Menulis catatan di blog ini, selain dikejar dengan
berbagai deadline tugas-tugas BMs ini, menjadi agenda kegiatan yang cukup
menyita waktu dan perhatian. Aku harus duduk beberapa jam, menyelesaikan satu
hingga dua tulisan. Mengingat beberapa kejadian, lalu merefleksikan ulang
sesuai dengan isi pikiran yang mulai jarang diisi dengan berbagai bergizinya
berbagai bacaan.
Kalau di pikir-pikir, banyak sekali tugas. Kalau di
angan-angan, perlu ekstra time untuk menyelesaikannya. Kalau kita mau buka
mata, banyak hal tak ideal di sini. Setelah kita menentukan sendiri, yang baik
dan seharusnya bagaimana, eh, ketika dijalani malah bingung lagi. Entah target
karena terlalu ideal atau memang kurang siap dan disiplin untuk menjalaninya.
Seperti adanya akun media sosial milik daerah riyadlus
sholihin ini. Akun ini baru. Adanya instagram dan facebook. Semenjak ada
peserta BMs, mulai diadakan dan diaktifkan.
Targetku ya dua hari sekali ada postingan. Eh, sudah
beberapa hari ini aku tidak ngonten. Ngonten itu perlu waktu lama ternyata ya.
Dari mengumpulkan bahan, apalagi dengan
desakan ikut kegiatan ini-itu, belum lagi dibenturkan dengan keadaan sosial
juga tubuh yang semakin berat dan selalu meronta-ronta ingin rebahan. Duh,
berat ini.
Hari selasai sore, aku mengembalikan proyektor ke
Nurul Yaqin. Entah berapa kali kami keluar tapi tidak izin pada panitia BMs dan
juga ke Ust. Suliyanto. Peraturan baru yang ditetapkan -paling dapat sehari-
ketika kami baru menjalani BMs.
Termasuk mengembalikan proyektor ini. Aku sebentar ke
Nurul Yaqin. Bertemu Farhani, Lutfi dan Sutan. Bersalaman, bincang-bincang
sebentar dan saling bertukar senyumana. Wkwkw. Setelah itu pulang.
Aku mengusahakan agar kapan-kapan bisa ke sini lagi
dan ngobrol lebih lama lagi. Sesekali barangkali perlu keluar dari rutinits
penuh dengan tugas-tugas.
Soal proyektor ini, pada pagi harinya aku sempat
‘makan hati’. Memendam sakit hati gara-gara ucapan orang lain yang berhasil
melukaiku secara emosional. Ku tahan-tahan. Sabar dan ku pasrahkan semua
pada-Nya. Sayang sekali, di sini aku sulit menemukan tempat sepi. Untuk ku
jadikan tempat bermunajat, menetralkan pikiran dan menulis segala hal.
Ada lagi cobaan disini: makanan yang selalu tersedia.
Ini cobaan bagiku. Semakin banyak makan, semakin berat badan untuk beraktivitas.
Dua minggu disini, aku sering tidur jam 8-9 malam. Artinya, aku selalu menjadi
orang yang paling awal soal urusan tidur. Dan, menjadi orang yang paling banyak
tidur dalam sehari bila dibandingkan teman-teman lainnya. Padahal siangnya aku
sudah tidur. Duh, duh.
Selasa itu, KBM malam mulai dibagi menjadi lima sesuai
dengan kesepakatan dulu-dulunya. Baru terealisasi. Dari jam sembilan hingga
sepuluh malam, kelompok KBM dibagi menjadi lima sebagaimana KBM pagi sebelum
sholat dhuha. KBM mengaji matan kitab safinah. Pada waktu itu, para santri belajar
mempraktikkan hasil belajar al-miftah lil ulum, maknai dan belajar menulis
pego.
Setelah selesai pada pukul sepuluh malam, lalu ada
pemagian kloter jaga malam. Aku kebagian kloter ke dua. Bersama Ust. Taufiqurrahman
Sidogiri. Jaga dari jam satu hingga jam tiga. Kesepakatannya begitu. Eh, ndilalah
kami yang tidur duluan ternyata tidak bisa dibangunin. Akhirnya kami bangun
ketika tahajud setelah itu, Ust. Taufiq bilang: mission (ronda malam-nya)
failed.
*Catatan BMs hari ke 14. Selesai
ditulis pada Rabu, 13 Juli 2022 pukul 12.53 WIB.

0 Komentar