Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan BMs (12): Kegiatan Malam Takbiran dan Idul Adha di Riyadlus Sholihin

 

 

Selamat hari raya idul adha 1443 H. Semoga kita dapat meneladani nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang telah berhasil menyembelih nafsu kebinatangannya sehingga Allah menjadikan kambing/sapi/unta menjadi hewan kurban. Semua itu tidak lain, semata-mata hanya untuk berqurban/taqarrub (baca: mendekat) kepada Allah SWT.

Catatan hari ke dua belas ini, aku ingin bercerita sejak kemarin sore hingga detik ini. Kemarin sore itu, setelah ashar yang biasanya ada diniyah diliburkan dan diganti dengan bersih-bersih daerah/wilayah. Keinginanku yang ingin bersih-bersih bagian depan daerah akhirnya tercapai, meski tidak bersih total dan semuanya.

Maklum, sore itu para santri dan aku dalam keadaan puasa. Alat-alat kurang mendukung. Dan, para santri yang benar-benar ongghuen bersih-bersih itu sedikit. Jadi seandainya aku sendiri yang semangat, kan gimana gitu ? wkwkw. Tak nyaman. :D

Tapi alhamdulillah-lah ada peningkatan kebersihan. Kegiatan bersih-bersih itu selesai jam setengah lima sore. Pada sore itu juga, aku baru tau kalau bagian kebersihan di sini tidak ada cikrak dan para santri kurang merawat dalam menjaga peralatan kebersihan. Wah. Ini temuan baru. Perlu dikondisikan.

Selain itu, aku juga mendapat penemuan baru: beberapa santri telah potong rambung dengan gaya mohacx. Yang pinggir tipis dan tebal di tengah itu. Banyak yang potong rambut begitu. Wah. Ini tidak sesuai dengan etika kesantrian. Setidaknya, dari beberapa penemuan di lapangan ini, bisa diusulkan ketika rapat penetapan aturan pada malam selasa nanti.

Buka puasa hari arafah itu pun berbeda. Kami makan bersama. Tabheken. Nasi yang dimasak oleh bagian dapur, yakni Topek, Rahul dll itu ternyata nasinya kurang. Untungnya saat itu, ada santri yang kiriman akhirnya nasi mereka ‘diminta’ untuk digabungkan juga. Hahaha.

Sholat maghrib berjama’ah sebagaimana biasa. Takbiran. Begitupula sholat isya’ dan setelah sholat isya’, kegiatan diisi dengan bersih-bersih wilayah juga pembacaan takbiran yang dibagi sesuai lima kelompok KBM pagi. Sekitar jam setengah sepuluh, takbiran ‘disuruh’ berhenti oleh Gus Hadi dan gerbang wilayah dikunci.

Tak lama berselang, Neng Iin chat ke pengurus, yakni Ust. Muhib dan Topek untuk menjaga wilayah karena ada beberapa pemuda di sekitar wilayah. Karena khawatir mereka menggangu keamanan dan kenyaman kami disini saat malam hari, akhirnya beberapa ustadz begadang gantian. Berjaga menjaga wilayah.

Aku pun ikut mereka, selaku bagian keamanan begitu. Hahaha. Meski aku jarang dan tak terlalu terbiasa begadang. Lebih enak tidur daripada berdingin-dingin di malam hari. Tidak tidur dan membicarakan sesuatu yang bagiku, kurang berisi. Waktu begadang menahan kantuk itu lho, yang tidak ku sukai. Sering diisi main HP, ngopi, makan-makan, bincang-bincang dan lain sebagainya.

Kalau boleh jujur, aku lebih menyukai bagian yang menyendiri, ditemani minumah hangat dan beberapa camilan. Lalu mengerjakan proyek-proyek ilmiah dan jarang diketahui banyak orang, misal menulis, desain, mengurus data-data, menggarap proyek kepenulisan tertentu dan lain sebagainya.

Tapi kebutuhan di lapangan kadang tak selalu begitu. Tak ada jalan lain untuk menerima dan belajar di bidang baru ini. Aku  lalu ke kamar. Buka-buka teks khutbah yang akan ku baca esok pagi. Oh ya, sesuai dengan kesepakatan teman-teman, aku jadi khotib dan Ust. Taufiq ini jadi bilal-nya.

Ada satu bagian yang lupa: Kiai Hafidz tadi malam ke sini. Ada tetangga yang meminta santri untuk jadi khotib dan bilal. Dan, permintaan ini sesuai dengan apa yang diucapkan Gus Hadi sebelumnya. Akhirnya aku dan Ust. Taufiq -sebagaimana kesepakatan sebelumnya- dipertemukan dengan tuan rumah.

Dan, malam harinya kami melihat lokasi musholla yang akan jadi tempat kami melaksanakan sholat idul adha. Kami melihat lokasi ini bersama Zainul Mujib. Pengurus bagian keamanan dan bendahara, salah satu santri kepercayaan dhalem yang akrab dipanggil “jhe” tersebut.

Jalan-jalan malam itu bukan sekedar cek lokasi saja. kami bertiga, yakni aku, Ust. Taufiq dan Jhe berkeliling memutari daerah/wilayah riyadlus sholihin. Kami lewat belakang hingga tembus di bagian selatan wilayah. Bagian selatan pondok itu sawah-sawah. Ya akhirnya kami coba melewati sana. Sekaligus cek jalananan sini sebagai bentuk keamanan dan juga muncul rencana pembacaan burdah keliling. Rencananya begitu.

