Selamat dan sukses atas terselenggaranya wisuda akbar ke 8 Mahad Aly Nurul
Jadid. Untuk pertama kalinya saya tidak terlibat langsung menjadi panitia inti,
dalam keriwehan serta kesibukan-kesibukan dalam mensukseskan acara ini.
Secara struktural saya ada di posisi wakil sekretaris, tapi secara kinerja
sudah di-handle oleh sekretaris 1. Jadi saya lebih banyak menjadi
pengamat serta penikmat hasil jerih payah para panitia inti yang berjibaku
mensukseskan acara.
“Oh, begini rasanya”, ini komentar saya. Heheuy.
Proses wisuda, semoga tidak sekedar menjadi acara rutinitas belaka, tapi
benar-benar mengilhami bagi semua elemen yang ada bahwa wisuda adalah satu
tahap dari banyak tahap untuk menjadi kader ulama akhirat. Ulama-ulama yang
ilmu yang bermanfat, dunia akhirat.
Wisuda, menjadi satu tahapan yang harus dilalui, agar para mahasantri melanjutkan
ke marhalah atau jenjang yang lebih tinggi lagi. Dibalik wisuda ada banyak
kejadian dan peristiwa yang harus dilewati. Bahasa kerennya, “proses yang
berdarah-darah”.
Intinya untuk semua wisudawan ini keren dah. Tapi bagi yang tidak
wisuda, jangan patah semangat ya. Wisuda bukan satu-satunya jalan untuk meraih
kesuksesan.
Sehat juga untuk para guru, musyrif dan muysrifah, para kiai dan masyayikh.
Semoga wisuda ini mendapat limpahan barokah dari para guru kita semua, baik
yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
Tadi menjelang siang, saya dan kawan-kawan ngumpul bareng mau buat buletin.
Namanya aN-Nataij. Rencananya, buletin ini akan dibentuk secara pdf. Akan
disebar ke mana-mana nanti. Jadi tak perlu di-print supaya tidak merogoh kocek
temen-temen. Apalagi sebentar lagi liburan, kan tak mungkin untuk print
dan menyebarkan buletin di pondok.
Akhirnya, dibentuklah buletin aN-Nataij ini. Harapannya para mahasantri ini
terbiasa menulis, terbentuk budaya/kultur literasi. Para mahasantri di ma’had
aly jadi terbiasa berorganisasi untuk menghasilkan suatu karya. Meski jauh dari
kata ideal, semoga proses ini dapat dilalui. Sambil lalu nanti untuk evaluasi,
evaluasi dan evaluasi.
Pembuatan buletin ini didasarkan atas saran dari kawan saya dari Ma’had Aly
Situbondo itu. Buletin ini rencananya akan terbit ketika bulan ramadhan nanti,
tapi berhubung hanya sedikit halamannya, hanya 6 halaman, jadi saya usul agar
setelah wisuda ini sudah langsung terbit. Ditulis oleh para kakak kelas
semester 6. Sebagai permulaan dan contohnya saja. Semoga lancar.
Buletin An-Nataij ini adalah ide yang lama teman-teman BEMs, tapi baru
sekarang ini (hampir) terealisasi. Buletin ini terdiri dari 6 halaman. Satu dua
halaman berisi tema kajian fikih puasa. Halaman tiga empat berisi kajian
akhlak. Untuk halaman lima berisi dokumentasi berita. Sedangkan halaman enam
berisi tentang hasil bahtsul masail, rubrik doa dan iklan.
Buletin An-Nataij untuk sementar waktu ini adalah berada dibawah naungan
Badan Eksekutif Mahasantri (BEMs) bagian bakat minat (bakmin) devisi kelas
literasi. Anggota dari penerbitan buletin ini adalah anggota al-amiri pos dan
kamal.
Saya ingin sekali, bila ditiap angkatan nanti mereka sadar dan dapat
mandiri sendiri. Tak perlu dikoordinir oleh pengurus BEMs. Jadi setelah masuk
di Ma’had Aly, pengenalan kultur budaya selama sebulan. Lalu sudah mulai jalan
perbitan buletin.
Untung-untung kalau dalam tiap semester mereka ada karya sendiri, atau tiap
tahun bahkan punya karya akhir yang digarap selama empat tahun sebagaimana
sistem yang ada di Lirboyo itu.
Konsep-konsep sederhana seperti ini, tidak akan terealisasi bila tidak ada
aksi nyata. Mari kawan-kawan, melalui tulisan ini, saya mengajak kalian semua
untuk menulis. Bersama-sama untuk berkarya. Yang bagian desain segera ambil
bagian. Yang biasa baca kitab dan buku, segeta ambil bagian. Bagi yang tidak
dipanitia inti lapangan literasi, bisa bantu dengan cara mendukung teman-teman
yang lagi bergerak-proses menerbitkan suatu karya.
Paiton, 26 Maret 2022.
.png)
0 Komentar