Seiring silih bergantinya waktu, hari-hari yang sedih akan berganti pula. Hari yang saat itu sedang sedih, bahagia, cemas dan lain sebagainya, akan berganti pula. Hari-hari yang saat itu barangkali ada kejadian yang memalukan menimpa kita dan kita pun malu ketika mengingatnya, hari-hari itu akan berganti. Orang-orang tidak akan mengenang selamanya. Biarlah hidup berjalan sebagaimana mestinya.
Yang lalu biarlah berlalu. Mari tinggalkan
segala beban dan tataplah masa depan dengan semangat. Hari ini adalah
anugerah. Mari memanfaatkan anugerah ini dengan sebaik-baiknya. Meski di sisi
lain, kita harus meyakini bahwa iman kepada takdir baik dan buruk adalah hak
otoritatif Allah semata.
Catatan hari Kamis, 14 Juli 2022 ku garap
esoknya, yakni hari ini. Aku ingin memulai catatan ini pada malam kamis itu. Perlu diketahui sebelumnya, aku pernah berjanji kepada Kiai Hafidz
bahwasanya akan mencetak aurod santri pada hari Rabu. Dua hari lalu.
Pada hari rabu, ada
beberapa bagian yang belum selesai. Tinggal
sedikit sekali. Seandainya pada Rabu itu langsung mendapat jawaban atau
penjelasan dari Kiai Hafidz, langsung ku edit. Buat cover dan berangkat menuju
percetakan paiton.
Tapi sayang seribu
sayang. Saat itu, di tengah-tengah proses klarifikasi pertanyaanku, Kiai Hafidz
ada tamu. Sore hari aku ke dhalem beliau lagi. Beliau ternyata mios (keluar,
red) ke Situbondo. Urunglah rencana sekaligus janji untuk cetak aurod santri
pada hari itu. Maaf kiai~
Malam harinya, Kiai
Hafidz ke wilayah. Aku menyapa terlebih dahulu. Lalu, bercerita bahwa aku yang
ke rumah beliau dan tidak ketemu. Puncaknya: klarifikasi lanjutan dari
pertanyaan yang belum tuntas soal beberapa bagian aurod santri di daerah ini.
Selesai urusan,
Kiai Hafidz lalu bilang, “ini jadi jariyahnya samean ustadz”. Kira-kira begitu.
Lalu, beliau
bercerita soal pentingnya berkhidmah di pesantren. Mengabdi pada guru. Kiai
Hafidz menceritakan temannya dulu, yang sangat alim dan pintar. Sering juara.
Soal ilmu, ia tidak ada tandingannya. Meskipun terkenal pintar, ia sering
melanggar peraturan. Ia dikenal sebagai santri nakal.
Lah, ketika pulang
ia jadi orang biasa-biasa. Untuk kepastian jadi apanya, aku tidak tahu. kalau
tidak salah, istilah dari Kiai Hafidz adalah : orang hitam. Artinya jadi orang
jahat / tidak berguna di masyarakat.
Kawan Kiai Hafidz
itu lalu bilang, “saya begini ini akibat kurang khidmah ke guru ketika di
pesantren”
Ada lagi, potret santri
sukses akibat khidmah dan mengabdi pada guru ketika di pesantren. Ketika masih
nyantri, ia adalah orang yang tidak punya. Saking tidak punya harta, ia bersedia
untuk mencuci pakaian dan melayani segala kebutuhan ustadz itu dengan tujuan:
makan dan biaya pondoknya ditanggung ustadz itu.
Ketika pulang dan
boyong dari pesantren, sang ustadz kemudian bertemu dengan santrinya di sebuah
terminal. Sudah bertemu, akhirnya sang ustadz diajak untuk menuju rumah si
santri itu. Mereka berdua naik becak. Lalu, ketika sampai di rumah si santri,
sang ustadz bertanya, “ini pesantrennya siapa ?”
Santri itu
menjawab, “punya saya ustadz”. Sang ustadz pun terkejut bahwa santri yang dulu
mengabdi padannya kini jadi kiai.
Pokok duduk dengan
Kiai Hafidz, selalu ada wejangan, nasehat dan pelajaran yang bisa aku ambil
dari beliau. Malam itu tentang pentingnya mengabdi/berkhidmah. Sebelumnya cerita
tentang masyayikh Nurul Jadid. entah. Tema apalagi yang akan beliau sajikan
berikutnya.
Soal aurod santri
itu, akhirnya bisa kami serahkan -meski via virtual- ke percetakan pada hari
kamis kemarin. Ternyata pihak percetakan masih keluar, dan tadi pagi baru
mendapat respon lebih lanjut. Tapi, soal harga dan kapan bisa dijemut, masih
belum juga ada kepastian.
Bismillah. Semoga
urusan aurod ini dapat lancar. Amiin.
Tadi malam, kami
para ustadz juga mengadakan rapat bersama pengurus. Rapat tadi malam ada lima
agenda:
1. Penetapan anggota dan struktural pengurus daerah Riyadlus Sholihin
2. Penetapan Tugas, Pokok dan Fungsi (Tupoksi) setiap
devisi
3. Program kerja setiap devisi
4. Kebutuhan devisi
5. UU keamanan wilayah
Semua poin agenda
rapat itu terlaksana, kecuali poin ke lima. Rapat seperti ini perlu energi dan
waktu yang tidak sedikit. Dan, ketika agenda rapat berjalan pada nomer dua dan
tiga ini, beberapa pengurus yang notabene mereka adalah masih siswa, sudah
mengungkapkan beberapa ekspresi “bosan”, “lapar” dan “cepat selesai”.
Lalu, ku paksakan
sebentar merapatkan kebutuhan devisi. Alhamdulillah selesai. Meski tentang
undang-undang keamanan wilayah belum rampung, setidaknya ada beberapa agenda
selesai. Sekali lagi, bila ku lihat lagi draf tugas-tugas, rasanya ingin
menangis. Tapi bila ku semangat bergerak, ada agenda yang selesai, ku senang
dan langsung memberikan apresiasi terhdap diri sendiri.
Tidur-tiduran dan
besok lagi baru melanjutkan mengerjakan tugas. Padahal, besok sudah ada satu
dua tugas seharian. Bila daya tahan mengerjakan tugas-tugas hanya segini, entah
bagaimana keinginanku yang lain dapat terealisasi. Allah.. Allah.
Baiklah. Semoga
kita menjadi orang yang kuat dan sabar dengan bersandar pada dzat yang punya
sifat al-Qowiy dan ash-Shobur. Amiin.
*Catatan BMs ke 16
(Kamis, 14 Juli 2022). Tulisan telat dan qodho’an. Selesai ditulis pada Jum’at,
15 Juli 2022 pukul 13:09 WIB.

0 Komentar