Trending

6/recent/ticker-posts

Membudayakan Literasi di Ma’had Aly

 



 

Duduk, meluangkan waktu, fokus, menulis dan menyelesaikan sebuah tulisan adalah anugerah yang sangat perlu disyukuri. Tak semua orang bisa, mau dan dimampukan melakukan itu semua. Melakukannya dalam sehari saja. Seperti itu. Besoknya lagi, besoknya lagi, hingga setiap hari. Wah, ini perlu perjuangan.

Jatuh, bangkit, terperosok lalu bangkit lagi. Hingga orang yang ingin jadi penulis setelah berjibaku dengan segala rintangan yang ada bisa berdiri tegak kembali, optimis menulis walau berbagai keadaan yang selalu tak memungkinkan.

Kemarin saya membahas tentang kondisi lapangan literasi di Ma’had Aly Situbondo. Ada yang perlu saya tambahi dari artikel kemarin bahwa, disana ustaz/musyrif (pengurusnya) mendukung serta mendorong para mahasantri-nya untuk menulis. Berkarya. Sadar literasi. Jadi literasi disana sudah menjadi kultur. Membudaya. Tak heran kalau ada event-event kepenulisan, utusan dari Ma’had Aly Situbondo selalu ada yang pecah telur (juara).

Saya disini oleh beberapa orang dekat didorong untuk mengkader dan mengkader.

“Ayo, mengkader pin. Biar ada penerusnya kamu”.

Saya awalnya santai saja. Toh, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Saya yakin saja, bahwa setelah saya tidak disini lagi, pasti ada orang yang menggantikan saya. Aktif menulis, media dan literasi.

Tapi seandainya disini sudah terbentuk budaya literasi kan enak. Semua santri sadar membaca, menulis dan berkarya. Menuangkan ide kreatif mereka supaya gagasan yang mereka pelajari dari belajar di ma’had aly bisa tersampaikan kepada siapapun itu. Baik melalui artikel, infografis ataupun video menarik.

Oleh karena itu, membentuk kultur, budaya dan perubahan peradaban itu perlu. Perlu sekali. Perubahan dari yang buruk ke yang baik. Dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Dari yang sudah lebih baik dan mempertahankannya.

Para nabi dan rasul, para kiai dan ulama melakukan transformasi peradaban seperti itu. Banyak sekali contohnya. Salah satunya adalah Nurul Jadid dengan adanya Kiai Zaini Mun’im.

Bila di Situbondo, anggap saja ‘sudah mapan’ seperti itu, lalu bagaimana dengan Ma’had Aly Nurul Jadid ?

Sebagai santri yang terjun dalam bidang literasi ini, saya memiliki ketertarikan dan sedang mencurahkan perhatian dalam dunia literasi disini.

Ketika saya baru datang dan terdaftar resmi sebagai mahasantri Ma’had Aly pada tahun 2019 lalu, terdapat beberapa wadah untuk menuangkan tulisan dan berkreasi di Ma’had Aly. Ada koran al-amiri pos dan juga majalah kamal. Untuk media online tidak terlalu familiar. Entah mengapa, ketika saya disini, media online tidak ada eksistensinya.

Singkat cerita, saya tertarik masuk koran al-amiri pos, diajak menulis berita di media online Ma’had Aly. Saat itu facebook ma’had aly adalah platform yang saya tuangi tulisan pertama kali. Lalu saya mulai mendengar cerita demi cerita, sejarah demi sejarah perkembangan media di sini.

Dulu, antara al-amiri pos dan Kamaltidak teroganisir dengan baik. Dulu, asal jalan dan asal terbit. Maksudnya, tidak ada jenjang kaderisasi dan tidak saling bersinergi. Kalau sudah masuk kru koran al-amiri pos, kru majalah Kamaljangan macam-macam untuk merekrutnya. Begitu pula sebaliknya. Jadi terkait keanggotaan, masih saling rebutan dan siapa cepat dia yang dapat.

