Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (16) : Proses Pembuatan Aurod Santri dan Penataan Sistem Kepengurusan Wilayah

 


Seiring silih bergantinya waktu, hari-hari yang sedih akan berganti pula. Hari yang saat itu sedang sedih, bahagia, cemas dan lain sebagainya, akan berganti pula. Hari-hari yang saat itu barangkali ada kejadian yang memalukan menimpa kita dan kita pun malu ketika mengingatnya, hari-hari itu akan berganti. Orang-orang tidak akan mengenang selamanya. Biarlah hidup berjalan sebagaimana mestinya.

Yang lalu biarlah berlalu. Mari tinggalkan segala beban dan tataplah masa depan dengan semangat. Hari ini adalah anugerah. Mari memanfaatkan anugerah ini dengan sebaik-baiknya. Meski di sisi lain, kita harus meyakini bahwa iman kepada takdir baik dan buruk adalah hak otoritatif Allah semata.

Catatan hari Kamis, 14 Juli 2022 ku garap esoknya, yakni hari ini. Aku ingin memulai catatan ini pada malam kamis itu. Perlu diketahui sebelumnya, aku pernah berjanji kepada Kiai Hafidz bahwasanya akan mencetak aurod santri pada hari Rabu. Dua hari lalu.

Pada hari rabu, ada beberapa bagian yang belum selesai. Tinggal  sedikit sekali. Seandainya pada Rabu itu langsung mendapat jawaban atau penjelasan dari Kiai Hafidz, langsung ku edit. Buat cover dan berangkat menuju percetakan paiton.

Tapi sayang seribu sayang. Saat itu, di tengah-tengah proses klarifikasi pertanyaanku, Kiai Hafidz ada tamu. Sore hari aku ke dhalem beliau lagi. Beliau ternyata mios (keluar, red) ke Situbondo. Urunglah rencana sekaligus janji untuk cetak aurod santri pada hari itu. Maaf kiai~

Malam harinya, Kiai Hafidz ke wilayah. Aku menyapa terlebih dahulu. Lalu, bercerita bahwa aku yang ke rumah beliau dan tidak ketemu. Puncaknya: klarifikasi lanjutan dari pertanyaan yang belum tuntas soal beberapa bagian aurod santri di daerah ini.

Selesai urusan, Kiai Hafidz lalu bilang, “ini jadi jariyahnya samean ustadz”. Kira-kira begitu.

Lalu, beliau bercerita soal pentingnya berkhidmah di pesantren. Mengabdi pada guru. Kiai Hafidz menceritakan temannya dulu, yang sangat alim dan pintar. Sering juara. Soal ilmu, ia tidak ada tandingannya. Meskipun terkenal pintar, ia sering melanggar peraturan. Ia dikenal sebagai santri nakal.

Lah, ketika pulang ia jadi orang biasa-biasa. Untuk kepastian jadi apanya, aku tidak tahu. kalau tidak salah, istilah dari Kiai Hafidz adalah : orang hitam. Artinya jadi orang jahat / tidak berguna di masyarakat.

Kawan Kiai Hafidz itu lalu bilang, “saya begini ini akibat kurang khidmah ke guru ketika di pesantren”

Ada lagi, potret santri sukses akibat khidmah dan mengabdi pada guru ketika di pesantren. Ketika masih nyantri, ia adalah orang yang tidak punya. Saking tidak punya harta, ia bersedia untuk mencuci pakaian dan melayani segala kebutuhan ustadz itu dengan tujuan: makan dan biaya pondoknya ditanggung ustadz itu.

Ketika pulang dan boyong dari pesantren, sang ustadz kemudian bertemu dengan santrinya di sebuah terminal. Sudah bertemu, akhirnya sang ustadz diajak untuk menuju rumah si santri itu. Mereka berdua naik becak. Lalu, ketika sampai di rumah si santri, sang ustadz bertanya, “ini pesantrennya siapa ?”

Santri itu menjawab, “punya saya ustadz”. Sang ustadz pun terkejut bahwa santri yang dulu mengabdi padannya kini jadi kiai.

Pokok duduk dengan Kiai Hafidz, selalu ada wejangan, nasehat dan pelajaran yang bisa aku ambil dari beliau. Malam itu tentang pentingnya mengabdi/berkhidmah. Sebelumnya cerita tentang masyayikh Nurul Jadid. entah. Tema apalagi yang akan beliau sajikan berikutnya.

Soal aurod santri itu, akhirnya bisa kami serahkan -meski via virtual- ke percetakan pada hari kamis kemarin. Ternyata pihak percetakan masih keluar, dan tadi pagi baru mendapat respon lebih lanjut. Tapi, soal harga dan kapan bisa dijemut, masih belum juga ada kepastian.

Bismillah. Semoga urusan aurod ini dapat lancar. Amiin.

Tadi malam, kami para ustadz juga mengadakan rapat bersama pengurus. Rapat tadi malam ada lima agenda:

1.       Penetapan anggota dan struktural pengurus daerah Riyadlus Sholihin

2.       Penetapan Tugas, Pokok dan Fungsi (Tupoksi) setiap devisi

3.       Program kerja setiap devisi

4.       Kebutuhan devisi

5.       UU keamanan wilayah

Semua poin agenda rapat itu terlaksana, kecuali poin ke lima. Rapat seperti ini perlu energi dan waktu yang tidak sedikit. Dan, ketika agenda rapat berjalan pada nomer dua dan tiga ini, beberapa pengurus yang notabene mereka adalah masih siswa, sudah mengungkapkan beberapa ekspresi “bosan”, “lapar” dan “cepat selesai”.

Lalu, ku paksakan sebentar merapatkan kebutuhan devisi. Alhamdulillah selesai. Meski tentang undang-undang keamanan wilayah belum rampung, setidaknya ada beberapa agenda selesai. Sekali lagi, bila ku lihat lagi draf tugas-tugas, rasanya ingin menangis. Tapi bila ku semangat bergerak, ada agenda yang selesai, ku senang dan langsung memberikan apresiasi terhdap diri sendiri.

Tidur-tiduran dan besok lagi baru melanjutkan mengerjakan tugas. Padahal, besok sudah ada satu dua tugas seharian. Bila daya tahan mengerjakan tugas-tugas hanya segini, entah bagaimana keinginanku yang lain dapat terealisasi. Allah.. Allah.

Baiklah. Semoga kita menjadi orang yang kuat dan sabar dengan bersandar pada dzat yang punya sifat al-Qowiy dan ash-Shobur. Amiin.

*Catatan BMs ke 16 (Kamis, 14 Juli 2022). Tulisan telat dan qodho’an. Selesai ditulis pada Jum’at, 15 Juli 2022 pukul 13:09 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar