Bagaimana menyikapi ketidakidealan
semua ini ? mengutuk keadaan memang tidak menyelesaikan persoalan. Atau
berbagai ketidak idealan ini hanya ilusi dan bayang-bayang semata, yang diciptakan
oleh pikiran dan -ketika tidak tercapai- malah
pikiran kita sendiri yang berat untuk menghadapinya ?
Tadi, aku menelfon ibu. Meluangkan waktu buat menyapa
keluarga. Menyapa ayah yang sudah memasuki usia senja. Juga ada Mbak Elmi dan
Mas Ibrahim. Ada Zubair yang biasa dipanggil Ubai itu. Sedangkan si Nauren dan
Amira tidak ikut ke Semboro. Mereke berdua, kata Mbak Elmi, ikut mbah-nya.
Kemarin lusa -kalau tidak salah-, aku menonton sebuah
video ceramah Gus Baha’ yang menjelaskan tentang pentingnya hidup optimis meski
banyak kekurangan, kesalahan dan ketidakidealan. Jangankan kesalahan,
kekurangan dan ketidakidealan itu pada orang-orang di sekitar kita, pada kita
sendiripun, kita harus optimis menjalani hidup.
Kata Gus Baha’, -seingat saya- kalau ikut mazhabnya
Imam as-Syadzili, hidup itu enak banget. Semua ketidak sempurnaan dalam
menjalani ibadah ini, merupakan anugerah (madura: pepareng) dari Allah. Jadi
apa-apa yang kita lakukan saat ini, syukuri saja. Terima dan bahagialah.
Bukankah kita wajib iman, semua takdir baik dan buruk
itu dari Allah ?
Video itu, penjelasannya lebih mengarah pada
ideal-tidaknya seseorang menjalankan ibadah. Gus Baha menekankan agar kita
tidak menyesal dan bersedih bila kita sholat tidak khusyuk. Gelisah memikirkan
sujudnya diterima atau tidak ? hingga urusan-urusan lain yang membuat sedih
gara-gara kurang sempurna dalam ibadah.
Padahal, kita ditakdir sujud dan sholat saja itu sudah
anugerah besar. Di zaman akhir ini, kita mau sholat dan sujud, itu sudah
membuat marah setan. Jangan lagi disibukkan dengan urusan ketidaksempurnaan dan
ketidakidealan dalam urusan ibadah itu. Nanti kalau kita terlalu sibuk dengan
urusan itu, bisa-bisa hal itu membuat kita malah tidak ibadah. Tidak sholat dan
tidak sujud lagi.
Waduh, urusan jadi runyam nantinya. Bisa-bisa, sholat
jadi problem gara-gara kepikiran ingin ideal dan sempurna.
Mazhab Imam asy-Syadzili itu bisa dilihat dari buah
karya Imam Ibnu ‘Athoillah, yakni kitab al-Hikam. Jadi kalau ingin belajar
menjalani praktik beribadah ala Imam asy-Syadzili, direkomendasikan untuk
belajar kitab al-Hikam itu.
Gus Baha sempat mengutip beberapa teks dalam bahasa
arabnya. Aku lupa bagaimana persisnya. Yang seingatku begini, “berjalanlah
memenuhi panggilan Allah, meski dalam keadaan pincang dan pecah”.
Maksudnya, berjalan memenuhi panggilan dan seruan
Allah, meski kamu tidak ideal dan penuh kekurangan serta keterbatasan, dalam
keadaan pincang dan (tubuh) terpecah-pecah. Karena, maksud dari adanya
panggilan Allah itu, datang memenuhi panggilan begitu.
Setelah melihat video itu, aku mulai tenang. Ada
kaidah fikih yang mendukung statemen di atas. Diantaranya adalah :
Ù…َا Ù„َا
ÙŠُدْرَÙƒُ ÙƒُÙ„ُّ Ù„َا ÙŠُتْرَÙƒُ ÙƒُÙ„ُّ
Artinya, “Sesuatu yang tidak bisa dicapai semua,
bukan berarti harus ditinggalkan semua.
Ingin sempurna, kata Gus Baha, itu justru sombong. Sebuah
bentuk kesombongan.
Nah, dalam konteks masa-masa BMs yang sedang kujalani
ini, berbagai keinginan dan target yang telah ditetapkan, langkah selanjutnya
adalah: melangkah bergerak menyelesaikan berbagai tugas dan problematika yang
ada. Meski tidak seratus persen sempurna dan berhasil semua. Meski tidak tepat
waktu semua.
Bila tidak bisa menyelesaikan dengan sempurna sesuai
target awal, bukan berarti meninggalkan semua target-target itu dan pulang
tidak menyelesaikan Bakti Mahasantri (BMs) ini. Jujur saja, tuntutan ini-itu
dari panitia seringkali membuat aku tertekan. Kurang inovasi dan ujung-ujungnya
malah tidak melakukan apa-apa.
Tugas, bagaimanapun banyak-nya tugas, tugas tetaplah tugas.
Meski sudah lewat dari deadline dan waktu yang telah ditetapkan, ia tetaplah
tugas. Bukan berarti bila kita tidak menyelesaikannya, tugas-tugas itu otomatis
langsung hilang dari catatan kewajiban.
Aku tadi nelfon ibu soal tugas-tugasku yang menumpuk.
Kata ibu, baca hauqolah dan berdo’a yang intinya begini: “Ya Allah, temanilah
aku untuk menjalani masa-masa sulit ini”.
Akhirnya, aku tadi langsung menuju ke rumahnya Kiai
Hafidz untuk bertanya beberapa teks bacaan dalam proyek aurod ini. Setelah
selesai satu pertanyaan, beliau kemudian bilang sedang ada tamu dan beliau
hendak menuju ke Riyadlus Sholihin. Catatan: rumahnya beliau ini ada daerah
pusat PP. Nurur Rahmah.
Kata beliau, kita teruskan disana. Tapi beliau ada
tamunya kan. Aku langsung menuju kamar. Dan, herannya lagi, aku tidur. Duh,
efek makan ini. Sekali lagi, ini karena aku tidak biasa makan banyak di pondok,
akhirnya disediakan banyak makanan ini, ingin makan terus. Dari makan makanan
berat hingga nyemil makanan ringan.
Aku tidur. Dibangunin sholat dhuhur berjama’ah.
Mengaji al-Qur’an lalu menulis menyelesaikan tiga catatan diary BMs ini.
Alhamdulillah selesai. Sambung do’a kawan. Semoga BMs dan PKM tahun ini sukses,
lancar dan berkah. Amiin.
Catatan selesai tepat waktu. Catatan hari
ke 15. Tak terasa, seperempat waktu pertama BMs sudah kami jalani. Belum tampak
progres yang mencolok sama sekali. Semoga BMs ini berkesan dan benar-benar
memberi pesan kawan. Amiin.
Selesai ditulis pada Rabu, 13 Juli
2022 pukul 13.43 WIB.

0 Komentar