Hari-hari berlau begitu saja. tidak mau menunggu sedikit pun untuk
memberikan kesempatan dan injury time supaya saya menulis. Menulis apa
saja di sekitar saya secara personal sekali. Ada banyak peristiwa, kejadian dan
fenomena. Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya. Sayang, tak semua orang mau
dan mampu menuliskan pengalaman sehari-harinya di dalam sebuah tulisan.
Waktu-waktu berlalu dengan penggunaan media sosial, kesibukan yang tak ada
hentinya, atau yang lebih parahnya, memang sengaja menggunakan waktu tidak pada
tempatnya. Na’udzu billahi mindzalik.
Tadi siang, hampir adzan dhuhur itu,tiba-tiba percetakan paiton
menghubungi nomer media center. Nadanya
tampak kesal, karena pesan atau chat di wa, beberapa hari yang lalu tidak
mendapat jawaban dari hp yang sering saya gunakan itu.
Duduk perkaranya begini: teman saya (tanpa sebut nama ini ya, red) dulu
yang mengurusi percetakan kitab teman-teman kelas yang akan digunakan ketika
akademik. Kitab sudah tercetak, dan teman saya itu hutang kepada percetakan
karena masih tidak ada uang.
Toh, ini kitabnya teman-teman kelas, sehingga wajar ketika uang belum ada gara-gara
banyak teman-teman belum bayar. Singkat cerita, hutang tinggal delapan ratus
ribu. Kemudian teman saya itu menyerahkan nomer pribadi saya untuk menghubungi
kepada teman saya itu.
Kejadian ini dulu, ketika saya masih pegang hp pribadi. Kemudian,
penggunaan hp pribadi saya digantikan dengan hp baru yang disediakan oleh
Ma’had Aly. Tentunya, nomer dan mekanisme penggunaannya berubah.
Saya mengambil inisiatif, supaya teman-teman yang membutuhkan dengan saya
untuk menghubungi nomer media center. Karena saya akan sering mengoperasikan hp
itu kedepannya. Saya jadikan pengumuman itu sebagai foto profil WA.
Entah berapa lama, hp media center mendapat chat/sebuah pesan dari
percetakan paiton. Barangkali mereka tahu nomer media center karena foto profil
saya menunjukkan: kalau ada perlu hubungi nomer media center.
Pihak percetakan paiton tentu punya kepentingan satu: haknya terpenuhi (piutangnya
terlunasi). Saya ke temen saya itu bolak-balik. Tidak enak karena teman sendiri,
masak mau di tagih-tagih terus. Kasian juga karena ia juga santri,
penghasilan tergantung kiriman orang tua dan dia sendiri juga banyak hutangnya.
Mau pinjam uang ke teman-teman, sedangkan sekarang hampir liburan. Uang itu
tentu akan digunakan teman-teman untuk liburan nanti.
Disisi lain, saya juga tidak enak ke percetakan paiton. Yang sering pegang
hp itu. Mau jawab apa. Tentu pihak percetakan paiton ingin kepastian, juga pelunasan.
Teman saya itu, pasrah sudah. Pihak percetakan mau ke sini oke. Ia tak ingin
memperjelas lebih lanjut. Imbasnya ke saya. Saya tidak balas chat dari percetakan.
Beberapa hari, saya mendapat titipan pesan dari percetakan paiton melalui Pak
Rosi. Suruh cepetan bayar karena uang itu hendak digunakan modal percetakan. Saya
ceritakan sebagaimana cerita di atas tadi.
Hingga pada puncaknya tadi siang. Pihak percetakan kesel sepertinya. Marah karena
chatnya tidak dibalas. Hutang ini tidak ada kepastian. Duh, ampuun
gustii... seandainya.. seandainya..
Dengan sikap memberanikan diri, saya jelas singkat saja. bahwa sebenarnya
yang transaksi bukan alfin (sebagaimana yang tertera di catatan percetakan)
dengan pihak percetakan. Tapi temen saya itu. Temen saya tidak ada uang, dan bla
bla blaa...
Saya langsung izin untuk tanya ke temen saya itu. Ia yang sedang tidur,
saya bangunkan. Saya telfon pihak percetakan itu. Temen saya bingung, tiba-tiba
ada telfon. Saya bilang untuk baca chattingan sebelumnya.
Saya tidak tahu mereka melakukan kesepakatan apa. Yang jelas, setelah
telfon, temen saya itu mau pinjam uang. Ke bagian penjualan kalender. Ia akhirnya
bergerak. Aku yang tidak enak ini, akhirnya mulai sedikit teratasi.
Persoalan uang ini adalah persoalan yang sangat riskan. Dengan uang, semua
masalah seolah dapat teratasi. Semua kasus dapat tertutupi. Mungkin kalau kita
kaya nanti, mungkin persoalan dana bagi organisasi-organisasi yang berjuang di
kebaikan, dapat teratasi bila yang kaya dapat dermawan.
Tapi begitulah kehidupan. Menuntut kita untuk tidak berharap pada orang
lain. Mari bersama-bersama berjalan dengan kaki sendiri. Tanpa harus menunggu dan
tergerak dengan bantuan, sumbangan dan minta-minta pada orang lain.
Bismillah. Semoga saja.
Paiton, 02 Februari 2022.
0 Komentar