Trending

6/recent/ticker-posts

Kultur Literasi Di Ma’had Aly Nurul Jadid dan Situbondo



Tidak terasa sekarang sudah tanggal 23 Maret 2022. Barangkali sudah sebulan lebih aku tidak menulis dan posting di blog. Padahal rencana resolusi dan komitmen di awal tahun lalu adalah menulis di blog setiap hari.

Ternyata tak semudah itu ferguso-

Baiklah. Mari kita tegak dan bangkit lagi. Mari kita coba lagi menulis dan menyimak cerita-cerita harian saya di blog ini.

Sejak beberapa hari yang lalu, ada sedikit permasalahan yang mengganjal pikiran. Permasalahan itu bila dinarasikan dalam bentuk pertanyaan adalah, “bagaimana cara membentuk, menciptakan dan membangun budaya atau kultur literasi di Ma’had Aly Nurul Jadid ?”.

Lalu, yang menjadi sanggahan adalah, “apakah di Ma’had Aly tidak tercipta kultur literasi ?”, “bagaimana keadaan literasi di Ma’had Aly Nurul Jadid sekarang ?”, “lalu, bagaimana dengan adanya koran al-amiri pos, majalah kamal dan media online saat ini ?.”

Sebelum membahas kondisi lapangan dari ke dua Ma’had Aly ini, saya akan memulainya dari Ma’had Aly Situbondo. Mumpung hasil bincang-bincang saya dengan kawan di sana masih hangat. Beberapa hari yang lalu.

Di Ma’had Aly Situbondo, untuk mahasantri semester satu dan dua itu langsung diarahkan untuk pegang buletin majalah dinding. Buletin ini terbit sebulan sekali dengan jumlah halaman sebanyak 20 halaman. Jadi oleh kakak kelas dan ustaz-ustaz disana, untuk mahasantri semester satu dua diarahkan untuk menulis. Menerbitkan mading ini saban bulan.

Kemudian beralih semester,  beralih pula tanggung jawab. Untuk mahasantri semester tiga dan empat, mereka diwajibkan untuk memegang majalah gamis. Gamis ini awalnya berupa buletin, kemudian pada angkatan saat ini dijadikan majalah oleh mereka.

Saya ada contohnya. Dikasih oleh Ikhsan. Kawan saya yang kapan hari ke sini untuk mengajak kerjasama bedah majalah gamis.

Majalah gamis ini terbit sebulan sekali dengan jumlah halaman sebanyak 50 sampai 60 an. Bisa dibilang gamis adalah adik dari majalah Tanwirul Afkar. Majalah gamis adalah majalah milik mahasantri marhalah ula. Sedang Tanwirul Afkar adalah majalah mahasantri marhalah tsani.

Setiap kali terbit, majalah gamis biasa mencetak 2000 sampai 2500 eksemplar. Untuk yang tersisa, itu kisaran 100-150. Pasar atau tempat ‘laku-nya’ majalah gamis itu di pusat. Tak seperti majalah Tanwirul Afkar yang santri Sukorejo diwajibkan utuk membeli majalah tersebut, majalah gamis tidak demikian.

Barangsiapa yang berminat, silahkan hubungi penanggung jawab di setiap wilayah. Para santri akan terfasilitasi dengan mendapatkan majalah gamis meski mereka ada di pondok pusat. Majalah gamis memiliki daya tarik tersendiri bagi santri Sukorejo. Jadi meski tidak diwajibkan, para santri tetap semangat untuk menukar uang mereka dengan satu eksemplar tiap terbitan majalah gamis.

Sedangkan majalah Tanwirul Afkar itu milik mahasantri marhalah tsani di Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. Mahasantri yang pegang keredaksian majalah ini adalah mahasantri semester tiga dan empat. untuk semester satu dan dua tidak pegang apa-apa karena masih adaptasi dengan kondisi marhalah tsani. Sedangkan semester lima dan enam itu sudah fokus pada risalah atau tugas akhir.

Terkait pasar, majalah Tanwirul Afkar sudah punya pasar sendiri, yakni santri Sukorejo yang ada di pusat. Mereka diwajibkan untuk membeli majalah TA ini. Selain itu,  majalah TA ini juga sudah melakukan penjualan di berbagai daerah di Indonesia. Mirip-mirip buletin Sidogiri yang karyanya telah membahana di penjuru daerah. Sedangkan majalah gamis itu ‘konsumsi pondok’ internal pesantren Sukorejo.

 Catatan :

Untuk tulisan ini belum selesai ya kawan. Entah mata ini jam segini sudah mengantuk. Daripada tidak posting, akhirnya saya posting apa adanya. 

Terimakasih. Selamat membaca.


Posting Komentar

0 Komentar