Koran al-amiri pos, karena terbitnya dua seminggu sekali, eksistensinya paling diminati dan selalu dilirik. Sedangkan majalah Kamalitu terbit enam bulan sekali dan dari banyak waktu itu, hanya ‘sedikit sekali’ yang bisa terbit. Entah sudah berapa tahun majalah ini mati suri.

Sedikit demi sedikit, permasalahan seperti ini perlu diperbaiki. Mulai dari ada ide berjenjang, seperti kalau sudah masuk al-amiri pos setelah menjalani masa jabatan setahun, lalu beralih ke kamal. Setelah satu tahun di majalah kamal, kemudian beralih ke media online. Begitu seterusnya.

Tapi ide ini baru berjalanan satu tahunan. Sebentar lagi sudah hampir memasuki satu tahun (satu jabatan). Bila mengikuti sistem ini, maka saya tidak akan lama lagi akan ‘pensiun’ berkhidmah di media milik lembaga. Lalu diganti oleh Faiq selaku teman saya yang menjadi pimred Kamal. Kemudian Zillul, yang saat ini menjadi pimred koran al-amiri pos akan ‘memegang’ majalah Kamal.

Tapi sistem seperti ini sangat memiliki kelemahan. Bila langsung ditinggal-tinggal seperti ini, sulit akan terbentuk budaya/kultur literasi di ma’had aly. Ketika saya tidak aktif di media online, Faiq secara otomatis akan dituntut untuk belajar hal baru mengurusi media online. Faiq harus beradaptasi dengan kesibukan yang sangat padat, menjalin dan membangun chemistri lagi dengan kru media online. Dan masih banyak yang lainnya.

Begitu pula dengan kru-kru organisasi adik-adiknya, seperti majalah Kamal dan koran al-amiri pos. Padahal, saat ini media online ma’had aly sedang menemukan kesalarasan dalam tim. Dan, sekarang tinggal mengembangkannya lebih baik lagi.

Berbeda dengan Kamal dan al-amiri pos yang ‘saya kira’ masih belum menemukan kejelasan jati diri tiap anggota kru-nya, masih belum terbentuk kaderisasi yang baik dan masih banyak perkejaan rumah yang sifatnya mendasar belum terlaksana. komunikasi antara atasan dan bawahan lainnya.

Nah, ketika sedang ada banyak masalah, pr-pr seperti ini, tiba-tiba para pemred ini langsung diamanahi memegang media yang lebih tinggi lagi. Wah, bukan hanya pembina media center barangkali yang akan kebablakan, tapi para pimred ini bahkan juga mengaku ke saya tidak setuju langsung seperti ini.

Oleh temen saya dari Ma’had Aly Situbondo yang kapan hari ke sini itu, saya disarankan untuk garap buletin terlebih dahulu. Pelan-pelan. Membudayakan literasi. Untuk contoh buletin di Situbondo tidak dibawa, tapi saya mengajak beberapa kawan disini agar mulai membiasakan menulis dengan adanya buletin itu. Ketika liburan nanti.

Kami sudah mengonsep, ancang-ancang dan persiapan. Tapi untuk lebih matangnya bisa nanti bicang-bincang santai bareng kru redaksi majalah gamis yang insyaallah akan ke Nurul Jadid pada tanggal 28 Maret nanti. Semoga lancar saja.

Pelan-pelan, gerakan akar rumput menumbuhkan kesadaran berliterasi sudah ada sinyal. Semoga saja, literasi di sini semakin tumbuh subur. Berkembang. Yang mana puncak dari literasi ini, teman-teman mahasantri bukan sekedar membaca, menulis dan menghasilkan karya. Tidak. Tapi mereka lebih peka keadaan, fenomena sosial dan ujung-ujungnya adalah problem solving (pemecahan masalah).

Paiton. Kamis, 24 Maret 2022.

 

Posting Komentar

0 Komentar