Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (15): Menyikapi Berbagai Ketidakidealan

 

 

Bagaimana menyikapi ketidakidealan semua ini ? mengutuk keadaan memang tidak menyelesaikan persoalan. Atau berbagai ketidak idealan ini hanya ilusi dan bayang-bayang semata, yang diciptakan oleh pikiran dan -ketika tidak tercapai- malah  pikiran kita sendiri yang berat untuk menghadapinya ?

Tadi, aku menelfon ibu. Meluangkan waktu buat menyapa keluarga. Menyapa ayah yang sudah memasuki usia senja. Juga ada Mbak Elmi dan Mas Ibrahim. Ada Zubair yang biasa dipanggil Ubai itu. Sedangkan si Nauren dan Amira tidak ikut ke Semboro. Mereke berdua, kata Mbak Elmi, ikut mbah-nya.

Kemarin lusa -kalau tidak salah-, aku menonton sebuah video ceramah Gus Baha’ yang menjelaskan tentang pentingnya hidup optimis meski banyak kekurangan, kesalahan dan ketidakidealan. Jangankan kesalahan, kekurangan dan ketidakidealan itu pada orang-orang di sekitar kita, pada kita sendiripun, kita harus optimis menjalani hidup.

Kata Gus Baha’, -seingat saya- kalau ikut mazhabnya Imam as-Syadzili, hidup itu enak banget. Semua ketidak sempurnaan dalam menjalani ibadah ini, merupakan anugerah (madura: pepareng) dari Allah. Jadi apa-apa yang kita lakukan saat ini, syukuri saja. Terima dan bahagialah.

Bukankah kita wajib iman, semua takdir baik dan buruk itu dari Allah ?

Video itu, penjelasannya lebih mengarah pada ideal-tidaknya seseorang menjalankan ibadah. Gus Baha menekankan agar kita tidak menyesal dan bersedih bila kita sholat tidak khusyuk. Gelisah memikirkan sujudnya diterima atau tidak ? hingga urusan-urusan lain yang membuat sedih gara-gara kurang sempurna dalam ibadah.

Padahal, kita ditakdir sujud dan sholat saja itu sudah anugerah besar. Di zaman akhir ini, kita mau sholat dan sujud, itu sudah membuat marah setan. Jangan lagi disibukkan dengan urusan ketidaksempurnaan dan ketidakidealan dalam urusan ibadah itu. Nanti kalau kita terlalu sibuk dengan urusan itu, bisa-bisa hal itu membuat kita malah tidak ibadah. Tidak sholat dan tidak sujud lagi.

Waduh, urusan jadi runyam nantinya. Bisa-bisa, sholat jadi problem gara-gara kepikiran ingin ideal dan sempurna.

Mazhab Imam asy-Syadzili itu bisa dilihat dari buah karya Imam Ibnu ‘Athoillah, yakni kitab al-Hikam. Jadi kalau ingin belajar menjalani praktik beribadah ala Imam asy-Syadzili, direkomendasikan untuk belajar kitab al-Hikam itu.

Gus Baha sempat mengutip beberapa teks dalam bahasa arabnya. Aku lupa bagaimana persisnya. Yang seingatku begini, “berjalanlah memenuhi panggilan Allah, meski dalam keadaan pincang dan pecah”.

Maksudnya, berjalan memenuhi panggilan dan seruan Allah, meski kamu tidak ideal dan penuh kekurangan serta keterbatasan, dalam keadaan pincang dan (tubuh) terpecah-pecah. Karena, maksud dari adanya panggilan Allah itu, datang memenuhi panggilan begitu.

Setelah melihat video itu, aku mulai tenang. Ada kaidah fikih yang mendukung statemen di atas. Diantaranya adalah :

Ù…َا Ù„َا ÙŠُدْرَÙƒُ ÙƒُÙ„ُّ Ù„َا ÙŠُتْرَÙƒُ ÙƒُÙ„ُّ

Artinya, “Sesuatu yang tidak bisa dicapai semua, bukan berarti harus ditinggalkan semua.

Ingin sempurna, kata Gus Baha, itu justru sombong. Sebuah bentuk kesombongan.

Nah, dalam konteks masa-masa BMs yang sedang kujalani ini, berbagai keinginan dan target yang telah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah: melangkah bergerak menyelesaikan berbagai tugas dan problematika yang ada. Meski tidak seratus persen sempurna dan berhasil semua. Meski tidak tepat waktu semua.

Bila tidak bisa menyelesaikan dengan sempurna sesuai target awal, bukan berarti meninggalkan semua target-target itu dan pulang tidak menyelesaikan Bakti Mahasantri (BMs) ini. Jujur saja, tuntutan ini-itu dari panitia seringkali membuat aku tertekan. Kurang inovasi dan ujung-ujungnya malah tidak melakukan apa-apa.

Tugas, bagaimanapun banyak-nya tugas, tugas tetaplah tugas. Meski sudah lewat dari deadline dan waktu yang telah ditetapkan, ia tetaplah tugas. Bukan berarti bila kita tidak menyelesaikannya, tugas-tugas itu otomatis langsung hilang dari catatan kewajiban.

Aku tadi nelfon ibu soal tugas-tugasku yang menumpuk. Kata ibu, baca hauqolah dan berdo’a yang intinya begini: “Ya Allah, temanilah aku untuk menjalani masa-masa sulit ini”.

Akhirnya, aku tadi langsung menuju ke rumahnya Kiai Hafidz untuk bertanya beberapa teks bacaan dalam proyek aurod ini. Setelah selesai satu pertanyaan, beliau kemudian bilang sedang ada tamu dan beliau hendak menuju ke Riyadlus Sholihin. Catatan: rumahnya beliau ini ada daerah pusat PP. Nurur Rahmah.

Kata beliau, kita teruskan disana. Tapi beliau ada tamunya kan. Aku langsung menuju kamar. Dan, herannya lagi, aku tidur. Duh, efek makan ini. Sekali lagi, ini karena aku tidak biasa makan banyak di pondok, akhirnya disediakan banyak makanan ini, ingin makan terus. Dari makan makanan berat hingga nyemil makanan ringan.

Aku tidur. Dibangunin sholat dhuhur berjama’ah. Mengaji al-Qur’an lalu menulis menyelesaikan tiga catatan diary BMs ini. Alhamdulillah selesai. Sambung do’a kawan. Semoga BMs dan PKM tahun ini sukses, lancar dan berkah. Amiin.

 

Catatan selesai tepat waktu. Catatan hari ke 15. Tak terasa, seperempat waktu pertama BMs sudah kami jalani. Belum tampak progres yang mencolok sama sekali. Semoga BMs ini berkesan dan benar-benar memberi pesan kawan. Amiin.

Selesai ditulis pada Rabu, 13 Juli 2022 pukul 13.43 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar