Duduk, meluangkan waktu, fokus,
menulis dan menyelesaikan sebuah tulisan adalah anugerah yang sangat perlu
disyukuri. Tak semua orang bisa, mau dan dimampukan melakukan itu semua.
Melakukannya dalam sehari saja. Seperti itu. Besoknya lagi, besoknya lagi, hingga
setiap hari. Wah, ini perlu perjuangan.
Jatuh, bangkit, terperosok lalu
bangkit lagi. Hingga orang yang ingin jadi penulis setelah berjibaku dengan
segala rintangan yang ada bisa berdiri tegak kembali, optimis menulis walau
berbagai keadaan yang selalu tak memungkinkan.
Kemarin saya membahas tentang
kondisi lapangan literasi di Ma’had Aly Situbondo. Ada yang perlu saya tambahi
dari artikel kemarin bahwa, disana ustaz/musyrif (pengurusnya) mendukung serta
mendorong para mahasantri-nya untuk menulis. Berkarya. Sadar literasi. Jadi
literasi disana sudah menjadi kultur. Membudaya. Tak heran kalau ada
event-event kepenulisan, utusan dari Ma’had Aly Situbondo selalu ada yang pecah
telur (juara).
Saya disini oleh beberapa orang
dekat didorong untuk mengkader dan mengkader.
“Ayo, mengkader pin. Biar ada
penerusnya kamu”.
Saya awalnya santai saja. Toh,
setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Saya yakin saja, bahwa
setelah saya tidak disini lagi, pasti ada orang yang menggantikan saya. Aktif
menulis, media dan literasi.
Tapi seandainya disini sudah
terbentuk budaya literasi kan enak. Semua santri sadar membaca, menulis
dan berkarya. Menuangkan ide kreatif mereka supaya gagasan yang mereka pelajari
dari belajar di ma’had aly bisa tersampaikan kepada siapapun itu. Baik melalui
artikel, infografis ataupun video menarik.
Oleh karena itu, membentuk
kultur, budaya dan perubahan peradaban itu perlu. Perlu sekali. Perubahan dari
yang buruk ke yang baik. Dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Dari yang
sudah lebih baik dan mempertahankannya.
Para nabi dan rasul, para kiai
dan ulama melakukan transformasi peradaban seperti itu. Banyak sekali
contohnya. Salah satunya adalah Nurul Jadid dengan adanya Kiai Zaini Mun’im.
Bila di Situbondo, anggap saja
‘sudah mapan’ seperti itu, lalu bagaimana dengan Ma’had Aly Nurul Jadid ?
Sebagai santri yang terjun dalam
bidang literasi ini, saya memiliki ketertarikan dan sedang mencurahkan
perhatian dalam dunia literasi disini.
Ketika saya baru datang dan
terdaftar resmi sebagai mahasantri Ma’had Aly pada tahun 2019 lalu, terdapat
beberapa wadah untuk menuangkan tulisan dan berkreasi di Ma’had Aly. Ada koran
al-amiri pos dan juga majalah kamal. Untuk media online tidak terlalu familiar.
Entah mengapa, ketika saya disini, media online tidak ada eksistensinya.
Singkat cerita, saya tertarik
masuk koran al-amiri pos, diajak menulis berita di media online Ma’had Aly.
Saat itu facebook ma’had aly adalah platform yang saya tuangi tulisan pertama
kali. Lalu saya mulai mendengar cerita demi cerita, sejarah demi sejarah perkembangan
media di sini.
Dulu, antara al-amiri pos dan Kamaltidak
teroganisir dengan baik. Dulu, asal jalan dan asal terbit. Maksudnya, tidak ada
jenjang kaderisasi dan tidak saling bersinergi. Kalau sudah masuk kru koran
al-amiri pos, kru majalah Kamaljangan macam-macam untuk merekrutnya. Begitu
pula sebaliknya. Jadi terkait keanggotaan, masih saling rebutan dan siapa cepat
dia yang dapat.
Koran al-amiri pos, karena
terbitnya dua seminggu sekali, eksistensinya paling diminati dan selalu dilirik.
Sedangkan majalah Kamalitu terbit enam bulan sekali dan dari banyak waktu itu,
hanya ‘sedikit sekali’ yang bisa terbit. Entah sudah berapa tahun majalah ini
mati suri.
Sedikit demi sedikit, permasalahan
seperti ini perlu diperbaiki. Mulai dari ada ide berjenjang, seperti kalau
sudah masuk al-amiri pos setelah menjalani masa jabatan setahun, lalu beralih
ke kamal. Setelah satu tahun di majalah kamal, kemudian beralih ke media
online. Begitu seterusnya.
Tapi ide ini baru berjalanan satu
tahunan. Sebentar lagi sudah hampir memasuki satu tahun (satu jabatan). Bila
mengikuti sistem ini, maka saya tidak akan lama lagi akan ‘pensiun’ berkhidmah
di media milik lembaga. Lalu diganti oleh Faiq selaku teman saya yang menjadi
pimred Kamal. Kemudian Zillul, yang saat ini menjadi pimred koran al-amiri pos
akan ‘memegang’ majalah Kamal.
Tapi sistem seperti ini sangat
memiliki kelemahan. Bila langsung ditinggal-tinggal seperti ini, sulit akan
terbentuk budaya/kultur literasi di ma’had aly. Ketika saya tidak aktif di media
online, Faiq secara otomatis akan dituntut untuk belajar hal baru mengurusi
media online. Faiq harus beradaptasi dengan kesibukan yang sangat padat,
menjalin dan membangun chemistri lagi dengan kru media online. Dan masih banyak
yang lainnya.
Begitu pula dengan kru-kru
organisasi adik-adiknya, seperti majalah Kamal dan koran al-amiri pos. Padahal,
saat ini media online ma’had aly sedang menemukan kesalarasan dalam tim. Dan,
sekarang tinggal mengembangkannya lebih baik lagi.
Berbeda dengan Kamal dan al-amiri
pos yang ‘saya kira’ masih belum menemukan kejelasan jati diri tiap anggota
kru-nya, masih belum terbentuk kaderisasi yang baik dan masih banyak perkejaan
rumah yang sifatnya mendasar belum terlaksana. komunikasi antara atasan dan
bawahan lainnya.
Nah, ketika sedang ada banyak
masalah, pr-pr seperti ini, tiba-tiba para pemred ini langsung diamanahi
memegang media yang lebih tinggi lagi. Wah, bukan hanya pembina media center
barangkali yang akan kebablakan, tapi para pimred ini bahkan juga mengaku ke
saya tidak setuju langsung seperti ini.
Oleh temen saya dari Ma’had Aly Situbondo
yang kapan hari ke sini itu, saya disarankan untuk garap buletin terlebih
dahulu. Pelan-pelan. Membudayakan literasi. Untuk contoh buletin di Situbondo
tidak dibawa, tapi saya mengajak beberapa kawan disini agar mulai membiasakan
menulis dengan adanya buletin itu. Ketika liburan nanti.
Kami sudah mengonsep,
ancang-ancang dan persiapan. Tapi untuk lebih matangnya bisa nanti bicang-bincang
santai bareng kru redaksi majalah gamis yang insyaallah akan ke Nurul Jadid pada
tanggal 28 Maret nanti. Semoga lancar saja.
Pelan-pelan, gerakan akar rumput
menumbuhkan kesadaran berliterasi sudah ada sinyal. Semoga saja, literasi di
sini semakin tumbuh subur. Berkembang. Yang mana puncak dari literasi ini,
teman-teman mahasantri bukan sekedar membaca, menulis dan menghasilkan karya. Tidak.
Tapi mereka lebih peka keadaan, fenomena sosial dan ujung-ujungnya adalah
problem solving (pemecahan masalah).
Paiton. Kamis, 24 Maret 2022.

0 Komentar