***

Keesokan harinya, setelah sholat subuh berjama’ah, para santri langsung dikondisikan untuk segera melakukan persiapan melaksanakan sholat ‘id. Aku dan Ust. Taufiq yang membaca takbiran pagi di musholla. Sambil lalu menunggu beberapa santri sudah mandi dan rapi untuk gantian pegang mic baca takbiran.

Tadi pagi, aku juga baru tau kalau materi khutbah tidak perlu disiapkan. Karena disana ada buku khutbah yang sudah disediakan tuan rumah. Disana juga tidak ada mimbar. Pelaksanaan khutbah memang disetting sederhana dan apa adanya.

Setelah semua santri berangkat menuju pusat, wilayah sepi, mengamankan kamar dan beberapa barang, akhirnya kami bertiga berangkat menuju musholla itu. Padahal tadi malam kata tuan rumah, kami akan dijemput. Tapi karena sudah siap dan menunggu cukup lama, akhirnya kami berangkat berjalan kaki pelan-pelan.

Ketika hampir sampai, tuan rumah keluar dengan membawa sepeda. Sepertinya ingin menjemput. Tapi karena kami sudah hampir sampai, pihak tuan rumah akhirnya tidak jadi keluar.

Bicara soal khutbah, kata Kiai Hafidz tadi malam, bahwasanya inti dari  khutbah di daerah sini itu pendek saja. Karena masyarakat ingin segera selesai dan sarwa’an atau selametan-nya bisa segera dimulai. Jadi khutbahnya itu pendek saja. Sebagaimana yang ada di dalam kitab yang telah disediakan di musholla itu. Full bahasa arab.

Oh ya, pelaksanaan shola idul adha di sini, itu terpencar-pencar. Tiap ada musholla dan masjid, meski jaraknya berdekatan, masyarakat disini melaksanakan di musholla/masjid itu. Masing-masing. Jadi tidak heran bila masjidnya hanya terisi beberapa shof saja atau satu musholla yang berjama’ah itu hanya bagian keluarga tuan rumah saja. Sedangkan untuk musholla yang aku jadi khotib itu jama’ahnya, putra-putri, tidak sampai sepuluh orang.

Selain itu, kalau kata Gus Hadi tadi malam, yang akan menjadi imam sholat itu dari  pihak tuan rumah. Sesampai disana, ketika setelah beberapa menit baca takbiran, akhirnya ada ibu-ibu yang menghaturi agar pelaksanaan sholat id’nya segera dimulai.Untuk imam, mereka pasrah pada kami.

Karena Ust. Taufiq jadi bilal, terpaksa aku jadi imam. Jhe saat itu hanya pendamping saja. akhirnya majulah aku. Duh, saat jadi imam itu, aku salah bacaan. Pada rakaat pertama, aku baca surat asy-Syams ternyata bacaan ayatnya melayang ke surat entah apa aku lupa. Akhirnya aku ulangi bacaan surat pendek itu dan membaca surat al-Insyiroh.

Selebihnya, aman, lancar dan terkendali. Setelah selesai membaca dua khutbah, kami pun saling salam-salaman. Yang jadi aku heran, yang ibu-ibu itu salam-salaman ke pihak laki-laki. Ada dua orang perempuan saat itu. Satu orang sudah tua meski tidak sepuh banget dan satunya lagi lebih muda. Kulitnya masih cerah dan tampaknya ia adalah ibu dengan dua orang anak.

Aku ikut saja tradisi disana, meski aku juga mengingkari. Aku mau menolak tapi tidak enak sendiri. setelah sholat id selesai, acara dilanjutkan dengan sarwa’an atau pembacaan tahlil. Setelah itu makan/ramah tamah dan semua jama’ah membawa berkat yang telah disediakan tuan rumah.Hal ini juga sesuatu yang baru bagiku.

Setelah acara selesai, kami bertiga diberi amplop oleh tuan rumah. Duh, duh, malu aku. Sudah ada kesalahan tadi, masih diberi amplopan begini. Padahal diundang dan dipercaya mengisi khutbah dan bilal begini, kami terimakasih sekali karena sudah membuka peluang latihan mental ketika di masyarakat nanti. Eh, sekarang malah dikasih amplop lagi.

Berat, berat~

Kami pun pulang ke Riyadlus Sholihin. Para santri sudah makan semua dan hendak menuju ke pusat. Bermaaf-maaf kepada para kiai. Sayangnya lagi, kami juga belum ketemu pada Kiai Zainur Rifa’ selaku pengasuh. Eman. Sudah hampir dua minggu disini, kami peserta BMs belum juga berkunjung ke pengasuh. Sungkem jauh kiai~

Acara selesai. Kami para ustadz segera menuju kamar. Aku menyempatkan rebahan, tidur sungguhan sebagai bentuk syukur akan hari libur ini. Tak lupa ku minta maaf secara virtual pada ibu. Hingga bangun dan mengetik tulisan ini.

Kepada teman-teman, terimakasih telah mengikuti tulisan demi tulisan ini. Meliat statistik pembaca di blog selalu ada peningkatan, aku bersyukur sekali ada juga yang membaca tulisan-tulisan diary-ku. Yang tidak terlalu penting dan berisi. Mungkin cukup sekian. Sekali lagi, terimakasih ya. 😊

Catatan BMs hari ke 12. Selesai di tulis pada Ahad, 10 Juli 2022.

Posting Komentar

0 Komentar