Selamat hari raya
idul adha 1443 H. Semoga kita dapat meneladani nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
yang telah berhasil menyembelih nafsu kebinatangannya sehingga Allah menjadikan
kambing/sapi/unta menjadi hewan kurban. Semua itu tidak lain, semata-mata hanya
untuk berqurban/taqarrub (baca: mendekat) kepada Allah SWT.
Catatan hari ke dua
belas ini, aku ingin bercerita sejak kemarin sore hingga detik ini. Kemarin sore
itu, setelah ashar yang biasanya ada diniyah diliburkan dan diganti dengan
bersih-bersih daerah/wilayah. Keinginanku yang ingin bersih-bersih bagian depan
daerah akhirnya tercapai, meski tidak bersih total dan semuanya.
Maklum, sore itu
para santri dan aku dalam keadaan puasa. Alat-alat kurang mendukung. Dan, para
santri yang benar-benar ongghuen bersih-bersih itu sedikit. Jadi seandainya
aku sendiri yang semangat, kan gimana gitu ? wkwkw. Tak nyaman. :D
Tapi alhamdulillah-lah
ada peningkatan kebersihan. Kegiatan bersih-bersih itu selesai jam setengah
lima sore. Pada sore itu juga, aku baru tau kalau bagian kebersihan di sini
tidak ada cikrak dan para santri kurang merawat dalam menjaga peralatan
kebersihan. Wah. Ini temuan baru. Perlu dikondisikan.
Selain itu, aku
juga mendapat penemuan baru: beberapa santri telah potong rambung dengan gaya
mohacx. Yang pinggir tipis dan tebal di tengah itu. Banyak yang potong rambut
begitu. Wah. Ini tidak sesuai dengan etika kesantrian. Setidaknya, dari
beberapa penemuan di lapangan ini, bisa diusulkan ketika rapat penetapan aturan
pada malam selasa nanti.
Buka puasa hari
arafah itu pun berbeda. Kami makan bersama. Tabheken. Nasi yang dimasak
oleh bagian dapur, yakni Topek, Rahul dll itu ternyata nasinya kurang. Untungnya
saat itu, ada santri yang kiriman akhirnya nasi mereka ‘diminta’ untuk digabungkan
juga. Hahaha.
Sholat maghrib
berjama’ah sebagaimana biasa. Takbiran. Begitupula sholat isya’ dan setelah
sholat isya’, kegiatan diisi dengan bersih-bersih wilayah juga pembacaan
takbiran yang dibagi sesuai lima kelompok KBM pagi. Sekitar jam setengah sepuluh,
takbiran ‘disuruh’ berhenti oleh Gus Hadi dan gerbang wilayah dikunci.
Tak lama berselang,
Neng Iin chat ke pengurus, yakni Ust. Muhib dan Topek untuk menjaga wilayah
karena ada beberapa pemuda di sekitar wilayah. Karena khawatir mereka menggangu
keamanan dan kenyaman kami disini saat malam hari, akhirnya beberapa ustadz
begadang gantian. Berjaga menjaga wilayah.
Aku pun ikut
mereka, selaku bagian keamanan begitu. Hahaha. Meski aku jarang dan tak terlalu
terbiasa begadang. Lebih enak tidur daripada berdingin-dingin di malam hari. Tidak
tidur dan membicarakan sesuatu yang bagiku, kurang berisi. Waktu begadang menahan
kantuk itu lho, yang tidak ku sukai. Sering diisi main HP, ngopi,
makan-makan, bincang-bincang dan lain sebagainya.
Kalau boleh jujur,
aku lebih menyukai bagian yang menyendiri, ditemani minumah hangat dan beberapa
camilan. Lalu mengerjakan proyek-proyek ilmiah dan jarang diketahui banyak
orang, misal menulis, desain, mengurus data-data, menggarap proyek kepenulisan
tertentu dan lain sebagainya.
Tapi kebutuhan di
lapangan kadang tak selalu begitu. Tak ada jalan lain untuk menerima dan
belajar di bidang baru ini. Aku lalu ke
kamar. Buka-buka teks khutbah yang akan ku baca esok pagi. Oh ya, sesuai dengan
kesepakatan teman-teman, aku jadi khotib dan Ust. Taufiq ini jadi bilal-nya.
Ada satu bagian
yang lupa: Kiai Hafidz tadi malam ke sini. Ada tetangga yang meminta santri
untuk jadi khotib dan bilal. Dan, permintaan ini sesuai dengan apa yang diucapkan
Gus Hadi sebelumnya. Akhirnya aku dan Ust. Taufiq -sebagaimana kesepakatan
sebelumnya- dipertemukan dengan tuan rumah.
Dan, malam harinya
kami melihat lokasi musholla yang akan jadi tempat kami melaksanakan sholat
idul adha. Kami melihat lokasi ini bersama Zainul Mujib. Pengurus bagian
keamanan dan bendahara, salah satu santri kepercayaan dhalem yang akrab
dipanggil “jhe” tersebut.
Jalan-jalan malam
itu bukan sekedar cek lokasi saja. kami bertiga, yakni aku, Ust. Taufiq dan Jhe
berkeliling memutari daerah/wilayah riyadlus sholihin. Kami lewat belakang
hingga tembus di bagian selatan wilayah. Bagian selatan pondok itu sawah-sawah.
Ya akhirnya kami coba melewati sana. Sekaligus cek jalananan sini sebagai bentuk
keamanan dan juga muncul rencana pembacaan burdah keliling. Rencananya begitu.
