Hari jum’at (15/07)
ini, acara istighotsah/rotibul haddad-an sengaja diliburkan. Sebenarnya ada,
tapi kami sengaja tak diajak oleh Gus Hadi karena jalan yang sangat curam.
Bahaya. Ini semua demi keselamatan. Toh, hari ini ada dua episode kunjungan
dari Ma’had Aly kepada kami.
Episode pertama,
yakni tim Ust. Huwaidi dan Ust. Sohaifni. Mereka datang -kalau tidak salah-
pukul setengah sebelas. Mereka berdua datang menggunakan sepeda pembangunan
wilayah. Mereka bercerita, bahwa sebelum ke PP. Nurur Rahmah ini, mereka sudah
sampai ke PP. Darul Ulum.
Obrolan kami yang utama
tentu soal kegiatan BMs dan PKM. Jatah dana sebesar empat ratus ribu tiap
kelompok, masuknya kegiatan sarwa’an/istighotsah rutin mingguan itu sebagai
bagian/masuk dari kegiatan PKM, tentangg pembuatan proposal kegiatan dan lain
sebagainya. Banyak masukan dan saran. Selain itu semuanya aman.
Mereka berdua
sholat jum’at di daerah sini. Tidur-tiduran sebentar, makan-minum jamuan yang
telah disediakan lalu melanjutkan perjalanan. Mereka bilang hendak menuju ke
PP. Nurul Hidayah dan PP. Darul Hikmah. Sebelum beranjak, tak lupa kami ajak
mereka untuk foto bersama terlebih dahulu. Dokumentasi.
Oh, soal tim
pertama ini mereka adalah tim panitia BMs dan PKM. Sedangkan tim ke dua atau
episode ke dua kunjungan dari Ma’had Aly adalah tim MPL atau singkatan dari
Mursyid Pembimbing Lapangan (MPL).
Episode ke dua atau
tim ke dua ini adalah Ust. Suliyanto dan Ust. Muzayyin. Ust. Suli itu MPL-nya,
sedangkan Ust. Muzayyin itu ketua panita. Pembahasan kami juga tentang BMs dan
PKM. Ada beberapa info yang bisa ku tulis disini.
Diantaranya adalah
hanya tiga kelompok yang belum mengirimkan proposal kegiatan, yakni kelompokku,
kelompok yang ada di PP. Darul Ulum dan PP. Darul Hikmah. Duh, soal proposal
kegiatan, sepertinya aku belum terlalu membutuhkan.
Biaya kegiatan BMs
dan PKM selama ini, selalu bisa kami atasi. Selain ada dana yang cukup hasil
dari para santri baru yang mendaftar, juga para ustadz (kami berlima) ini cukup
dermawan soal sumbangsih pada pesantren. Duh, disebut sumbangsih saja tidak
cocok rasanya, mengingat pelayanan dari pihak tuan rumah yang sangat mewah
begini.
Tadi, Pak Suli dan
Ust. Muzayyin datang -kalau tidak salah- pukul dua siang. Ada satu topik yang
sempat dibahas Pak Suli kepadaku, yakni beasiswa santri yang berasal dari
Jember. Persoalan yang tak kunjung jelas dari dulu, lalu ketika sebelum
berangkat BMs ku sempatkan bertanya, akhirnya tadi baru ada titik terang.
Sebenarnya, aku
malas untuk mengurus persoalan beasiswa ini. Mengharap bantuan pemerintah atau
orang lain. Tapi setelah ingat perjuangan mengurus beasiswa itu, mengurus
berkas dan lain-lain yang bukan hanya melibatkan aku saja, tapi ibu, tak tega
hati ini membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Akhirnya ku sempatkan
untuk bertanya. Sebuah usaha menemukan titik terang soal aliran dana beasiswa
yang kurang transparan.
Persoalan dana seringkali
menjadi persoalan riskan dan rentan. Rentan menimbulkan fitnah antar sesama. Banyak
kasusnya. Tak perlu disebutkan disini. Seandainya saja, manusia meletakkan
dunia ada di tangannya tidak di hatinya, insyaallah mungkin urusan dana tidak
akan menjadi runyam sebagaimana fenomena yang sering kita hadapi.
Tadi, Gus Syauqi yang
merupakan suami dari Neng Ais itu juga ke kamar. Beliau ternyata masih muridnya
Pak Suli. Jadilah pembicaraan semakin cair dan berlangsung beberapa menit. Padahal
saat itu Gus Syauqi sudah mau berangkat ke Bondowoso.
Selesai bincang
ini-itu, tak luput juga perkembangan BMs dan PKM kelompok lain, mereka berdua
kemudian dipanggil ke dhalem. Biasanya sih makan-makan menjadi agenda utama. Setelah
sholat ashar berjama’ah, kami (aku, Topek dan Anam) foto bersama MPL. Pak Suli.
Mereka pulang dan sebelum
berangkat, tak lupa juga kami minta sambungan do’a agar BMs dan PKM ini
berjalan lancar. Amiin.
Kegiatan malam
sabtu ini ada kegiatan istighotsah rutin para wali santri. Aku barusan baca
sedikit soal tradisi istighatsahan dua minggu sekali para wali santri di PP.
Nurur Rahmah. Tradisi ini ternyata sudah ada sejak masa pendiri, yakni sejak
masa Kiai Zainul masih ada. Beliau menjadikan istighotsah rutin dua minggu
sekali ini sebagai media untuk mendidik dan mengajar masyarakat, selain untuk
menggembleng spiritual mereka tentunya.
Sebelum mulai
istighotsah itu, anak BMs dipanggil Gus Hadi untuk membincang kegiatan
kemasyarakat (PKM) dengan beberapa warga penggerak di desa masing-masing. Pada kesempatan
itu memang belum ada kesepakatan yang jelas soal kegiatan. Tapi, aku
menyampaikan bahwa kami ini butuh empat lahan/jama’ah yang berbeda.
Soal kegiatan,
teknis dan lain sebagainya bisa diurus belakangan. Itu gampang. Karena kalau
jama’ahnya sama sedangkan acaranya berbeda, nanti pengalamannya kurang. Audiensnya
itu-itu saja. setelah itu, para bapak-bapak, juga Kiai Hafidz yang ada saat
itu, hanya mengangguk-angguk saja. pertanda setuju dan mengerti maksud serta
keinginan kami.
Malam ini ku ingin
tidur, tapi tugas dan PR masih menumpuk. Keinginan ini-itu banyak. Harus memaksa
diri untuk membagi waktu, meski tubuh selalu mengajak untuk istirahat.
memejamkan mata lalu hilang tak sadarkan diri. Duh, duh....
Semoga kebiasaan
menulis diary, menulis catatan-catatan ringan seperti ini, pada waktunya nanti
akan membuahkan hasil. Amiin.
*Catatan BMs
hari ke 17 (Jum’at, 15 Juli 2022). Selesai ditulis tepat waktu. Hari ini juga. Pukul
08.34 WIB.

0 Komentar