai Hafidz yang ada saat itu, hanya mengangguk-angguk saja. pertanda setuju dan mengerti maksud serta keinginan kami.

Malam ini ku ingin tidur, tapi tugas dan PR masih menumpuk. Keinginan ini-itu banyak. Harus memaksa diri untuk membagi waktu, meski tubuh selalu mengajak untuk istirahat. memejamkan mata lalu hilang tak sadarkan diri. Duh, duh....

Semoga kebiasaan menulis diary, menulis catatan-catatan ringan seperti ini, pada waktunya nanti akan membuahkan hasil. Amiin.

*Catatan BMs hari ke 17 (Jum’at, 15 Juli 2022). Selesai ditulis tepat waktu. Hari ini juga. Pukul 08.34 WIB.


Posting Komentar

0 Komentar