***
Keesokan harinya, setelah
sholat subuh berjama’ah, para santri langsung dikondisikan untuk segera
melakukan persiapan melaksanakan sholat ‘id. Aku dan Ust. Taufiq yang membaca
takbiran pagi di musholla. Sambil lalu menunggu beberapa santri sudah mandi dan
rapi untuk gantian pegang mic baca takbiran.
Tadi pagi, aku juga
baru tau kalau materi khutbah tidak perlu disiapkan. Karena disana ada buku khutbah
yang sudah disediakan tuan rumah. Disana juga tidak ada mimbar. Pelaksanaan khutbah
memang disetting sederhana dan apa adanya.
Setelah semua
santri berangkat menuju pusat, wilayah sepi, mengamankan kamar dan beberapa
barang, akhirnya kami bertiga berangkat menuju musholla itu. Padahal tadi malam
kata tuan rumah, kami akan dijemput. Tapi karena sudah siap dan menunggu cukup
lama, akhirnya kami berangkat berjalan kaki pelan-pelan.
Ketika hampir
sampai, tuan rumah keluar dengan membawa sepeda. Sepertinya ingin menjemput. Tapi
karena kami sudah hampir sampai, pihak tuan rumah akhirnya tidak jadi keluar.
Bicara soal
khutbah, kata Kiai Hafidz tadi malam, bahwasanya inti dari khutbah di daerah sini itu pendek saja. Karena
masyarakat ingin segera selesai dan sarwa’an atau selametan-nya bisa
segera dimulai. Jadi khutbahnya itu pendek saja. Sebagaimana yang ada di dalam
kitab yang telah disediakan di musholla itu. Full bahasa arab.
Oh ya, pelaksanaan
shola idul adha di sini, itu terpencar-pencar. Tiap ada musholla dan masjid,
meski jaraknya berdekatan, masyarakat disini melaksanakan di musholla/masjid itu.
Masing-masing. Jadi tidak heran bila masjidnya hanya terisi beberapa shof saja
atau satu musholla yang berjama’ah itu hanya bagian keluarga tuan rumah saja. Sedangkan
untuk musholla yang aku jadi khotib itu jama’ahnya, putra-putri, tidak sampai
sepuluh orang.
Selain itu, kalau
kata Gus Hadi tadi malam, yang akan menjadi imam sholat itu dari pihak tuan rumah. Sesampai disana, ketika
setelah beberapa menit baca takbiran, akhirnya ada ibu-ibu yang menghaturi agar
pelaksanaan sholat id’nya segera dimulai.Untuk imam, mereka pasrah pada kami.
Karena Ust. Taufiq
jadi bilal, terpaksa aku jadi imam. Jhe saat itu hanya pendamping saja. akhirnya
majulah aku. Duh, saat jadi imam itu, aku salah bacaan. Pada rakaat pertama, aku
baca surat asy-Syams ternyata bacaan ayatnya melayang ke surat entah apa
aku lupa. Akhirnya aku ulangi bacaan surat pendek itu dan membaca surat al-Insyiroh.
Selebihnya, aman,
lancar dan terkendali. Setelah selesai membaca dua khutbah, kami pun saling
salam-salaman. Yang jadi aku heran, yang ibu-ibu itu salam-salaman ke pihak laki-laki.
Ada dua orang perempuan saat itu. Satu orang sudah tua meski tidak sepuh banget
dan satunya lagi lebih muda. Kulitnya masih cerah dan tampaknya ia adalah ibu
dengan dua orang anak.
Aku ikut saja tradisi
disana, meski aku juga mengingkari. Aku mau menolak tapi tidak enak sendiri.
setelah sholat id selesai, acara dilanjutkan dengan sarwa’an atau pembacaan
tahlil. Setelah itu makan/ramah tamah dan semua jama’ah membawa berkat yang telah
disediakan tuan rumah.Hal ini juga sesuatu yang baru bagiku.
Setelah acara
selesai, kami bertiga diberi amplop oleh tuan rumah. Duh, duh, malu aku. Sudah ada
kesalahan tadi, masih diberi amplopan begini. Padahal diundang dan dipercaya
mengisi khutbah dan bilal begini, kami terimakasih sekali karena sudah membuka
peluang latihan mental ketika di masyarakat nanti. Eh, sekarang malah dikasih
amplop lagi.
Berat, berat~
Kami pun pulang ke Riyadlus
Sholihin. Para santri sudah makan semua dan hendak menuju ke pusat. Bermaaf-maaf
kepada para kiai. Sayangnya lagi, kami juga belum ketemu pada Kiai Zainur Rifa’
selaku pengasuh. Eman. Sudah hampir dua minggu disini, kami peserta BMs belum
juga berkunjung ke pengasuh. Sungkem jauh kiai~
Acara selesai. Kami
para ustadz segera menuju kamar. Aku menyempatkan rebahan, tidur sungguhan
sebagai bentuk syukur akan hari libur ini. Tak lupa ku minta maaf secara
virtual pada ibu. Hingga bangun dan mengetik tulisan ini.
Kepada teman-teman,
terimakasih telah mengikuti tulisan demi tulisan ini. Meliat statistik pembaca
di blog selalu ada peningkatan, aku bersyukur sekali ada juga yang membaca
tulisan-tulisan diary-ku. Yang tidak terlalu penting dan berisi. Mungkin cukup
sekian. Sekali lagi, terimakasih ya. 😊
Catatan BMs hari ke 12. Selesai di tulis pada Ahad,
10 Juli 2022.
.png)
0 Komentar