Trending

6/recent/ticker-posts

Persoalan Dana Selalu Riskan



Hari-hari berlau begitu saja. tidak mau menunggu sedikit pun untuk memberikan kesempatan dan injury time supaya saya menulis. Menulis apa saja di sekitar saya secara personal sekali. Ada banyak peristiwa, kejadian dan fenomena. Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya. Sayang, tak semua orang mau dan mampu menuliskan pengalaman sehari-harinya di dalam sebuah tulisan.

Waktu-waktu berlalu dengan penggunaan media sosial, kesibukan yang tak ada hentinya, atau yang lebih parahnya, memang sengaja menggunakan waktu tidak pada tempatnya. Na’udzu billahi mindzalik.

Tadi siang, hampir adzan dhuhur itu,tiba-tiba percetakan paiton menghubungi  nomer media center. Nadanya tampak kesal, karena pesan atau chat di wa, beberapa hari yang lalu tidak mendapat jawaban dari hp yang sering saya gunakan itu.

Duduk perkaranya begini: teman saya (tanpa sebut nama ini ya, red) dulu yang mengurusi percetakan kitab teman-teman kelas yang akan digunakan ketika akademik. Kitab sudah tercetak, dan teman saya itu hutang kepada percetakan karena masih tidak ada uang.

Toh, ini kitabnya teman-teman kelas, sehingga wajar ketika uang belum ada gara-gara banyak teman-teman belum bayar. Singkat cerita, hutang tinggal delapan ratus ribu. Kemudian teman saya itu menyerahkan nomer pribadi saya untuk menghubungi kepada teman saya itu.

Kejadian ini dulu, ketika saya masih pegang hp pribadi. Kemudian, penggunaan hp pribadi saya digantikan dengan hp baru yang disediakan oleh Ma’had Aly. Tentunya, nomer dan mekanisme penggunaannya berubah.

Saya mengambil inisiatif, supaya teman-teman yang membutuhkan dengan saya untuk menghubungi nomer media center. Karena saya akan sering mengoperasikan hp itu kedepannya. Saya jadikan pengumuman itu sebagai foto profil WA.

Entah berapa lama, hp media center mendapat chat/sebuah pesan dari percetakan paiton. Barangkali mereka tahu nomer media center karena foto profil saya menunjukkan: kalau ada perlu hubungi nomer media center.

Pihak percetakan paiton tentu punya kepentingan satu: haknya terpenuhi (piutangnya terlunasi). Saya ke temen saya itu bolak-balik. Tidak enak karena teman sendiri, masak mau di tagih-tagih terus. Kasian juga karena ia juga santri, penghasilan tergantung kiriman orang tua dan dia sendiri juga banyak hutangnya. Mau pinjam uang ke teman-teman, sedangkan sekarang hampir liburan. Uang itu tentu akan digunakan teman-teman untuk liburan nanti.

Disisi lain, saya juga tidak enak ke percetakan paiton. Yang sering pegang hp itu. Mau jawab apa. Tentu pihak percetakan paiton ingin kepastian, juga pelunasan. Teman saya itu, pasrah sudah. Pihak percetakan mau ke sini oke. Ia tak ingin memperjelas lebih lanjut. Imbasnya ke saya. Saya tidak balas chat dari percetakan.

Beberapa hari, saya mendapat titipan pesan dari percetakan paiton melalui Pak Rosi. Suruh cepetan bayar karena uang itu hendak digunakan modal percetakan. Saya ceritakan sebagaimana cerita di atas tadi.

Hingga pada puncaknya tadi siang. Pihak percetakan kesel sepertinya. Marah karena chatnya tidak dibalas. Hutang ini tidak ada kepastian. Duh, ampuun gustii... seandainya.. seandainya..

Dengan sikap memberanikan diri, saya jelas singkat saja. bahwa sebenarnya yang transaksi bukan alfin (sebagaimana yang tertera di catatan percetakan) dengan pihak percetakan. Tapi temen saya itu. Temen saya tidak ada uang, dan bla bla blaa...

Saya langsung izin untuk tanya ke temen saya itu. Ia yang sedang tidur, saya bangunkan. Saya telfon pihak percetakan itu. Temen saya bingung, tiba-tiba ada telfon. Saya bilang untuk baca chattingan sebelumnya.

Saya tidak tahu mereka melakukan kesepakatan apa. Yang jelas, setelah telfon, temen saya itu mau pinjam uang. Ke bagian penjualan kalender. Ia akhirnya bergerak. Aku yang tidak enak ini, akhirnya mulai sedikit teratasi.

Persoalan uang ini adalah persoalan yang sangat riskan. Dengan uang, semua masalah seolah dapat teratasi. Semua kasus dapat tertutupi. Mungkin kalau kita kaya nanti, mungkin persoalan dana bagi organisasi-organisasi yang berjuang di kebaikan, dapat teratasi bila yang kaya dapat dermawan.

Tapi begitulah kehidupan. Menuntut kita untuk tidak berharap pada orang lain. Mari bersama-bersama berjalan dengan kaki sendiri. Tanpa harus menunggu dan tergerak dengan bantuan, sumbangan dan minta-minta pada orang lain.

Bismillah. Semoga saja.

Paiton, 02 Februari 2022.


Posting Komentar

0 Komentar