Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (14) : KBM Malam Yang Mulai Dibagi Menjadi Lima Kelompok

 


Menulis catatan di blog ini, selain dikejar dengan berbagai deadline tugas-tugas BMs ini, menjadi agenda kegiatan yang cukup menyita waktu dan perhatian. Aku harus duduk beberapa jam, menyelesaikan satu hingga dua tulisan. Mengingat beberapa kejadian, lalu merefleksikan ulang sesuai dengan isi pikiran yang mulai jarang diisi dengan berbagai bergizinya berbagai bacaan.

Kalau di pikir-pikir, banyak sekali tugas. Kalau di angan-angan, perlu ekstra time untuk menyelesaikannya. Kalau kita mau buka mata, banyak hal tak ideal di sini. Setelah kita menentukan sendiri, yang baik dan seharusnya bagaimana, eh, ketika dijalani malah bingung lagi. Entah target karena terlalu ideal atau memang kurang siap dan disiplin untuk menjalaninya.

Seperti adanya akun media sosial milik daerah riyadlus sholihin ini. Akun ini baru. Adanya instagram dan facebook. Semenjak ada peserta BMs, mulai diadakan dan diaktifkan.

Targetku ya dua hari sekali ada postingan. Eh, sudah beberapa hari ini aku tidak ngonten. Ngonten itu perlu waktu lama ternyata ya. Dari mengumpulkan bahan, apalagi  dengan desakan ikut kegiatan ini-itu, belum lagi dibenturkan dengan keadaan sosial juga tubuh yang semakin berat dan selalu meronta-ronta ingin rebahan. Duh, berat ini.

Hari selasai sore, aku mengembalikan proyektor ke Nurul Yaqin. Entah berapa kali kami keluar tapi tidak izin pada panitia BMs dan juga ke Ust. Suliyanto. Peraturan baru yang ditetapkan -paling dapat sehari- ketika kami baru menjalani BMs.

Termasuk mengembalikan proyektor ini. Aku sebentar ke Nurul Yaqin. Bertemu Farhani, Lutfi dan Sutan. Bersalaman, bincang-bincang sebentar dan saling bertukar senyumana. Wkwkw. Setelah itu pulang.

Aku mengusahakan agar kapan-kapan bisa ke sini lagi dan ngobrol lebih lama lagi. Sesekali barangkali perlu keluar dari rutinits penuh dengan tugas-tugas.

Soal proyektor ini, pada pagi harinya aku sempat ‘makan hati’. Memendam sakit hati gara-gara ucapan orang lain yang berhasil melukaiku secara emosional. Ku tahan-tahan. Sabar dan ku pasrahkan semua pada-Nya. Sayang sekali, di sini aku sulit menemukan tempat sepi. Untuk ku jadikan tempat bermunajat, menetralkan pikiran dan menulis segala hal.

Ada lagi cobaan disini: makanan yang selalu tersedia. Ini cobaan bagiku. Semakin banyak makan, semakin berat badan untuk beraktivitas. Dua minggu disini, aku sering tidur jam 8-9 malam. Artinya, aku selalu menjadi orang yang paling awal soal urusan tidur. Dan, menjadi orang yang paling banyak tidur dalam sehari bila dibandingkan teman-teman lainnya. Padahal siangnya aku sudah tidur. Duh, duh.

Selasa itu, KBM malam mulai dibagi menjadi lima sesuai dengan kesepakatan dulu-dulunya. Baru terealisasi. Dari jam sembilan hingga sepuluh malam, kelompok KBM dibagi menjadi lima sebagaimana KBM pagi sebelum sholat dhuha. KBM mengaji matan kitab safinah. Pada waktu itu, para santri belajar mempraktikkan hasil belajar al-miftah lil ulum, maknai dan belajar menulis pego.

Setelah selesai pada pukul sepuluh malam, lalu ada pemagian kloter jaga malam. Aku kebagian kloter ke dua. Bersama Ust. Taufiqurrahman Sidogiri. Jaga dari jam satu hingga jam tiga. Kesepakatannya begitu. Eh, ndilalah kami yang tidur duluan ternyata tidak bisa dibangunin. Akhirnya kami bangun ketika tahajud setelah itu, Ust. Taufiq bilang: mission (ronda malam-nya) failed.

 

*Catatan BMs hari ke 14. Selesai ditulis pada Rabu, 13 Juli 2022 pukul 12.53 WIB.

Posting Komentar

0 Komentar